The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 27. Pregnant



“Alessa!!” pekik Noura menyapanya, Alessa baru saja memasuki mansion Bateline.


“Oh, My God. Pelankan suaramu, Nou!” peringat Alessa, Noura tertawa.


“Bagaimana kabarmu?” tanya Alessa.


“Amat baik. Aku baru saja mengunjungi mama dan papa,” ucap Noura ringan.


Ada yang bertanya, mengapa Alessa bersikap ramah kepada Adik Nickholas ini? Jawabannya, Alessa tidak memiliki alasan untuk sinis terhadap Noura. Sejujurnya, Alessa bukan tipe orang yang kaku dalam berteman dengan orang baru. Pada dasarnya, jika lawan bicaranya baik dan sefrekuensi, Alessa dapat mengimbangi. Lagipula, Noura tipikal gadis baik nan tulus di mata Alessa.


“Dimana makam orang tuamu kalau aku boleh tau?” tanya Alessa, ia berniat mengunjungi makan tersebut.


Tentu bukan karena Nick, ini murni karena kemanusian akan kejadian dulu. Mungkin sedikit-banyaknya kematian mereka disebabkan Alessa juga.


“Nick tidak memberitahumu?” Alessa menggeleng sebagai jawaban, Noura mengangguk mengerti.


“Nick agak sensitif membahas soal itu,” ucap Noura.


“Minggu depan, apa kau mau menemaniku mengunjungi mereka?” tawar Noura.


“Tentu, Noura.”


“Oke. Kalau begitu, mari kita menghabiskan waktu bersama!” jerit Noura bersemangat seraya menarik Alessa menuju kamarnya.


Sesampainya di sana, Noura menyarankan agar mereka berdandan, Alessa setuju. Kapan terakhir kalinya Alessa berdandan seheboh ini? Dia lupa. Primer, foundation, concealer, contour, bedak, eyeshadow, eyeliner, blush-on, highlighter dan lipstik merah menyala kini ter-aplikasi rata di wajahnya.


“Wow, kau pandai berdandan rupanya,” puji Noura pangling, sedikit iri dengan kelihaian Alessa.


“Bakat terpendam, maybe...” ucap Alessa mengedikan bahunya santai.


“Aku mau eyeliner sepertimu,” ucap Noura menyerahkan sebuah eyeliner ke tangannya, Alessa menyambut dan mengaplikasin benda tersebut pada Noura. Menurut Noura, eyeliner buatan Alessa bagus dan rapi.


...***...


Noura mengajak Alessa ke sebuah club terkenal di New York. Alessa tidak asing dengan club ini, ia sering menghabiskan waktu bersama Jeff atau sesekali bersama tim-nya. Terlihat banyak manusia tengah menggerakkan tubuh di lantai dansa, Alessa dan Noura memilih duduk di pantri.


“Cocktail dua, please!” pinta Alessa.


“Cheers untuk kita berdua,” ucap Noura seraya mendentingkan gelas slot-nya pada milik Alessa, lalu keduanya meneguk slot minuman tersebut.


“Oh, Tuhan... pria itu sangat tampan, Alessa!” celetuk Noura, Alessa menatap objek yang Noura maksud.


“Mr. Edward? Ya, dia memang tampan, tetapi sayangnya dia penyuka sesama jenis,” sahut Alessa terkekeh.


“Kau yakin? Dia sedang mencium seorang wanita, Alessa!” sela Noura.


“Poor, Noura... kau kelihatan sekali ingin mencium pria itu,” ucap Alessa. Noura menatap Edward penasaran. Ternyata, Noura tidak sepolos yang selama ini ia tampilkan.


“Aku penasaran bagaimana rasanya berciuman dengan gay,” aku Noura, Alessa terkekeh.


“Coba saja. Mencoba hal baru itu menyenangkan,” saran Alessa.


Baru saja Noura ingin beranjak, sebuah suara menghentikan langkahnya.


“Uncle Gef, kenapa kau di sini?” tanya Noura heran.


“Tolong ikut aku!” pinta Gef, Alessa mendengus malas.


“Kemana?” tanya Noura tak mengerti.


“Nick di sini?” tanya Alessa datar.


“Ikut saja, Nyonya Alessa...” pinta Gef lagi


“Ayo, Alessa!” ajak Noura menggengam tangan Alessa dan mengikuti langkah Gef.


Mereka memasuki sebuah ruangan vip, terdapat Nick di sana tengah duduk bersandar di sofa berbentuk melengkung. Alessa tanpa canggung sedikitpun ikut duduk di sofa tersebut, tepat di ujung sofa yang agak berjauhan dari Nick. Tangannya mengambil sebuah gelas berisi sampanye dan meneguknya sedikit demi sedikit.


Ketika ingin meneguknya kembali, Nick menariknya mendekat sehingga sampanye yang ia pegang tumpah mengenai dagu hingga dadanya, beserta gelas yang jatuh ke lantai. Detik berikutnya Nick mencium bibirnya kasar, lalu berpindah pada dagu Alessa. Rasa sampanye begitu melekat di bibir Nick, ciuman kasar itu turun ke leher dan semakin turun ke dada Alessa yang tertutupi oleh kemeja putih.


Alessa menolak aksi Nick berikutnya, dia masih waras untuk tidak melanjutkan nafsu Nick di depan Gef dan Noura. Alessa tengah dalam mode kesal pada Nickholas. Nick tidak membiarkan Alessa menjauh, ia mendudukkan Alessa di pangkuannya. Satu tangannya yang bebas menggapai segelas wine pada meja kecil di sebelahnya. Noura terkekeh melihat dua manusia itu, dia duduk di samping Nick setelah menonton aksi gratis yang menyenangkan.


“Nick, Alessa ingin mencium seorang pria tadi,” lapor Noura penuh kebohongan. Alessa menatap Noura tak percaya, gadis ini benar-benar memutar balikkan fakta.


“Ya, dan itu kau!” Noura menatap Alessa jahil.


“Berhenti bergerak, Baby. Kau bergoyang tepat di atas juniorku,” bisik Nick. Alessa tersenyum culas, ia menekan milik Nick menggunakan bokongnya.


“Kau bermain-main denganku, hm?” bisik Nick tajam menangkup dada Alessa kuat.


“Oh, Come on, Guys. Kalian terlihat begitu menjijikan sekarang,” komentar Noura malas.


Well, jika sebelumnya dia senang-senang saja, sekarang dia merasa aneh ketika sang kakak begitu liar. Lebih menyenangkan melihat langsung dibanding mendengar suara ******* menggelikan Nick.


“Gef, antar Noura pulang!” titah Nick dan kemudian mengendong Alessa keluar dari sana.


Alessa sepanjang perjalanan menuju mobil memberontak ingin turun. Entahlah, Alessa sedikit takut dengan raut wajah Nick yang lain dari biasanya. Alessa menyadari itu semenjak menginjakkan kaki di ruangan tersebut.


“Kau mau membawaku kemana? Aku tidak suka caramu ini, Nick! Kau selalu memaksa kehendakmu!” bentak Alessa. Nick tidak menjawab, dia menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


Sesampai di sebuah rumah sederhana, Nick turun dan membuka pintu Alessa. Reaksi Alessa yang seolah menentang, membuat Nick kesal. Maka, Nick menarik Alessa memasuki sebuah kamar dan menguncinya.


“Apa maumu sebenarnya?” pekik Alessa.


“Kau! Kenapa menghindariku? Sekarang kau berlagak sebagai penggoda menggunakan baju ini!” teriak Nick, Alessa lebih dulu menghindar agar Nick tidak jadi menarik baju kekurangan bahan yang ia kenakan.


“Alessa-ku tidak pernah berdandan seperti ini selain untukku!” lanjut Nick menggebu-gebu.


Alessa terdiam cukup lama, Nick sangat jarang menujukkan kemarahannya secara terang-terangan. Paling kemarahannya dia lampiaskan dengan cara menghukum.


“Jawab, Alessa! Kenapa?” tuntut Nick.


“Aku tidak tahu,” jawab Alessa akhirnya.


“Hubungan kita tidak jelas kemana arahnya, Nick. Semua pertanyaanku belum terjawab dengan puas. Ada sesuatu yang mengganjal, tetapi aku tidak tahu apa!” decit Alessa di akhir kalimat.


Nick menyugar rambutnya gerah, ia seperti ingin menyampaikan sesuatu. Alessa diam menunggu jawaban, akan tetapi Nick tetap diam seraya memejamkan matanya erat.


Alessa muak dengan segala paksaan dan rahasia yang Nick sembunyikan. Kesekian kalinya dia membawa Alessa ke tempat asing, Alessa tidak tahan. Nick selalu datang-pergi sesuka hatinya!


“Katakan padaku semuanya sekarang, atau kau tidak pernah bisa menemuiku lagi!” teriak Alessa tak kuasa menahan gejolak amarah.


Nick melangkah maju meraih tubuh Alessa, akan tetapi Alessa secepat mungkin menghindar. Nick memperhatikan gerakan tangan Alessa memegang perut, sedangkan kerutan di dahinya menandakan wanita itu tengah menahan kesakitan.


“Are you okey, Baby?” khawatir Nick, Alessa menolak sentuhan Nick.


“Da*m, Alessa. Jangan keras kepala di saat begini,” decaknya.


Nick segera menuntun Alessa duduk di atas ranjang. Kepala Alessa menunduk seraya memejamkan matanya, pemikirannya jatuh pada pagi tadi. Alessa menggeleng, dia tidak mungkin hamil!


“Istirahat sebentar. Dokter tengah dalam perjalanan,” ucap Nick. Diam-diam Nick menghubungi dokter, Alessa menolak saran itu.


“Kau harus ditangani dokter,” sergah Nick sebelum Alessa menjawab.


“Aku tidak butuh dokter!” geram Alessa.


“Kau butuh, Alessa! Perutmu perlu bantuan dokter,” balas Nick tak mau kalah.


“Aku bilang tidak!” tekan Alessa.


“Dengarkan aku kali ini saja!” erang Nick.


“Fine, tapi setelah itu kau harus mengatakan semuanya padaku!” tantang Alessa.


“Agree!” setuju Nick.


Lima belas menit berlalu, seorang dokter wanita datang memeriksa keadaan Alessa. Jantung Alessa berdetak kencang, menunggu kabar yang akan disampaikan dokter tersebut. Sejujurnya, Alessa sudah merasa berbeda sejak seminggu belakangan ini, tetapi tetap mengabaikan mual serta pusing di pagi hari.


“Dugaan Anda benar, Tuan. Mrs Bateline tengah mengandung,” ucap dokter tersebut memberitahu.


“Berapa minggu kandungannya?” tanya Nick.


“Memasuki minggu keempat, Tuan.”