The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 31. Dissident



“Ah, kau datang juga!” celetuk Blue penuh kelegaan.


“Kita punya misi, urgent!” sambungnya.


“Misi apa?” tanya Alessa, lalu mendudukkan diri.


“Anak dari menteri luar negeri diculik. Penculik itu diperkirakan adalah mafia asal Rusia,” jawab Blue.


“Apa sudah mendapatkan titik terang keberadaan anak itu?” tanya Alessa.


William sigap memberikan ponselnya, sebuah clue yang diberikan mereka adalah daerah terpencil yang entah dimana tempatnya.


“Oke. Jadi, apa alasan mafia itu menculik anak menteri?” tanya Alessa lagi, tak ada yang bisa menjawab.


“Menteri baru mengabari, mafia itu hanya menginginkan anak gadisnya,” ucap Anthony baru saja memasuki ruangan tim Alessa.


“Hanya menginginkan?” ulang Blue tak percaya, Anthony menggangguk.


“Really? Menculik hanya dengan embel menginginkan? Kenapa tidak meminta baik-baik pada orang tuanya? Tidak masuk akal!” gerutu Greisy.


“Ada pesan yang disampaikan mafia itu kepada menteri?” tanya Alessa pada Anthony.


“Menteri mengatakan tidak ada,” jawab Anthony.


“Alasan apa yang sekiranya masuk akal atas penculikan itu? Cinta tidak direstuikah?” William mengeluarkan pemikirannya.


“Atau masalah berhubungan dengan ‘pekerjaan’ tertentu?” tambah Blue.


Berbagai spekulasi mereka pikirkan, Alessa tetap diam dalam pemikirannya. Mereka harus tahu alasan pasti mengapa Mafia Rusia menculik gadis menteri itu, maka Alessa pamit mencari space untuk menanyakan kepada seseorang yang lebih mengetahui permasalahan ini.


[“Al, aku ingin menanyakan beberapa hal mengenai Mafia Rusia.”] Alessa langsung mengutarakan niatnya melalui telepon.


^^^[“Ya.”]^^^


[“Bagaimana perawakan pria itu? Apa dia sudah memiliki pasangan?”] tanya Alessa.


^^^[“Aku tidak pernah bertemu langsung dengannya. Setiap acara underground, dia selalu mengirim orang kepercayaannya. Kudengar dia memiliki kekasih, seorang gay,”] jawab Allard.^^^


[“Kau tahu anak menteri itu diculik, bukan?”]


^^^[“Ya.”]^^^


[“Mengapa dia menculik anak itu?”]


^^^[“Menteri menjual berbagai barang terlarang kepada Mafia Rusia. Ada masalah dalam pengiriman terakhir, kabar itu cukup besar dikalangan underground.”]^^^


[“Masalah apa?”]


^^^[“Pengiriman diketahui pihak berwajib, klan mereka terancam hancur akibat masalah besar ini.”] Alessa mengangguk paham^^^


[“Oke, terima kasih. Aku tutup,”] ucap Alessa dan memutuskan sambungan.


Ia kembali masuk ke dalam ruangan, anggota tim-nya sudah menunggu keputusan Alessa.


“Sebenarnya, aku tidak setuju kita ikut menyelamatkan anak menteri itu,” ucap Alessa, Anthony menunggu kelanjutan ucapan Alessa.


“Penculikkan itu terjadi karena masalah internal antara mereka. Jika kita menyelamatkan, secara tidak langsung kita juga ikut ke dalam masalah mereka. Masalah itu melibatkan underground, beberapa oknum yang sama pasti mendukung penculikkan itu,” terang Alessa.


“Jadi, apa yang kita lakukan?” tanya Lewis.


“Tetap ikut ke dalam misi,” putus Anthony.


“Kau gila? Berurusan dengan mafia tidak semudah itu, Anthony!” William membantah keras.


“Ya, aku setuju. Apalagi Alessa sudah mengatakan masalah internal, itu menandakan ada sesuatu yang diperbuat menteri kepada mafia, tidak mungkin mafia itu menculik tanpa sebab,” tambah Blue.


“Oke. Kalian sudah tahu alasan penculikan itu, cukup dirahasiakan dan jangan disebar luaskan. Akan tetapi, pemerintah tetap menolong anak itu, dengan alasan dia adalah warga negara asli,” jelas Anthony.


“CIA juga bergabung di misi ini, kalian akan bekerja sama dengan tim mereka. Dan Alessa, aku percayakan tim-mu, kau boleh mengambil tim lain untuk ikut,” pungkas Anthony tanpa ingin dibantah.


“Gila, aku tidak mau ikut! Misi ini berbahaya, Anthony!” ucap Greisy.


“Dengar, terlepas dari masalah mereka, kita harus menyelamatkan anaknya. Kalian boleh mundur jika keberatan, aku tidak melarang sama sekali. Bagaimanapun, anak itu tidak bersalah,” ucap Alessa serius.


“Aku ikut,” ucap Lewis datar.


“Aku juga,” ucap Blue, Greisy dan William saling tatap, kemudian mengangguk dengan berat hati.


“Oke, bersiap. Lewis, minta Zen, Shia dan Charlie ikut ke dalam misi. Aku tunggu sepuluh menit!” titah Alessa.


...***...


Semua anggota telah bersiap, Alessa telah berganti pakaian hitam sedikit lebih longgar dari biasanya, supaya tidak memperlihatkan perutnya yang mulai buncit. Tidak terlihat sebenarnya, tetapi dia berjaga-jaga saja, mata keempat temannya sangat jeli bila ada suatu perubahan di antara mereka.


Jantung Alessa berdegub kencang, Nick tidak tahu atau belum mengetahui ia ikut ke dalam misi ini. Ya, Alessa nekat ikut ke dalam misi berbahaya ini, tetapi dia tidak bisa berdiam diri dan menyerahkan pada anggotanya begitu saja. Bukan Alessa tidak percaya, lebih kepada kerja sama dan keprofesionalan diri. Alessa yakin, kandungannya kuat!


Sesampai di tempat tujuan, tim CIA memberi arahan dan rencana yang akan mereka lakukan. Tim terbagi, Alessa ditempatkan pada tim inti yang akan turun langsung memasuki markas bersama Lewis. Setelah itu, tim inti berpencar mencari celah masuk.


“Lewis, kau ikut bersamaku!” pinta Alessa, Lewis mengerutkan dahinya, bingung atas permintaan Alessa.


“Berpencar.”


“Aku tidak bisa menjelaskan secara terbuka,” ucap Alessa kembali.


“Berpencar.” Si dingin ini sangat tidak bisa diajak bekerja sama! Keluhnya dalam hati.


“Aku hamil.” Lewis menatap Alessa datar. Tatapannya berpindah pada perut rata Alessa yang belum terlihat apa-apa di matanya.


“Jika hamil, kenapa kau terima misi ini bodoh?” umpat Lewis, Alessa menatap Lewis polos, dan Lewis hanya bisa membuang nafas kesal.


“Ayo!” Keduanya berjalan menyusuri tempat ini.


“Di sana,” ucap Alessa pelan menunjuk sebuah pintu besi tua.


Alessa membuka pintu tersebut, keduanya berjaga-jaga karena pintu tersebut tidak terkunci. Lewat tatapan, Alessa memberitahu untuk berhati-hati. Mereka menyusuri lorong, sampai pada ujung lorong, mereka tidak menemukan apapun.


“Ini markas kosong, bisa jadi markas lama,” komentar Alessa.


Menjadi salah satu anggota Klan Hellbert, sedikit banyaknya Alessa tahu bagaimana kondisi markas mafia sesungguhnya. Alessa juga tahu clue pintu masuk markas mafia yang tidak biasanya.


“Semacam pengalihan?” praduga Lewis, Alessa mengangguk.


“Dari awal aku sudah menebak. Seorang Don pasti akan menyembunyikan markas mafia sesungguhnya,” ucap Alessa.


‘Kembali ke tempat awal. Tempat ini hanya pengalihan mereka,’ intruksi Lewis lewat earphone di telinganya yang terhubung ke semua tim inti.


Alessa dan Lewis segera kembali ke tempat di mana mereka berkumpul. Ketika sampai, Alessa melihat satu orang asing di antara mereka. Sebelumnya, Alessa yakin pria itu tidak ada di saat CIA memberi arahan.


“Bagaimana, B?” tanya salah satu anggota CIA kepada Alesaa.


“Bisa jadi markas ini adalah markas lama. Aku pastikan, markas ini semacam pengalihan agar kita tidak mengetahui di mana letak markas yang sesungguhnya,” jelas Alessa.


“Secara logika dapat disimpulkan, saat kita tahu di mana markas mereka, akan menjadi petaka bagi mereka,” sambung salah satu mereka.


“Itu benar. Jadi, langkah apa yang kita ambil?” tanya yang lainnya.


“Aku berasumsi bahwa anak itu disekap di tempat lain. Menteri juga sempat memberi sebuah pesan berisi clue, daerah terpencil,” ucap Alessa.


“Oke. Daerah terpencil itu antara Rusia dan New York. Yang paling memungkinkan New York, sebab tidak mungkin mereka membawa anak itu dalam kurun waktu empat jam ke negara mereka,” simpul Vyiar.


“Ada yang tahu tempat terpencil di kota ini?” Semua menyebutkan kota yang mereka tahu.


“Jika kita intervensi satu per satu akan membuang waktu banyak. Apa ada clue lain?” tanya Lewis mulai malas mendengarkan hal ini tanpa kepastian.


“Itu yang menjadi masalahnya,” seru Greisy.


“Maaf, Nyonya. Mr Bateline ingin berbicara dengan Anda,” bisik seseorang sangat pelan di telinga Alessa. Ketika menoleh, ternyata pria tadi, tidak bukan dan tidak lain pasti suruhan Nick!


“Lebih baik tanyakan pada atasan masing-masing, mungkin mereka mendapatkan clue lain. Kita tidak dapat berdiri di sini tanpa melakukan apapun,” ucap Alessa mengabaikan sejenak seseorang tersebut.


“Aku akan menghubungi atasanku,” ucap Vyiar.


Alessa menjauh dari kerumanan diikuti pria itu, ia mencari tempat yang sekiranya tersembunyi.


“Mana?” tanya Alessa.


“Ini. Silakan, Nyonya...” Alessa menerima ponsel tersebut.


[“Ya?”]


^^^[“Kau benar-benar pembangkang, Alessa!”] Sembur Nick. Alessa sadar Nick marah besar di ujung sana.^^^


[“Ini pekerjaanku!”] Terdengar helaan nafas Nick, pria itu berusaha menenangkan pemikirannya yang kacau.


^^^[“Serahkan semuanya pada Uxel, dia akan mengurusnya. Dan kau pulang!”] titahnya tegas.^^^


[“Apa-apaan kau! Ini tanggung jawab, kau tidak bisa ikut campur!”] bantah Alessa.


^^^[“Kau membuatku gila, Alessa! Demi Tuhan! Pikirkan kegamilanmu! Jangan sampai aku yang turun tangan membawamu paksa di hadapan semua orang!”]^^^


[“Kau mengancamku, ha? Dengar, Nick... kau bukan siapa-siapaku!”] sengit Alessa.


^^^[“Kau istriku! ****, aku benar-benar gila,”] umpatnya kesal di akhir kalimat. Muak berdebat, Alessa mematikan sambungan secara sepihak.^^^


“Uxel, kau tahu tempat itu, kan? Katakan padaku!” tanya Alessa to the poin pada pria suruhan Nick ini.


“Jawab!” bentak Alessa emosi.


“Tempat yang pernah Anda kunjungi bersama tuan, Nyonya. Di ujung Kota New York, tidak jauh dari sini, sekitar satu setengah jam perjalanan,” ucap Uxel. Alessa tahu tempat itu!


Alessa kembali ke dalam perkumpulan, anggota tim-nya bertanya lewat mata. Alessa hanya mengangguk.


“Aku mendapatkan titik pastinya. Seseorang mengirim chip lokasi anak itu,” ucap Alessa.


“Kau tahu tempatnya?” tanya William, Alessa mengangguk.


“Tidak jauh dari sini. Sekitar satu setengah jam menggunakan mobil.”