The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 38. The Reason of The Dead?



Pernyataan cinta Nick, tidak begitu berefek pada diri Alessa. Selama tiga hari ini Nick terus ingin menjelaskan semuanya. Jujur saja, Alessa begitu muak dengan Nick yang ingin menjelaskan permasalahan di antara mereka, tetapi ada rahasia lain yang pria itu sembunyikan. Katanya ia sudah menjelaskan semua pada Alessa, dan apa sekarang ini?


Keputusan Alessa saat ini adalah menghubungi Jeff. Hanya Jeff yang bisa menghubungkan Alessa pada Katryna. Dan begitu, dia bisa menjauh dari Nick untuk sementara waktu. Sebab Alessa tahu, bahwa dirinya lemah berhadapan dengan Nick untuk sekarang, ditambah dengan adanya janin ini yang jelas saja Nick rencanakan agar mengikat Alessa.


Di sinilah Alessa berada, mansion Helbert bersama Katryna. Nick tidak akan bisa membawa Alessa pulang dikarenakan Allard yang berkuasa atas semua yang ada pada bawahannya, dan tentu saja Alessa juga bagian dari Klan Hellbert. Sejauh ini, Alessa mendengar Nick mendatangi dan meminta pada Allard supaya bisa menemuinya, tetapi ditolak. Apalagi jika bukan atas persengkokolan antara dia dan Katryna, jelas Katryna melarang dan berpihak padanya.


“Bagaimana keadaanmu? Apa kau merasa mual?” Tiba-tiba Katryn masuk dan duduk pada kursi di sebelah Alessa.


“Ya, sedikit.”


“Kau terlihat lemas. Apa yang kau pikirkan? Berbagi padaku,” pinta Katryn.


“Entahlah, Ryn. Aku tidak pernah berekspetasi bahwa Nick akan memiliki istri dua. Apa yang harus aku lakukan?” lirihnya.


“Kumpulkan semua kekuatanmu. Silakan bersedih, silakan melemah. Tapi, ingat, setelah ini kau harus punya power yang bisa mengalahkan lawanmu.” Alessa menatap Katryna seraya tersenyum.


“Terima kasih, Ryn...” Katryna tersenyum, kemudian dia mengajak Alessa untuk turun.


“Kau tidak menjebakku untuk menemui dia, kan?” tanya Alessa waswas.


“Kau mau aku melakukan itu?” Alessa menatap Katryna tajam.


“Bercanda. Ayo, kau bisa bermain dengan keponakanmu,” ucap Katryn.


“Aku malas bermain dengan anak-anakmu, terlebih Allena.” Katryn terkekeh.


“Nah, aku lebih suka Alessa si mulut blak-blakan ini, daripada Alessa si pendiam. Kau seperti bukan dirimu,” gerutu Katryn terus terang.


...***...


Tayangan video di layar komputer tidak lepas dari pandangan Alessa, bahkan William berulang kali memanggil, dihiraukan olehnya. Alessa memperhatikan setiap detail pergerakan seseorang di rekaman tersebut. Dahinya berkerut berusaha mengingat sesuatu, pria di dalam rekaman ini tidak asing bagi Alessa.


Setelah berfikir cukup keras, akhirnya ia mendapat satu ingatan. Tidak salah lagi, pria ini adalah salah satu bawahan Allard. Oh, baiklah... kali ini mau tidak mau, dia akan berurusan dengan mereka. Secara tidak langsung lebih tepatnya, sebab tugas ini diserahkan kepada tim-nya dan Alessa bertugas bekerja di balik layar.


“Dia Peter, aku pernah bertatap muka dengan pria ini,” beritahu Alessa.


“Just name?” tanya Blue ingin tahu lebih banyak tenang pria ini.


“Aku tidak terlalu tahu tentang pria ini. Hanya nama dan pekerjaannya,” balas Alessa sedikit berbohong.


“Dia seorang kontraktor di perusahaan Turner Contruction. Kudengar dia sangat lihat dalam pekerjaannya,” sambung Alessa.


“Really? Sulit dipercaya dia terlibat dalam dunia gelap. Kau tidak salah menyerahkan rekaman itu bukan, Wil?” Greisy seolah tidak yakin dengan apa yang William dapatkan.


“Masuk akal saja, bisa jadi dia yang menyediakan tempat pertemuan. Dia tahu tempat yang strategis untuk perdagangan dunia gelap,” tanggap Lewis. Dalam hati, Alessa membenarkan pernyataan Lewis tersebut.


“Aku setuju,” ucap William.


“Oke. Kita sudah mendapatkan tersangka, selanjutnya, apa yang akan kita lakukan?” tanya Blue.


“Meringkusnya langsung?” William memberi saran.


“Kurang tepat. Kita hanya memiliki satu bukti, itu pun rekaman yang belum membuktikan secara pasti apakah dia tersangka utama atau hanya sekedar melaksanakan tugasnya. Jangan lupa tempat ini sedang melakukan pembangunan, dan dipastikan pria ini juga termasuk jajaran penting dalam pelaksanaan,” jelas Alessa.


“Cari tahu lebih lanjut, awasi siapa saja yang keluar-masuk ke dalam ruangan ini,” sambung Alessa seraya menunjuk hasil rekaman di depan mereka.


Pembahasaan selesai, semua tim melakukan tugas sesuai kesepakatan. Alessa tetap tinggal, dia mengawasi mereka dari jauh. Pada sejujurnya, Alessa mengetahui banyak tentang Peter, akan tetapi dia tidak dapat membahayakan Klan Hellbert. Ya, walaupun semisalnya Peter ketahuan bekerja di bawah naungan Allard, dipastikan tidak mudah untuk menyentuh Klan Hellbert.


Lagipula, Peter bagaikan belut yang licin, sangat sulit mendapatkan pembuktian atas apa yang pria itu lakukan. Sudah jelas, ada banyak orang dibelakang sana yang membantu menutup jejak-jejak kejahatan Klan Hellbert, tidak perlu diragukan lagi. Semua orang tahu akan hal itu, sudah menjadi rahasia umum seorang kaya raya akan mudah melakukan apapun yang ia inginkan, bahkan menyogok petinggi penting sekalipun.


...***...


“Mencari kematian, hm?” Suara celetukan seseorang menarik perhatian Alessa.


“Aku bekerja di balik layar, bukan terjun langsung ke lapangan,” balas Alessa membela diri.


“Bukan berarti bekerja di balik layar aman-aman saja, Alessa. Berhenti sejenak, sekiranya sampai keponakanku lahir,” balas Katryn jengah.


“Ryn, aku lapar,” cicitnya memasang ekspresi sepolos-polosnya.


“Ingin aku buatkan sesuatu?” tawar Katryna.


“Tidak. Kau pasti menyediakan cemilan, kan?” Katryn mengangguk.


“Oke. Kau kembali ke kamar, Allard pasti sedang menantimu,” ujar Alessa mengusir tanpa segan. Katryn memutar bola matanya malas, cara Alessa berucap sangat mengesalkan di telinganya.


Alessa sampai di dapur luas, tempat di mana kekuasaan seorang Katryna Helena. Alessa membuka laci penyimpanan, lalu kembali menutup laci tersebut. Ia beralih pada lemari pendinginan, Katryn pasti menyimpan kue buatannya di sini, benar saja dia menemukan brownies yang telah terpotong rapi.


“Hai, Alessa!” Alessa yang akan menutup pintu pendingin terdiam sejenak.


“Oh, kau rupanya!” balas Alessa setelah berbalik melihat siapa pria yang berdiri agak jauh dari posisinya sekarang.


“Ternyata kau di sini, aku tidak perlu bersusah payah harus menghampirimu nanti,” ucap pria tersebut. Dahi Alessa berkerut, mencerna ucapan itu.


“Berencana ingin menemuiku, begitu maksudmu?” Pria itu mengangguk.


“Apa maumu, Peter?”


Ya, pria itu adalah Peter, target yang tim-nya cari tengah berada di mansion Hellbert ini dengan tertawa pelan kepada Alessa.


“Kau memberitahu tentangku pada teman-teman tidak bergunamu itu, huh?” ucap Peter tanpa nada yang berarti, terkesan datar.


“Itu tugasku.”


“Bagaimana jika aku memberitahu mereka tentangmu yang bekerja pada Klan ini? Beserta buktinya, pasti menjadi masalah besar untukmu,” kekeh Peter.


Alessa menatap Peter malas, kini ia telah duduk di atas kursi pantri sekaligus menyantap brownies menggunakan sendok.


“Sekarang aku baru percaya, kau tidak mudah terpengaruh,” komentar Peter. Alessa hanya mengedikan bahunya tak peduli.


“Apa gunamu di sini? Untuk bergosip, hm?” sarkas Alessa.


“Bukan urusanmu, Nyonya Bateline!” Alessa seketika menatap Peter intens, Peter menyadari wanita di depan ini sedang bertanya lewat matanya.


“Semua tahu kau masih menjadi istri sah Tuan Nick,” jawab Peter santai.


Dia ikut mendudukan diri di samping Alessa, sedikit mencomot brownies di hadapan Alessa.


“Kuberitahu satu hal penting tentang Tuan Nick, bagaimana?” Terlihat sekali Alessa malas meladeni pria satu ini.


“Timbal balik, itu kau mau?” tebal Alessa.


“Tepat sekali!”


“Tidak tertarik!” ucap Alessa.


“Kematian palsu Tuan Nick,” pancing Peter.


Berhasil, Alessa menghentikan gerakan tangannya yang akan memasukkan sepotong kue.


“Deal.” Alessa segera menyetujui tanpa bertanya lebih dulu apa syarat tersebut.


“Kematian itu sengaja dirancang guna memalsukan identitas Tuan Nick. Ada alasan dibalik itu semua, alasan itu tidak bisa aku paparkan padamu, kau harus mencari tahu sendiri,” beber Peter setengah.


“Kau tahu banyak tentang kejadian itu. Dan kau orang kepercayaan dia atau hanya sekedar tahu?” tanya Alessa penasaran.


“Opsi kedua,” jawab Peter.


“Fine. Satu pertanyaan lagi, apa alasan itu berhubungan dengan Fernand?” tanya Alessa.


“Aku tidak tahu siapa itu Fernand. Yang aku tahu, itu berhubungan dengan keluarganya.” Alessa mengangguk paham.