
Berminggu-minggu terlewatkan, Alessa kini kembali pada profesinya sebagai agent. Satu kasus pembunuhan seorang politikus terkenal di negara ini menjadi pekerjaan menyulitkan, yaitu mencari tahu siapa pembunuh sebenarnya. Seluruh tim dibuat pusing, ada beberapa orang yang mereka curigai, tetapi belum bisa menetapkan tersangka tanpa ada buktinya yang konkrit.
“Kemungkinan, orang ini membayar pembunuh bayaran,” pendapat Blue.
“Jika benar, pembunuh ini pasti seseorang yang mempunyai skill membunuh handal,” sahut William.
“Pendapatmu terdengar make sense di telingaku. Buktinya, kita di ruangan ini saja sulit memecahkan pelaku pembunuhnya,” tandas Greisy.
“Aku curiga rekan Tuan Shayne bernama Hill, dikabarkan dia pernah dihapuskan dari bangku dewan besar secara paksa,” tambah Greisy.
“Jadi darimana kita mengambil langkah? Barang bukti mengarah pada bunuh diri,” ucap Blue.
Semua rekannya berspekulasi, Alessa berdiam memperhatikan sebuah kertas di tangannya. Gambar di tangannya ini menguatkan korban dibunuh, terdapat dua tusukan di dua titik, anehnya adalah sidik jari di pisau tersebut menunjukkan sidik jari korban.
Tim forensik memaparkan bahwa tusukkan tersebut tidaklah sebanyak dua kali, melainkan tujuh dengan titik yang sama pula. Artinya, ketika korban telah tiada, pembunuh itu menusuk korban di bagian tubuh yang sama.
“Kasus ini ditutup kepolisian, kematian Tuan Shayne ditetapkan sebagai bunuh diri,” beritahu Lewis yang baru saja memasuki ruangan.
Alessa menyipit menatap Lewis, yang ditatap mengedik bahunya acuh. Semua tim tidak terima, mereka belum selesai menuntaskan kasus ini.
“Kenapa disampaikan padamu?” tanya Alessa.
“Apalagi jika bukan Anthony takut padamu,” celetuk Greisy.
“Intinya, Anthony pasti disuap oleh seseorang itu!” kelakar Blue.
“Aku akan bicara pada Anthony!” ucap Alessa berdiri dari kursinya menuju ruangan Anthony.
“Jadi, siapa yang menyuapmu untuk tutup mulut?” tembak Alessa pada intinya ketika masuk ke ruangan pria tersebut.
“Tidak ada. Aku bukan pria seperti itu!” bantah Anthony.
“Oh, ya? Lalu, kenapa kau memutuskan untuk menutup kasus itu setelah kepolisian menetapkan insiden bunuh diri?”
“Sementara biarkan begitu, mereka mengancam keamanan kita,” ucap Anthony.
“Kau tahu siapa dalangnya?” Anthony menghela nafas dan menggeleng.
“Mereka berlapis-lapis, itu alasan mengapa kita sulit menemukan intinya. Publik tahu itu kasus bunuh diri, kita tahu yang terjadi di belakang mereka, kau tahu apa yang harus kau lakukan, Alessa. Untuk sementara, selidiki kasus ini secara rapat bersama beberapa orang kepercayaanmu,” titah Anthony.
“Pihak keluarga sepertinya percaya alibi kepolisian tersebut,” sambungnya.
...***...
Alessa baru saja tiba di apartemen yang seminggu ini ia tempati. Ia malas menempati apartemennya di mana wanita penuh muslihat itu di sana, maka Alessa memutuskan mencari apartemen berdekatan dengan kantornya. Beberapa hari ini ia fokus memecahkan kasus Tuan Shayne, tetapi ia dan William belum menemukan bukti baru.
“What are you doing here?” pekik Alessa mendapati Nick duduk di meja kerjanya.
“Miss you,” jawab Nick enteng.
“Darimana kau tahu apartemenku?” sengitnya.
“Apa yang tidak aku ketahui? Bra yang kau kenakan detik ini, aku tahu,” balas Nick.
“Dasar pengutit!” sarkasnya. Alessa lelah berdebat, pria ini gemar sekali datang dan pergi sesuka hatinya!
“Minggir!” usir Alessa, Nick mengerutkan dahinya, lalu berpindah ke atas ranjangnya.
Alessa duduk di kursi kerja, matanya menatap dinding di depannya dengan seksama. Otaknya berpikir cepat atas perkataan William, Hill pernah mengancam Shayne. Sebelum memasuki dunia politik, keduanya memiliki kedekatan layaknya seorang sahabat. Sepertinya, ada masalah di antara mereka terkait kekuasaan.
“Aku punya satu bukti yang bisa membantumu,” sahut Nick membuat Alessa tertarik mendengarnya.
“Apa?”
“Datang ke pestaku besok malam.” Alessa memutar bola matanya jengah, apa hubungannya dengan pesta pria ini?
“Kau akan menemukan bukti kuat di sana,” tambah Nick.
“Jika tidak menemukan bukti yang kau katakan tadi?” tantang Alessa remeh.
“Mudah, aku akan memberi bukti valid padamu langsung. Bukti itu bisa menjebloskan Hill ke jeruji besi sesuai keinginanmu,” jelas Nick.
“Kenapa kau membantuku? Imbalan, huh?” Nick menyeringai.
“Satu imbalan, tinggal bersamaku selama sebulan.” Alessa menatap Nick intens.
“Budak seksmu?” ucap Alessa tersenyum sinis.
“Niatku tidak pernah buruk padamu, Alessa. Pikiranmu sendiri yang selalu mempersulit hubungan kita,” balas Nick telak.
“Oke, aku setuju. Tinggal bersamamu sebulan, dan kau berikan bukti valid tanpa aku mencaritahunya,” tawar Alessa mencari jalan mudah.
“Datang, dan temukan. Jika tidak ditemukan, aku sendiri yang memberikannya. Itu yang aku paparkan tadi, bukan seperti katamu!” bantah Nick.
“Aku tidak suka pesta!” seru Alessa malas, Nick mengangguk paham.
“Fine. Aku setuju ucapanmu!” ucap Alessa akhirnya.
...***...
Alessa dan William memasuki gedung pesta, tamu undangan sangat ramai dari berbagai kalangan. Alessa menggandeng lengan William, mereka mencari keberadaan Hill yang belum terlihat batang hidungnya. Sempat ia mendengar perbincangan kerumunan orang tentang kematian Shayne yang dikaitan dengan kewarasan pria itu sendiri.
“Berpencar saja, jika kau menemukan sesuatu hubungi aku segera.” William mengangguk, mereka berpisah berlawan arah, Alessa ke timur, sedangkan William ke barat.
Alessa sedang berpikir, apa Hill tengah bersama Nick? Pasalnya si pemilik acara belum terlihat juga, bahkan Gef. Ia berjalan memasuki ruang vvip, di sana beberapa orang tersenyum sopan padanya dan salah satu mereka membuka pintu ruangan tersebut.
“Hati-hati, Nyonya.” Alessa mengangguk.
Tidak ada waktu memikirkan sikap penjaga tersebut yang ramah serta memberi aksesnya memasuki ruangan tertutup itu.
Alessa kebingungan akan melangkah kemana. Sebuah percakapan terdengar serius, Alessa bersembunyi di balik pilar besar, suara Nick bersahutan dengan seorang pria menariknya untuk membuka ponsel dan merekamnya.
“Tangani sendiri, aku tidak mau membantumu, Hill.” Itu suara Nickholas.
“Aku mohon, Tuan...”
“Menyuap kepolisian sudah cukup, bukan?”
“Mereka memata-mataiku, pihak intel mencurigaiku. Bantu aku, aku mohon, Tuan...” pinta Hill memohon.
“Gef, bawa dia!” titah Nick.
Terdengar Gef memaksa Hill keluar. Setelah pintu tertutup, Nick mengintruksinya keluar. Alessa berjalan mendekati Nick, wajahnya datar. Bukti ini masih lemah menjatuhkan Hill, mereka belum mendapatkan bukti besar nan kuat lainnya.
“Hanya ini bukti yang kau maksud?” remeh Alessa.
“Ini tidak direncanakan,” ucap Nick dengan raut tak bersahabat.
“Hill sebelumnya meminta bantuan pada Allard, tetapi ditolak. Dia mencari bantuan besar agar bisa mematahkan semua bukti yang kalian dapatkan.”
“Maksudmu dengan cara mengumpankan salah satu anggota Klan Hellbert?”
“Benar, Hill membayar mahal untuk itu.” Alessa mengangguk paham.
“Aku butuh bukti lagi, rekaman ini tidak cukup kuat.”
“Akan aku berikan, hadiri pesta malam ini hingga selesai. Jika tidak, jangan harap ada bukti lainnya!” ucap Nick dan berlalu dari hadapan Alessa.
Demi bukti, Alessa menuruti ucapan bossy pria yang sialnya adalah suaminya. Melihat makanan tersaji di atas meja vvip, Alessa mengambil dan menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya. Memastikan perutnya kenyang, Alessa keluar dan kembali ke acara.
Satu pemandangan di depan sana membuat dada Alessa diremas kuat. Nick bersama seorang wanita cantik yang sama di acara fashion show kemarin, gelagat mereka bak pasangan romantis. Si pria memeluk sang wanita posesif, si wanita tersenyum tulus menatap sang pria.
Dan sebuah ciuman diberikan wanita itu tepat di bibir Nick, Alessa secepat mungkin membuang pandangannya. Nick membalas ciuman itu, Alessa benar-benar sesak melihatnya. Bisik-bisik manusia memuji keromantisan kedua insan itu. Alessa menjauh, menetralisir jantungnya yang bertalu-talu. Mengapa rasa ini sangat kuat menekannya?
“Alessa, dia baru saja pergi. Apa kita ikuti dia?” Will datang, Alessa berbalik memasang wajah datar.
“Aku sudah menemukan bukti-bukti valid. Kita bisa lebih lama menikmati pesta ini!” ucap Alessa.
“Kau yakin? Tidak biasanya kau menikmati pesta,” sahut Will heran.
“Setelah ini kita tidak punya pekerjaan, bukan? Aku malas kembali, tempat ini sangat jauh dari apartemenku,” elaknya.
“Ya sudah, ke balkon saja bagaimana? Di sana tidak ada orang.” Alessa mengangguk dan mengikuti langkah Will.
Hembusan angin menyapa, Alessa menghela nafas lega, tekanan itu menghilang. Will menyodorkan segelas sampanye, Alessa menerimanya.
“Alessa, aku boleh meminta pendapatmu?” tanya William.
“Tentang?”
“Menurutmu, apa keluar dari White Agent keputusan yang salah?”
“Tidak, semua keputusan ada pada diri sendiri, Will. Kau ingin keluar, itu pilihanmu, kau tahu apa yang kau inginkan,” pendapat Alessa.
“Kau tidak terkejut?” Alessa menggeleng.
“Aku berpikir untuk keluar, tapi bimbang,” desah William.
“Mengapa kau ingin keluar? Bosan?” tanya Alessa.
“Aku tidak pernah bosan. Memilih dua hal yang kau sukai, bukanlah suatu hal mudah.” Alessa mengangguk paham.
“Wanita?” Will menatap sekilas dan mengedikkan bahunya acuh.
“Wanita sangat rumit dan gila!” Alessa terkekeh.
“Jika bukan rumit dan gila, wanita tidak akan bisa mengait pria incarannya,” celetuk Alessa asal.