
Sebulan berlalu, hubungan Alessa dan Nick semakin dikatakan dekat. Perlahan Alessa mengerti, Nick tidak memiliki niat buruk pada Allard ataupun Katryna. Alessa sering menemukan Nick berdiskusi dengan Allard lewat telepon. Dua kalimat yang Alessa dengar dari bibir Nick saat itu adalah,
“Biar Alessa yang menemukan alasanku menyembunyikan kematianku. Aku tidak peduli dengan pandangan dia nantinya, yang jelas aku mencintai dia.”
Saat ini yang ada dipikiran Alessa adalah Joe, ia tidak tahu harus melakukan apa. Jujur saja, Alessa tidak ingin egois. Detik di mana dia menerima Joe, ia berjanji pada dirinya untuk melanjutkan kehidupan bersama Joe. Namun, sekarang keadaan sangat jauh dari wacana.
Alessa ingin mengakhiri pertunangan mereka, tetapi Joe setiap saat meminta dia kembali. Bukan karena Nick, ini lebih pada perasaannya yang sulit menerima pria lain di saat hatinya masih bertahan pada hati lainnya. Bagaimana pun, ia tidak mau menyakiti perasaan Joe.
Well... katakan Alessa jahat meminta waktu pada Joe, dan di akhir nanti Alessa sendiri tidak tahu bagaimana akhir dari perkataannya. Ah, entahlah... daripada memikirkan hal memusingkan, Alessa memutuskan untuk mengunjungi sahabatnya.
...***...
“Dimana Katryna?” tanya Alessa pada Jeff yang kebetulan berpas-pasan.
“Tumben kau datang,” komentar Jeff tanpa membalas pertanyaan Alessa.
“Biasanya kau sibuk dengan priamu!”
Malas meladani mulut sopan Jeff, Alessa berjalan masuk ke dalam mansion Helbert. Namun, bukannya menemukan Katryna, ia malah bertemu dengan Nick dan Allard.
“Hai, Al. Dimana Katryn?” tanya Alessa.
“Taman belakang.” Alessa mengangguk sekali dan berjalan cepat, merinding mendapat tatapan Nick yang seolah ingin menerkamnya.
“Katryn.” Wanita itu menoleh dan tersenyum senang menemukan Alessa.
“Alessa, apa kabar?” jerit Katryna heboh.
“Baik.”
“Oh, aku merindukanmu. Kau tidak pernah datang mengunjungiku!” gerutu Katryn. Alessa tersenyum, ia memeluk sahabatnya ini erat.
Setelah pelukkan keduanya terlepas, Katryn meminta Alessa duduk. Alessa dapat melihat raut wajah Katryn begitu bahagia, guratan kesenangan itu pasti disebabkan oleh Allard dan ketiga anaknya.
“Kau sedang bermasalah,” celetuk Katryna tiba-tiba.
“Tidak.”
“Alessa, jangan katakan tidak.”
“Ya. Joe...” akunya.
“Ceritakan padaku,” pinta Katryna.
“Joe memintaku untuk kembali setelah urusanku dengan Nick selesai.”
“Dia tahu Nick?” tanya Katryna mengerutkan aslisnya.
“Tidak. Aku mengatakan masa laluku belum usai bersama seseorang, hanya itu.”
“Lalu, kenapa itu menjadi pikiranmu?” tanya Katryna lagi.
“Aku tidak ingin menyakitinya, aku tidak tega menolak permintaannya, tapi―” ucap Alessa terhenti.
“Aku mengerti. Saranku, akan lebih baik kau mengakhiri semuanya dengan Joe. Dia tidak diuntungkan dengan semua ini, kau masih mencintai Nick dan begitu juga dengan Nick. Apalagi yang ingin kau tunggu, semakin lama kau menunda, semakin besar Joe tersakiti,” nasihat Katryna.
“Dari awal aku berencana membangun rumah tangga bersama Joe.” Katryn menggeleng tidak mengerti.
“Jadi, kau akan meninggalkan Nick?”
“Ryn... aku masih belum mengerti dengan Nick, dia menarik ulurku. Tentang Joe, aku sudah menolak halusnya, akan tetapi dia bersikeras.”
“Permisi, Mother... Miss Allena mencari Anda,” ucap Jeff menunduk hormat.
“Ya, Jeff. Aku akan kesana.” Jeff undur diri, Katryna mengajak Alessa ke dalam, tetapi Alessa tolak.
“Baiklah, aku hanya sebentar.” Alessa mengangguk.
Ketika Katryna pergi, Alessa berdiri menatap kolam Teratai milik Katryna. Otaknya memikirkan Nick yang memilik banyak rahasia, pun saat Alessa melacak keluarga Bateline, ia tidak menemukan informasi penting dan terkesan ditutupi.
Alessa membuka pintu, si kembar terlihat berada dipangkuan Nick. Inilah Nick, si penyuka anak kecil. Sangat mudah bagi dia mendekatkan diri kepada anak-anak, berbeda dengan Alessa yang sedari dulu tidak menyukai anak kecil.
Mata Alessa berkaca-kaca, seandainya bayinya lahir dan Nick mengendong bayi mereka, pasti akan menciptakan suasana hangat. Salahnya, Nick tidak tahu bahwa Alessa pernah hamil dan keguguran.
“Aunty Alessa,” panggil Alland.
“Kalian sedang apa?” tanya Alessa.
“Uncle Nick membacakan kami cerita. Lihat itu, Uncle Nick membawakan untuk kami!” ucap Alland semangat menunjuk sebuah mainan di bawah kaki Nick.
“Sangat bagus.”
“Oh, ya... dimana ibu kalian?” tanya Alessa mencari keberadaan Katryna.
“Tidak tahu,” sahut keduanya bersamaan.
Sunguh Alessa tidak nyaman Nick menatap perutnya, jantungnya bergemuruh hebat. Tidak, Nick tidak tahu itu, dia sudah menutup rapat rahasia itu. Hanya Katryna yang tahu akan kehamilan dan kegugurannya.
...***...
Matahari pagi menembus kaca kamar yang Alessa tempati. Sejenak, Alessa merasa elusan kecil di perutnya dari seseorang di belakang tubuhnya. Alessa ingat bagaimana buasnya Nick menyerang tubuhnya habis-habisan. Alessa menggengam pergelangan tangan Nick yang hampir mencapai intinya, dia lelah meladeni nafsu Nick. Kemudian, Alessa berbalik guna saling berhadapan. Ia menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Nick seraya memejamkan matanya.
“Aku tidak bisa disituasi ini, Nick. Joe tunanganku,” ucap Alessa pelan.
“Kau istriku! Berapa kali aku katakan itu!” geram Nick.
“Joe bukan siapa-siapamu!” lanjutnya. Alessa berniat beranjak, tetapi Nick menahan pinggang Alessa.
“Kau mencintainya?” tanya Nick pelan.
“Aku menyayanginya,” jawab Alessa ringan.
“Tidak boleh, Alessa. Kau hanya bisa menyanyangi dan mencintai aku,” balas Nick.
“Kenapa kau begitu egois?”
“Kau yang egois!” Alessa menghela nafas lelah, pikirannya bercabang-cabang antara urusan pribadi dan pekerjaan.
“Nick, aku lelah berdebat. Sebulan aku menempati janji untuk tinggal bersamamu, tetapi kenapa kau masih saja mengangguku?!”
“Menganggu katamu?” ucap Nick tidak terima.
“Aku memilih Joe, aku ingin hidup bersama dia!” ucap Alessa entah berbohong atau tidak.
Nick kesal mendengar pernyataan Alessa, ia dengan cepat mengungkung tubuh Alessa sehingga Alessa berada di bawah kendalinya.
“Hidupmu hanya milikku, hanya aku pria yang dapat kau pilih!” tegas Nick tajam.
“Mulai sekarang dan seterusnya, kau tinggal bersamaku. Menemui pria itu, berarati kau membawa kematian pada dia!” kecam Nick.
“Kau tidak bisa mengancamku!” sahut Alessa tak terima.
“Aku tidak mengancam. Aku ingin milikku kembali padaku,” ucap Nick tenang.
“Baru sekarang kau katakan itu? Sebelumnya kemana saja?!” sinis Alessa.
“Aku di sini, aku selalu berada di dekatmu,” ucap Nick, lalu mengecup bibir Alessa lembut.
“Aku tidak pernah membiarkanmu pergi,” lanjutnya.
Alessa menahan nafas ketika matanya bertubrukkan dengan mata abu-abu milik Nick. Sebuah kasih sayang terpancar dari mata itu, Alessa tidak dapat mengelak, dia merindukan tatapan penuh cinta dari seorang Nick.
“Nick, aku merindukanmu...” bisik Alessa dengan setetes air mata.
“I know. I miss you too, Baby... so much...” ucap Nick.
Alessa memeluk Nick yang berada di atasnya, sedangkan Nick tersenyum lembut di baliknya. Ada rasa di mana dia senang sang istri menunjukkan sikap sebenarnya, inilah Alessa yang manja. Nick tahu seberapa besar Alessa mencoba membuka hati untuk pria lain, akan tetapi berjuta-juta kali mencoba, hati Alessa akan terus menjadi miliknya. Demikian hal sebaliknya, sebab hati mereka tahu tempat sesungguhnya untuk berpulang.