
“Ada yang ingin bertemu Anda, Nyonya...” beritahu salah satu pelayan kepada Alessa.
“Siapa?” tanya Alessa.
“Tuan Lucas, Nyonya.” Alessa mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih. Tidak biasanya saudaranya itu datang tanpa memberitahu.
“Lucas,” panggil Alessa.
“Alessa!” sapa Lucas, dan segera memeluk sang adik erat.
“Bagaimana kandunganmu?” tanya Lucas setelah melepaskan pelukan.
“Kau kemari hanya menanyakan kabar calon keponakanmu, huh?” sarkas Alessa, Lucas tertawa.
“Nick berkata kau bedrest setelah kembali dari villa,” sahut Lucas.
“Ya,” balas Alessa singkat
“Kau tidak apa?” tanya Lucas khawatir.
“Aku baik, Lucas. Hanya tidak bisa melakukan kegiatan berat,” jawab Alessa.
“Baguslah.”
“Jadi, apa gerangan apa kau kemari?” tanya Alessa menatap Lucas lekat, Lucas menghela nafas.
“Phei berusaha membujuk papa, dia keberatan atas gugatan cerai yang papa layangkan,” tutur Lucas.
“Peceraian itu tertunda, atau?”
“Kulihat seperti itu, papa ragu menceraikan Phei,” jawab Lucas, Alessa mengerutkan dahinya bingung.
“Ragu? Karena?”
“Phei memainkan perannya, berusaha mendapatkan simpati papa. Kau tahu sendiri bagaimana perangai wanita itu,” ucap Lucas.
“Terlebih papa tahu dia yang membunuh mama?” Lucas menghela nafas, tidak dapat menjawab.
“Papa ingin bertemu denganmu,” beritahu Lucas. Alessa diam beberapa saat, dia mengangguk setuju.
“Kapan?”
“Malam ini. Aku akan membawa papa berkunjung kemari,” jawab Lucas, Alessa kembali mengangguk.
Tiba di malam hari, Nick menyampaikan bahwa pertemuan ini akan dilakukan di luar mansion. Alessa tentu curiga, ada sesuatu yang tidak beres di sini, akan tetapi Alessa malas bertanya. Sesampai di sebuah restoran, Alessa mengikuti langkah Nick memasuki restoran yang ia yakini sudah dibooking oleh pria ini, terlihat dari sepinya pengunjung.
“Phei dan kedua putrinya ada di dalam,” beritahu Nick datar, Alessa seketika menghentikan langkahnya.
“Are you kidding me, Nickholas? Kau baru mengatakannya sekarang?” keluhnya.
“Papa memohon wanita itu juga hadir, aku tidak bisa menolak,” balas Nick. Raut wajah Nick menandakan dia tidak suka atas pertemuan malam ini.
“Apa sebenarnya yang papa harapkan dari wanita itu?” tanya Alessa pelan bernada frustasi.
Sepasang suami-istri ini kembali melanjutkan langkah mereka memasuki ruangan yang terlihat sudah lengkap dengan semua orang. Alessa duduk anggun di samping Nickholas tanpa menyapa siapapun dengan ekspresinya datar. Lucas memberi tatapan memohon maaf kepada sang adik, yang dibalas senyum sinis oleh Alessa.
“Langsung katakan saja yang ingin kalian sampaikan!” tutur Alessa.
“Apa tidak lebih baik kita makan malam dulu, Alessa?” Suara lembut Phei yang dipaksakan itu mengundang tawa sinis Alessa.
“Jangan mainkan peran baikmu itu di depanku, Phei! Beberapa minggu yang lalu menghinaku habis-habisan,” ucap Alessa muak.
“Apa kau katakan padaku saat itu? Pelacur, huh?” decih Alessa.
“Apa ini sekarang? Berkata lembut agar Tuan Emrick terhormat ini yakin padamu, begitu?” sengit Alessa, dia tidak peduli baru saja mengucapkan nama sang papa tanpa embel papa di dalamnya.
“Bukan seperti itu, Alessa. Mama minta maaf atas perlakuan mama selama ini,” lirih Phei berkaca-kaca, Alessa mendengus malas.
“Mamaku sudah meninggal, dan kau yang membunuh mamaku! Aku tidak sudi memiliki mama pelacur sepertimu!” tekan Alessa.
“Apa?!” bentaknya.
Alessa tahu dia kelewatan membentak sang papa, tetapi rasa bencinya pada Phei tidak dapat dia tutupi. Alessa amat muak, dia tidak kuasa menahan kemarahannya detik ini.
“Alessa, papa mohon ... bersikap baik pada Phei, dia istri papa,” timpal Emrick lembut. Alessa tertawa tanpa arti.
“Tuan Emrick... jangan pernah meminta saya bersikap baik pada istri tersayang Anda ini, sedangkan dia sendirilah yang melenyapkan ibu kandung saya. Sampai kapanpun, saya tidak akan sudi bersikap baik dengan dia!” gumam Alessa tegas, Emrick menghela nafas.
“Alessa.. papa menemuimu karena ingin meminta izin kembali pada Phei,” jelas Emrick.
Benarkah yang Alessa dengar ini? Belum reda kemarahannya, sang papa kembali menyiram minyak kemarahan yang berkali-kali lebih dalam. Dada Alessa sesak terbakar, rasanya dia ingin mengeluarkan kalimat tajam, atau memukul sesuatu guna menyalurkan kemarahannya.
“Tidak perlu izin saya apabila Anda ingin kembali padanya. Persoalan cinta kalian, bukan urusan saya sama sekali,” tukas Alessa.
“Satu fakta yang tidak bisa Anda hindari, Tuan Emrick... dia adalah pembunuh istri Anda, ingat itu, dan saya mengerti bahwa cinta yang Anda miliki pada ibuku, tidak lebih dari seujung kuku pun,” tekan Alessa. Emrick menatap sang putri sendu.
“Silakan rujuk. Saya tegaskan di sini, saya bukan lagi bagian keluarga Beata. Saya rela melepaskan orang tersayang yang saya punya dibanding harus menerima kembali wanita pembawa petaka itu ke dalam hidup saya,” tegas Alessa bersungguh-sungguh.
“Alessa, aku berada dipihakmu,” ucap Lucas tidak terima dengan ucapan sang adik.
“Tidak, Lucas. Selagi kau masih terikat dengan mereka, aku tidak pernah mau menganggapmu keluargaku. Sejak dulu hingga sekarang, aku bisa berdiri di kakiku sendiri tanpa bantuan kalian atau siapapun itu,” balas Alessa datar, lalu ia beranjak pergi meninggalkan restoran tersebut. Nickholas menatap keluarga Alessa geram, tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa. Dia ikut beranjak mengikuti langkah Alessa yang sudah hampir mencapai pintu.
Alessa sendiri tidak buta, Lucas mempunyai rasa sayang yang tidak semustinya kepada salah adik tiri mereka, Lucian. Informasi ini baru Alessa dapatkan, Lucas masih berhubungan dengan Lucian, sesekali mereka memadu kasih seperti layaknya suami-istri. Setelah Lucian mengugurkan hasil perbuatan mereka, benih cinta di antara keduanya tumbuh. Alessa diam selama ini, selagi Lucas tidak mengumbar rasa itu, akan tetapi Alessa lupa ... cinta seringkali membuat manusia melakukan sesuatu di luar batas limit.
Demikian halnya sang papa ... Alessa tidak habis pikir apa yang papanya inginkan dari wanita itu? Setelah fakta terpampang jelas, Emrick seolah baik-baik saja, malah berniat memperbaiki hubungannya bersama Phei. Sebesar itukah cinta sang papa? Sampai sebegitu mudahnya memafkan seseorang yang membunuh istrinya. Sejauh apapun dijelaskan, tidak ada satu alasan pun yang dapat masuk ke logika Alessa. Bukankah ketika seseorang membunuh orang yang kita cintai, maka kita membangun jarak dengan pembunuh tersebut.
Alessa tidak meminta sang papa membenci Phei, setidaknya Emrick bersikap defensif terhadap Phei. Namun, bukannya menjauh, Emrick semakin mendekat. Apakah selama ini sang papa benar-benar mencintai ibunya?
“Relax, Alessa...” pinta Nick mengelus punggung Alessa lembut.
“Bayimu juga merasakan keteganganmu, relax, please...” ucap Nick, Alessa menghela nafas berat.
“Kisah mereka, hampir mirip dengan kisah kita,” komentar Nick pelan, Alessa menatap Nick tajam.
“Apa kau juga sempat membenci Allard?” Alessa menggeleng tegas.
“Aku tidak membenci, karena kau pantas mendapatkan itu,” sarkas Alessa, Nick terkekeh seraya mengangguk setuju.
“Ya, tapi kau sempat menjaga jarak,” sahut Nick ringan, Alessa diam sebab apa yang dikatakan Nick adalah kenyataan.
“Mungkin itu yang papa lakukan, menjaga jarak dan kembali mendekat,” sambung Nick, Alessa menggeleng tidak setuju.
“Walau berjuta-juta hinaan terlontarkan dari wanita sialan itu padaku dan almarhum ibuku?” decih Alessa.
“Setajam apapun kalimatnya, Tuan Emrick tidak pernah terpengaruh,” kritik Alessa.
“Bahkan sialan itu mengatakan ibuku pelacur, dia diam!” tambah Alessa. Nick menatap sang istri sesak, dia sendiri bisa merasakan seberapa sakit hati Alessa detik ini.
“Lalu, apa yang akan kau lakukan?” tanya Nick pelan, setelah kesunyian menimpa keduanya.
“Menghilang dari kehidupan mereka seperti sebelumnya,” jawab Alessa datar.
Nick menggelang tidak setuju, akan tetapi dia tidak berkomentar. Apabila Nick mengomentari, itu akan semakin memancing kemarahan Alessa. Hingga mereka tiba di mansion, tidak ada ada yang membuka mulut. Alessa segera berganti pakaian dan membaringkan tubuh lelahnya di atas ranjang, begitu juga dengan Nick. Kemudian, Nick mendekat dan membawa Alessa ke dalam pelukannya.
“Nick...” panggil Alessa, Nick berdehem memberi balasan.
“Segera selesaikan perceraian itu,” ucap Alessa dan memejam matanya.
Nick menghela nafas pelan, kemudian mengelus lengan sang istri. Sebenarnya, tanpa Alessa minta, dia tengah berusaha secepatnya, tetapi beberapa hal menyulitkan penyelesaian tersebut. Pihak Christa keberatan atas tuntutan perceraian yang Nick layangkan. Memang kasus perceraian sangat memakan waktu lama, terlebih jika salah satu mereka memberatkan gugatan yang ada.
Christa tiba-tiba ingin mempertahankan pernikahan yang sejak awal adalah perjanjian kedua belah pihak agar mengesahkan seluruh harta Bateline dapat berganti tangan menjadi hak miliknya. Christa menyetujui hal tersebut, akan tetapi tumbuhnya rasa cinta itu membuat Christa beralih ingin mendapatkan cinta Nick.
“Aku akan segera menyelesaikannya, aku berjanji.” Alessa tersenyum disela pejaman matanya.
“Good night, Wife...” bisik Nick di akhiri dengan kecupan hangat di kening Alessa.