The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 12. Unbelieved



“Biasanya Alessa yang paling berhati-hati, tapi kali ini?” celetuk Greisy seraya menyilangkan tangannya.


“Setuju. Kau ada masalah? Sampai kau tidak fokus, seperti bukan seorang Alessa!” ucap Blue menambahi.


“Tidak. Sedang kurang beruntung saja,” balas Alessa seadanya.


Empat hari setelah penembakan itu, kondisi Alessa membaik. Ini kesekian kalinya Alessa mendapat luka tembak, dan ya... itu hal biasa.


“Untung Tuhan masih menyayangimu, Alessa. Jadi, kau belum mati,” timpal Wiliam.


“Ya, masih ada kata untung.” Alessa membalas sarkas.


“Minggu depan kita libur, Sir Anthony memberi waktu lebih lama. Kemungkinan besar tiga bulan,” beritahu Lewis yang baru tiba.


“Wah, tumben sekali!” seru Greisy bahagia.


“Tidak biasanya dia memberi waktu berlibur selama itu,” komentar Wiliam heran, Alessa diam-diam menyetujui ucapan Wiliam. Ada apa ini?


“Katanya kita perlu beristirahat dikarenakan sudah banyak kasus yang terpecahkan oleh tim ini,” jawab Lewis.


“Kemarin-kemarin juga begitu, kenapa baru sekarang?” ucap Blue.


“Tapi, masuk akal juga. Tim kita paling banyak memecahkan kasus daripada tim lainnya, kan? Mungkin semacam reward,” ucap Greisy.


“Nikmati, kapan lagi dapat libur selama itu!” lontar Alessa, pikirannya masih berkelana apa yang membuat Anthony meliburkan mereka selama tiga bulan? Yang mana Alessa tahu, Anthony sangat membatasi anggotanya dari kata libur, itu pun paling lama sebulan.


...***...


Selain menjadi seorang agent, Alessa juga mengeluti dunia model. Berjalan di atas catwalk adalah salah satu hal yang Alessa sukai. Tidak terlalu serius memang, tetapi sesekali Alessa menerima kontrak dalam mengisi waktu dikala bebas bertugas.


Sebelumnya, Alessa lebih sering mengambil tugas yang Allard berikan dibanding job model. Namun, kali ini ia meminta keringanan pekerjaan. Tidak mudah, sebab Allard tidak memberi izin diawal, Alessa bernegoisasi sampai akhirnya Suami Katryna itu mengabulkan perizinannya.


Pada sejujurnya, Alessa ada niat keluar dari salah satu pekerjaannya yaitu organisasi intel pemerintah—White Agent—atau dari Klan Hellbert karena beberapa hal. Yang paling besar adalah pada perbedaan organisasi, White Agent menuntaskan sesuatu yang dirasa tidak baik. sedangkan Klan Hellbert, siapa saja tahu cara kerja mafia di dalamnya sangat kejam.


Meskipun pekerjaan Alessa tidak berbeda jauh sebagai mata-mata, ia tidak terjun langsung ke dalam mafia tersebut, tetapi sebagian hatinya merasa ada yang salah menjalani dua perbedaan tersebut. Alessa bimbang, bagaimanapun itu, White Agent berperan penting bagi Alessa sehingga ia dapat bertahan sampai titik sekarang. Tanpa White Agent, Alessa pasti masih menjadi seorang perempuan lemah. Dan Klan Hellbert, adalah tempat di mana ia bisa pulang, rumah yang selalu Alessa inginkan. Ada Katryna, juga anggota Klan Hellbert yang tidak pernah memusuhinya.


“Woah, Vanessa... kau memang model menakjubkan!” puji Shee.


“Kau berlebihan, Shee!” ucap Alessa malas.


Jangan heran Alessa dipanggil Vanessa, ia memiliki banyak nama samaran agar identitas aslinya terjaga. Bergelut di dunia intel, sekaligus mafia, Alessa tidak bisa sembarangan menyebarkan nama aslinya.


“Benar, bukan? Dalam kurung waktu tiga hari, kau bisa menarik mereka memakai jasamu!” seru Shee.


“Perkataanmu sungguh ambigu, Shee.” Wanita itu tertawa, dan Alessa hanya memutar bola matanya malas.


“Cepatlah. Thysen sangat berisik menyuruh cepat,” ucap Shee. Alessa mengangguk, Ree—penata rias—memoleskan lipstik untuk hasil akhir di bibirnya.


“Oke, perfect!” ucap Ree bangga dengan suara gemulai.


“Thanks, Ree.”


Terakhir, Ree membantu Alessa mengenakan pakaiannya. Setelah selesai, Alessa dan Shee berjalan ke belakang panggung. Terlihat banyak model lain di sana dengan aktivitas mereka. Alessa kedapatan tema pakaian formal, namun sedikit terkesan seksi.


Acara dimulai, satu per satu para model naik dan memperagakan gaya layaknya model. Shee maju, kemudian giliran Alessa. Dengan penuh percaya diri, Alessa berlenggak-lenggok. Salah satu sikap yang banyak dipuji model lain, karena Alessa memiliki jam terbang yang rendah dibanding para model professional lainnya, tetapi Alessa mempunyai kepercayaan diri yang tinggi di atas panggung.


Bahkan model yang perpengalaman sekali pun, masih gugup. Namun, Alessa tidak merasakan kegugupan tersebut. Semua dikarenakan lingkungan keras yang selama ini Alessa jalani sehingga menimbulkan keberanian dan kepercayaan diri dalam bertindak.


...***...


“Sudah?” tanya Joe, Alessa mengangguk.


“Ayo.” Mereka berjalan beriringan sampai ke parkiran.


Selama di perjalanan, mereka saling bertukar cerita. Alessa sedikit terbuka pada Joe, tetapi masih menceritakan sebatas yang Alessa rasa perlu Joe ketahui. Seperti keluarganya dan permasalahan di dalamnya, pekerjaan Alessa minus profesinya sebagai agent, dan apa yang ada di dalam diri Alessa minus masa lalunya.


“Jadi, rapat apa yang harus kau hadiri?” tanya Joe tersenyum manis.


“Aku tidak begitu paham, Thysen meminta modelnya datang.”


“Kurasa berkaitan dengan acara yang akan datang,” ucap Joe.


“Sepertinya begitu.”


“Silakan.”


“Aku tidak suka pakaianmu di atas catwalk kemarin. Menurutku terlalu berlebihan dan mengundang mata pria,” ungkap Joe.


Ah... perkataan itu kenapa mengingatkan Alessa pada Nickhlos! Hampir sama, hanya saja Joe mengungkapkannya lebih lembut. Berbicara tentang Nick, semenjak makan malam itu, dia tidak pernah lagi menampakkan batang hidungnya.


“Maaf, aku tidak bermaksud menyinggungmu.”


“Tidak apa, Joe. Aku mengerti,” balas Alessa tersenyum.


“Ngomong-ngomong, nama Vanessa ... nama panggungmu?” Joe mengubah topik pembicaraan.


“Ya, semacam itu.” Alessa tidak mau berbicara banyak soal itu.


Ngomong-ngomong masalah Joe mengetahui nama aslinya, itu dikarenakan pertama kali Joe sudah mendengar namanya lewat Jordan—tangan kanan Allard—tidak sengaja tentunya.


Mereka tiba di lobby gedung agensi, Alessa segera turun setelah memberi kecupan singkat di pipi dan ucapan terima kasih kepada Joe sebab mengantarnya. Sedangkan Joe kembali ke kantor, ia menyempatkan mengantar Alessa supaya bertemu dengan tunangannya ini.


Memasuki gedung, Alessa disapa oleh beberapa orang yang memang mengenalnya. Di ruang pertemuan, Alessa melihat sekitar tujuh model duduk anggun di kursi mereka. Ketika memasuki ruangan, Alessa sadar ditatap sinis dan terang-terangan membicarakanya.


“Dia baru, tampil pun hanya sesekali. Kenapa dipilih?” bisik-bisikan terdengar hingga ke telinganya.


“Pasti dia menggunakan tubuhnya menyongok atasan.”


“Oh, benarkah? Pantas saja mudah. Kita saja yang bertahun-tahun sulit berada di ruangan ini!”


Kalimat semacam itu terdengar di telinga Alessa, tetapi ia diam. Alessa memilih berjalan ke arah Shee yang tengah fokus menatap ponselnya dan mendudukan diri di samping wanita tersebut.


“Hai, Shee.”


“Hai, Vanessa. Kau baru datang?” Alessa mengangguk.


“Aku tidak melihat Dyandra, dimana dia?”


“Aku di sini,” ucap serang dari belakang tubuh Alessa, kemudian duduk di sebelahnya.


“Sedang badmood?” tanya Alessa.


“Tidak!” jawab Dyandra ketus.


“Katakan saja kau tidak diizinkan kekasihmu mengambil job kali ini,” celetuk Shee santai.


“Kau juga!”


“Memang, tapi aku punya banyak cara meyakinkan Mr. Savas!”


Shee adalah istri dari pemilik agensi ini, yaitu Mr. Savas. Alessa mengetahui hubungan keduanya, mereka menjalin hubungan secara sembunyi-sembunyi. Sedangkan Dyandra sendiri adalah Sepupu Shee, ia memiliki seorang kekasih yang sebenarnya tidak begitu dimengerti Alessa.


Alessa mengenal kedua wanita itu sudah lama. Semenjak masuk ke dalam agensi New York Internasional Management—agensi terbaik di New York—bisa dikatakan Shee dan Dyandra adalah teman baik Alessa.


“Selamat siang semuanya!” sapa Mr Savas memasuki ruangan.


“Siang, Sir...” sapa mereka di ruangan tersebut.


“Semua sudah di sini?”


“Sudah, Sir!”


“Baik. Kalian sudah bisa menebak kenapa saya meminta pertemuan ini. Ya, event besar yang akan dilaksanakan minggu depan. Salah satu perusahaan fashion terbesar di kota ini meminta kita menampilkan produk terbaru mereka pada event tersebut. Dan kalian yang berada di ruangan ini adalah pilihan langsung dari pihak mereka,” papar Mr. Savas, lalu menjelaskan hal penting lainnya yang patut disampaikan.


“Ada pertanyaan?” tanyanya membuka tanya-jawab setelah memaparkan penjelasannya.


“Produk yang ditampilkan apa saja, Sir?” tanya Dyandra.


“Ada dua jenis produk yang akan kita tampilkan, yaitu bikini dan gaun,” jawabnya.


Pertanyan demi pertanyaan dijawab oleh Mr. Savas dengan lugas. Hingga sebuah intruksi mengakhiri sisi tanya jawab.


“Persilakan mereka masuk!” perintah Mr. Savas.