The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 7. It’s You



Tepat pukul sembilan lewat delapan, Alessa tiba di markas utama Klan Hellbert. Wajahnya kusut tak bersahabat, kesal pada Allard yang sesuka hati memerintahkannya menyampaikan hasil penyeledikan kemarin. Padahal, inti dari penyelidikan itu sudah Alessa sampaikan lewat telepon. Ah... liburannya sebelum kembali bekerja berantakkan!


Dengan langkah berat, Alessa memasuki sebuah ruang khusus rahasia yang mewah bak istana. Memang tidak diragukan lagi ruangan-ruangan di markas utama ini sangat besar, megah, terawat, dan bersih. Markas Klan Hellbert bukanlah markas biasa, dari depan saja terlihat seperti rumah tak berpenghuni, tetapi sejauh seratus meter ke dalam terdapat sebuah rumah besar menjulang tinggi. Tidak ada yang menyangka bahwa ini adalah markas, karena tertutup oleh rumah di depannya dan terletak di hutan yang jarang sekali diketahui orang.


“Morning, Alessa!” sapa Jordan—tangan kanan Allard—dengan senyuman ramah.


“Morning, Uncle Jo.”


“Silakan masuk, Alessa!” sambut Jordan membuka pintu ruangan.


“Terima kasih, Uncle!” Alessa memberi senyuman tulus, lalu memasuki ruangan.


Di dalam ruangan tersebut, Alessa melihat lima penjaga berdiri tegak mengelilingi ruang rapat. Sedangkan Allard sendiri duduk di kursi pemimpin, dan benar yang dikatakan Jeff kemarin, Mr. Fillbert—Ayah Allard—juga hadir di dalam pertemuan ini. Alessa memilih duduk di sebelah Fillbert setelah menyapa mertua dari Katryna itu. Kemudian, dia menyapa Allard dengan wajah datar.


“Bagaimana kabarmu, Alessa? Sudah lama aku tidak mendengar kabarmu,” ucap Filbert.


“Seperti yang kau lihat, Uncle. Tidak buruk,” jawabnya santai.


“Namamu semakin bersinar, hm...” ujar Filbert diiringi kerlingan menggoda, itu membuat Alessa terkekeh.


“Aku bukan matahari yang bersinar, Uncle!” Filbert tertawa.


“Ngomong-ngomong, Aunty-mu sangat terpukau menyaksikanmu di atas catwalk. Sangat menakjubkan katanya,” ucap Fillbert sedikit bercerita.


Kalau diminta memilih, Alessa akan senang hati mengobol dengan Fillbert dibanding putranya. Walau di luar sana Fillbert terkenal dingin dan kejam, tetapi aslinya dia jauh lebih ramah. Tidak kepada semua orang keramahan itu Fillbert tunjukkan, bisa dikatakan ia menjaga image agar disegani.


“Mom berlebihan menyangkut model,” komentar Allard acuh, Fillbert tertawa seraya mengangguk setuju.


Perbincangan kecil terjadi di antara Alessa dan Fillbert, hingga suara deritan pintu terdengar mengalihkan perhatian mereka. Alessa terlihat santai di awal, obrolan bersama Fillbert membuyarkan kekesalannya terhadap Allard, akan tetapi ketika matanya menangkap objek yang memasuki ruangan tersebut, tubuhnya seketika menegang dengan jantung berdegub kencang seakan ingin keluar.


“Morning, Mr. Helbert’s!” sapa pria tersebut setelah memandang Alessa persekian detik.


“Morning, Mr. Bateline!” Filbert yang tersadar lebih dulu, menyapa balik.


Allard terdiam dengan wajah datar. Ia terkejut, tapi menutupinya dengan sangat baik. Alessa tersadar ketika mendengar ucapan Fillbert, alisnya berkerut heran atas panggilan tersebut. Namun, Alessa tak berkomentar, ia mengubah ekpresinya datar.


Situasi ini sungguh membuat Alessa tak nyaman, serta kegundahan hatinya kian bertambah sebab pria itu duduk di bangku seberang dan menatapnya intens. Wajahnya santai, tidak menunjukkan keterkejutannya sama sekali. Alessa seribu persen yakin, pria ini tahu tentang Alessa yang menghadiri pertemuan pagi ini.


Alessa tidak lagi bergabung ke dalam pembicaraan, tangannya menyatu di bawah meja menahan gemetar. Berbalik dengan ekspresinya yang menunjukkan raut datar dan dingin.


“Alessa, mulai sampaikan penyelidikanmu!” perintah Allard.


Hitungan detik, Alessa dapat menguasai tubuhnya. Ia tidak akan membiarkan pria itu tahu saat ini Alessa lemah hanya melihatnya wujudnya. Kemudian, Alessa berdiri dengan penuh percaya, lalu berjalan ke ujung meja agar dapat memaparkan hasil temuannya. Tepat di belakang tubuhnya, terdapat denah markas Spanyol.


“Seperti yang terlihat di denah, ada beberapa titik yang menurutku sangat mencurigakan. Pertama pada titik ini,” papar Alessa menghentikan suaranya seraya menunjuk titik berwarna merah di dalam denah tersebut.


“Ruangan pemimpin markas,” sambung Alessa masih menujuk titik itu.


“Ruangan itu ditempati seseorang bernama Mr. Thi, dia berperan sebagai bawahan Mr. Matthew. Furniture di ruangan itu tidak menggambarkan Klan Hellbert sama sekali,” tambah Alessa menjelaskan kondisi ruangan.


“Titik ini juga yang paling krusial,” ucap Alessa menunjuk titik masuk markas.


Selama Alessa menjelaskan, Allard tersenyum tipis menatap layar denah di depan sana. Alessa menangkap senyuman itu, artinya Allard telah menyiapkan rencana besar dibenaknya. Alessa berani bertaruh, perbuatan mereka akan mendapatkan hukuman di luar nalar manusia. Bermain-main dengan Hellbert, nyawa beserta pengikutnya akan hancur di tangan Allard.


“Apa kau melihat Matthew di sana, Alessa?” tanya Fillbert setelah Alessa memaparkan penemuannya.


“Tidak, Paman. Dari informasi yang aku dapat, Mr. Matthew disekap di ruang bawah tanah,” jawab Alessa, Fillbert mengangguk paham.


Allard mengambil keputusan untuk menuntaskan masalah markas Spanyol hari ini juga. Yang Alessa lihat, Allard sangat santai mendengar bahwa markas itu ingin dikuasai pihak lain.


“Kulihat kau sangat santai,” komentar Alessa pada Allard.


“Hanya tikus kecil!” Oh, jawaban Allard amat santai, tapi Alessa tak yakin Alard akan bermain santai.


“Sebenarnya kau bisa membasmi tikus kecil itu tanpa harus aku selidiki,” tutur Alessa datar.


“Aku butuh informasi tua bangka itu, dan kau mendapatkannya.”


“Ada apa dengan si tua bangka itu?” tanya Alessa. Membayangkan wajah si tua itu membuat Alessa mengernyit jijik.


“Dia mengatas namakan organisasi ini untuk kepentingan bisnisnya,” jawab Allard.


Pantas saja, tanpa dijelaskan lebih lanjut pun Alessa paham. Klan Hellbert memegang teguh aturan dan dapat dipastikan bisnis itu amat sangat bertolak belakang dengan aturan yang telah ada.


“Perdagangan manusia atau lebih dari itu,” batin Alessa.


“Kau tahu apa yang harus kau lakukan, Allard. Menyalahi aturan yang berlaku tidak ada pengampunan dan toleransi bagi mereka,” ucap Fillbert santai.


“Aku tahu,” balas Allard datar.


Selanjutnya, giliran pria itu yang menyampaikan informasi berkaitan dengan cabang di markas Athena. Well, Alessa baru mengetahui ternyata pria itu yang menuntaskan masalah di Athena. Selama penjelasan pria itu, Alessa memilih memainkan ponselnya. Tepatnya, saat ini ia tengah menutupi kesedihannya yang tidak terbendung setelah mengetahui seseorang tersebut masih hidup sampai detik ini.


Tanpa sadar, Alessa termenung membiarkan ponselnya tergeletak di atas meja. Kejadian tiga tahun lalu berputar di kepalanya, dan apa yang dia lihat saat ini bagaikan mimpi. Tidak mungkin orang yang telah mati kembali hidup, bukan? Alessa sangat ingat, pria itu tewas tepat di depan matanya.


Allard sendirilah pelaku penempakan itu, jelas Alessa lihat Allard melepaskan tembakan tepat di dada pria itu. Alessa seperti orang bodoh yang tak tahu apa-apa, di sini sangat jelas sekali jika Allard dan Fillbert tahu pria yang berstatus suaminya masih hidup. Entah apa yang terjadi, kepala Alessa kosong sulit berpikir jernih.


Ada yang berubah dari pria itu, tatapan dingin yang ditunjukkan dia tampak berbeda di mata Alessa. Tubuh pria itu juga berubah, semakin kekar dan... panas? Sekuat tenaga Alessa menahan air matanya. Sunguh... Alessa ingin masuk ke dalam pelukan pria itu dan menangis di sana.


“Kerja bagus, Nick!” puji Allard, seketika Alessa tersadar.


Alessa kembali memasang wajah acuh nan datar. Dengan berani, Alessa menatap ke dalam mata pria itu. Ya, pria itu adalah Nick... Nickholas Fernand, atau yang dikenal saat ini sebagai Nickholas Bateline, entah apa alasan pria itu mengubah nama belakang, Alessa tidak tahu.


“Jordan, aturan penerbangan ke Spanyol hari ini!” titah Allard pada Jordan.


“Baik, Tuan!”


“Dan kau Alessa, masa liburmu telah selesai, bukan?” Alessa mengangguk.


“Kapan kau kembali?” tanya Allard.


“Aku tidak tahu, tergantung perintah atasanku.”