
...Langit Merah...
..._7th Part_...
Oliver Clarke adalah pemimpin dari kelompok bisnis Lunaria yang menguasai sektor pertanian dan perkebunan di tanah Allegra. Debutnya sebagai pengusaha baru yang sukses, membuat sang Raja mengangkat derajatnya menjadi seorang Viscount. Tidak hanya itu, identitasnya sebagai kakak sepupu dari Hector Clarke yang merupakan pewaris sah mendiang Duke Wagner sang jenderal legendaris, membuat Oliver semakin menjadi buah bibir di kalangan masyarakat kelas atas. Paras yang tampan dan mata birunya yang berkilat tajam, membuat para gadis terkagum-kagum manja.
Hari itu, tepat satu bulan setelah hari pernikahannya dengan putri Duke Brown, Oliver alias Jean St. Claire sang Pangeran Pertama Alcander, menghadiri pesta topeng yang diselenggarakan oleh Kerajaan Allegra dalam rangka debutante sang putri tunggal atau di Kerajaan Alcander disebut dengan istilah upacara kedewasaan. Bersama dengan Aby, sang istri, keduanya menggantikan ayah mertuanya yang tidak hadir dengan alasan 'sakit'.
"Tentu saja sakit yang dibuat-buat. Kalau tidak begitu, bagaimana mungkin saat ini aku menginjakkan kaki di kastil Allegra?" Jean turun dari kereta kuda sembari memandu sang istri yang tampil anggun dalam busana berwarna merah. Sedangkan Jean, tidak seperti biasanya dia memilih warna senada untuk setelan kerajaan yang dikenakannya --- melambangkan dirinya sebagai wakil keluarga Brown dan juga seorang Viscount Clarke. Rambut hitamnya dibelah pinggir dan wajah tampannya ditutupi topeng hitam yang berhias logam emas dan mutiara.
"Ini mewah sekali," komentar Ellgar yang juga hadir bersama Silvia, pelayan setia keluarga Brown dan juga wanita yang selama ini selalu melayani kebutuhan Aby dari yang paling mudah hingga yang tersulit. Pria itu terpaksa membawa Silvia karena dalam surat berstempel kerajaan yang diterimanya, semua tamu undangan diwajibkan memakai topeng dan membawa pasangan. Hal itu pun bukan tanpa alasan. Pada hari yang sama sang Putri akan bertunangan dengan seorang raja muda yang baru saja menduduki tahta Kerajaan Alcander di mana kerajaan tersebut juga menjadi salah satu pemasok bahan pangan selama musim kemarau di Allegra.
"Sepertinya aku sudah kalah start," ungkap Jean, didengar oleh Ellgar, Aby, bahkan Silvia. "Putri Samantha dan Pangeran, maksudku Raja Illarion de Alcander akhirnya bertunangan juga. Padahal segala cara telah kulakukan untuk menarik perhatian sang raja, tapi tetap saja... hanya gelar viscount yang bisa dia berikan. Kalau hanya itu, aku tidak mungkin bisa bertandang ke kastil setiap hari dan menyampaikan maksud kedatanganku ke kerajaan ini, kan?" Pria itu masih menggerutu. "Kalau bukan karena ayah mertua yang pura-pura sakit, aku juga tidak mungkin berdiri di sini sebagai pengganti duke."
"Tuan Besar sudah berusaha semampu anda," Ellgar menghibur dalam balutan busana perak yang menyilaukan. "Sistem pemerintahan Allegra berbeda dengan kerajaan lain di wilayah Axton. Hanya bangsawan dengan pangkat tertentu saja yang bisa dengan bebas keluar-masuk kastil. Setidaknya kita telah menonjolkan nama keluarga Clarke di kalangan pebisnis. Untuk saat ini, itu sudah cukup bagus, Tuan."
"Saya juga tidak mungkin punya kesempatan emas seperti ini kalau bukan Tuan Wagner yang begitu berbaik hati memilih saya sebagai pasangan dalam pesta ini," Silvia ikut berkomentar. Dia sudah seperti gadis bangsawan kelas atas saja karena terbiasa melayani Aby. Tidak hanya cara berdandan dan berpakaian, sikap sopan santun seorang Lady pun sanggup dia curahkan demi hari besar itu. Bagaimana pun juga, Silvia pada hari-hari biasa hanyalah seorang pelayan.
"Terima kasih banyak atas pujian anda, Tuan Hector Clarke." Silvia mengangkat setengah gaunnya untuk ikut membungkukkan badan. "Tapi bagaimana ini? Saya sudah terlanjur jatuh hati pada pria lain sebelum diadakannya pesta ini. Saya jadi merasa tidak enak hati kalau terus menerima kemurahan hati Tuan yang seluas samudra seperti ini." Dia dan Ellgar kemudian tak bisa menahan tawa menyadari lelucon yang telah mereka buat barusan. Jean dan Aby pun sampai tertawa terpingkal-pingkal.
"Huhft, kalau saja Tuan Hector Clarke memang bangsawan yang sesungguhnya dan bukannya anjing pudel yang selalu mengikuti ke mana pun tuannya pergi." Silvia berjalan mendahului Jean dan Aby tanpa rasa canggung sedikitpun. "Meskipun dia sekarang seorang bangsawan, tetap saja tingkahnya yang seperti itu, tak bisa menutupi status lamanya sebagai seorang Ellgar Wagner."
"Hei, tunggu Nona Silvia!" Ellgar berlari mengejar Silvia yang ternyata mampu berjalan dengan cepat meskipun mengenakan gaun mewah yang terlihat berat. "Aku memang seorang pelayan, tapi di Allegra aku ini pewaris tahta Duke Wagner sang legendaris. Yeah, meskipun nama itu sudah lama dihapus dari data kerajaan."
Jean sampai terpana menyaksikan perseteruan hebat antara Ellgar dan Silvia itu. Sepanjang perjalanan di kereta tadi, mereka berdua memang terlihat cukup dekat. Bukan sebagai pasangan, tetapi sebagai partner yang saling menjatuhkan. Masing-masing seperti sedang berusaha menunjukkan bahwa diri merekalah yang terbaik, maksudnya... pelayan terbaik di mata Jean dan Aby.
"Tidak hanya kau saja." Aby menggandeng lengan Jean dengan lembut. "Mereka juga berusaha sangat keras agar tidak membuat kita malu di pesta ini. Kita berdua jangan sampai kalah juga. Benar, kan?"
Jean lalu memandang Aby seolah dunia hanya milik mereka berdua. Setelah menikah, dia jadi seperti punya alasan untuk bertahan hidup di dunia ini dan itulah yang membuat bisnis Lunaria-nya tetap berjalan lancar meskipun Allegra dilanda musim panas berkepanjangan. "Benar kata Ellgar. Dia memang berbeda dari gadis lain yang pernah kutemui," bisiknya dalam hati senang.
***