The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 50. Allanzel’s Birthday



Berkutat dengan komputer sebagai seorang hacker adalah keahlian serta kesenangan bagi Alessa. Meskipun sulit, ia berusaha memecahkan teka-teki guna mendapat jawaban berharga. Jari-jari Alessa bergerak lincah di atas keyboard, sebisa mungkin mencari di mana letak keberadaan Christa. Terlepas dari masalah itu, Alessa membantu sesuai porsinya, dan perlu digaris bawahi, tugas ini perintah atasannya, yang tak lain adalah Allard!


“Gps terakhir berada di Ossining, kurang lebih sejam mencapai desa itu,” beritahu Alessa berhasil memecahkan gps yang sebenarnya diblokir oleh seseorang.


“Bukankah itu desa terkecil?” tanya Katryn memastikan, pasalnya desa itu tidak asing dipendengarannya.


“Ya. Desa itu banyak tempat-tempat yang memungkinkan menjadi persembunyian, jawan Alessa santai.


“Kau pernah bertugas di sana, right?” Nick menatap Alessa dalam.


“Ya.”


“Beritahu aku tempat-tempat tersebut,” pinta Nick. Perminataan itu memancing remasan tak kasat mata di hati Alessa.


“Itu akan membuang waktu,” ucap Alessa.


“Biar aku menghubungi temanku agar dia membuka seluruh cctv di sana,” sambung Alessa seraya kembali mengotak-atik komputer di depannya.


“Beritahu aku tempatnya, Alessa!” paksa Nick.


“Aku tidak banyak tahu, Nickholas. Aku hanya mendengar dari temenku! Jangan berani membentakku!” peringat Alessa.


Katryn yang duduk tak jauh dari Alessa mencoba menenangkan. Alessa mendengus sinis, tetapi tangannya bergerak lincah menghubungi temannya lewat sebuah situs rahasia. Setelah mendapat balasan, Alessa mengalihkan pembicaraan lewat video.


“Hi, Black. Aku butuh bantuanmu,” ucap Alessa pada intinya.


Black tertawa, sedangkan Alessa hampir saja mengerang kesal karena tanggapan Black ini, sangat menguras kesabarannya yang sudah diubun-ubun.


“Aku tidak salah dengar? B meminta bantuanku, di luar prediksi!” balas Black tak percaya.


“Kau ingin membantu atau tidak?” terang Alessa.


“Tidak, karena kau pernah menolakku!” Alessa memutar bola matanya malas, tidak nyambung sekali jawaban pria gila ini.


“Aku bukan barang taruhan yang bisa kau gunakan! Jawab, iya atau tidak? Jika tidak, aku akan menerobas sistemmu agar mendapatkan apa yang aku mau!” ancam Alessa terang-terangan, Black tertawa geli.


“Oh, kau tahu tentang taruhan itu?! Tapi, tanpa taruhan itu, aku memang menyukaimu!” Alessa memaki Black, pria ini gemar sekali bermain-main.


“Blacky, ini bukan waktunya bercanda! Kau menyukai temanku, bukan aku, Brengsek! Bantu aku sekarang!” berang Alessa, Black kembali tertawa.


“Baiklah, karena kau tahu. Mari dengarkan syarat dariku, maka kau mendapatkan apa yang kau mau, termasuk bercinta denganku,” balas Black terkekeh geli. Alesa mendengar geraman marah Nick, tapi siapa peduli?


“Apa maumu?” tanya Alessa sabar.


“Pertemukan aku dengan Greisy,” jawab Black serius.


“Oke, akan aku urus nanti!” balas Alessa.


“Detik ini atau tidak sama sekali!” ucap Black.


“Kau lupa perkataanmu tadi, bodoh? Dengarkan syaratmu, maka aku mendapatkan kemauanku!” debat Alessa, pria ini benar-benar bodoh sekali!


“Aku tidak mengatakan demikian, kau salah dengar!” elaknya, Alessa geram bukan main.


“Tujuh menit dari sekarang, B. Aku mau bertemu Greisy siang nanti pukul 13.00! Lebih itu, good bye dengan permintaanmu. Oh, yeah... kau tidak akan mudah meretas sistem keamananku, kau tahu siapa aku!” tutup Black secara sepihak.


“Membuang waktu saja!” komentar Nick. Alessa terdiam seketika, tatapannya tertuju pada Nick.


“Hitung dengan baik, mencapai kota itu membutuhkan waktu sejam, setelahnya mengerahkan pasukanmu ke semua tempat di sana. Ini cara yang efisien dibanding kau kesana langsung, Nickholas. Gunakan otak pintarmu itu!” cerca Alessa.


“Alessa, fokus pada tugasmu!” titah Allard.


“Suruh Billiard melakukan tugas ini, aku selesai dengan pekerjaan ini!” tolak Alessa.


“Lakukan tugasmu, Alessa! Jangan membantahku!” balas Allard tajam.


Alessa tidak habis pikir mengapa Allard dan Katryna ikut membantu Christa. Alessa merubah ekspresinya datar, terkesan menyimpan emosi. Kemudian, Alessa menghubungi Greisy secara pribadi dan menyampaikan maksudnya tanpa menutupi siapa yang ingin bertemu.


“Ini demimu, Alessa. Katakan, dimana dan jam berapa?” Greisy menyetujui permintaan Alessa.


“Restoran Helbert, pukul 13.00!” Setelah kesepakatan itu, Alessa kembali menghubungi Black.


“Kau sangat bisa diandalkan, B. Aku suka cara kerjamu. Jadi, apa yang kau ingin, katakan padaku, tidur bersamaku?” puji Black diselengi candaan.


“Bermain dengan temanku, kuhabisi kau!” kecam Alessa serius.


“Aku bisa melakukannya, tetapi aku tidak diizinkan membuka cctv bagian utara,” jawab Black serius. Dahi Alessa berkerut, ada keanehan di sini.


“Kenapa tidak?” tanya Alessa.


“Pertemuan menteri dengan pemerintah desa sangat rahasia,” balas Black.


“Aku bisa menjaga rahasia, aku butuh cepat semua cctv di sana, Blacky!” ucap Alessa cepat.


“Kau sedang tidak mematai-matai mereka, kan?” selidik Black.


“Bukan mereka yang aku cari, Connor. Feelingku, pertemuan itu dimanfaatkan oleh musuhku untuk memback-up mereka,” terang Alessa masuk akal.


“Wah, ternyata kau tahu nama asliku, hebat!” puji Black takjub, Alessa mendengus sinis.


“Blacky!” peringat Alessa, Black terkekeh.


“Baiklah. Apabila kau tahu, jaga rahasia itu, aku tidak mau terkena getahnya!” peringat Black.


“Aku janji.”


“Sudah aku buka. Berhati-hati, B. Kau tahu pihak pemerintah bukan memperkerjakan aku saja!” Alessa mengiyakan.


Setelah mendapatkan seluruh akses, Alessa dengan cermat memperhatikan setiap sudut cctv, terutama bagian utara. Membutuhkan waktu ekstra, sebab bagian utara tidak sekecil yang mereka kira. Katryna ikut membantu memperhatikan sudut cctv, pasti ada titik terang di sini.


“Alessa, pabrik gudang ini mencurigakan, sebuah mobil terparkir di sana,” beritahu Katryna.


Alessa memperbesar layar cctv yang Katryn tunjuk. Benar, di sana terdapat dua mobil mencurigakan. Dugaan Alessa benar, si penculik memanfaatkan pertemuan itu, sebab tempat penyekapan tersebut hanya berbeda dua blok.


Tak berapa lama, seseorang yang mereka kenali keluar dari pabrik gudang tersebut. Alessa mencoba mengingat sesuatu, saat bertugas Blue pernah berkata dia tersesat di sebuah pabrik gudang. Pabrik gudang ini sama dengan apa yang Blue deskripsikan, sudah lama tidak beroperasi, bagian depannya sedikit hancur, gedung bewarna coklat, dan jauh dari pemukiman warga sekitar.


“Mereka menyekapnya di gudang bagian belakang,” beritahu Alessa.


“Gudang pabrik ini sama seperti markas utama, di depan terlihat tidak berpenghuni, tetapi di dalamnya terdapat bangunan yang layak dipakai,” sambung Alessa.


...***...


Atas paksaan Katryna, Alessa bersedia hadir di acara ulang tahun Allanzel di hotel keluarga Helbert. Bahkan Katryna memaksa Alessa berdandan, sampai mendatangkan MUA. Hasil dandanan ini adalah atas saran Katryna langsung, Alessa tidak diberi wewenang sama sekali.


“Kau cocok dengan make up bold itu, cantik. Aku suka,” puji Katryna tulus.


“Ya, kelihatan lebih tua pastinya,” balas Alessa malas, Katryna tertawa pelan.


“Jeff, anak-anak sudah siap?” tanya Katryna pada Jeff yang berdiri tegap di dekat pintu.


“Sudah, Mother.” Katryna mengangguk.


Polesan terakhir, yaitu lipstik. Alessa memilih warna gelap, kali ini Katryna membiarkan pendapat Alessa. Setelah selesai, keduanya turun diikuti oleh Jeff. Sesampai di ballroom, terlihat keluarga dekat sudah berdatangan. Ya, ulang tahun Allanzel ini hanya didatangi oleh keluarga dan kerabat dekat.


Aleysia—Ibu Katryna—dan Marchell—Adik Katryn—turut hadir. Alessa senang bertemu dengan Aleysia, sudah lama sekali mereka tidak bertegur sapa. Melihat Aleysia, Alessa seolah melihat ibunya, dia jadi merindukan sang ibu.


“Bagaimana kabarmu, Nak?” tanya Aleysia ramah seperti biasa.


“Baik, Tante. Lama sekali kita tidak bertemu, aku merindukanmu...” Aleysia tersenyum tulus.


“Ah, kau saja tidak pernah menjenguk orang tua ini,” gurau Aleysia, Alessa menghela nafas.


“Bukan begitu, Tante. Banyak masalah yang harus aku selesaikan,” ucap Alessa. Aleysia mengelus puncak kepalanya sayang seraya tersenyum menenangkan.


“Aku sempat mendengar kabarmu. Jangan merasa lemah dan berbuat di luar kendali, buah kesabaran akan mendatangkan pertolongan untukmu, Nak...” Alessa tak dapat menahan air matanya. Ia memeluk Aleysia dan mengucapkan terima kasih.


“Cukup bersedihnya. Ayo kita kesana, Katryna sedang mencarimu,” ucap Aleysia sambil melirik pada putrinya yang tengah mengedarkan pandangan.


“Ya, dia memaksaku untuk mendampingi mereka. Kalau begitu, aku pamit kesana, anak kesayanganmu itu akan mengomel jika aku tidak di sana,” pamit Alessa dan berjalan mendekati Katryna setelah mendapat persetujuan dari Aleysia.


“Darimana saja kau?!” todong Katryna.


“Sudahlah, Amour. Segera selesaikan acara tidak berguna ini,” tegur Allard. Alessa terkekeh, menyetujui ucapan Allard.


Acara dipandu oleh Mc, rentetan acara mulai berlalu. Tibalah acara peniupan lilin, Allanzel tampak malas dengan acaranya tersebut, diam-diam Alessa terkekeh. Allanzel sama persis seperti ayahnya, tidak menyukai acara ulang tahun. Siapa lagi kalau bukan Katryna yang mengadakan acara meriah ini.


Allena berada digendongan Alessa bertepuk tangan penuh gembira seraya menyanyikan lagu happy birthday. Disela senyumannya akibat ulah Allena, Alessa melirik ke arah keluarga Allard yang herannya juga ikut bernyanyi. Apalagi si kembar menyebalkan, mereka paling bersemangat, sampai berteriak heboh.


“Ye... selamat ulang tahun, Allanzel!” sorak anak-anak yang hadir di sana, termasuk si kembar pembuat onar itu, tanggapan Allanzel hanya mengangguk cuek. Alessa tak hentinya tertawa, hingga matanya tertuju pada Christa yang menggandeng lengan Nick di sisinya.