The Second Throne

The Second Throne
Crimson Sky (10)



...Langit Merah...


..._10th part_...


...Illarion itu pembawa sial. Kelahirannya di Alcander, membuat kondisi politik kerajaan itu menjadi kacau balau. Pendukung Raja Abraham Aelfar Giselbert Hamlet terbelah menjadi dua faksi. Faksi yang mendukung Illarion menjadi putra mahkota dan faksi oposisi yang mendukung Jean untuk naik tahta. Tetapi dengan segala kerendahan diri, Pangeran Pertama Alcander itu memilih untuk mundur dan meneruskan bisnis tambang milik keluarga St. Claire. Kemudian dengan bantuan ilmu sihirnya, ibunda Ilarion yakni Ratu Dmitria de Hamlet, memperkuat faksi pendukung putranya dengan menggunakan sihir terlarang pada sang raja. Itulah yang membuat Kegelapan selalu mengikuti kemana pun Illarion pergi. Karena sebenarnya, dia bisa naik ke tahta Alcander saat ini bukan semata-mata karena usahanya sendiri, tetapi juga dengan bantuan Ratu Dmitria yang telah mengikat kontrak dengan banyak iblis yang sekarang menguasai wilayah Gretasha, kerajaan tempatnya berasal...


"Akhirnya Tuan membuka mata juga." Ellgar duduk di sisi ranjang mendampingi tuannya, Jean yang tak sadarkan diri selama hampir satu minggu.


"Ini... Kediaman viscount?" Jean mengamati langit-langit kamar yang terbuat dari pualam putih. Terdapat lampu kristal menyala redup pada bagian tengahnya juga ornamen bunga mawar yang indah --- yang selalu mengingatkan Jean pada Alcander saat membuka mata di atas ranjangnya. "Di mana Aby?" tanyanya lagi sebelum Ellgar sempat menjawab pertanyaan pertamanya.


"Nyonya sedang sibuk melakukan peninjauan di lahan perkebunan kita," jawab Ellgar dengan tatapan sedih, membuat Jean semakin penasaran. "Nyonya selalu memaksakan diri untuk menggantikan pekerjaan viscount selama anda tak sadarkan diri padahal saya sudah bilang akan mengambil alih, tapi tetap saja..."


"Apa Samantha memberitahukan segalanya pada Aby ketika mengantarkanku kemari?" Jean berusaha bangkit ke posisi duduk dibantu oleh Ellgar. Tubuhnya dililit perban tebal untuk menutupi luka robek pada bagian punggung. Lebih mengejutkan lagi, tidak ada sepasang sayap gagak yang tumbuh di situ. Begitu pula tanduk pada bagian kepala Jean yang meninggalkan jejak robekan kulit berukuran kecil.


"Tidak. Tuan Putri hanya mengatakan kalau Yang Mulia Raja akhirnya memberikan kesempatan untuk anda agar bisa keluar-masuk kastil Allegra dengan dalih penelitian dan budidaya tanaman. Selain itu, anda juga dapat berpartisipasi dalam politik dan kemiliteran apabila terjadi masalah di Allegra suatu hari nanti," Ellgar menjelaskan. "Tuan Putri tidak mengatakan apapun tentang malam purnama dan juga apa yang anda berdua lakukan bersama Reuven, tapi Nyonya sepertinya sadar kalau Tuan tak berniat mencampakkannya setelah berhasil mendapatkan Putri Samantha. Dia benar-benar mempercayai anda sebagai suaminya."


Jean termenung. "Ellgar, apa aku bisa menganggap benih yang dikandung Samantha sebagai anakku, sementara Aby juga sedang dalam kondisi yang sama? Aku tidak mungkin meninggalkan istriku hanya karena bertemu dengan mantan kekasihku, tapi aku juga tidak ingin menjadi seperti ayahanda yang tidak menganggap diriku dan adikku sebagai darah dagingnya hanya karena kami berdua lahir melalui ritual penyemaian."


"Penyihir wanita yang telah memperdayai ayahanda." Jean menyunggingkan senyum terbaiknya lalu bertanya, "Bagaimana kabar mengenai invasi ke Kerajaan Gretasha? Apakah Luce sudah mengirim surat lagi?"


"Tuan Muda sepertinya terjebak di Celah Osiris bersama pasukannya," jawab Ellgar. "Sudah satu bulan lebih belum ada kabar perkembangan apapun dari mereka."


"Begitu." Jean tampak berpikir keras sebelum sadar bahwa hidungnya mengeluarkan darah dan membuat pria bersurai pirang di sisinya menjadi panik.


"Anda sebaiknya jangan terlalu memaksakan diri dulu, Tuan!" jerit Ellgar. Dia merobek kemeja suteranya untuk dijadikan sapu tangan. "Tubuh anda belum pulih seutuhnya dan anda sudah mengikat kontrak lagi dengan iblis penjaga. Anda sebaiknya tidak perlu berpikir keras soal apapun. Soal siasat dan strategi... biarkan saya yang membantu anda."


Jean mengusap sisa darah di ujung hidung sempurnanya sambil beralasan. "Semua orang sedang berjuang mati-matian. Tidak mungkin aku hanya sibuk berbaring dan menghemat energi. Lagipula, aku sudah cukup tertidur selama satu minggu. Tentu kau juga tidak ingin aku tidur lebih lama lagi, kan?" Pria tampan itu tersenyum.


"Tentu saja tidak, Tuan." Ellgar merasakan kemarahan luar biasa dalam hatinya. Jean sama sekali tak menghargai nyawanya sendiri, tetapi dia juga tidak bisa menentang keinginan tulus dari Tuannya tersebut karena menyangkut nyawa lebih banyak orang.


"Bagus," puji Jean. "Kalau begitu sekarang tolong bantu aku untuk berpakaian. Aku ingin segera menemui istriku."


***