
“Oke, sepertinya ada yang aku lewatkan!” celetuk Katryna menatap Alessa jenaka.
“Apa?”
“Oh, ayolah. Aku tidak tertipu dengan raut tidak berdosamu itu. Ceritakan, apa yang kau lewatkan bersama Nickholas sebulan ini?” Alessa menatap Katryna sejenak, lalu mendesah kesal. Jeff, pria itu seratus persen pasti mengawasinya dan melaporkan kegiatannya pada Katryna.
“Katryna, bisakah kau tidak memerintahkan Jeff? Aku bukan anakmu!” Katryn terkekeh.
“Ya. Tapi, kau sahabatku.”
“Ayo, jangan mengalihkan cerita!” sambung Katryn. Dan Alessa menceritakan segala yang terjadi selama sebulan ini bersama Nick, termasuk Christa.
“Siapa Christa ini sebenarnya?” Alessa mengedik tidak tahu.
“Aku sebatas tahu, dia seorang model terkenal,” jawab Alessa.
“Selain model, kau tahu siapa dia?” tanya Katryna, Alessa mengangguk.
“Dia Putri Bahadicn, salah satu rekan kerja Allard.”
“Kalau aku tidak salah, dia hadir bersama Nick di acara fashion show-mu itu, bukan?” tanya Katryna memastikan, Alessa mengangguk membenarkan.
“Tanggapanmu tentang dia?”
“Cantik, modis, dan terbuka.” Katryn mengangguk paham, terbuka menurut Alessa adalah mudah berbaur.
“Tidak perlu membedakan diri dengan dia,” ucap Katryn lembut.
“Entahlah. Aku tidak pernah merasa insecure pada orang di luar sana,” balas Alessa.
“Aku mengerti. Begitu yang aku rasakan dengan Selena.”
“Apa Christa akan sama seperti Selena? Ingin memiliki Nick?” Katryna terdiam memikirkan kalimat apa yang harus ia katakan.
“Kita tidak tahu isi hati seseorang. Jadi, berhati-hati saja. Satu hal lagi, jangan membiarkan semuanya berjalan begitu saja, kau akan kehilangan Nick. Tapi, apabila kau tetap pada pendirianmu bersama Joe, mungkin itu jalan terbaik,” ujar Katryna panjang lebar.
“Dan perlu kau ketahui, Nick tidak punya niat buruk padaku. Jika itu yang menganggumu, maka aku berani bertaruh. Nick tidak akan membalas dendam pada siapapun,” sambung Katryn.
“Kau tahu banyak?” Katryna menggeleng.
“Aku hanya tahu apa yang perlu aku ketahui, Allard mengatakan itu. Aku sudah mencoba cari tahu apa alasan Nick menutupi kematiannya, tapi nihil.”
“Ya, tertutup rapat!” tanggap Alessa.
...***...
Sekembalinya Alessa dari mansion Allard, ia segera menuju kantor markas guna menyerahkan laporan lengkap kasus pembunuhan Tuan Shayne kepada Anthony. Kemudian, Alessa mendatangi ruang khusus bersama tim-nya. Di sana teman-teman tim-nya sedang berkumpul, kecuali Lewis.
“Lewis dimana?” tanyanya.
“Dua hari ini dia absen,” jawab Blue.
“Tidak ada yang tahu kemana dia pergi?” Ketiga manusia di sana menggeleng.
“Oke. Bagaimana kasus kemarin? Ada kesulitan?”
“Terpecahkan sangat tuntas!” balas William bangga.
“Jadi, tidak ada masalah, bukan?”
“Tidak. Selama kau pergi, kami bisa menuntaskan kasus. Tapi, ada satu yang tidak,” ucap Greisy memelankan suaranya di akhir.
“Apa itu?”
Greisy berdiri dari kursinya, lalu berjalan ke sebuah lemari di sudut ruangan. Ia mengambil sebuah dokumen dan menyerahkannya pada Alessa.
“Kasus baru?” tanya Alessa setelah membaca keseluruhan dokumen.
“Pembukaan kasus yang terjadi empat bulan lalu. Sebelumnya ditangani oleh Anthony, dikarenakan dia sibuk, diserahkan pada tim 4. Dan, ya... mereka meminta bantuan, tetapi sulit sekali mendapatkan titik terang,” jelas Greisy.
“Orang baru tidak mungkin serapi ini dalam membunuh,” komentar Alessa.
“Kau benar,” setuju Blue.
“Lalu, kenapa kasus dibuka kembali? Permintaan keluarga?” Ketiganya mengangguk kompak.
Alessa mengerutkan dahinya, dengan pelan dia mencari catatan yang dimaksud Blue di dalam dokumen tersebut.
‘Dendamku terbalas!’
‘Keluarga ini patut merasakan kesedihan!’
“Pengecekan cctv?” tanya Alessa.
“Sudah. Kami juga sudah membuat daftar nama yang memiliki hubungan dekat dengan keluarga tersebut,” ucap Blue mewakilkan.
“Bagaimana ada manusia setega ini membantai habis satu keluarga. Aku tidak bisa membayangkan raut wajah ketakutan anak kecil mereka,” sahut Greisy tak habis pikir.
“Dendam mengalahkan hati nurani seseorang,” ujar Blue, Alessa mengangguk setuju.
“Oke. Besok kita mulai berbicara dengan pihak keluarga secara langsung. Cukup kita diruangan ini saja yang tahu, aku yakin tersangka mempunyai mata dan telinga sehingga kita sulit menerobas sesuatu yang penting,” titah Alessa.
“Alessa si pemimpin kita telah kembali. By the way, aku merindukan teriakan sexy-mu,” celetuk William disambut tawa oleh yang lain.
...***...
Alessa benar-benar hilang akal pada pria yang kini tengah duduk di atas ranjang miliknya dengan tenang. Puluhan kali dilarang, puluhan kali pula pria ini tidak mendengarkan ucapannya. Bahkan Alessa menggandakan sistem kemananan apartemennya, pria ini dengan mudahnya tahu setiap kode rumit yang Alessa pasang.
“Apa maumu kali ini?” ketus Alessa mulai kehilangan kesabaran.
“Berapa kali harus kujawab pertanyaan membosankan itu?!” sahut Nick.
“Keluar!” usir Alessa secara terang-terangan, Nick tertawa pelan.
“Kau tidak bisa mengusirku,” balas Nick.
Kemudian, dengan santainya Nick membuka kemejanya dan membaringkan tubuhnya santai. Alessa menghela nafas lelah, ia memutuskan membersihkan diri daripada menghadapi manusia bebal itu. Tak butuh waktu lama, Alessa sudah menggunakan kaos beserta celana pendek, lalu bergabung di samping Nick.
Lima hari belakangan ini, Nick rutin mengunjungi apartemennya, tepatnya malam hari. Alessa mengira, pria ini hanya ingin bercinta, tetapi dia salah. Nick tidak menunjukkan hal demikian. Dalam lima hari ini, baru kemarin malam mereka melakukan hubungan tersebut. Nick tidak memaksa, dan inilah Nickholas yang Alessa kenal selama ini.
Meskipun begitu Alessa membatasi diri, tidak mudah percaya akan sikap Nick yang belakangan ini kembali seperti dulu. Alessa masih ingat, nama Christa Bahadicn masih menjadi abu-abu dipikirannya. Pasalnya, kedua insan manusia ini terlihat bersama di beberapa kesempatan, misalnya dua hari lalu pada acara rekan bisnis Nick.
“Weekend ini kau ada pekerjaan?” tanya Nick membuka percakapan.
“Aku tidak punya waktu kencan bersamamu!” sarkas Alessa spontan.
“Noura meminta waktumu, bukan aku.” Alessa memandang Nick beberapa detik, dan berikutnya dia mengalihkan pandangan.
“Akan aku hubungi dia nanti,” ucap Alessa seraya berbalik memunggungi Nick.
Alessa merasa Nick mendekat, benar saja pria ini memeluk pinggangnya dari belakang. Elusan kecil di perut Alessa membuat sang empu menahan nafas. Nick sering mengelus perut Alessa ketika posisi begini. Alessa berdebar, jangan sampai Nick membahas persoalan anak atau semacamnya.
“Bernafas, Baby...” bisik Nick, spontan Alessa menghembuskan nafasnya.
“Reaksimu berubah, apa ada sesuatu hal yang ingin kau ceritakan?” Alessa tahu itu sebuah pancingan.
“Tidak ada,” jawab Alessa santai.
“Oke. Tidurlah,” ucap Nick.
“Nickholas, kenapa kau menyembunyikan kematianmu? Kau menyuruhku mencaritahu alasan sebenarnya, tapi kau menutupi celah itu. Aku tidak mengerti, apa maumu?” gumam Alessa.
“Selama ini, aku menutup celah agar meminimalisir Fernand mengetahui kematian palsuku. Dia mengincar informasi lewat dirimu, semakin kau tahu, akan berakhir menyakitimu. Sekarang dia tahu kebenaran, aku masih hidup. Maka dari itu, dia mencoba peruntungan menyerangku lewat dirimu,” jelas Nick.
Yang sebenarnya ingin Alessa tanyakan, kenapa Nick menyembunyikan semua kebenaran yang ada? Ini bukan perkara kematian palsu.
“Intinya, kau bersembunyi selama ini untuk menghindari Fernand?” tanya Alessa.
“Bukan mengindar, tetapi mengambil apa yang selama ini menjadi milik keluargaku.” Alessa berbalik, dia menatap mata Nick dengan seksama.
“Kau marah?” bisik Nick.
“Kau berkata seolah aku lemah, Nick. Aku kecewa kau menyembunyikan fakta itu, setelah Fernand tahu kau masih hidup, kau baru mengatakannya padaku. Aku tahu maksudmu, kau menyuruhku berhati-hati, bukan?” ungkap Alessa.
“Aku akui, ya.” Nick mengaku jujur.
“Banyak orang yang membenciku, bahkan sampai ingin membunuhku. Jadi, jangan menyuruhku berhati-hati, aku bergelut di dunia ini dan aku tahu setiap resiko pekerjaanku, Nickhloas...” tutur Alessa.