The Second Throne

The Second Throne
The Hoodie One (4)



PEMUDA BERTUDUNG__4th Part


Sepuluh tahun lalu, Luce adalah seorang pemuda ceria yang menghabiskan masa kecilnya dengan lantunan not piano dan tumpukan buku di perpustakaan. Sama sekali tak terbesit di hatinya untuk menyentuh jenis senjata apapun apalagi bertarung dan menggunakannya. Hingga hari di mana dia dinobatkan sebagai Pangeran Kedua di kerajaan asalnya, Alcander. Sejak saat itu dia dikenal dengan nama Lucas Androcles--yang berarti lelaki yang dikaruniai keagungan dan Lucas yang berarti cahaya.


"Selamat pagi, Yang Mulia," dua orang pelayan menyapa Luce yang sejak tadi terus berputar-putar di pelataran kastil Axton, tempat Penasehat Agung mengundangnya. Hari itu, Luce mengenakan mantel bertudung yang berwarna putih sewarna dengan kemeja yang dikenakannya. Tak tampak penampilan mewah apapun, tapi di sepanjang perjalanan, para prajurit dan pelayan selalu menyapa dengan formal seolah mengenalinya.


Luce berhenti kemudian menatap kedua pelayan itu dengan garang. Mata birunya berkilat menakutkan. Dia benar-benar resah karena meninggalkan Ellgar seorang diri dengan tabib tua yang terlihat mengesalkan di Pusat Kesehatan Kerajaan. Ditambah pula, menyadari dirinya yang sedang tersesat saat itu.


"Kalian tahu di mana letak Paviliun Naga?" tanyanya tanpa ragu.


Kedua pelayan tersenyum paksa dan salah satunya memberanikan diri menjawab pertanyaan Luce, "Jika Yang Mulia bersedia, kami tidak perlu menjawab pertanyaan Yang Mulia. Kami akan mengantarkan Yang Mulia langsung ke sana."


"Aku ingin ke sana sendiri!" bentak Luce membuat sang pelayan berjengit. Tapi sedetik kemudian, pemuda itu meralat ucapannya dengan lemah lembut. Senyum tipis mengembang dari sudut bibirnya, membuat kedua pelayan tersipu dan melupakan kekesalan mereka, "Tolong antarkan aku ke sana, Nona-nona cantik."


"Sesuai perintah anda, Yang Mulia," ucap keduanya sembari membungkuk perlahan. Rasa hormat mereka kembali begitu Luce berpura-pura hilang ingatan. Pemuda itu memilih untuk melupakan keresahannya daripada meluapkan emosi pada orang lain yang tidak tahu apa-apa. Sambil berjalan di sisi Luce, kedua pelayan berbisik-bisik seolah Luce tak bisa mendengar ucapan mereka dan itu membuat suara tawa Luce tertahan.


"Dia imut sekali ya saat tersenyum begitu. Tidak menyangka waktu dia membentak tadi rasanya jantungku seperti mau copot," lirih salah satunya sementara yang lain mengangguk setuju.


"Suasana hatimu sepertinya sedang bagus, adik ipar," seorang pria memutus perjalanan mereka menuju Paviliun Naga. Pria dengan tudung putih yang sama dengan milik Luce. Zirah dan katana miliknya berkilat di bawah cahaya matahari. Rambutnya keemasan dan kedua mata yang biru sama seperti milik Luce, seolah membuktikan kalau mereka adalah saudara.


"Yang Mulia Raja," para pelayan segera mundur ke belakang, memberi ruang untuk Luce dan pria tersebut berbicara. Pria itu adalah Raja-Muda Axton, Devian Argus yang merupakan anak pertama dari Raja-Tertinggi. Dia menangani masalah di semua wilayah kekuasaan Axton, termasuk Kerajaan Alcander, Allegra, Gretasha, Benteng Carliste, dan Kepulauan Lacrecia. Sekilas wajahnya mirip sekali dengan Ellgar, namun ketika memandang kedua matanya, barulah sadar kalau dia lebih mirip Luce dibandingkan pelayan setianya itu.


Luce diam membisu. Pemuda itu sama sekali tak tahu harus menjawab apa. Setelah sekian lama tinggal di lorong gelap bersama para bandit ibukota, ingatannya tentang kastil Axton dan orang-orang yang berada di dalamnya hilang begitu saja. Menjelaskan sebanyak apapun, hanya akan membuang energi saja. Dia sendiri bahkan sudah tidak ingat rasanya menjadi Pangeran Kedua. Seluruh ingatannya lenyap saat ayahnya mengesksekusinya sepuluh tahun lalu.


Luce pun mengangguk tanpa basa-basi. Dia mengikuti ke mana Devian melangkah sambil memperhatikan pemandangan di sekitarnya. Meski sudah melewati tempat itu berkali-kali sejak tadi, Luce baru menyadari kalau tempat itu sangat mengagumkan. Sebagian besar bangunan kastil dibuat dari balok batu yang disusun rapi dengan kayu berukir menghiasinya. Warna merah dan keemasan mendominasi tempat itu hingga Luce tiba di sebuah jembatan lengkung yang menyeberangi kolam ikan koi dan bunga teratai berbagai warna.


Sampai di seberang jembatan barulah terlihat perbedaan struktur bangunan dengan yang sebelumnya. Warna biru langit dan perak mendominasi dinding dan totem bersimbol naga yang menghiasi pintu utamanya. Atapnya yang berwarna hitam meruncing dengan empat lengkungan di sudutnya. Beberapa ekor burung kecil mencicit dari sana, membuat suasana syahdu semakin tercipta. Luce tiba-tiba menghentikan langkahnya saat melewati sebatang pohon besar yang berbunga merah muda. Kelopaknya berguguran diterpa angin semilir, membuat Luce terpikat.


"Ada apa?" Devian bertanya tapi dia langsung tahu apa yang dipikirkan Luce hanya dengan menatap mata kosongnya. "Kau ingat tempat ini? Dulu, waktu kecil kita sering bermain di sini. Aku, kau, dan adikku, Illiana. Waktu itu kau sering menghabiskan waktumu dengan buku milik Penasehat Agung. Di sini, di tempat Paviliun Naga dibangun, mereka juga membangun perpustakaan di dalamnya. Ikutlah denganku, kau pasti akan menyukainya."


"Sebegitu sukakah aku dengan buku?" lirih Luce masih tidak yakin. Devian seolah lebih mengenalinya daripada dirinya sendiri.


"Ngomong-ngomong, aku dengar kau berhasil mengalahkan Kepala Prajurit dengan tangan kosong?" Devian bertanya sambil meneruskan perjalanan sementara Luce mengikutinya. "Dia adalah salah satu prajurit senior di sini. Kadang-kadang menemaniku ekspansi ke luar wilayah Axton. Sampai dikalahkan oleh pemuda kurus sepertimu, sepertinya aku perlu melatih dia lagi."


"Sebenarnya bukan aku yang mengalahkannya, tapi Phoenix dalam tubuhku," bantah Luce. Keduanya berhenti di depan pintu dengan papan bertuliskan 'perpustakaan' yang menempel pada bagian atasnya. "Kalau kekuatan itu tidak ada, aku hanya seorang bocah biasa. Hanya sebentar saja berlatih ilmu bela diri, bagaimana mungkin bisa mengalahkan Kepala Prajurit sepertinya."


"Oh, aku tidak tahu kalau dia serendah hati ini. Sepertinya bukan karena rendah hati, dia hanya sedang menyombongkan kekuatan Phoenix yang dicuri mendiang ibunya. Harusnya aku yang mewarisi semua itu, tapi ya sudahlah. Mau sekuat apapun dia, tetap saja aku Rajanya," pikir Devian masih saja memperlihatkan wajah kesalnya.


"Apa kau benar-benar seorang Raja?" tanya Luce. "Kalau kau memerintahkanku untuk mengalah, aku bisa saja melakukannya. Sayangnya kau tidak ada di sana waktu itu, jadi aku melakukan sesuai kehendakku sendiri. Maaf aku telah lancang." Luce tiba-tiba membungkuk di hadapan Devian dan hal itu membuat pria di hadapannya tercengang. Devian sama sekali tak menyangka kalau Luce sangat penurut. Dibandingkan Erich yang selalu mengikutinya seperti anjing peliharaan, Luce terlihat seperti kucing yang sedang memaksa majikannya untuk memberinya makan.


Devian kemudian menepuk dahinya yang tertutup poni. "Dengar, sepertinya kau salah paham. Meskipun aku raja, bukan aku yang memberikanmu kesempatan hidup kedua sepuluh tahun lalu," Devian menjelaskan. "Itu adalah ayahku. Raja-Tertinggi Eginhard Idylla. Kakak laki-laki dari mendiang ibumu yang juga adalah pamanmu. Dia satu-satunya pria bermahkota di kastil ini."


*bersambung ke part berikutnya