The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 16. The Night in Athena



Janji makan malam bersama Joe, Alessa setujui. Mereka sampai di sebuah restoran sederhana, begitu ramai oleh anak-anak muda. Joe menuntun Alessa ke lantai dua, ternyata pria ini menyewa lantai atas. Kemudian, Joe mempersilakan Alessa duduk.


“Kau menyewa ini menurutku berlebihan, Joe..” ujarnya.


“Tidak menurutku, Baby. Kita butuh waktu berdua,” jawab Joe tersenyum lembut.


“Terima kasih, Joe.”


“Anytime for you.”


Makan malam berjalan dalam diam di antara mereka. Sampai pada makanan penutup, Alessa menyodorkan sebuah paper bag kecil tanpa suara ke hadapan Joe.


“Apa ini?” tanya Joe seraya menatap Alessa.


“Buka.”


Joe menerima dan membuka isi paper bag tersebut, sebuah kotak sedang terlihat. Perlahan Joe membuka kotak itu dan terpampanglah jam klasik Breitling Avanger II, salah satu brand jam tangan mewah paling tua di dunia.


Alessa tahu bahwa Joe sangat menyukai jam tangan merek Breitling, akan tetapi Joe menggunakan keuangannya untuk hal lain yang lebih bermanfaat, misalnya menyalurkan bantuan pada mereka yang membutuhkan. Jam tangan koleksi Joe dapat dihitung jari, maka Alessa terpikir memberikan jam tangan klasik itu.


“Alessa, kau membelikanku jam tangan ini?” Joe tidak percaya sekaligus terharu.


“Ya. Kau sangat suka jam tangan itu!”


“Terima kasih, Alessa!” ucap Joe menggenggam tangan Alessa.


“Sama-sama.”


“Hadiahku di mobil, rencananya nanti aku berikan ketika pulang.”


“Aku tunggu,” ucap Alessa tersenyum.


“Ada yang ingin kau bicarakan?” tanya Alessa, Joe menatap Alessa lekat yang ia yakini sesuatu penting ingin Joe sampaikan.


“Bolehkah aku memasuki hidup dan hatimu?”


“Joe, bisa kita bicarakan nanti? Maaf, aku tidak mood membahas ini,” sahut Alessa pelan.


“Kau tunanganku, Alessa. Di sini aku tidak ingin salah satu kita mempunyai hati yang gantung. But, yeah... kita bisa bicarakan ini di lain waktu,” ucap Joe tersenyum paksa.


Dua jam bersama, Joe mengantar Alessa. Untung Joe tidak memperpanjang masalah tadi, Alessa masih belum siap mengatakan keinginannya, Joe akan kecewa. Pelan-pelan Alessa menoleh ke kaca di samping wajahnya, seketika matanya menyipit mendapati mobil yang sama dari balik kaca spion. Alessa menoleh ke belakang, melihat lebih jelas plat mobil, benar mobil itu mengikuti mereka sedari restoran tadi.


“Ada apa, Alessa?”


“Ah, tidak. Aku mengira mobil di belakang mobil temanku, ternyata bukan.”


Tepat di lobi apatemen Alessa, mobil itu pergi. Sekilas Alessa melihat dua orang di dalam mobil itu berjenis kelamin pria.


“Mau mampir dulu?” tawar Alessa.


“Lain kesempatan saja.”


“Ya sudah, hati-hati.” Joe mengangguk.


“Hubungi aku jika butuh sesuatu,” ucap Joe sebelum Alessa membuka pintu, Alessa mengangguk.


Setelah mobil yang Joe kendarai menjauh, Alessa berbalik memasuki pintu lobby. Lift sangat ramai digunakan oleh remaja. Alessa bertemu dengan Lana—seorang Mahasiswi yang tinggal di sebelah flat-nya—sedang menunggu giliran menggunakan lift.


“Baru pulang, Lana?” tanya Alessa berbasa-basi.


“Iya. Rasanya tubuhku remuk,” keluhnya.


“Beristirahatlah.”


“Bagaimana istirahat? Tugasku tak ada habisnya. Mending sepertimu, tenang tanpa tugas!” Alessa tertawa ringan.


“Tugas orang berbeda-beda. Nikmati saja selagi kau tidak diberi pisau membunuh manusia,” ucap Alesaa mengerling pada Lana.


“Astaga, seram sekali. Aku tidak mau!” rengek Lana


“Bersabarlah. Sebentar lagi kau juga akan lulus, bukan?” Lana mengangguk.


“Mama menyuruhkan melanjutkan study,” curhatnya.


“Bagaimana denganmu?”


“Oh, Vanessa... tugas ini saja sudah membuatku gila. Apalagi nanti? Aku tidak yakin hidup!” ucap Lana dramatis.


“Terima kasih, Vanessa. Aku suka sekali mengobrol denganmu, tapi kau sangat jarang ada di flat-mu.”


“Aku jarang di sini, lebih sering di tempat kerja.” Lana mengangguk mengerti.


“By the way, ada apa ramai seperti ini?” tanya Lana.


“Mereka membawa perlengkapan party, kusimpulkan mereka akan berpesta sepertinya,” jawab Alessa.


“Oh, Pa—”


Belum selesai Lana melanjutkan ucapannya, Alessa menarik tangan Lana untuk masuk ke dalam lift. Dengan cepat Alessa menekan tombol agar pintu lift tertutup, mengabaikan umpatan kesal anak muda yang ingin masuk, tetapi telah tertutup akibat ulah Alessa.


“Vanessa. Apa kau gila? Bagaimana jika tadi dia tidak cepat mundur? Dia akan terjepit!” umpat Lana.


“Kau lelah, begitu juga denganku. Jadi, jangan protes!”


Suara dentingan lift terdengar, ketika lift terbuka Alessa keluar dengan santai. Sesampai di depan pintu apartemen, Alessa menyentuh sensor sisik jari.


“Selamat malam, Lana!” ucap Alessa lalu masuk ke dalam apartemen.


“Malam, Vanessa Gila!”


Alessa sempat mendengarnya hanya tertawa saja. Melepaskan high heels nya, berjalan ke arah dapur mengambil segelas air putih dan meneguk habisnya. Alessa kembali melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Namun, langkahnya seketika berhenti. Alessa ingat jelas, sebelum pergi tadi ia sangat yakin pintu kamarnya tertutup rapat, tangannya sendiri yang menutup pintu tersebut. Sekarang pintu itu terbuka sedikit, dari celah pintu ia melihat lampu kamar menyala. Alessa jelas ingat mematikan lampu sebelum pergi.


“Siapa di dalam kamarku?” batin Alessa. Waspada, Alessa berjalan dan membuka pintu perlahan.


“Kencan menyenangkan, hm?” Sebuah suara terdengar. Tahu siapa di dalam sana, Alessa membuka dengan cara membanting.


“Mau apa kau kemari?”


“Terkejut melihatku di sini, Baby?” Nick malah bertanya balik, tahu Alessa menyembunyikan keterkejutannya setelah mendengar suara miliknya.


“Bagaimana kencan makan malam-mu bersama dia? Menyenangkan?”


“Bukan urusanmu!”


“Jelas itu adalah urusanku,” ucap Nick dengan tenang.


“Apa urusanmu, ha?” tantang Alessa.


Nick tertawa remeh, matanya menatap Alessa dengan ketenangan. Berbeda dengan Alessa yang menatapnya marah, tak suka.


“Kau milikku, itu urusannya. Ketahui posisimu, jangan menggoda pria lain di luar sana!” ucap Nick tegas.


“Oh, ya? Posisi apa yang kau maksud? Wanitamu atau jalangmu?”


“Kau istriku!” ucap Nick memperjelas.


“Istri, hm? Kau masih mengingatku sebagai istrimu? Lalu, kenapa selama ini kau bersembunyi seolah telah mati? Kenapa tidak mengatakan padaku kau masih hidup?” Nick terdiam, langkahnya mendekat.


“Ada atau tidaknya aku, kau akan tetap menjadi istriku!” ucap Nick, kemudian menyudutkan Alessa ke pintu.


“Lepas.”


“Sedetik pun tidak akan aku biarkan kau berpaling pada pria lain, Alessa.”


“Benarkah, sudah lama aku berpaling dari pria bernama Nickhlos Fernand. Oh, tidak... Nickhlos Bateline, aku salah mengucap!”


“Mrs. Bateline,” bisik Nick.


“Jika kau berpaling, tidak mungkin selama tiga tahun ini kau menolak sentuhan orang lain. Aku ... aku yang menyentuhmu setelah tiga tahun di hotel itu, kau pasti ingat.” Alessa kalah telak.


“Kau menyebut namaku, Mrs Bateline. Menyebut namaku dengan desahanmu, bahkan kau paling bersemangat sampai punggungku terluka karenamu!” Muka Alessa memerah malu, Nick menyudutkannya!


“Dan,” bisik Nick dan mencium cupingnya.


“Kau mengakui malam yang kita habiskan di Athena, secarcik kertas itu mengatakannya padaku.” Alessa tidak tahan, ia mendorong Nick. Tetapi tidak berhasil, pria itu memeluk pinggangnya erat.


“Aku tidak mengingat apapun, kau dengar itu?” ucap Alessa tegas mengelak.


“Kalau begitu mari kita buktikan!” tantang Nick tersenyum kecil.