The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 28. Living Together



Alessa benar-benar tidak percaya saat ini tengah mengandung. Feeling yang ia rasakan ini sama persis seperti dulu, mood swing yang tidak teratur, badan terasa lebih berat, dan yang lebih jelasnya adalah sangat berbeda dari biasanya. Alessa menganalisa tubuhnya yang tampak berbentuk dari kaca full body.


Ada ketakutan yang Alessa rasakan, hubungannya dengan Nick yang tidak tentu arahnya. Nick memang sudah menjelaskan mengapa ia memanipulasi kematiannya dan kemana ia selama ini. Jawabannya tidak jauh berberbeda dari penjelasan kemarin, Nick mewaspadai keluarga Fernand yang masih hidup, mereka sesekali mematai Alessa guna mendapat informasi tentang Nickholas. Ia sengaja memanipulasi karena keluarga Bateline—yang mana keluarga kandung— Nick masih hidup sampai sekarang.


Kemana Nick selama ini? tidak jauh dari Alessa, ia hidup dibantu oleh Allard untuk mendapatkan semua hak milik keluarganya. Dan ketika ditanya mengapa Allard membantu Nick, jawaban Nick tidak tahu. Saat membuka mata, Allard orang pertama yang ia lihat.


Alessa belum percaya sepenuhnya, batinnya mengatakan ada hal lain yang Nick sembunyikan, berkait dengan wanita itu mungkin. Alessa tidak bisa mengabaikan kata hatinya, setiap manusia berubah seiring berjalannya waktu, tiga tahun berpisah tidak menutup kemungkinan adanya satu atau dua perubahan yang terjadi di dalam hidup manusia.


“Makan malam sudah siap,” bisik seseorang seraya memeluknya.


Alessa tahu itu Nick, pria itu tengah mengelus perutnya yang bebas dari penutup. Mereka berjalan menuju meja makan bundar, lalu duduk saling berhadapan. Di depan mereka sudah tersedia sepotong steak, segelas wine untuk Nick dan segelas air putih untuk Alessa beserta sayur-sayuran segar yang diolah menjadi salad.


“Kapan kau membawaku ke pulang?” tanya Alessa setelah menyuap sepotong steak yang telah Nick potong kecil-kecil.


“Lusa.”


“Aku ada pekerjaan. Kau tidak bisa mengurungku di sini,” ucap Alessa.


“Pekerjaan apa?” Nick bertanya seraya memakan steaknya santai.


“Tidak perlu aku jelaskan!” sarkas Alessa


“Apa berpotensi membahayakan bayiku?” Alessa menatap netra abu-abu Nick, seperti ada kemarahan di balik mata itu ketika mengatakannya.


“Apa Nick tahu soal keguguran itu?” batin Alessa gundah.


“Tidak. Aku harus memeriksa beberapa berkas,” jawab Alessa melunak.


Ia malas menanggapi lebih lanjut, Nick saat ini seolah mengatakan lewat matanya dia ingin berdebat dan membantai Alessa dengan kata-katanya. Sebelum kehamilan Alessa yang gugur dulu muncul dipermukaan, lebih baik Alessa mewanti-wanti dari sekarang. Alessa tidak yakin seratus persen bahwa Nick tidak tahu soal itu.


“Besok. Setelah itu kau harus tinggal bersamaku, iya ataupun tanpa persetujuanmu!” final Nick.


Oke, baiklah, untuk saat ini Aleesa mengiyakan seluruh perkataan seorang Nickholas. Secercah harapan menyapa, kali ini Alessa menurunkan egonya. Nick tersenyum kecil melihat Alessa-nya yang menurut.


...***...


Perjalanan menuju New York mereka tempuh selama dua jam menggunakan mobil. Nick lagi dan lagi membawanya ke sebuah pendalaman, tidak heran bagi Alessa sebab Nick sangat gemar menculiknya berhari-hari ke sebuah pendalaman desa hanya untuk menghabiskan waktu berdua.


Alessa sebenarnya tidak habis pikir, seberapa banyak tempat yang Nick ketahui sehingga setiap kali menculiknya berada di daerah yang berbeda-beda. Ya, Alessa mengakui, daerah tersebut terkadang berguna sebagai tempat persembunyian ataupun tidak jauh dari tempat-tempat itu digunakan oleh buronan mereka untuk markas dan sebagainya. Jadi, sedikit-banyaknya Alessa mengetahui bagaimana kondisi dan arah-arah di sana.


Mansion Nick sudah terlihat di depan mata, Alessa menghela nafas, entah bagaimana jadinya jika mereka tinggal bersama lagi. Tanpa sadar, Nick sudah membuka pintu mobil, Alessa segera turun. Tepat di depan pintu masuk mereka disambut oleh Noura, gadis itu tampak gembira menyambut kedatangan Alessa.


“Welcome, Sister!” Alessa menggeleng pelan, tingkah Noura berlebihan sekali.


“Kau berlebihan,” ucap Alessa mengutarakan isi hatinya.


“Ayo, masuk. Akan kutunjukkan kamarmu!” Noura menarik tangan Alessa menuju lift untuk ke lantai dua.


“Nah. Ini kamarmu,” ucap Noura ketika membuka sebuah pintu dihadapan mereka.


“Benar sekali. Ada yang salah?” tanya Noura kebingungan.


Salah. Aku tidak mau sekamar dengan pria itu, batin Alessa.


“Kau hanya boleh menempati kamar ini,” tutur Nick yang baru saja masuk. Alessa menghela nafas, jika membantah akan menjadi masalah.


“Oke, fine!”


“Noura, kau bisa keluar. Alessa akan beristirahat!” Noura mengangguk, tidak membantah sama sekali.


Alessa berjalan menuju ranjang, lalu membaringkan tubuhnya. Ah, rasanya nikmat sekali, dua jam lebih diperjalanan ditambah duduk sepanjang perjalanan membuat tubuh Alessa lelah.


“Beristirahatlah. Jika kau butuh sesuatu, kau bisa mengatakannya padaku,” ucap Nick datar seraya mendudukan dirinya di atas sofa, sepertinya pria itu akan mengerjakan sesuatu di notebook-nya.


Alessa hanya diam, matanya terasa berat setelah bersentuhan langsung dengan kasur ini. Setengah sadar Alessa masih berpikir, mengapa bisa-bisanya aku menuruti perkataan pria itu? Apa dengan cara menurutinya dia akan luluh? Itu terdengar mustahil!


apa yang dikatakan, Nick? Rasanya aku takut bila Nick tahu tentang keguguranku dulu, tetapi apa dengan cara aku menurutinya dia akan luluh? Itu terdengar mustahil!


...***...


“Good evening, Alessa!” sapa Noura, Alessa menampilkan senyum tipis tanpa membalas.


Pelayan tampak menghidangkan makanan dihadapan mereka, Alessa berbinar senang dihidangkan makanan khas Indonesia, sudah lama dia merindukan masakan negaranya.


“Apa ada yang Anda inginkan, Nyonya?” tanya pelayan tersebut sopan.


“Tidak, ini sudah cukup. Terima kasih banyak,” ucap Alessa tulus.


Nick datang di saat Alessa baru menyuapkan nasi beserta lauk. Sedikitpun Alessa tidak peduli, yang dia pedulikan adalah makanan di depannya. Nick tersenyum amat tipis, keantusiasan itu sangat terpampang jelas di mata Alessa, sekalipun Alessa menutupinya, Nick tidak dapat dibohongi. Noura ikut tersenyum, sang kakak tersenyum hanya karena keantusiasan Alessa, luar biasa!


“Bagaimana kau bisa berpikir menyajikan makanan ini?” tanya Alessa disela suapannya. Nick hanya tersenyum amat tipis.


“Apa kau menyukai makananmu, Noura?” tanya Nick memilih memperhatikan sang adik.


“Ya. Ini sangat enak,” jawab Noura antusias memotong daging berbumbu rendang dihadapannya.


“Makan menggunakan tangan, itu akan lebih nikmat,” celetuk Alessa ikut nimbrung. Alessa terkekeh geli, ekspresi Noura benar-benar lucu. Tak heran, orang di luar sangat gemar makan menggunakan sendok dan sejenis, berbeda dengan orang Indonesia yang menyukai makan menggunakan tangan.


“Apa ... itu tidak jorok?” tanya Noura hati-hati.


“Tidak, cobalah.” Noura mulai menyingkirkan sendoknya, kemudian mengambil sesuap nasi beserta daging, lalu menyuapkannya.


“Ya. Ini lebih nikmat, walau sedikit agak aneh,” komentar Noura. Alessa kembali terkekeh, sedikit ia melirik pada Nick yang masih tenang memakan dagingnya tanpa nasi.


Ingatan Alessa kembali pada beberapa tahun lalu di saat awal pernikahan, Nick mencoba membuat daging rendang khas Indonesia tersebut, walau rasanya sedikit berbeda, tetapi Nick berhasil membuatnya. Entah mengapa, Nick menjadi ingin tahu semua tentang Indonesia. Bahkan, sedikit demi sedikit Nick mempelajari bahasa, terakhir kali yang Alessa ketahui ialah, Nick sudah pandai membaca dan melafalkan kosakata berbahasa Indonesia.