
Acara tahunan perusahaan Bateline diselenggarakan mewah, dihadiri oleh artis papan artis, pengusaha-pengusaha besar di negara ini, bahkan beberapa dari pemimpin underground turut hadir, tidak lupa pula model-model seksi terkenal yang Alessa sendiri tidak paham, dan model agensi tempat dia bekerja. Sudahkah Alessa mengatakan, bahwa dia tidak suka berada di acara-acara seperti ini? Alessa ingin pergi, tetapi Shee sedari tadi mengawasi pegerakannya.
Keberadaan Katryna tidak terlihat, kemungkinan dia dan Allard melewatkan acara ini. Alessa berharap wanita itu datang, setidaknya ia dapat berbincang santai tanpa memikirkan keprofesionalan. Sedang asyik-asyiknya meneguk sampanye, Nick tiba-tiba menarik tubuhnya ke lantai dansa.
“What the... apa yang kau lakukan?” pekik Alessa.
Gawat, perhatian manusia di ruangan ini tertuju pada mereka. Alessa secepat mungkin menunduk seraya bersembunyi di dada bidang Nick.
“Tidak bisa kau meminta izin dulu, huh?!” geramnya.
“Seorang Alessa harus dipaksa, cara baik tidak akan mempan,” balas Nick santai.
Alessa bersyukur lantai dansa remang-remang, jadi manusia di sini tidak menganali wajahnya yang saat ini tengah berdansa dengan pemilik acara. Selama mereka berdansa, baik dia ataupun Nick tidak membuka pembicaraan, Alessa juga sedikitpun tidak berniat mencari topik.
“Temui aku, lantai 9 kamar 921,” bisik Nick dan berlalu dari hadapannya.
Alessa menatap bayangan Nick yang menghilang ditelan kerumunan manusia. Sejenak ia menghela nafas, jantungnya menggila sejak tadi. Seratus persen Alessa yakini pria itu merasakan degupan jantungnya, sebab Alessa merasakan hal demikian.
“Shee, aku pulang lebih dulu, urusan mendadak.” Alessa pamit dan pergi begitu saja, teriakan Shee terdengar tetapi Alessa hiraukan.
Sesampai di lantai sembilan, Alessa berhenti di depan lift, ragu apakah ia menemui Nick atau tidak? Pertanyaannya, mengapa dia harus menuruti perkataan Nick? Kau tampak bodoh, Alessa! Makinya. Ia berniat berbalik, akan tetapi hatinya berkata sebaliknya. Oke, masa bodo dengan percakapan terakhir mereka. Detik ini, Alessa akan membuktikan bahwa pria itulah yang membutuhkannya!
Alessa berdiri di depan pintu kamar yang Nick maksud, ia mengetuk pintu dan tak lama seorang wanita membukakan pintu. Mata Alessa menyipit tajam, apa ini maksud Nick untuk memanasinya?
“Salah kamar, aku permisi!” seru Alessa datar.
“Alessa, berhenti!” ucap seorang pria mencegah langkahnya.
“Kau bisa pergi.” Wanita itu mengiyakan, lalu melenggang dengan senyum tulus pada Alessa.
Oh, Nick benar-benar kasar, pria itu menariknya masuk. Pasrah, Alessa memasuki ruangan tersebut. Ia memilih duduk di atas sofa, Nick berdiri di depannya berbatas meja.
“Apa?” tanya Alessa karena pria itu menatapnya marah.
“Tinggalkan pria itu!”
“Siapa kau maksud?” Alessa berpura-pura bodoh.
“Kau tahu maksudku, Alessa. Tinggalkan dia!” tekan Nick.
“Kenapa kau mengatur hidupku? Bukankah kau tidak mau memasuki permasalahanku yang akan berimbas pada karirmu? Jadi, urusi masalah dan hidupmu, jangan atur milikku!” tegasnya.
“Kukatakan itu benar, tetapi hidupmu adalah milikku!” elak Nick tajam.
“Berbelit sekali,” komentar Alessa seraya memutar bola matanya malas.
Mata Alessa menyipit curiga, Nick menuangkan segelas wine ke dalam gelas. Bibir pria itu menyeringai padanya. Alessa mendengus, paham arti seringai itu, Nick mencampurkan obat perangsang ke dalam gelas itu. Mengapa kedekatan mereka tidak jauh dari serbuk perangsang itu?!
Sangat segar diingatannya, mereka bercinta karena Nick menggunakan serbuk itu untuk mengikatnya. Ya, Nick memang licik. Jangan lupakan satu fakta lainnya, mahkota berharganya terengut oleh pria di depan ini. Alessa akui, berhubungan badan dengan Nick amat menakjubkan, ia selalu puas.
...***...
“Tengah memikirkanku, hm?” Alessa menoleh cepat pada Nick yang baru saja keluar dari kamar mandi.
Tiga jam yang lalu, mereka melewati waktu saling memuaskan tanpa obat perangsang. Alessa jatuh dengan segala rayuan maut seorang Nick, walau demikian dia tidak menyesal.
“Sedang berpikir, bagaimana caranya melenyapkanmu!” Nick terkekeh, ia mendekat dan menyibak selimut Alessa ke lantai.
Alessa sangat santai, ia tidak malu mempertonton tubuhnya. Jika sekarang ini ia sedang melihat Nick yang asli, jahil. Sejak dulu sifat Nick begitu, ada saja kelakuannya untuk memancing kekesalan Alessa.
“Satu ronde lagi sepertinya menarik,” ucap Nick memperhatikan tubuh Alessa.
“Tidak. Lakukan saja pada wanitamu yang lain, wanita tadi misalnya!” balas Alessa menyinggung soal itu.
“Dia salah satu orang Klan Hellbert, bukan wanitaku!” bantah Nick benar adanya.
“Tidak butuh penjelasan!” ucap Alessa ketus, ia beranjak dari kasur guna membersihkan diri.
Setengah jam kemudian, dia keluar dengan bathrobe menutupi tubuhnya. Perhatiannya tertuju pada pakaiannya yang tergeletak malang di lantai sana. Selalu saja seperti ini, gerutunya dalam hati.
“Berharap menemukan pakaian wanita, My Alessa?” celetuk Nick menyeringai.
“Bisa jadi ada, kau suka sekali menyediakan pakaian wanita untuk ******-jalangmu, mungkin.”
“Sepanjang aku bermain, hanya Alessa yang suka rela aku sediakan,” balas Nick.
“Oh, ya? Kelihatannya sekarang tidak, kau berbohong!” sahut Alessa tersenyum sinis.
“Kecuali hari ini, kita akan menghabiskan waktu seharian di sini!” jawab Nick.
“Tabiatmu tidak pernah berubah,” puji Alessa sarkas.
Sama saja artinya Nick menculik Alessa. Tabiat satu ini yang melekat erat di diri Nick, menculiknya berhari-hari.
“Kukatakan, bukan? Kau harus dipaksa, cara baik tidak mempan meluluhkanmu.”
“Biarkan aku pergi!” ucap Alessa sarat kemarahan.
“Tidak,” tolak Nick.
“Kita tidak punya hubungan, Nickholas. Jangan gunakan cara dulu untuk mengingatku!” geramnya.
“Nyatanya itu berhasil!” tanggap Nick santai.
“Ingat satu lagi, aku suamimu!” tekan Nick.
Kemarahan Alessa memuncak. Suami katanya? Suami macam apa yang berpura-pura mati dan menghilang tanpa mengatakan fakta sesungguhnya?
“Suami katamu? Suamiku sudah mati tiga tahun lalu, dia mati tepat di depan mataku! Allard sendiri yang menembaknya!” pekik Alessa.
“Satu hal terpenting, suamiku bernama Nickholas Fernand, bukan Nickholas Bateline!” tegas Alessa.
“Bateline nama keluarga kandungku,” ucap Nick datar.
Alessa tidak kaget akan itu, dia tahu Fernand adalah marga yang diberikan Xen pada Nick. Pada kenyataannya, Nick bukanlah bagian dari keluarga Fernand. Sedari awal Nick dipergunakan sebagai alat bagi keluarga itu. Namun, Alessa berpikir, sejak kapan Nick tahu asal keluarga kandungnya?
“Darimana kau tahu Bateline adalah nama keluarga kandungmu?” tanya Alessa menatap Nick lekat.
“Gef, dia sepupu ibuku.”
“Dia pamanmu,” bisik Alessa.
“Apa itu benar? Dia tampak berusia 40 tahun,” ucap Alessa.
“Gef berbeda sepuluh tahun dariku. Fakta-fakta yang ada membuktikan dia sepupu ibuku,” jelas Nick. Sekilas Alessa melihat binar kesedihan di mata pria itu.
“Mereka ... masih hidup?” Nick menatapnya lekat, Alessa mengerti maksud pria ini.
...***...
Pertama kali membuka mata, Alessa tidak menemukan Nick di sisinya. Ia segera mengambil ponselnya di sling bag, sebuah pesan menarik perhatiannya.
[Pesanku kau baca, tetapi tidak ada balasan. Tidak biasanya, apa kau sibuk?]
Satu nama yang terpikir, Nick... pria itu pasti membuka ponselnya dan menghapus pesan Joe. Pasalnya, pesan sebelumnya kosong!
^^^[Sorry, Joe... Aku lupa membalas, pekerjaanku sedang gila-gilanya.]^^^
Menutup ponselnya, Alessa beranjak keluar. Bau masakan tercium, ia tebak pria itu pasti memasak. Ketika mendekati dapur, Alessa mendapati Nick yang begitu lihai menguasai dapur, tidak ada yang berubah, masih sama seperti dulu.
Alessa mendudukkan bokongnya di atas kursi pantri, Nick menatap sekilas dan kembali fokus pada masakannya. Sejenak Alessa menunduk, rasanya ia ingin menangis. Kenangannya bersama Nick berputar, mereka saling melengkapi. Alessa payah dalam memasak, sedangkan Nick sangat jago. Nick sekalipun tidak pernah merendahkannya, ataupun menghinanya akan apa yang tidak bisa dia lakukan.
Apa yang ada pada Nick kerap kali ia beda-bedakan dengan pria lain, misalnya Nick bisa memasak, sedangkan Joe tidak. Nick suka memujinya ketika ia tidak bisa melakukan satu hal, sedangkan Joe tidak dan masih banyak hal lainnya. Baginya, Nick satu-satunya pria sempurna dalam hidupnya.
“Setelah makan, Gef akan mengantarmu pulang.” Hanya kalimat itu yang terucap dari bibir Nick, setelahnya dia meninggalkan Alessa seorang diri.
Alessa menatap hasil masakan Nick, tampaknya sangat lezat, tetapi Alessa tidak lagi berniat makan. Setetes air mata jatuh, dengan cepat Alessa mengusapnya. Dia ingat pernah mengatakan pada Nick, bahwa dia suka dihidangkan makanan oleh almarhum ibunya dan Katryna, rasanya diperhatikan dan disayangi. Sesuatu yang simple, namun dapat menghangat hatinya.