
“Baik.”
“Jeff!” decak Alessa.
“Dia membaik sekarang,” ucap Jeff.
“Bagaimana kabar dia sekarang?”
“Masih bekerja pada father, dan sempat berkencan dengan beberapa wanita,” jawab Jeff.
“Apa dia mencariku?” tanya Alessa meringis di akhir kalimat. Dia seolah berselingkuh menanyakan ini.
“Ya. Tapi,—”
“Kulihat dia sudah move on darimu. Jadi, Alessa... lanjutkan hidupmu bersama suamimu,” saran Jeff, Alessa menatap Jeff tajam.
“Aku bertanya karena mengkhawatirkan dia, bukan berarti ada apa-apa, Bangsat!” maki Alessa.
“Tidak salah kau bertanya langsung pada suamimu. Menurutku, kau bertanya tentang dia di belakang suamimu seolah kau ingin kembali berselingkuh,” kekeh Jeff melontarkan candaan.
“Mulutmu benar-benar sampah!” cemoohnya.
Katryna menggeleng, benar yang Alessa katakan, Jeff tidak sesopan itu. Maksud Katryna, dia layaknya manusia pada umumnya yang melontarkan kalimat candaan. Di belakang itu, Jeff terkenal sopan padanya. Candaan seperti itu sekalipun tidak pernah terdengar dari mulut Jeff di depannya atau Allard, seserius itu seseorang Jeff.
“Ngomomg-ngomong, Lyla dan Keynand tidak datang?” tanya Alessa teringat pada dua manusia itu.
“Mereka menyusul, sebentar lagi akan datang,” jawab Katryna.
“Dilihat-lihat, mereka tampak bahagia dengan kehidupan pernikahan mereka,” komentar Alessa ringan.
“Kulihat juga demikian. Aunty Cassandra bercerita, Keynand sekarang lebih mendalami perannya sebagai suami sekaligus ayah, tidak ada lagi Keynand yang mengingat masa lalu bersama Selena,” cerita Katryn.
“Intinya si tembok itu sudah bergerak maju melupakan betina itu?” simpul Alessa. Katryna tertawa, penyebutan nama yang Alessa berikan pada Selena terdengar aneh di telinganya.
“Syukurnya begitu,” balas Katryna.
“Tapi, apa benar awal pernikahan mereka tidak berjalan baik?” tanya Alessa penasaran.
“Ya,” jawab Katryna seraya mengangguk kepalanya mengonfirmasi dua kali.
“Keynand memandang Lyla bak porselin, tak dianggap. Menghadapi Keynand sungguh suatu yang berat, Lyla wanita tangguh dapat bertahan dengan segala sikap kurang ajar pria itu,” tambahnya.
“Kurang ajar yang kau maksud itu, hinaan juga kah?” Katryn menggeleng.
“Tidak sampai sana. Kurang ajar yang kumaksud, dia bermain wanita terang-terangan di depan Lyla.”
Ketika tengah membicarakan sepasang suami-istri itu, keduanya terlihat baru saja keluar dari pintu belakang mendekat ke arah mereka.
“Hey, Alessa... Hey, Katryna...” sapa Lyla, Alessa dan Katryna membalas sapaan tersebut sama ramahnya.
“Selamat atas kehamilanmu, Alessa. Maaf baru datang, aku harus meniduri Vherly dulu,” ucap Lyla.
“Tidak apa, Lyla.” Jawab Alessa tersenyum tipis.
“Apa kabar, Keynand? Sekarang, hidup lebih baik tanpa bayangan Selena?” Alessa tetaplah Alessa yang mengeluarkan ucapannya tanpa segan menyindir orang tersebut.
“Lebih baik darimu pastinya,” balas Keynand santai.
“Kemarin-kemarin saja kau bodoh diperbudak Selana,” decih Alessa sinis.
Lyla menahan senyum, sedangkan Katryna diam-diam memperhatikan Keynand, menganalisa apakah pria ini benar-benar sudah bergerak maju tanpa bayangan masa lalu.
“Jangan tatap aku,” celetuk Keynand datar.
“Suamimu bisa mengultimatumku nanti,” tambah Keynand. Kemudian, Katryna tertawa pelan.
“Psikopat sepertimu takut pada Allard,” komentar Alessa berdecih.
“Semua takut pada Allard,” ucap Lyla. Alessa tidak setuju, tetapi tidak membalas.
“Hanya kau yang berani menentang father, Alessa...” bisik Jeff yang sedari tadi diam menndegarkan perbincangan mereka.
“Hey, Nyonya Katryna-mu juga tidak takut pada Allard,” bantah Alessa benar apanya.
Steak telah matang sempurna, para anak muda lebih dulu mengambil, terutama si kembar. Setelah sesi bbq-an , mereka berkumpul di lantai dua ruang keluarga. Obrolan seputar politik, selebritis, pekerjaan, bahkan dunia mafia menjadi topik pembicaraan. Anak-anak kecil terpisah di tempat yang berbeda bersama pengasuh, agar tidak terkontaminasi dengan obrolan para orang dewasa.
“Pembahasan ini membosankan,” celetuk Neon terdengar oleh sepupu Allard, termasuk Alessa yang duduk di karpet bawah.
“Hentikan rencana kalian,” peringat Keynand tajam pada adik kembarnya, paham betul keduanya tengah merencanakan sesuatu.
“Apa? Kami tidak merencanakan apapun,” balas Neon polos.
“Bukan begitu, Cantik?” Tiba-tiba Neon berkata pada Noura yang duduk disebelah Alessa.
“Aku tidak mengerti yang kalian bicarakan,” balas Noura kebingungan, gerakannya menggaruk kepala menandakan dia sungguh tidak paham.
“Mommy, pembahasan kalian tua sekali!” ucap Leon memotong pembicaraan para orang tua tentang politik yang tengah panas di masyarakat.
Sepupu-sepupu Allard menghela nafas, ditambah lagi Neon tersenyum lebar mendukung sang kakak. Keynand sebagai kakak kandung jengah menatap kelakuan adik kembarnya ini yang selalu mencari keributan. Dimanapun dan kapanpun selalu senang mengganggu.
“Leon, kau ingin aku memotong lidahmu atau bibirmu? Sekenamu saja memotong obrolan orang tua,” balas sang ayah penuh peringatan.
“Maaf, Daddy...” ciutnya.
“Kalian ingin apa?” tanya Fillbert kepada keponakannya.
“Begini, Uncle... Alessa mengundang kita, bukan untuk membahas bisnis atau apalah itu, tapi untuk menyenangkan dia. Benar ‘kan, Cutty?” ujar Neon meminta persetujuan, lirikan matanya bermain agar Alessa mengiyakan.
“Tidak juga,” balas Alessa.
“Aku mengundang kalian untuk berkumpul dengan kerabat dekat saja, terlepas apa yang dibahas, itu terserah. Aku menikmati pembahasan itu,” tambah Alessa. Neon menatap Alessa tajam, mengibarkan bendera perang.
“Uncle Fill, ayo kita bermain TOD!” celetuk Neon semangat. Maria mendengus keras mendengar permintaan Neon itu.
“Permainan tidak berguna!” komentar Reynold, salah satu sepupu Allard.
“Itu akan menyenangkan, ayo!” ucap Cassandra didukung oleh Caroline, Ibu Allard.
“Oh, ada apa dengan para ibu-ibu ini?” tanya Maria heran.
Alessa malas mengikuti permainan ini, permainan anak-anak ini terakhir di saksikan saat liburan beberapa tahun lalu bersama keluarga Helbert juga. Mau tak mau, karena para ibu-ibu ini memaksa ikut, semua menjadi diwajibkan ikut.
Mereka membentuk lingkaran, di tengah-tengah terdapat botol yang diletakkan di atas meja. Putaran pertama mengarah pada Katryna, Neon mendesah kecewa. Katanya, tidak ada pertanyaan yang menarik yang harus ditanyakan pada Istri Allard ini.
“Siapa yang ingin bertanya?” tanya Fillbert, tidak ada yang unjuk diri.
“Oke. Aku yang bertanya,” ucap Fillbert.
“Katryna, di ruangan ini, siapa yang tidak kau sukai? Sebutkan alasannya!”
Mereka tampak penasaran akan jawaban Katryna, pasalnya Istri Allard ini sekalipun tidak pernah marah pada siapapun, sinis pun atau bernada keras tidak. Alessa terkekeh, sedangkan sang pelaku meringis enggan menjawab. Matanya berlari ke arah sang suami, Allard mengangguk mengiyakan, maksudnya tidak masalah jika Katryna berkata jujur.
“Sebenarnya, yang tidak disukai, tidak ada. Tetapi, mungkin ini lebih ke agak kesal,” ucap Katryn menghentikan kalimatnya sebentar.
“Uncle Kyle. Setiap kali berbincang, dipandanganku dia terlihat sinis. Aku merasa seperti membuat salah padanya,” ringis Katryn ditatap oleh Ayah Keynand dan si kembar.
“Jangankan kau, kami anak kandungnya saja sering dijadikan bahan kesinisan daddy,” komentar Neon setuju yang disambut kekehan oleh yang lain.
“Dia seperti itu, Katryna. Jangan dimasukkan ke hati sikap uncle-mu,” ucap Cassadra menahan senyum.
“Maaf, Uncle...” cicit Katryn.
Alessa tak dapat menahan tawanya, sejak dulu Katryn bercerita bahwa dia tidak begitu suka berinteraksi dengan suami dari Bibi Allard ini. Kyle pada dasarnya memang manusia sinis, tidak ada dalam kamusnya beramah-tamah pada siapapun, termasuk istrinya. Sekejam-kejamnya Fillbert dan Allard, Kyle-lah yang paling mendominasi di atasnya.
“Aku tidak semenakutkan itu, Katryna.” Kyle berucap setelah menghela nafas.
“Suami-mu lebih menakutkan daripada aku,” sambung Kyle.
“Tidak sadar diri!” sinis Fillbert seraya terkekeh.
“Cukup! Lanjutkan permainan!” potong Cassandra cepat.
Permainan berlanjut terus, sampai botol berhenti berputar tepat menghadap Alessa. Lirikkan si kembar membuat Alessa bersiap-siap menghadapi sesuatu yang ia yakini mengandung kekesalan. Seribu persen Alessa yakin, senyuman Neon membuktikan segalanya.
“So, Cutty... Truth or Dare?” tanya Leon.