
Senyum Alessa surut detik itu pula, matanya beralih pada Allena ketika gadis kecil itu berbisik di telinga,
“Aunty, aku mau kue itu.”
“Sebentar, ya. Mommy sedang memotong kuenya,” bisik Alessa, Allena mengangguk.
Suapan pertama diberikan Allanzel pada sang ibu, Allena berteriak tidak suka karena sang kakak bukan memberikan suapan tersebut padanya. Hal itu mengundang tawa kerabat dan sanak saudara di sana.
“Ini suapan spesial, untuk adik cantikku,” ucap Allanzel tersenyum tipis. Alessa sedikit menunduk guna memudahkan Allanzel menyuap sang adik.
“Mau lagi,” ucapnya polos.
“Ini untuk, Allena...” ucap Katryn memegang sepiring kue di tangannya.
“Sekarang, Allena turun. Ayo, Aunty Alessa nanti kekelahan, kasihan adik bayinya.” Allena menatap Alessa murung, dia tidak mau turun dari gendongannya.
“Ayo, Sayang. Gendong sama daddy,” Allard mengambil alih Allena.
“Aunty Sa,” panggil Allanzel, Alessa menunduk ketika Allanzel menyodorkan sepotong kue, lalu menyuapkannya pada Alessa.
“Terima kasih, dan happy birthday, Allanzel Sayang...” ucap Alessa, Allanzel menatap Alessa malas. Panggilan itu menganggu pendengarannya, sedangkan Alessa terkekeh geli.
Acara selanjutnya, permainan untuk anak-anak. Sedangkan orang dewasa berbincang, begitu juga dengan Alessa. Sebenarnya, Allesa sadar keluarga Allard membicarakan tentang Christa. Alasan Alessa mengiyakan paksaan Katryna adalah, karena keluarga serta kerabat dekat Helbert tahu betul bagaimana kisahnya bersama Nick, jadi mereka tidak akan memandang Alessa sebelah mata akibat gosip yang beredar.
“Cutty, kenapa kau membiarkan wanita itu di dekat suamimu,” gerutu Neon yang mendekatinya bersama beberapa sepupu Allard lainnya.
“Aku tidak peduli dengan mereka,” jawab Alessa datar.
“Wanita itu membawa anak angkatnya,” ucap Evelyn, adik Allard. Oh, entah darimana Evelyn mendapatkan kabar itu.
“Anak angkat? Kau yakin?” tanya Rudolf—sepupu Allard—tak yakin.
“Iya. Itu anaknya,” jawab Evelyn menunjuk ke arah belakang Alessa.
“Anak laki-laki itu?” Alessa jengah akan pembicaraan para sepupu Allard ini.
“Nick dungu atau apa? Membawa Christa dan anaknya ke acara ini, apa dia tidak berpikir rasional? Bodoh sekali!” cerca Maria.
“Bodoh!” komentar Keynand datar.
“Sejak kapan secuek dirimu ikut berkomentar, Keynand?” Alessa balas mengomentari Keynand, pria itu hanya mengedikan bahunya acuh.
“Kalian, buat apa berkumpul di sini?” Alessa bertanya pada semua sepupu Allard yang tiba-tiba mengerubunginya.
“Kami berada di pihakmu,” jawab Maria.
“Pergi!” usirnya galak. Dari mereka menggerutu, tetapi tetap meninggalkan Alessa.
“Jika aku diposisi Nick, aku akan tegas pada wanita itu,” ujar Keynand masih bertahan di samping Alessa dengan segelas wine digenggamnya.
“Ya, Nickholas sulit berbuat tegas pada orang terdekatnya.”
Alessa menyetujui perkataan Keynand. Sudah Alessa duga, Nick pasti tidak dapat menolak apa yang orang terdekatnya inginkan. Pada satu kondisi dia bisa tegas, tetapi jika itu sudah tidak sejalan dengan logikanya.
“Ngomong-ngomong, kau juga pernah diposisi Nick ini,” kritik Alessa, Keynand hanya berdecak malas.
Dari kacamata Alessa sendiri, Christa sedang berusaha mengait Nick agar bertahan di sisinya. Bukankah begitu yang istri-istri lakukan di saat sang suami menjauh? Bagi Alessa, dia tidak akan melakukan apapun, biarkanlah Nick yang memutuskan. Namun, apabila memang Christa yang pria itu pilih, maka jangan salahkan Alessa memberi pelajaran untuk Nick, karena pria itu dia harus merasakan patah hati berkali-kali.
Daripada terus membatin, Alessa menghampiri berbagai makanan yang tersaji. Dari tempat ini, Alessa dapat melihat Katryna berbincang bersama sepupu Allard, lirikan Katryna ke arahnya mampu ia tangkap sebagai sebuah gosip. Ya, mereka tengah membicarakan dirinya.
“Cutty...” panggil si kembar berbarengan. Alessa bertanya-tanya, kenapa kedua manusia ini saling menatap tajam.
“Ada apa dengan kalian?” tanya Alessa mengerutkan dahinya.
“Aku ingin bercerita,” ucap Neon mengebu-gebu.
“Kau tidak melihat aku sedang apa, huh? Nanti! Ceritamu tidak jauh menyudutkanku!” sindirnya. Tetapi, reaksi keduanya berbeda, Neon cemberut, sedangkan Leon menatapnya datar.
“Ayo, kita duduk di sana!” Neon menarik Alessa cepat, padahal ia belum selesai mengambil makanan yang diinginkan.
Alessa seperti penengah, tidak ada yang berkicau. Maka dari itu, Alessa simpulkan bahwa dua manusia menyebalkan ini tengah berselisih. Alessa diam seraya menyuapkan sepotong kue keju bergaya New York, lama-lama diposisi ini membuatnya kebosanan menanti cerita mereka.
“Kalian akan terus diam atau bagaimana?” sarkas Alessa akhirnya.
“Habiskan dulu makanananmu,” intruksi Neon.
“Orang disebelahmu itu sangat kurang ajar!” Alessa melirik pada Leon yang memutar bola matanya jenuh.
“Dia berkencan dengan gadis incaranku!” sambung Neon kesal.
“Hanya berkencan, tidak sampai making love,” balas Leon santai.
“Kau tahu aku menyukai dia, Leon, Bangsat!” maki Neon.
“Kau tahu? Dia membela istri kedua suamimu itu! Tidak punya otak emang!” lapor Neon pada Alessa.
“Aku beropini, Christa wajar mempertahankan seseorang yang dia cintai. Paham arti beropini dengan membela, Tuan Neon?” bela Leon kesal.
“Lebih baik tidak usah beropini, bilang saja kau menyukai istri orang itu!” balas Neon tak mau kalah.
“Neon, tutup mulutmu!” peringat Leon.
“Kau menyukai wanita itu?” tanya Alessa, Leon menatap kembarannya tajam.
“Ya, dia menyukainya. Menarik dan sexy, katanya.” Lapor Neon lagi. Alessa mengangguk paham, dia sebagai wanita saja berpendapat demikian.
“Sekedarnya, tidak berlebihan seperti Neon katakan,” ucap Leon tak enak hati pada Alessa.
“Kalian ini bertengkar karena gadis itu atau wanita itu?” tanya Alessa kebingungan.
“Duanya!” jawab Neon.
“Gadis itu!” jawab Leon. Keduanya menjawab bersamaan.
“Oke. Pertama—” potong Alessa agar si kembar ini diam.
“Aku tidak peduli kalian menyukai wanita itu, berkomentar apapun tentang dia aku tidak peduli!” sahut Alessa.
“Kedua, aku ingin bertanya. Gadis ini kelihatannya menyukai siapa?” Alessa melirik bergantian pada si kembar.
“Aku kesulitan mencari jawaban dari pertanyaanmu, gadis itu menerima ajakan kencanku dan Neon. Apa dia menyukai kami berdua?” Leon mewakili.
“Tidak juga, wanita kadang mencoba berdekatan dengan pria mana saja, demi mengetahui tempat mana yang paling membuatnya nyaman dan berarti. Menurutku, siapa yang dipilih gadis itu, di antara kalian jangan ada yang merasa tersaingi,” ucap Alessa memberi pandangannya.
“Sebenarnya, aku tidak menyukai gadis itu,” aku Leon.
“Lalu, kenapa kau mengencaninya, Bodoh?!” berang Neon.
“Aku ingin mengetahui, apa yang membuatmu mengilai gadis ini. Dari semua gadis di sekolah kita, banyak yang lebih cantik, tetapi kau lebih tertarik pada dia,” balas Leon santai.
“Mana aku tahu, Bodoh! Kau kira aku sepertimu, penyuka wanita tua!” umpatnya kesal. Leon memberi tatapan leser, sedangkan Alessa terkekeh.
“Jadi, Leon ini si penyuka tante-tante?” goda Alessa.
“Tidak tante-tante juga!” bantahnya malas.
“Pantas kau menyukai istri orang,” sindir Neon.
“Jangan-jangan, kau menyukai Alessa juga?” Entah darimana pikiran Neon tersebut, kembarannya menatap Neon lelah.
“Cutty kuanggap kakak, Bodoh! Kau terus mengolokku karena aku mengencani gadis itu, huh? Makan gadis itu!” sembur Leon.
“Sudah, kalian harus berbaikan!” titah Alessa.
“Tidak!” tolak keduanya kompak.
“Alessa...” pangil seseorang yang amat ia kenali. Si kembar semakin merapatkan tubuh mereka seolah melindungi Alessa.
“Aku perlu bicara berdua,” ucap Nick.
“Tidak,” jawab Alessa.
“Alessa, aku perlu bicara denganmu!” Nada Nick sedikit naik.
“Jangan membentak, Alessa!” ucap Neon galak.
“Ya, sementang kau membawa istrimu, kau tidak bisa seenaknya berbicara dengan Cutty kami,” tambah Leon. Oh, keduanya seakan melupakan perdebatan sebelumnya.
“Aku tidak membutuhkan persetujuan siapapun!” Kemudian, dua orang Nick menarik paksa si kembar setelah mendapat perintah dari Nick. Selanjutnya, Nick membawa Alessa menjauh dari tempat acara.