
Alessa tidak dapat berdiam diri, sementara pemikirannya terus bercampur aduk memikirkan Nick dan juga keluarganya. Pertama, Alessa akan menyelesaikan masalah Phei. Selanjutnya ia akan mencari seluruh rasa panasaran yang tercokol di otaknya.
[“Lucas, kau dimana?”] tanya Alessa lewat telepon yang tengah terhubung.
^^^[“Markas. Ada apa, Alessa?”]^^^
[“Tunggu aku di sana. Kita selesaikan masalah Phei,”] beritahu Alessa.
^^^[“Oke, hati-hati.”]^^^
“Uxel, temani aku ke markas sekarang!” titahnya. Fyi, Uxel saat ini diperintahkan Nick untuk menjaga Alessa.
“Nyonya―”
“Jangan membantah!” potong Alessa kesal.
“Tapi, Anda harus beristirahat, Nyonya.”
“Aku tidak akan banyak bergerak, Xel!” ucap Alessa seraya berjalan keluar mansion.
“Uxel, perintahkan bawahanmu ini, aku muak dihadang!” teriak Alessa.
Penjaga tidak mengizinkan Alessa keluar atas perintah Nick. Uxel menghela nafas, segera ia menelpon sang bos guna memberitahu keadaan yang sudah tidak bisa ia kondisikan.
“Uxel!!” Emosi Alessa diujung tanduk.
“Tuan tidak mengizinkan, Nyonya.”
“Berikan ponselmu!” Secepat kilat Uxel memberikan ponselnya, aura Sang Nyonya benar-benar mengerikan, wajahnya merah menahan amarah.
[“Aku ke markas utama menemui Lucas. Jangan melarangku, atau aku akan berbuat nekat tanpa memikirkan bayi ini!”] sambar Alessa.
[“Uxel bersamaku. Kau berpikir aku menjalankan misi apa? Aku hanya ingin menemui Lucas!”] Setelahnya Alessa kembali memberikan ponsel Uxel tanpa mendengar jawaban Nick.
“Tuan memberikan izin. Biarkan Nyonya pergi,” titah Uxel.
Sesampai di markas, Alessa segara turun dan memasuki ruangan yang memang disediakan untuknya. Sebelum itu, dia meminta Uxel memanggil Lucas. Sepuluh menit kemudian, Lucas masuk membawa berkas-berkas penting di tangannya.
“Kau mengumpulkan semuanya?” Lucas mengangguk, wajahnya pucat.
“Ada apa?” Lucas menghela nafas lelah.
“Aku tidak menyangka Phei melakukan semuanya. Bagaimana bisa dia menyembunyikan semua bukti serapi itu?” tutur Lucas.
“Apa Phei berselingkuh kau akan mempercayainya?” tanya Alessa, Lucas tak menjawab.
“Tentu kau tidak percaya.” Alessa tersenyum manis, terkesan sinis.
Alessa berjalan ke sebuah lemari, lalu membuka lemari tersebut dengan kombinasi angka. Alessa mengeluarkan berkas yang cukup tebal dari sana, dan kembali berjalan mendekati Lucas. Ia meletakkan berkas tersebut di depan Lucas.
Lucas tanpa kata membuka berkas tersebut, betapa terkejutnya dia melihat berkas ini adalah bukti kejahatan Phei. Dimulai dari narkoba, perdagangan manusia/perempuan, pembunuhan, dan lainnya. Alessa berhasil mengumpulkan bukti sebanyak dan selengkap ini.
“Alessa, bukti ini sangat-sangat kuat untuk menjebloskan wanita itu ke dalam penjara. Kenapa tidak menyerahkan ini pada pihak berwajib?” heran Lucas.
“Apa itu akan membuatku senang? Kalian tidak akan mempercayaiku. Aku lebih suka kalian sendiri yang menemukan fakta itu, dibanding harus aku yang mengatakannya,” balas Alessa.
Alessa ingat dua perkataan Allard, sebesar apapun sebuah fakta terungkap dari mulut seseorang, tidak akan bisa membuat kepercayaan itu dibangun dalam sekejab mata. Dan kedua, tidak perlu memberitahu fakta yang sesungguhnya kepada orang lain, sebenar apapun fakta tersebut, akan percuma bagi mereka yang tidak mempercayainya.
“Lalu, bagaimana dengan papa?” tanya Lucas. Permasalahnnya adalah, sang papa saat ini amat percaya pada Phei.
“Aku sempat menemui papa dan mengatakannya, tapi tidak ada hasil,” lanjut Lucas.
“See?” Alessa mengeluarkan nada sindiran di dalamnya.
“Ya, aku mengerti kenapa kau tidak memberitahuku. Jadi, bagaimana? Apa langkah yang kita ambil?” tanya Lucas.
“Aku kehabisan akal untuk itu. Aku pun pernah mencoba mengirim satu per satu bukti kepada papa, tapi Phei berhasil meyakinkan papa,” balas Alessa.
“Secara tidak langsung wanita itu membunuh mama. Niatnya lebih kejam daripada orang yang membunuh mama,” ujar Lucas lirih.
“Ayo kita temui papa tanpa wanita itu,” saran Alessa.
“Caranya?”
“Itu istilahnya bukan menemui, tetapi memaksa!”
“Ya, menemui secara paksa maksudku,” koreksi Alessa santai.
...***...
“Hi, Pa...” sapa Alessa ringan.
“Alessa... Lucas...”
“Maaf, kami melakukan ini, Pa. Hanya ini cara agar kami bisa berbicara dengan tenang tanpa wanita itu,” ucap Lucas membuka suara.
“Apa-apaan kalian ini!” decak Emrick.
“Tidak perlu marah. Di sini kami merindukan papa, bukan ingin berniat jahat!” ketus Alessa.
“Kemarilah kalian berdua,” ucap Emrick merentangkan tangannya. Alessa dan Lucas tanpa membuang waktu memeluk sang papa.
“Alessa rindu, Papa...” lirih Alessa.
Alessa dan Lucas tidak membuka perbincangan mereka mengenai ibu tiri mereka. Ketiganya kini berbincang bagaimana masa kecil Alessa dan Lucas. Emrick sebagai seorang ayah, tentu merindukan masa di mana ia mengajarkan hal kecil kepada anak-anaknya. Merindukan kisah anak-anaknya bersama ibu kandungnya.
“Kau semakin mirip dengan ibumu,” tutur Emrick.
“Papa merindukan mama?” Emrick diam.
“Kau selalu menjaga perasaan wanita itu, tapi kau tidak pernah menjaga perasaan kami,” komentar Lucas.
“Dia istriku, Lucas. Tidak sepantasnya aku menyakiti dia dengan mengingat mantan istriku,” jawab Emrick tanpa bermaskud apapun, tetapi Alessa dan Lucas yang mendengarnya merasa sakit sakit.
“Ibuku adalah yang melahirkan aku dan Lucas. Mengingatnya bukanlah satu kesalahan, kau perlu mengingat hal itu karena dia pernah menjadi satu-satunya wanita yang kau ratukan di atas segalanya,” telak Alessa.
“Aku merindukan ibumu...” Setetes air mata jatuh, Alessa dan Lucas yang melihatnya tersenyum sedih.
“Iya, sudah sepantasnya kau merindukan ibu kami. Dia adalah wanita paling hebat bagi kami, dan dia adalah wanita yang paling setia kepadamu,” sela Lucas.
“Papa... ada yang ingin kami katakan padamu, terkait ibuku dan wanita itu.” Alessa mengucapkan maksud dan tujuannya pertama kali.
“Tidak, Pa. Kami tidak akan memaksamu untuk mempercayai yang akan kami sampaikan ini,” potong Alessa sebelum sang papa memberi penolakan.
“Setelah kami sampaikan ini, giliran papa yang memikirkan benar atau tidaknya. Kami tidak akan memaksa. Sebagaimana seorang anak, kami ingin kau sadar dari apa yang telah menutup matamu selama ini,” sambung Lucas.
Mendapat persetujuan dari Emrick, barulah Alessa memaparkan hasil penyelidikannya beserta bukti yang ia dapatkan. Lucas juga demikian, mereka sama-sama meyakinkan sang papa. Semua sudah mereka sampaikan, reaksi Emrick hanya menatap berkas di depannya dengan kosong.
“Ini kertas yang aku temui di kediaman Phei,” ucap Alessa menyerahkan sebuah kertas kecil.
―Aku mencintai, Emrick!―
“Ini tulisan Phei,” ucap Emrick.
“Ya. Dia menulis itu ketika pernikahan papa dan mama menginjak tahun ketiga,” tanggap Alessa.
“Jauh dilubuk hatimu, kau mempercayai kami. Tapi, apa yang membuatmu begitu percaya pada wanita itu?” Alessa mengeluarkan tanda tanya besar di benaknya selama ini.
“Aku tidak tahu.”
“Kau terlalu buta, Pa. Kau hanya mengandalkan nafsu, bukan cinta dan sebuah ketulusan,” komentar Lucas benar adanya.
“Maafkan aku,” pinta Emrick.
“Bagaimana sekarang? Apa Papa tetap ingin bersama wanita itu?” tanya Alessa pelan.
“Aku ingin bersama ibu kalian...” lirih Emrick.
Baik Alessa ataupun Lucas tepaku, terlihat begitu besar keinginan sang papa bertemu dengan ibu mereka. Alessa tidak tahan melihat penderitaan sang papa, ia yang sedari tadi berdiri, kini menundukkan dirinya di samping Emrick dan memeluk erat sang papa.
“Masih ada kami, Pa. Kami menyayangimu,” ucap Alessa tulus.
“Maafkan aku, Alessa... maafkan selama ini aku mengacuhkanmu,” tutur Emrick.
“Dan maafkan aku juga, Lucas... karenaku kau menderita,” lanjut Emrick pada Lucas.