
Termenung di pencahayaan gelap adalah kebiasaan Alessa merenungi sesuatu dikala pikiranya terganggu, kegelapan seolah menenangkan seluruh saraf-sarafnya. Di masa kecilnya, Alessa takut pada segala kegelapan, tetapi selama memasuki dunia intel, kegelapan sudah menjadi teman di dalam kesunyian. Bagaimana tidak? Alessa seringkali bertugas hanya mengandalkan penerangan bulan. Di saat lamunannya, ponsel di saku celananya bergetar menandakan pesan masuk.
Joe
[Bisa kita bertemu?]
Astaga, demi apapun, Alessa melupakan Joe. Dengan lihat, Alessa mengetik balasan tersebut.
^^^Me^^^
^^^[Tentukan saja tempatnya.]^^^
Joe
[Kirim alamatmu, aku ke sana sekarang.]
Joe tidak baik-baik saja, ini bukan gaya Joe. Oke, Alessa mengirim alamat apartemennya. Seraya menunggu, Alessa memejamkan matanya. Kenapa wajah Nick yang terbayang? Tidak bisakah wajah itu menyingkir dari pikirannya.
Setengah jam kemudian, ponselnya berdenting. Joe mengabari dia sudah berada di depan lobby. Alessa menghidupkan lampu di atas nakas, terburu-buru menghubungi resepsionis agar memperbolehkan Joe masuk. Kemudian, Alessa mengenakan cardigan yang ia letakkan di atas ranjang. Ia segera keluar dari kamar, dan tidak lupa menghidupkan beberapa lampu ruang tamu.
“Hai,” sapa Alessa.
“Hai,” balas Joe terdengar dingin.
“Masuklah, Joe.” Alessa mempersilakan sang tamu masuk. Joe sempat mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan seraya mengikuti langkah Alessa menuju ruang tamu.
“Duduklah,” pinta Alessa.
“Kau ingin minum sesuatu?” tawar Alessa.
“Jus jeruk saja.”
“Sebentar,” ucap Alessa, lalu berjalan ke dapur.
Sesampai di dapur, Alessa membuka lemari pendingan dan mengambil sekotak jus jeruk. Selesai menuangkan ke dalam gelas, Alessa mengembalikannya ke tempat semula. Namun, instingnya bermain ketika seseorang memasuki dapur, Alessa melirik sekilas, ternyata Joe.
“Ingin sesuatu, Joe?” tanya Alessa, Joe menggeleng.
“Bunga dari siapa?” tanya Joe menemukan sebuah buket bunga.
Dahi Alessa berkerut mendengar pertanyaan Joe yang tidak ia mengerti. Jika bunga yang kemarin Alessa temukan, sudah ia buang.
“Bunga apa?” tanya Alessa menatap Joe.
“Itu di atas meja,” jawab Joe menunjuk bunga tersebut menggunakan matanya.
Alessa menatap ke arah meja makan yang memang berdekatan dengan dapur. Sejak kapan ada bunga itu di sana? Batin Alessa. Ia sangat ingat melewati meja makan tadi dan bunga itu belum ada di sana.
“Ah, itu dari temanku,” ucap Alessa lancar tanpa kegugupan.
“Teman kencan maksudmu?” balas Joe tak biasa.
“Dia perempuan, sahabatku,” ucap Alessa seraya tertawa pelan menanggapi balasan Joe. Berhasil, Joe percaya akan ucapannya.
“Ayo, kita ke depan!” ajak Alessa, sambil membawa dua gelas di tangannya.
Melewati meja makan, Alessa melihat bentuk bunga itu sama seperti kemarin. Di ruang depan, Alessa ikut duduk di sebelah Joe.
“Apa kau nyaman dekat denganku, Alessa?” Satu pertanyaan yang tidak diperkirakan Alessa.
“Aku belum tahu banyak tentangmu. Baik itu pekerjaanmu, keluargamu, dan kehidupanmu. Kau menutup diri dariku,” ungkap Joe mengeluarkan isi hatinya.
“Kau pun berbohong, Alessa. Kau bilang, kau tinggal bersama keluargamu, nyatanya tidak. Soal janjimu kemarin juga kau ingkari, kau tidak menghubungiku setelah pekerjaanmu selesai,” sambung Joe
“Itu salah, aku minta maaf...” desahnya.
“Hanya itu? Kau tidak berniat menceritakannya padaku?”
“Aku tidak bisa,” ucap Alessa.
“Kenapa?”
“Karena aku orang asing bagiku?” Joe mengejar jawaban.
Alessa sulit menjelaskannya, dia berat untuk mengungkapkan pada Joe tentang kehidupannya dan pernikahannya bersama Nick yang sampai detik ini masih berlangsung. Alessa tidak berani menyakiti pria sebaik Joe dengan kenyataan yang ada. Kebimbangan besar Alessa rasakan, dia sudah menerima lamaran Joe dan akan menikah, tetapi janji sucinya bersama Nick belum usai.
“Alessa... kau menerima lamaranku, dan itu artinya kau harus siap berbagi cerita kepadaku! Aku ingin mengetahui semua tentang pasanganku,” ucap Joe.
Sungguh, Alessa menyayangi Joe. Di saat ketepurukannya dulu, Joe hadir melengkapi kekosongan hatinya. Alessa tidak ingin mengikat Joe ke dalam hubungan yang akan membuat pria ini berharap lebih dengan hubungan mereka.
...***...
“Alessa, kau dan tim-mu ikut ke dalam misi penyalamatan. Siapkan tim-mu dan berangkatlah dua jam lagi,” titah Anthony sebagai pemimpin White Agent, salah satu organisasi intel yang cukup terkenal.
“Semua keterangan ada di dalam berkas ini,” lanjutnya seraya menyerahkan dokumen ke hadapan Alessa.
“Dan ini identitas yang bisa kalian pakai selama di sana,” sambung Anthony lagi kembali menyerahkan amplop coklat.
“Yes, Sir.”
Menerima keduanya, Alessa pamit untuk menemui tim-nya. Kali ini misi dadakan yang harus Alessa selesaikan segera, masih banyak kasus terbelangkai yang belum sempat Alessa dan tim selesaikan.
“Guys...” Intruksi Alessa pada tim-nya setelah membuka pintu ruangan yang dikhususkan kepada tim Alessa.
“Tinggalkan kasus itu, ada misi yang harus kita kerjakan.”
“Misi apa?” ucap Blue menanggapi. Alessa meletakkan dokumen yang ia pegang ke atas meja, meminta Blue membaca.
Dua puluh menit menelaah dan memahami, mereka bersiap-siap. Alessa menghela nafas, lelah sekali sebab pikirannya yang tidak bersatu. Sejenak Alessa menyandarkan tubunya pada sofa di ruangan tersebut seraya menunggu keempat teman tim-nya bersiap-siap.
“Kau ada masalah?” tegur William mengalihkan penglihatan Alessa.
“Tidak.”
“Sepertinya, ya. Setelah kembali dua hari lalu, kau semakin galak!” Alessa memutar bola matanya malas.
“Seperti kau tidak saja!” William tergelak.
Tak lama ketiga temannya telah siap, mereka berangkat menggunakan pesawat disediakan oleh White Agent. Tiba di Serbia, Alessa dan tim melaksanakan misi yang ditugaskan.
“Dimana agent yang mereka utus?” Greisy mulai tidak sabar menunggu.
“Mereka berjalan ke arah kita,” ucap Blue. Semua menoleh, kecuali Lewis yang diam memasang wajah datarnya. Di antara mereka berlima, memang Lewis paling pendiam.
“Maaf, ada sedikit masalah sebelum kami ke sini.” Salah satu agen dari Serbia meminta maaf dan menjelaskan keterlambatan.
“It’s okey. Langsung jelaskan saja lokasinya,” pinta Alessa mewakili.
Alessa bersidekap mendengarkan penjelasan. Bagi Alessa misi ini adalah misi kecil, ia beberapa kali pernah mendapat misi seperti ini.
“Berhati-hati pada dua titik, yaitu ruang bawah tanah dan ruang pemimpin. Perkiraan kami anak-anak ditahan di ruang bawah tanah, jadi titik itu yang menjadi fokus utama.” Alessa mengangguk paham.
“Jangan terlalu fokus pada titik itu, bisa saja mereka tidak menahan anak-anak di sana. Saling berkomunikasi jika ada titik yang mencurigakan, bisa saja mereka mengoceh kita.” Alessa berucap malas. Bukan malas menjalankan misi, tetapi malas dengan pikirannya yang tidak berhenti pada dua pria, Nick dan Joe!
“Oke, kita mulai. Dua orang berjaga di depan, sedangkan yang lainnya ikut bersamaku.” Mereka mengangguk setuju.
Alessa memberi arahan lewat matanya pada William untuk melumpuhkan dua penjaga di depan pintu. William mengangguk, dalam hitungan detik pria itu berada di depan kedua penjaga tersenyum ramah.
“Ah, pria itu... tidak bisakah tanpa senyum ramah sebelum menghabisi orang? Dia bagaikan psikopat!” komentar Greisy.
“Begitu juga kau mengaguminya,” balas Blue terkekeh. Greisy mendelik kesal pada Blue, dia tidak dapat membalas ucapan wanita itu karena Alessa yang menatapnya penuh peringatan.
Kedua penjaga dilumpuhkan, Alessa memberi aba-aba kepada mereka untuk masuk bergantian. Alessa lebih dulu masuk dan mencari tempat persembunyian, diikuti oleh yang lainnya. Satu per satu berpencar mengeledah tempat.
“Siapa yang berjalan ke bawah tanah?” tanya Alessa pelan lewat earpiece-nya.
“Aku dan salah satu agen Serbia,” jawab Greisy.
“Oke. Berhati-hati,” pesan Alessa.