
Pertemuan selesai, Alessa segera mungkin keluar tanpa berpamitan pada Allard atau Fillbert. Sebenarnya banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, sampai dia sendiri pusing memikirkannya. Kesimpulan yang ia pahami hanya satu, Allard membiarkan Nick tetap hidup.
Alessa tidak habis pikir, Nick ingin membunuh Katryna atas permintaan keluarganya. Apa benar Allard membiarkan Nick tetap hidup setelah nyawa istrinya hampir melayang karena Nick? Alessa sedikit meragukan kesimpulannya.
“Kau seperti orang frustasi saja!” Sebuah suara mengintruksi Alessa.
“Diam kau, Jeff!” bentaknya.
.
“Santai, Aleesa. Santai...” ucap Jeff tenang.
“Kau tahu bukan?” tuntut Alessa.
“Tahu? Tahu apa?” tanya Jeff tak mengerti.
“Nick! Dia masih hidup, dan kau tahu itu, kan?” Jeff terdiam, membuktikan bahwa dia memang tahu. Alessa tertawa sinis, semua orang tahu itu dan hanya dia yang tidak.
“Apa Katryna tahu?” tanya Alessa.
“Mother tidak tahu sama sekali,” jawab Jeff jujur.
Alessa meninggalkan Jeff, langkahnya berjalan cepat menuju latihan menembak. Terlihat dua orang anggota tengah mengajari anggota baru bagaimana cara menembak yang tepat. Alessa sedikit menjauh dari tempat mereka berlatih, ia melampiaskan emosinya dengan cera menembak. Namun, berpuluh-puluh anak peluru mengenai papan menembak, tidak menyurutkan kemarahannya.
“Kau penembak ahli, tidak perlu berlatih sekeras itu,” komentar sesorang yang sangat Alessa kenali suaranya.
Secara refleks, Alessa mengarahkan moncong pistol tersebut ke asal suara. Matanya menatap bola mata Nick menantang. Nick tersenyum, kakinya melangkah mendekat hingga dadanya saling bersentuhan dengan ujung pistol.
“Mundur,” ucap Alessa datar.
“Tidak.”
“Kubilang, mundur. Atau—”
“Atau kau akan menembakku. Itu yang akan kau katakan,” potong Nick cepat.
Alessa bergetar saat pria itu memegang tangannya yang kini masih memegang pistol, elusan yang Nick berikan mampu menarik Alessa untuk menatap mata Nick sendu. Perlakuan manis ini tidak dapat dapat mengalihkan mata Alessa.
“Aku tidak meragukan kenekatanmu, Alessa. Bahkan ketika kau memilih sahabatmu, sedikitpun aku tidak meragukan itu,” ucap Nick pelan seolah menyindirnya.
“Apa maumu?” Nick menggeleng, tidak ada yang dia inginkan selain Alessa.
“Apa maumu, Nick? Kenapa kau menampakkan diri di sini?”
“Tidak ada alasan kuat,” jawab Nick seraya mendekatkan wajahnya.
“Mereka mempercayaiku,” sambung Nick dan meninggalkan Alessa.
Alesaa melempar pistolnya ke sembarangan arah, tidak membiarkan Nick pergi. Dia berdiri di depan Nick, lalu menarik kerah kemeja yang Nick kenakan. Tubuh mereka saling bersentuhan, Nick dengan santainya menempatkan tangannya pada area pinggang Alessa.
“Jangan coba-coba untuk menyakiti mereka! Atau kau akan berhadapan denganku!” ancam Alessa.
“Kau bisa mendapatkan kepercayaan mereka, tapi tidak denganku!” ucap Alessa, lalu melepaskan remasannya dengan kasar. Ketika Alessa berjalan beberapa langkah, suara Nick menghentikan langkahnya,
“Kau tidak mengenalku secara keseluruhan, Alessa!” Alesaa tersenyum sinis seraya melanjutkan langkahnya.
...***...
Tidak sampai di situ saja pertemuan antara Alessa dan Nick. Mereka kembali bertemu di acara makan malam keluarga Helbert. Sebuah kesialan yang nyata bagi Alessa saat ini melihat seorang Nickholas Bateline!
Nyatanya Alessa belum siap berhadapan dan bertatapan dengan Nick. Pria itu masih hidup dan sekarang berlagak seolah tidak ada kematian kemarin. Tak sengaja, Alessa menatap Allard yang tengah berbincang dengan Filllbert, dengan cepat dia menghampiri Allard.
“Aku ingin berbicara empat mata denganmu!” sambar Alessa langsung.
“Ada apa?” tanya Allard setelah ayahnya meninggalkan mereka berdua.
“Kenapa dia masih hidup? Kau sendiri yang menembaknya di depan mataku, lalu ada apa ini? kenapa pria itu menjadi orang kepercayaanmu?” tanya Alessa bertubi-tubi.
“Dia berada dipihakku,” ucap Allard santai.
“Bagaimana jika dia ingin membalaskan dendamnya?”
“Maka itu akan menjadi masalahku,” balas Allard seolah menyalahkan perkataan Alessa.
“Allard, jangan membahayakan Katryna,” bisiknya tajam.
“Aku tidak akan membiarkan istriku dalam bahaya, Alessa.”
Alessa menyerah, tampaknya Allard benar-benar menjadikan Nick orang kepercayaannya. Tidak ada yang dapat mengubah keputusan Allard, maka Alessa berbalik meninggalkan Allard. Langkahnya menuju meja yang menyajikan berbagai minuman, mengambil salah satu minuman dan meneguknya habis.
Perasaannya kini bercampur aduk, senang Nick masih menghirup dunia yang sama dengannya. Selebihnya marah beserta sedih karena semua orang menyembunyikan ini darinya. Sungguh, Alessa sulit menjabarkan emosinya saat ini, terlalu banyak hingga ia sendiri bingung kepada siapa dia harus marah.
“Alessa,” panggil Katryna, Alessa hanya membalas panggilan Katryna cuek.
“Kau kenapa?” tanya Katryna, Alessa menggeleng.
“Alessa ... apakah ... kau sudah bertemu dengannya?” tanya Katryna takut, Alessa menatap Katryn tajam.
“Kau tahu bukan, dia masih hidup?” Katryna kaget Alessa menyerangnya langsung.
“Aku baru mengetahui—”
“Dan kau diam begitu saja!” potong Alessa.
“Kenapa kau tidak memberitahuku, Katryna?” tanya Alessa lemah.
“Alessa, aku mengetahuinya tepat saat kau—”
“Aku tidak peduli!” Alessa tidak ingin tahu alasan Katryn.
“Kau sendiri membuktikan, bahwa kau bukan sahabatku. Aku selama ini berada dipihakmu, tapi kenapa hal ini kau sembunyikan? Kalau pun aku tahu soal ini, aku tidak menyesal berada dipihakmu, Katryna!” sambar Alessa.
“Bukan begitu, Alessa. Aku tidak tahu cara menyampaikannya padamu,” lirih Katryna. Ia tidak tega melihat sang sahabat seolah kebingungan serta emosi seperti ini.
“Bullsh*t. Kau senang aku seperti ini, itu yang kau mau, kan?!” ucap Alessa melampiaskan kemarahannya.
“Apa yang kau katakan? Aku tidak seperti itu!” balas Katryn menitikkan air mata.
“Diam. Aku tahu sekarang, kau memang sengaja menyembunyikannya agar kau bisa melihatku menderita. Kau sama dan tidak ada bedanya seperti mereka, Katryna!” Alessa berteriak marah mengundang semua mata melihat mereka.
“Alessa, cukup! Kau sedang kalut!” Katryn berusaha meraih Aleesa ke dalam pelukannya, tapi Alessa menghindar.
Secara tidak sadar, Alessa mendorong Katryna. Beruntung Allard menahan tubuh Katryna dari belakang. Alessa seketika sadar, matanya memandang sekeliling, keluarga Helbert melihat pertengkaran mereka. Perlahan, Alessa mengatur nafasnya perlahan.
Dalam sekejab, suasana kembali ramai seperti tidak terjadi apa-apa. Alessa sadar, dia kelepasan melampiaskan kekalutannya pada Katryna. Seharusnya dia tidak mengucapkan kata-kata kasar, tetapi semua sudah terlanjur terjadi.
Alessa masih menatap punggung Katryn yang membelakanginya seraya memeluk Allard. Alessa beralih menatap Allard dengan permohonan maaf, dia tahu Katryna menangis akibat tuduhan yang ia lemparkan. Tak mau berlama di sini, Alessa memutuskan pergi dari sana. Dia memilih menenangkan diri di ruang tamu, untung sekali tidak ada yang datang menghampirinya, itu jauh lebih baik bagi Alessa menenangkan diri.
Mungkin setengah jam Alessa mencoba menenangkan diri. Dia menyesal, seharusnya Alessa tenang dalam menghadapi situasi di mana Nick ada di dalamnya. Dengan menunjukkan kemarahan tadi, itu sama saja menunjukkan kesedihannya dihadapan semua orang, terutama Nick.
“Kau salah, Alessa. Kau tidak boleh menghindar dari situasi yang terjadi saat ini,” batin kecilnya mengingatkan.
Sebenarnya, Alessa bukanlah tipe wanita yang mengindar dari masalah. Namun, kali ini Alessa belum siap untuk berhadapan langsung dengan sosok itu. Come on, Alessa! Kau sering menghadapi masalah yang hampir melayangkan nyawamu! Jangan hanya karena masalah kecil ini kau menjadi pengecut!
“Oke. Pasang wajah datar dan tebalkan muka,” ucap Alessa pelan menyemangati diri. Jangan tanya seberapa malunya Alessa, tetapi bagaimanapun itu, Alessa harus menghadapinya!