The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 14. Coward



Pov of Alessa~


Baru saja Katryna pamit dikarenakan hari sudah hampir malam dan ketiga anak-anaknya ia tinggal bersama pengasuh. Wanita itu sempat memarahiku, perkara aku tidak mengundangnya. Sejujurnya, aku menghindarinya terkait masalah kemarin. Kami berbaikan, ya... tetapi, aku sedikit tidak nyaman berinteraksi dengan Katryna dan Allard.


Fakta bahwa Allard selama ini mengetahui dan menyimpan rahasia Nick, membuat ego-ku terbang tinggi. Aku tahu Katryna tidak terlibat. Namun, kekecewaan terhadap dia yang diam tidak mengatakannya langsung padaku mendominasi hatiku, terlepas baru atau lamanya dia mendengar fakta itu.


Shee melambaikan tangan ketika aku memasuki ruang pertemuan malam ini, aku segera menyusul Shee. Seseorang mengintruksi agar kami duduk pada kursi yang tersedia atas nama masing-masing. Meja jamuan ini sangat besar dan panjang, dipergunakan untuk tamu vvip dan para model. Sedangkan tamu lainnya ditempatkan pada meja dan kursi berbeda.


Tidak begitu lama, barulah Mr. Savas muncul bersama seorang pria yang amat sangat aku kenali luar-dalamnya. Tubuhku menegak sempurna di saat pria itu duduk tepat di hadapanku, dia adalah Nickholas! Tatapan tajamnya seolah siap menghunusku!


Batinku bergemuruh tak karuan, tatapannya berbeda, aku sulit menjelaskannya. Tatapan lelah, kesal, marah, dan rindu? Baiklah, aku berusaha mengabaikan pikiran ini, memasang wajah datar akan lebih berguna saat ini. Gerakan kaki beberapa orang melangkah masuk dan berdiri tepat di belakangnya, termasuk Gef. Satu yang membuat gerah, wanita itu menempel bagaikan lintah.


Sungguh, tatapan Nick tidak dapat aku abaikan, ada sesuatu di balik tatapannya, tapi aku tidak tahu apa itu. Sedari tadi aku berusaha menetralkan detak jantung dan tubuhku, kini mulai tidak terkendali. Jangan sampai satu kesalahan terjadi malam ini karena diriku!


“Vanessa, kau tak apa?” tegur Dyandra kebetulan duduk di sebelahku.


“I am okey.” Di bawah meja, jemariku menyatu erat.


“Semua sudah mulai menyentuh makanan-nya,” tegur Dyandra lagi berbisik.


Dyandra benar, dan aku pun tahu itu. Tanganku bergetar hebat, takut mengeluarkannya dan berakhir mempermalukan diri.


“Miss Vanessa, kenapa belum menyentuh makananmu?”


Fu*k! Kenapa harus suara itu yang menegurku! Semua menatapku, bisa kulihat Nick menatapku penuh intimidasi kuat.


Aku menggeleng seraya tersenyum manis, lalu mengeluarkan tanganku. Sangat pelan sekali aku memegang garpu dan pisau steak. Mati-matian aku menetralkan hati dan pikiran.


Makan malam pun selesai. Aku memaki di dalam hati, kukira makan malam adalah acara terakhir, nyatanya tidak. Berpindah ke ruangan lain, aku menggunakan momen itu izin sebentar. Di toilet aku menghubungi Rafael, Dokter pribadiku.


[“Halo.”]


[“Rafael, aku rasa yang kau katakan benar,”] beritahuku


[“Gejalanya semakin terlihat?”]


[“Ya. Kepalaku pusing, mual, tangan gemetar! Aku takut lepas kendali,”] ungkap Alessa.


[“Tarik nafas perlahan, tenangkan dirimu jika situasi kau rasa sulit. Aku percaya kau bisa mengendalikannya, Alessa,”] motivasi Rafael sedikit membuatku tenang.


[“Kau ingin aku ke apartemenmu sekarang?”] tanyanya memastikan.


[“Tidak, aku sedang bekerja.”] tolakku.


[“Baiklah. Besok aku akan mengecekmu dan memberi obat penenang.”]


[“Oke. Terima kasih, Rafael.”]


Aku meletakkan ponsel sembarangan di atas wastafel. Tanganku bergerak menghidupkan air dan membasuh wajahku beberapa kali. Aku mengadahkan kedua tanganku yang masih gemetar. Tidak asing reaksi tubuh ini, sejak kecil gemetar ini sering datang. Namun, beranjak dewasa itu berlalu.


Gemetar itu datang lagi saat pertemuanku dengan Nick di markas utama, berlanjut makan malam itu. Dua pertemuan itu aku kuasai, tetapi tidak malam ini. Well... aku tidak bisa berada di posisi panik dan stres, jika itu terjadi maka reaksi tubuhku akan bergetar.


Bertahun-tahun aku dapat menguasai diri dengan baik, bahkan menyembunyikannya. Ingatan kejadidan Nick mati di depan mataku berputar. Rasa bersalah di matanya ketika menatapku sebelum matanya terpejam terakam jelas di benakku.


“Tidak, Alessa. Lepaskan pikiranmu, itu akan semakin melemahkanmu!” teriakku dalam hati.


Oh, benar saja! Tanganku semakin bergetar hebat, kakiku tak bisa menahan bobot tubuhku. Aku terduduk di lantai toilet yang dingin, memejamkan mataku, mencoba memikirkan sesuatu yang menyenangkan tapi itu tak berhasil sedikitpun.


Kondisi buruk ini tidak memungkinkan aku kembali ke acara. Pelan namun pasti, aku bangkit dengan cara memegang dinding. Setelah berdiri sempurna, aku mengambil ponsel di atas wastafel. Berhasil keluar dari toilet, aku berjalan sedikit agak cepat, tetapi pergelangan tanganku ditahan mengakibatkan langkahku terhenti.


Apalagi ini? Kenapa harus dia? Tanpa berbalik aku tahu pelakunya! Aku menyentak tangannya hingga terlepas. Aku melanjutkan langkahku yang tertunda. Nick tak menghalangi, dia mengikutiku.


Aku berlari kecil ke parkiran, aku ingin cepat pulang. Ketika membuka pintu mobil, tubuhku dibalik paksa oleh dia. Kepalaku terbentur kaca mobil, tangannya meremas bahuku kuat.


“Kau tak bisa pergi sebelum acara selesai, Mrs Bateline!” desisnya


Aku memilih diam, sedikit pun tidak menatap matanya. Tanganku berada di balik tubuhku, menyembunyikan gemetaran yang terasa kian parah. Nick menghabiskan jarak antara kami, tubuh kami saling menyentuh. Nafasnya menerpa wajahku, bukan hal yang baik. Dia memakasaku untuk melihat matanya, ada kemarahan di balik tatapan tajamnya.


“Ingat Alessa, kau istriku. Jangan menjadi wanita malam dengan memakai pakaian tidak berguna ini!” Suaranya menyiratkan ketidaksukaan.


“Aku bukan istrimu lagi dan itu bukan urusanmu, Mr Bateline!” bantahku.


“Dan perlu kau ketahui, nama belakangku adalah Beata, bukan Bateline!” tambahku kasar.


Tatapan Nick semakin tajam, dia meraup bibirku dengan bibirnya. Kasar dan sangat mendominisi, rasanya aku ingin tenggelam. Sulit menolak setiap sentuhan pria ini, aku terlena dengan sentuhannya.


Ciumannya berpindah ke leherku dan mengecup kasar di sana. Aku memeluk erat tubuhnya, memejamkan mataku. Seketika aku merasa tubuhku membaik, yang ada dipikiranku saat ini adalah menikmati setiap kecupannya.


“Kau munafik, Alessa!” batinku berteriak merutuki diriku.


Nick semakin memperdalam ciumannya. Yang kau sadari saat ini, kedua kakiku sudah melingkar di pinggangnya.


“Gef!” ucap Nick, lalu melempar kunci mobil ke arah Gef.


Aku menoleh ke arah Gef, dia berdiri cukup jauh dari kami. Astaga, dia melihat perbuatan kami! Aku memberontak ingin turun dari posisi ini, sedangkan Nick memegang erat bokongku dan kembali menciumku kasar. Sesuatu menyentuh lenganku! Oh ****! Pria ini menyuntikan sesuatu di lenganku.


“Kau tetap seorang pengecut, Nick!” bisikku. Pandanganku mengabur.


“Dan kau tetap seorang munafik, Baby.” Aku masih mendengar ucapan itu dengan jelas.


...***...


Mataku terbuka lebar, ingatanku tertuju dengan yang terjadi sebelum kesadaranku hilang. Nick brengsek, makiku dalam hati.


“Mengingat kenikmatan, huh?” Aku mengikuti asal suara.


Nick... duduk di atas kursi yang berhadapan langsung dengan ranjang dan terdapat segelas sampanye di tangannya.


“Minum!” titahnya kini berada di samping ranjang sambil menyodorkan segelas air.


Aku menerimanya tanpa berpikir buruk. Sekali teguk aku menghabiskan air putih tersebut, lalu menyerahkan kembali gelas tersebut kepada Nick.


Tubuhku terasa aneh, panas dan kedutan tak beraturan di bawah sana. Senyum kemenangan tercetak di bibir Nick. Gila, pria ini memasukkan obat perangsang di minuman itu.


“Alessa, bodoh!” batinku.


“Oh, sayang sekali. Aku tidak sengaja memasukkan dosis tinggi,” ucapnya terkekeh. Sekali brengsek akan tetap menjadi brengsek!


“Apa maumu, Nick?!” Suaraku serak menahan gairah. Selimut kugenggam erat, geram akibat ulah si pengecut itu ditambah sekujur tubuhku memanas.


“Mengingatkanmu kembali, awal kita melakukan ma**ng love!” jawab Nick berubah datar.