
“Kau tidak kaget aku mengetahuinya?” Alessa menggeleng.
“Gerak-gerikmu yang mudah menerimaku memperjelas semuanya,” jawab Alessa.
“Markas ini sedang kacau,” beritahu Jackson.
“Kau mengatakan itu sebagai si pengkhianat atau si setia?” Sedikitnya Alessa dapat menyimpulkan permasalahannya.
“Waktu akan menipis jika kita berdebat masalah itu. Di sini aku tidak bisa memberitahu banyak, seseorang tengah mengawasi kita.” Alessa mengangguk, percaya pada Jackson.
“Intinya saja.”
“Kau bertemu dengan Mr. Thi sebelumnya, kan?”
“Ya.”
“Dia yang tengah menguasai markas ini.”
“Bagaimana bisa?”
“Mudah saja, atas nama pertemanan dan kepercayaan. Dia merebut jabatan Mr. Matthew dan mengubah segala sistem dan peraturan di sini,” jelas Jackson.
“Pertanyaannya, bagaimana bisa Allard tidak tahu markas ini diambil alih paksa?”
“Kau mengenal father?”
“Itu tidak penting. Jawab pertanyaanku!”
“Dia bermain rapi, setiap laporan di manipulasi olehnya. Semua anggota diancam, kami tidak berani berbuat apa-apa karena dia tidak segan-segan membunuh.”
“Benar-benar bodoh,” umpat Alessa geram.
“Rose, kau harus segera pergi dari sini. Mereka mencurigaimu,” ucap Jackson tersenyum agar mereka tidak curiga.
“Satu pertanyaan lagi, dimana Mr. Metthew? Aku bertanya pada si tua itu dimana Mr. Metthew, seketika rekasinya berubah.”
“Itu yang membuatmu terus diawasi. Di sini tidak ada yang boleh menyebut nama Mr. Metthew,” simpul Jackson pelan seraya mendekatikan wajah pada Alessa.
“Ruang bawah tanah. Dia di sana,” bisik Jackson.
“Oke. Bersikap seperti biasa,” balas Alessa berbisik.
“Kau tampan,” puji Alessa mengubah topik. Jackson tertawa geli dibuat Alessa, mereka mengelabui orang-orang yang mengawasi mereka.
Dengan agresif, Alessa duduk di pangkuan Jackson dan mengalungkan tangannya pada pundak pria itu, berlagak seolah sepasang kekasih yang akan bercinta.
“Mereka pergi,” ucap Jackson, Alessa turun dan duduk di samping Jackson.
“Baiklah. Aku sudah mendapatkan semuanya! Terima kasih banyak informasinya, Jack!”
“Tidak ada hadiah apa-apa, hm?” Jackson mengedipkan matanya menggoda. Alessa terkekeh, lalu ia mencium bibir Jackson.
“Itu hadiahnya!” balas Alessa.
“Tidak cukup. Kupikir kau akan berada di ranjangku,” ucap Jackson tertawa.
“Oh, kurang? Memangnya kau mau bercinta dengan seorang wanita?” Alessa menggoda Jackson.
“Tidak. Membayangkannya saja aku tidak bernafsu,” balas Jackson mengernyit jijik, Alessa tertawa lepas.
“Baiklah, Jackson. Sampai bertemu di lain waktu, aku pergi!”
...***...
“Penyusup di markas itu telah dibereskan,” ucap Jeff memberitahu.
“What the... Allard baru memberitahu setelah kita sampai di Athena?” protes Alessa jengkel, Jeff mengedikkan
bahunya.
“Benar-benar menyebalkan!” gerutu Alessa.
“Father memintaku menghabisi mereka semua,” ujar Jeff bercerita seolah tidak mempedulikan kekesalan Alessa.
“Mereka memang patut dihabisi!”
“Bagaimana menurutmu, hukuman apa yang akan didapatkan Mr. Thi?”
“Penggal? Aku tidak tahu! Hukuman yang Allard berikan pada tawanannya, tidak pernah bisa terbayangkan olehku.” Jeff mengangguk membenarkan. Setelah keluar dari markas itu dengan susah payah, Alessa menceritakan semuanya pada Allard. Jangan tanya apa yang terjadi selanjutnya, Alessa tidak mau tahu tentang itu!
“Club.” Alessa terus berjalan ke arah lobi, ia sadar sedari tadi Jeff mengikutinya.
Sesampai di Dybbuk Club, Alessa memesan segelas Wiskey. Club sangat ramai pengunjung, tidak heran karena club ini adalah salah satu club terpopuler di Athena. Alessa sendiri pernah beberapa kali menginjakkan kaki di sini, turis juga banyak berkunjung dari berbagai negara setiap harinya.
Mendapatkan pesanannya, Alessa meminum Wiskey-nya sekali tandas, Jeff menahan nafas melihat Alessa yang terlihat panas. Alessa kembali memesan minuman, Jeff melarang tetapi Alessa tidak peduli
“Kau ingin mabuk, huh?” Jeff berbicara sedikit keras melawan musik yang berdentum kuat.
“Ya!” Jeff mendesah, artinya dia tidak dapat mabuk, tugasnya adalah menjaga Alessa.
“Jeff, truth or dare?” Tiba-tiba Alessa berteriak keras.
“Truth.”
“Ah, payah sekali pilihanmu. Tapi, well... posisi berci**a apa yang kau sukai?”
“D**** style.”
“Giliranmu. Truth or dare?” tanya Jeff setelahnya.
“Dare,” jawab Alessa yakin. Jeff tersenyum miring.
“Kau lihat pria di sana?” Jeff menunjuk salah satu pria di sudut ruangan, Alessa mengangguk.
“Tantanganmu, buat dia turn on dan tinggalkan!” Alessa tersenyum senang mendapat tantangan itu, ia menerima
tantangan tersebut.
Alessa bangkit, melewati manusia-manusia yang tengah berdansa menikmati musik. Bermula berkenalan dengan pria yang dimaksud Jeff, tidak sulit karena Alessa amat berpengalaman menarik minat seorang pria. Mereka bercakap-cakap, sampai pada akhirnya Alessa menggoda tergetnya. Boom! Pria itu tergoda dan entah bagaimana caranya Alessa berada di atas pangkuan pria itu.
Pria asing ini mencium Alessa kasar, di bawah sana Alessa merasa benda keras itu sudah berdiri tegak. Sebelum semuanya semakin kacau, Alessa mengucapkan terima kasih dan meninggalkan pria itu menuju Jeff.
“Perfect. Kau memang penggoda jantan!” salut Jeef seraya tertawa, etah itu pujian atau hinaan, Alessa tidak peduli.
“Dia gila, kasar, aku tidak suka!” gerutu Alessa, bibirnya memerah disebabkan gigitan pria itu.
“Bukannya kau suka bermain kasar? Seingatku kau pernah menceritakan fantasi kasarmu itu!” balas Jeff.
“Tidak pernah.”
“Oh, ya? Bersama Nick, kau lupa?” pancing Jeff, Alessa mendelik tajam.
Jeff tidak lagi menyentuh minumannya, dua slot cukup. Berbahaya bila mereka berdua mabuk, Sang Mother pasti akan menghajarnya. Sedangkan Alessa terus-terusan menambah minumannya, Jeff melihat jejeren gelas kecil Alessa yang berjumlah sepuluh slot. Belum juga cukup bagi Alessa, faktanya wanita itu memesan satu botol wine. Jeff akui, Alessa kuat dalam urusan alkohol.
“Cukup, Alessa!” ucap Jeff menarik gelas Alessa.
“Belum, aku ingin mabuk!”
“Kau sudah mabuk,” balas Jeff benar adanya.
Alessa mengedarkan pandangan sayunya pada sekeliling, minuman ini sudah mempengaruhi kesadarannya. Di sana Alessa menangkap siluet seseorang pria yang ia kenali.
“Sh***!” umpat Alessa.
“Tidak mungkin Nick bangkit dari kuburan, kan?” Alessa berujar dan Jeff tidak mengerti maksudnya.
“Maksudmu?”
“Aku melihat Nick, Jeff. Dia di sini!” See, Alessa mabuk!
“Aku ke lantai dansa!” ucap Alessa memberitahu.
Berjalan sempoyongan ke lantai dansa, Alessa memulai menggerakkan tubuhnya. Seseorang memeluknya dari belakang, Alessa menghirup parfum yang tidak asing dipenciumannya. Pria itu memberi sentuhan yang Alessa sukai.
Alessa berbalik menatap pria itu, tetapi kepalanya pusing mengakibatkan pandangannya kabur. Tangan pria itu berada di pinggangnya, kemudian menarik Alessa semakin mendekat. Tanpa sadar Alessa mendesah, elusan pria ini pada pinggulnya memabukkan.
“I want you,” desah Alessa.
“You want me?” bisik pria ini berat.
“Yeah...”
Seseorang itu tersenyum miring, lalu mencium bibir Alessa kasar. Tak sanggup menerima kenikmatan ini, Alessa memukul dada pria itu sebagai tanda dia menyerah. Samar-samar Alessa melihat wajah pria itu, tubuhnya bergetar menahan gejolak yang datang kembali ketika bersama seseorang tersebut.
“Nickhh...”
Alessa seakan tak peduli, ia mendekatkan wajahnya dan mencium pria di hadapannya lebih dulu. Siapa pun pria ini, dia menyukainya! Sentuhannya, pelukannya, ciumannya, wanginya sama seperti Nick-nya. Alessa ingin menikmati semuanya, biarlah esok hari dia menyesali malam ini. Yang jelas, Alessa merindukan Nick!