The Second Throne

The Second Throne
Curse of Time (2)



KUTUKAN WAKTU__2nd Part


Sebuah dinding batu setinggi tiga puluh meter menjulang di antara hutan pinus yang terbelah jalanan utama. Sangat kokoh dengan sebuah bangunan kecil di puncaknya. Dinding yang berbentuk seperti busur itu menahan terjangan angin dari wilayah berkabut di sebelah utaranya. Benteng Carliste dengan dua prajurit menyilangkan tombak di depan pintu masuk yang terbuat dari batu pipih raksasa berukir seekor Phoenix. "Tidak seorangpun boleh melewati benteng ini tanpa izin dari Kerajaan-Tertinggi Axton," kata prajurit lain dengan zirah yang lebih tebal.


Luce dan yang lainnya langsung turun dari kuda untuk menjelaskan alasan kedatangan mereka. Terence meminta Eleanor menemani sang archerias, sementara dia dan Luce mendekati prajurit itu. "Kau tidak mengenalinya?" Luce menunjuk sang archerias yang nyaris meregang nyawa. "Dia yang meminta kita mengantarkannya kemari."


"Christopher Daryan. Dia memang salah satu petinggi di benteng ini, tapi apa kalian punya izin tertulis darinya?" tanya sang prajurit. "Kami tak bisa mempercayai kalian hanya dari ucapan saja. Banyak peristiwa aneh yang terjadi akhir-akhir ini jadi kami tak bisa bertindak seenaknya."


"Sedang apa kau?" Luce melihat Terence mengorek sesuatu dari balik pakaiannya.


"Apa ini cukup?" Terence menunjukkan sebuah liontin berbentuk perisai pada sang prajurit dan membuat Luce langsung menyambarnya. Liontin itu terbuat dari batu dengan ukiran yang sama tergambar pada pintu benteng, lambang Kerajaan-Tertinggi Axton.


"Ini milikku. Darimana kau mendapatkannya?" Luce bertanya sementara prajurit di hadapannya mengangguk seketika.


"Aku merebutnya dari Tuan Wagner ketika bertarung dengannya di Grissham," jawab Terence kemudian berpaling pada sang prajurit lagi untuk menjelaskan. "Dia adalah Pangeran Kedua Alcander sekaligus Putra Bungsu mendiang Putri Ireene el Idylla, Lucas Androcles. Sedangkan aku dan wanita di belakang adalah orang yang dipercaya untuk mengawalnya. Sebenarnya kami mendapatkan perintah langsung dari Raja-Tertinggi Axton untuk menemui orang yang bertanggung jawab atas benteng ini, tapi di tengah perjalanan kami menemukan archerias itu hampir mati. Kalau dia memang adalah salah satu petinggi di benteng ini, sebaiknya kau segera menolongnya sebelum kehabisan darah."


"Baiklah. Aku akan menemui Nona Cassandra terlebih dahulu. Kalian bisa menunggu di dalam," prajurit itu menjelaskan kemudian meneriaki kedua rekannya yang berdiri mematung di belakang. "Berikan mereka jalan!"


Beberapa saat kemudian Luce, Terence, dan Eleanor telah duduk dalam sebuah ruangan yang cukup luas di benteng. Mereka sibuk menelaah bagaimana benteng yang terlihat hanya seperti dinding batu biasa ini memiliki kapasitas yang cukup untuk puluhan ribu prajurit. "Aku pikir ini hanyalah kumpulan batu setinggi tiga puluh meter," kata Terence sambil menyibukkan diri dengan perapian yang menyala di sisinya. Hari hampir malam dan suhu di wilayah itu terasa cukup dingin dibandingkan Hutan Terlarang yang terlihat lebih lembab.


"Kau hanya terlalu fokus pada tingginya saja," Eleanor menyeletuk. "Dinding batu ini tebalnya juga hampir tiga puluh meter jadi wajar saja kalau di dalamnya terdapat banyak fasilitas yang cukup untuk melayani puluhan ribu prajurit."


"Tapi ini pertama kalinya aku berada sangat jauh dari Alcander ataupun Axton," ujar Luce dengan pandangan ke arah langit-langit yang juga terbuat dari batu. Tampak remang-remang oleh cahaya kuning perapian. Siluet benda-benda di sekitarnya terlihat lebih besar dari ukuran semula. Luce menyandarkan punggungnya ketika sadar seorang wanita berambut kuning mendatanginya dari luar pintu.


"Namaku Ira Cassandra. Aku dan Christopher Daryan adalah Holy-Knight yang beberapa hari lalu ditugaskan kemari," wanita itu duduk di samping Luce tanpa ragu. Rambutnya diikat seperti ekor kuda dan pakaiannya berantakan sekali. Dia seperti baru saja berkelahi dengan seseorang. Walaupun tak tampak formal seperti pria berzirah yang juga ikut bergabung bersama mereka, Ira panggilannya, wanita itu tak tampak seperti seorang ksatria.


"Dia adalah Guardian yang bertugas menjaga benteng ini. Namanya Nicodemus Valeries," lanjutnya.


Nicodemus membungkuk--memberi salam pada Luce dan yang lain, "Senang bertemu dengan anda secara langsung, Pangeran Lucas."


Luce tak membalas keramahan pria berambut cokelat itu. Dia terlalu sibuk memikirkan bagaimana melanjutkan hidupnya tanpa makanan manusia sejak usahanya menahan diri terhadap aroma luka terbuka pada manusia, nyaris gagal. Terence kemudian mengawali topik pembicaraan setelah Nicodemus duduk di sisinya, berhadapan dengan Luce dan Ira.


"Bagaimana keadaan archerias tadi?" tanya Terence. "Aku tidak berharap dia segera sembuh, tapi dia adalah orang yang kami cari selama ini dan kami butuh informasi darinya untuk melanjutkan perjalanan kami ke Eranth."


"Eranth, ibu kota Gretasha?" Ira memastikan. "Kenapa kalian ingin pergi ke tempat berbahaya seperti itu? Ada banyak monster dan iblis di sana. Karena itulah benteng ini dibangun."


Ira kemudian mengambil gulungan itu dari tangan Terence dan membaca tulisan yang ada di dalamnya. Luce hanya bisa melirik kesal karena tak bisa ikut membacanya tapi dia dan Eleanor hanya bisa berpura-pura bahwa semua yang dikatakan Terence hari itu adalah benar. Ksatria wanita itu berkata, "Jadi kalian benar-benar mendapatkan surat perintah dari Axton? Ekspansi wilayah ke daerah Kegelapan ini tidak mudah. Raja-Tertinggi biasanya menunjuk Yang Mulia Argus untuk melakukannya, tapi sepertinya beliau mendapatkan tugas yang lebih penting sehingga meminta bocah-bocah tak berpengalaman seperti kalian melakukannya."


"Bocah-bocah tak berpengalaman, katanya?" Terence menggerutu di balik senyumnya yang tertahan. "Aku tahu kami ini sedang berakting, tapi kenapa dia terus memancing agar kami membocorkan alasan yang sebenarnya?"


"Soal Tuan Daryan, keadaan beliau berangsur-angsur membaik," Nicodemus menyahut. "Kami juga berterima kasih karena kalian sudah membawanya kembali ke benteng ini. Hanya saja, karena luka di punggungnya terlalu dalam, aku harap kalian bisa bersabar dalam menginterogasinya besok."


"Mungkin aku bisa menyembuhkannya lebih baik dari Acolyte yang ada di sini," Luce berkata lirih disambut oleh teriakan keras dari Terence dan Eleanor secara bersamaan, "TIDAK!"


"Kau tidak boleh melakukannya," Terence menatap tajam pada mata merah Luce, sementara Ira dan Nicodemus hanya berdiam diri karena tak mengerti. "Ah, soal tadi." Pria itu berpaling pada kedua prajurit yang sedang memasang pandangan curiga. "Supaya tidak memperburuk kondisi kesehatan Tuan Daryan, biar aku sendiri yang menginterogasinya. Aku berjanji akan melakukannya dengan hati-hati."


"Kalau begitu, kalian beristirahatlah di sini," ucap Ira sembari berdiri diikuti oleh Nicodemus. "Kami akan kembali bertugas. Jika perlu apapun kalian bisa mencari kami." Wanita itu membungkuk, memberi hormat pada Luce kemudian berjalan keluar ruangan bersama Nicodemus dan menutup pintu.


"Akhirnya..." Terence langsung merebahkan diri di sofa dengan kedua tangan sebagai bantal. "Walaupun tidak di kasur setidaknya malam ini kita dapat tidur tanpa perlu memikirkan apapun."


"Ngomong-ngomong, sejak kapan kau mempersiapkan semua ini?" Eleanor bertanya. Keningnya berkerut kesal karena menahan banyak keingintahuan dalam kepalanya. "Surat perintah ekspansi tanpa pasukan? Omong kosong apa itu tadi?"


Luce meniup udara dari mulutnya untuk melepas kelegaan. "Kita terlalu sibuk belanja di desa tadi pagi. Jadi tidak tahu bagaimana pria tampan ini menghabiskan seluruh kepingan dalam kantong uangnya. Aku tidak menyangka kau terpikirkan hal itu, Terence. Kau benar-benar hebat."


"He he," kekeh Terence sampai tak mempedulikan sopan-santun lagi di hadapan Luce. Semenjak Luce mengizinkan pria itu memanggil namanya langsung, dia semakin leluasa bertingkah apapun. Bahkan mengangkat sebelah kakinya hampir setinggi wajah Luce tak sungkan dilakukan.


"Tuan Besar takkan memilihku tanpa sebab, kan?" katanya sesumbar, nyaris membuat Luce dan Eleanor menggeleng kesal.


"Kalau begitu, istirahatlah di sini bersama Eleanor," Luce kemudian berdiri. "Dan karena kau sudah terlanjur membuka identitasku di depan mereka, mau tidak mau aku harus berakting seperti pangeran sungguhan. Aku akan keluar melihat-lihat sebentar. Barangkali ada sesuatu yang bisa kulakukan untuk membantu perjalanan kita besok."


Terence mendadak duduk kembali. "Kau... Kau memang seorang pangeran. Apa kau lupa semua orang sedang memperjuangkan agar kau bisa kembali ke kehidupan kerajaan lagi atau kau memang lebih suka berkeliaran di alam bebas seperti burung yang liar?"


"Burung yang liar..." Luce tersenyum. "Itu kedengarannya tidak buruk juga."


Pemuda itu memakai mantel kelabunya lagi untuk menahan suhu dingin di luar ruangan. Sebelum keluar, Terence sempat memberi kode untuk Luce agar segera kembali secepatnya karena dia tak mau pemuda itu keasyikan bermain sampai berbuat sesuatu yang justru akan menghambat rencana mereka esok.


"Iya-iya, cuma sebentar saja. Dasar cerewet." Luce menutup pintu dengan pelan lalu berdiam diri sejenak. Terence benar-benar mengingatkannya pada Ellgar. Sudah beberapa hari berlalu sejak dia berpisah dengan pelayannya tersebut, baru sekarang Luce menyadari ada yang hilang darinya. Tapi dia tak mungkin lagi kembali ke Alcander setelah surat perintah pencarian diturunkan. Semua orang sekarang pasti sedang berlomba-lomba menangkapnya demi sekotak kepingan emas. "Yang bisa kulakukan saat ini hanya terus maju," katanya meyakinkan diri. "Kakak, Ellgar, tunggulah aku."


***