
Memiliki banyak waktu luang benar-benar membosankan. Terbiasa dengan segala urusan yang ada, membuat Alessa tidak bisa berdiam diri tanpa berkegiatan. Alessa mencoba mengikuti kegiatan yang dilakukan Katryn, yaitu memasak, akan tetapi Alessa tak merasa puas di bidang itu.
Sejak kemarin Alessa memikirkan satu kegiatan yang dulu pernah menjadi hobinya, yaitu photographer. Maka dari itu, Alessa membeli dua buah kamera sekaligus. Senyumnya mengembang lebar, tak sabar rasanya untuk mengambil gambar-gambar pemandangan.
“Uxel, kau tahu lokasi yang menarik?” tanyanya semangat.
“Tidak jauh dari sini, ada danau. Saya kira Anda bisa banyak mendapatkan gambar yang bagus di sana,” usul Uxel. Alessa mengangguk setuju.
Tempat tujuan tersebut tidak terlalu jauh, sekitar tiga puluh menit. Alessa mulai mengarahkan kameranya pada objek yang menarik perhatiannya. Ketika mendekat ke arah danau, di sana terdapat teratai. Alessa seketika mengingat Katryn si penyuka Teratai. Di bagian kiri, terdapat pepohanan rimbun.
“Siapa pemilik tempat ini?” tanya Alessa penasaran.
“Tuan Nick, Nyonya.”
“Nick? Kau tidak salah?” Uxel menggeleng sopan.
Alessa terdiam sejenak, sejak kapan Nickholas suka membeli properti seperti ini? Terlihat memang tempat ini terurus baik.
Puas mengambil gambar, Alessa meminta berkeliling kota seraya sesekali berhenti guna menuntaskan kepuasannya untuk mengambil objek gambar. Ya, Alessa senang mengambil gambar-gambar random. Ada kepuasan tersendiri saat dia mendapatkan gambar bagus dari gambar alam, gedung tinggi, orang-orang, ataupun objek lainnya.
Sebenarnya sejak dulu, Alessa hobi sekali memotret. Namun, karena memasuki dunia mata-mata, hobinya terkesampingkan. Beberapa kali Alessa sempat melakukan hobby-nya di kala bertugas, akan tetapi Anthony melarang tegas, jejak foto-foto itu bisa disalahgunakan oleh orang yang berniat jahat.
“Nyonya, kita harus kembali. Ini sudah sangat jauh dari mansion,” ucap Uxel. Alessa menatap Uxel datar, paham betul ucapan pria itu atas perintah Nick.
“Katakan padanya, aku belum ingin kembali!” balasnya.
Di dalam perjalanan menuju lokasi perbukitan, Alessa dan Uxel menyadari seseorang mengikuti mereka dari arah belakang.
“Kau mengenal mobil itu?” Uxel berkata tidak.
“Biarkan mereka memblokir jalan,” titah Alessa, Uxel keberatan.
“Uxel, lakukan!” titahnya.
Mobil yang mengikuti mereka, memblokir jalan sesuai kemauan Alessa. Kemudian, Alessa berpikir cepat setelah melihat siapa yang menuruni mobil tersebut, dia adalah Patra. Apa yang dilakukan pria itu?
“Nyonya, biar saya mengurus dia, Anda di sini saja,” pinta Uxel saat Alessa membuka pintu mobil.
Alessa mengabaikan perkataan Uxel, dia berjalan menghampiri Patra yang berdiri di depan kap mobil.
“Apa kabar, Patra?” Pria yang dipanggil Patra itu berdecih sinis.
“Buruk setelah kau menghancurkan karirku!”Alessa tersenyum tipis.
“Patra... dirimu sendiri yang menghancurkan karirmu,” sahut Alessa membenarkan.
“Let me tell you... coba kau tidak bermain dengan kepercayaan Anthony, kuyakin kau masih menjadi seorang agent sampai sekarang. Jangan lupakan kau yang menghancurkan setiap rencana team kita, dan aku yang harus memperbaiki kehancuran itu,” ucap Alessa tegas.
“Kau pikir, aku terus tahan dengan pemberontakanmu—entah apa yang kau benci dariku—sehingga aku melaporkanmu pada Anthony! Apa kau sadar, Patra? Bukan dua kali kau hampir mencelakai team-ku, enam kali!” sambung Alessa dengan nada tegas terkendali.
Patra adalah mantan agent yang bergabung ke dalam teamnya. Dia diberhentikan secara paksa karena Alessa yang melaporkan semua kesalahan Patra pada Anthony. Alessa muak Patra terus saja membocorkan rencana mereka kepada pihak lain yang berakibat pada nyawa mereka. Patra, patner yang paling dekat dengannya di banding patner lainnya, tapi dia juga yang mengkhianati kepercayaan Alessa selama ini.
“Aku tidak pernah membencimu,” bantah Patra.
“Oh, ya? Jika memang kau tidak membenciku, kenapa kau berusaha menjatuhkanku, Patra? Aku tahu yang ada dikepalamu, ingin membunuhku, bukan?” tembak Alessa langsung. Jangan kira Alessa tidak tahu gerak-gerik Patra, di balik jas yang ia kenakan saat ini terdapat pistol yang siap ia keluarkan.
Patra memandang lekat Alessa. Sedetik kemudian, Patra mengarahkan pistolnya ke arah Alessa. Uxel berada di balik punggung Alessa, segera melindungi Sang Nyonya.
“Uxel, mundur. Dia tidak akan menembakku,” bisik Alessa.
“Tapi, Nyonya—”
“Mundur,” titahnya tak ingin dibantah. Uxel mundur, tetapi berjaga-jaga di samping Alessa.
“Tembak aku,” ucap Alessa memancing Patra. Bahasa tubuh Patra seakan terbaca oleh Alessa.
“Aku tidak lupa, kau pernah mengatakan, kau tidak akan sanggup membunuhku. Kau yang paling dekat denganku, Patra. Kau pun tahu betapa kecewanya aku ketika kau mengkhianatiku,” sambung Alessa.
“Karena kau juga mengkhianatiku, Alessa!” bentak Patra. Alessa mengerutkan dahinya bingung.
“Suami Christa, dia pria yang bersamamu dulu. Karena dia kau mengkhianatiku, Alessa! Dan kau rela menjadi selingkuhan dia sekarang, hm? Betapa gilanya kau!” serang Patra membuat Alessa melebarkan matanya tak percaya.
“Terkejut, huh?” sinis Patra
“Menjadi pelacur adalah pekerjaan keduamu? Berapa Nickholas membayarmu?” tangan Alessa terkepal erat.
“Perlu aku luruskan, aku dan kau tidak memiliki hubungan apapun! Hubungan kita hanya sebatas persahabatan, tidak lebih! Dari garis mananya aku mengkhianatimu, Patra? Tidak ada!” ucap Alessa.
“Aku mencintaimu, Alessa! Kau tidak pernah melihatku! Kuingatkan padamu, aku serius ingin menjalin hubungan serius denganmu. Apa tanggapanmu saat itu? tidak ada, dan itu kuartikan iya! Tapi, apa? Kau malah berhubungan dengan pria itu!” Kemarahan tercetak jelas dari wajah Patra.
“Patra, kau tidak mencintaiku, kau mencintai Blue. Kau sendiri yang mengatakannya!” bantah Alessa tak habis pikir.
“Aku tidak pernah mencintai Blue, aku mengatakan itu agar melihat reaksimu. Kau juga menyukaiku, Alessa!” Alessa menggeleng tegas, itu tidak benar. Alessa tidak pernah menyukai Patra lebih dari seorang sahabat.
“Kau menyalah artikan segala perilaku-ku, Patra!” terang Alessa berang.
“Diamku bukan berarti aku setuju, kau mabuk saat itu!” Patra menatap Alessa nyalang.
“Kenapa kau memilih dia, Alessa? Kenapa kau mau menjadi kedua bagi pria itu?” lirih Patra.
“Nick suamiku sejak dulu, Patra. Ada banyak hal yang tidak bisa kuceritakan padamu,” balas Alessa lelah, Patra menggeleng tidak terima.
“Kau menghancurkan hubungan orang lain!” Alessa menghela nafas.
“Terserah padamu. Aku tidak mau mengkonfirmasi apapun! Sekarang, ayo lakukan niatmu! Tembak aku!” tantang Alessa. Patra menggelap, kemarahan itu belum lenyap juga dari hatinya.
“Bila kau puas melenyapkan aku, lakukan saja! Bila kau berpikir aku seorang pelacur, pertahankan itu! Bila dengan hilangnya aku dari muka bumi ini bisa melenyapkan perasaan cintamu yang berlebihan itu, maka lakukan!” tekan Alessa datar.
“Nyonya, ayo pergi. Biar orang-orangku yang mengalihkan perhatian pria itu,” pinta Uxel, dia juga tegang menyaksikan drama di depannya. Takut jika terjadi sesuatu yang membahayakan sang nyonya.
“Tahan semua orang, Uxel.” perintah Alessa.
“Nyonya, Mr Bateline sedang berada diperjalanan menuju kemari. Beliau tidak akan senang jika terjadi hal yang membahayakan Anda,” Uxel membujuk Alessa.
“Lakukan apa yang aku minta, Uxel!”
“Ayo, Patra. Tembak!” teriak Alessa kesal.
Alessa terlanjur kesal dengan tuduhan yang Patra layangkan. Alessa tahu, banyak kesalah- pahaman yang terjadi di antara mereka. Tapi, sejauh apapun Alessa menjelaskan, Patra sudah gelap mata akibat rasa ingin memiliki yang terlalu berlebihan. Alessa sadar, hati Patra terlampau jauh, jika tidak, dia tidak akan melaksanakan rencananya sedalam ini.