
Normal Pov~
Alessa di bawah pengaruh obat, kesadarannya berada di lima persen. Ia tampak pasrah dengan perlakuan Nick, mengikat kedua tangan Alessa di kepala ranjang. Mata Alessa berkabut menatap Nick, teramat gelisah dan menunggu Nick menyentuhnya.
Nick tersenyum lebar, lalu menyentuh setiap jengkal tubuh Alessa. ******* Alessa memenuhi ruangan, Nick merindukan suara ini. Nick rindu semua yang ada pada wanita di bawah kungkungannya ini.
Apa yang terjadi di malam ini, hanya Nick yang tahu. Dan Alessa cukup menikmati saja, sama seperti dulu ketika mereka bergelung di atas ranjang untuk pertama kalinya. Berbagai posisi dan berkali-kali mereka lakukan, jelas keduanya sama-sama menikmati penyatuan mereka malam ini.
...***...
Di pagi harinya, Alessa terbangun tanpa busana. Sejenak Alessa terdiam, ia menghela nafas karena mengingat malam kemarin bersama Nick. Samar-samar Alessa mengingat, obat perangsang, ucapan Nick dan berakhir menghabiskan malam. Memutar pandangan, Alessa tidak menemukan siapa pun. Persis seperti dulu, Nick pergi setelah percintaan mereka. Ia merasa ditinggal begitu saja!
Alessa tahu jelas mengapa Nick begitu marah malam itu, alasannya pakaian seksi yang ia kenakan. Sedari dulu Nick benci jika Alessa mengenakkan pakaian terbuka. Apa ini juga berkaitan dengan itu? Tapi, mengapa Nick marah? Bukankah pria itu sudah memiliki seorang kekasih dan hubungan mereka sampai detik ini sudah tidak berarti lagi?
Menyerah dengan pikirannya, Alessa beranjak membersihkan diri. Langkahnya terhenti ketika melihat paper bag yang sama seperti kejadian di hotel sebulan lalu. Tergesa-gesa Alessa meraihnya. Tidak, jangan sampai pemikiran Alessa benar!
Alessa mengeluarkan isi paper bag tersebut, benar saja, dress itu sama persis. Spontan Alessa menatap pintu, sebuah kertas tertempel di sana.
“Oh, tidak. Pria itu adalah Nick,” cicit Alessa pelan.
Pantas saja sentuhannya begitu mengingatkan Alessa pada Nick. Ternyata dia sendiri pelakunya! Itu artinya, Nick tahu Alessa berada di Athena pada saat itu.
“Selama ini kau mematai-mataiku, Nick?” batin Alessa bertanya.
Apakah boleh ia menanyakan langsung ke Nick, mengapa pria itu berbohong atas kematiannya? Kenapa tidak pernah menemuinya secara langsung? Bagaimana dia bisa hidup dan menjadi seorang kepercayaan Allard?
Setengah hatinya mengatakan, Nick merencanakan sesuatu. Tetapi, Allard tidak mungkin begitu saja mempercayai musuh. Ada apa sebenarnya, Alessa buntu untuk mencari jawabannya. Satu hal yang Alessa pahami, Nick memperingati status sah mereka. Alessa ragu, tiga tahun berlalu, Nick tidak mungkin menjalani hidupnya seorang diri tanpa seorang wanita. Jangan melihat jauh, acara malam tadi sudah membuktikan bahwa Nick memiliki wanita lain!
...***...
...Terima kasih sudah membohongiku selama ini, Nick......
...Hubungan ini cukup sampai di sini, aku sudah menemukan sosok pria lain......
...Lupakan malam di Athena kemarin, dan aku juga akan melupakan pertemuan kita malam ini dan yang terjadi setelahnya.......
...Good bye,...
...A....
Senyum pedih terpantri di bibir Alessa. Ia meletakkan sercarcik kertas di atas nakas dan segera pergi mengunjungi Dokter pribadinya, Rafael.
Tepat di pintu ruang Rafael, Tiena—Asisten Rafael—tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Alessa terkekeh, mengerti maksud Tiena, apalagi kalu bukan di dalam ruangan Rafael sana sang istri tengah berkunjung.
Rafael adalah Dokter psikolog Alessa tiga tahun belakang ini. Alesa mengenal Rafael lewat Rhumi—Istri Rafael—yang mana wanita itu adalah pemilik cafe di dekat apartemennya. Rhumi sendiri yang mengusulkan Alessa untuk konsultasi pada Rafael.
Sebelum Rafael, Alessa memiliki Dokter psikolog pribadi. Akan tetapi, cara penyampaian dokter tersebut terkesan memojokkan. Beda dengan Rafael, pria itu mengayomi pasiennya bagaikan teman.
“Rhumi sudah lama di dalam?” tanya Alessa.
“Sekitar dua puluh menit.”
“Apa aku menunggu saja?”
“Masuk saja, Dr. Rafael tadi mengatakan padaku jika kau datang langsung masuk saja. Ayo, sana... ganggu mereka sedang bercinta!” ucap Tiena heboh, wanita ini memang ceplas-ceplos dan sedikit tidak waras.
“Baiklah. Terima kasih, Tiena.”
Alessa mengetuk pintu sebagai bentuk kesopanan. Sebuah suara menyuruh Alessa masuk, terlihat sepasang suami-istri ini merapikan pakaian masing-masing.
“Hai, Alessa!” sapa Rhumi ramah seraya melempar senyum mohon maklum.
“Hai, Rhumi. Apa kalian sudah selesai?” ucap Alessa menggoda setelah membalas sapaan Rhumi.
“Sudah, Miss Alessa.” Rafael menjawab.
“Aku kembali ke cafe. Alessa, berkunjunglah... lama tak melihatmu ke cafeku.”
“Bisa diatur, asal gratis!” ucap Alessa mengerling pada Rhumi.
“Oh, tenang saja!” balas Rhumi terkekeh.
“Aku tidak tahu memulai dari mana, El. Aku ... bertemu dia.”
“Suamimu?” tanya Rafael berhati-hati, Alessa mengangguk.
“Dia masih hidup?” Alessa kembali mengangguk, lalu menceritakan reaksi tubuhnya yang aneh.
“Alessa, boleh aku bertanya?” tanya Rafael pelan.
“Tentu.”
“Apa yang membuatmu merasa bersalah dengan dia?”
“Aku merasa mengkhianatinya.” Rafael mengangguk.
“Kau panik setelah bertemu dia, ya?”
“Ya. Aku tidak bisa menjelaskannya mengapa, El. Melihat dia, rasa bersalahku muncul. Apa itu bisa dikatakan panick attack?”
“Bisa jadi. Apa kau merasa sesak detik itu?”
“Ya, rasanya tercekik.”
“Aku belum bisa memastikannya. Jika kau tidak keberatan, kita lakukan tes, bagaimana?”
“Tidak. Aku hanya ingin saran, dan obat penenang saja.”
“Selama kau bisa mengendendalikan, kurasa tidak perlu obat penenang, Alessa. Bergantung pada obat tidak baik untuk tubuhmu,” tuturnya.
“Bagaimana kedepannya kalau itu terulang?”
“Alessa... aku mengerti kau berat menceritakan keseluruhannya, aku pun tidak memaksamu. Yang aku tangkap, rasa bersalahmu ke dia itu berlebihan. Cobalah memaafkan dirimu sendiri terlebih dulu, lalu bicaralah dari hati ke hati, temui dia dan ungkap rasa bersalahmu.”
“Aku takut, El. Dia kecewa padaku!” Rafael tersenyum, mengelus punggung tangan Alessa.
“Kecewa pasti, Alessa. Kau harus mencoba atau kau akan terus berada di lubang itu,” saran Rafael.
“Kau gengsi, bukan takut!” tambah Rafael, helaan nafas Alessa terdengar.
“Kau selalu mengerti isi hatiku!” Rafael terkekeh.
“Karena pekerjaanku membaca isi hati pasienku,” balas Rafel ringan.
“El, bolehkah kau memberiku obat penenang? Bukan apa, aku takut nantinya lepas kendali.” Alessa memohon.
“Tetap tidak, Alessa. Pengendalian diri yang kau miliki sangat kuat, tidak perlu obat penenang. Kau hebat memilikinya, Aleesa... tidak banyak orang dapat mengendalikan diri sepertimu.” Alessa kembali memghela nafas.
“Baiklah. Terserah padamu saja!” ucap Alessa mengalah.
“Ngomong-ngomong, apa seseorang mendatangimu dan bertanya soalku?” tanya Alessa seketika berubah santai.
“Tidak. Tetapi, dua bulan lalu Tiena memberitahu, seseorang menanyakan apakah aku Dokter pribadimu. Ada apa?”
“Hanya bertanya. Temanku, katanya ingin berkonsultasi denganmu,” elak Alessa.
“Boleh aku jujur?”
“Silakan.”
“Kau wanita yang berbeda, secepat kilat berubah. Sebelumnya kau tegang, dan sekarang kau santai seolah semenit lalu kita sedang membicarakan hal ringan,” ungkap Rafael.
“Pengendalian yang kuat mungkin,” balas Alessa asal.
“Ya sudah kalau begitu, aku ingin beristirahat. Sampaikan salamku pada Rhumi,” ucap Alessa.
“Hati-hati. Jangan lupa mampir ke cafe, aku tidak mau diteror istriku karenamu!”
“Siapkan saja makanan gratis untukku, aku pasti datang.”
“Aku pamit, sampai jumpa!”