
Matahari menembus kaca kamar Alessa, memperlihatkan sinar keindahannya. Akan tetapi, Alessa terganggu dengan pencahayaan tersebut yang menyilaukan matanya, Alessa membalikkan tubuhnya dan kembali memejamkan matanya. Tapi, tunggu... Alessa merasa aneh, ditambah sekujur tubuhnya sakit luar biasa. Menyibakkan selimut, Alessa terkejut bukan main, tubuhnya polos!
“Astaga. Apa yang kau lakukan, Alessa?!” teriaknya.
Alessa mengedarkan matanya ke penjuru ruangan yang tidak beraturan. Dengan cepat Alessa menutupi tubuh polosnya dengan selimut, kemudian berjalan menuju kaca hias. Lehernya penuh bercak kemerah-merahan, hampir keunguan. Bukan hanya leher saja, dada, perut, punggung bahkan bagian bawahnya pun sama!
“Kenapa kau bodoh sekali!” umpat Alessa pada dirinya.
Alessa menyandarkan bokongnya pada ujung meja rias. Terlihat di sana pakaiannya tergeletak menggenaskan, Alessa tahu pakaiannya tidak layak untuk dipakai lagi. Di atas meja yang tak jauh dari ranjang Alessa melihat sebuah paper bag dari merek terkenal. Sedikit bersyukur pria itu membelikan pakaiannya, jadi dia tidak repot memikirkan cara keluar dari tempat ini.
Lebih bersyukur lagi, pria itu pergi sebelum Alessa bangun. Jika tidak, entah di mana Alessa harus menempatkan wajahnya. Malu! Astaga, Alessa ingat permainan ganas kemarin malam!
Setelah membersihkan diri dan berpakaian rapi, Alessa segera keluar. Namun, tangannya menggantung saat ingin membuka pintu, tatapannya terkunci pada sebuah kertas yang tertempel di ganggang pintu. Alessa mengambilnya, penasaran isi kertas itu.
Yours
“Wtf! Apa maksud dari kata ini?!” umpat Alessa kesal.
Siapa pria yang menghabiskan malam bersamanya? Jangan katakan bila dia mengetahui siapa Alessa sebenarnya! Tidak ingin lebih jauh, Alessa segera meninggalkan hotel tersebut dengan kertas di tangannya.
...***...
Setiba kembali di New York, Alessa pergi tanpa berpamitan pada Jeff. Ia memesan taxi menuju suatu tempat. Selama di perjalanan, Alessa kembali memikirkan yang terjadi di Athena kemarin. Tidak dipungkiri, Alessa penasaran siapa pria itu.
“Kita sudah sampai, Miss.” Beritahu sang supir, Alessa memberi tarif dan keluar.
Berdiri di sebuah rumah yang cukup besar, sekilas Alessa ragu untuk mengetuk pintu. Menghela nafas, Alessa mengetuk dan tak lama seseorang membuka pintu.
“Maaf, Anda sedang mencari?” tanya seorang wanita tua.
“Apakah Joe ada, Mam?” tanya Alessa.
“Tuan sedang di luar, Miss. Ada perlu apa, ya?”
“Tidak, aku ingin bertemu dia. Kapan sekiranya dia pulang, Mam?”
“Sebentar lagi tuan akan kembali. Apa Anda ingin menunggu di dalam saja?” tawar wanita tua itu.
“Katakan saja saya mencarinya. Saya pamit, Mam...” ucap Alessa cepat dan pergi. Bukan bermaksud tidak sopan, suasana hatinya sangat tak baik. Sulit baginya bersikap baik dalam keadaan buruk.
Keluar dari perumahan tersebut, Alessa tidak menemukan satu taxi pun. Terpaksa Alessa berjalan beberapa meter hingga sebuah taxi lewat. Yang tidak Alessa sadari, seseorang tengah mengikutinya.
Setiba di apartemen, Alessa berendam di bath up guna merilekskan tubuhnya yang terasa lelah. Tidak terasa dia tertidur di dalam bathup, Alessa bangkit dan membersihkan tubuhnya dari busa-busa.
Setelah selesai, Alessa berdiri di depan kaca. Kiss mark di tubuhnya berubah ungu sekarang, dia merutukki dirinya yang spontan mendatangi rumah Joe. Bagaimana jika dia bertanya? Benar-benar bodoh!
Sejujurnya, sentuhan pria itu masih terekam jelas diingatannya. Alessa memang mabuk, tetapi ia sedikit mengingat rasanya saat tubuhnya bergulat panas bersama pria itu. Satu fakta, Alessa tidak pernah menghabiskan malam bersama pria mana pun di ranjang setelah kepergian Nick. Paling kecil hanya ciuman dan sedikit godaan.
Begitu juga dengan Joe, Alessa tidak pernah mengizinkan Joe menyentuhnya lebih. Sebelum menerima lamaran Joe, Alessa akui dia sering bergonta-ganti pasangan. Sekali lagi, tidak lebih dari ciuman, tidak sampai pada intinya.
Apa yang terjadi kemarin malam membuat Alessa menyesal telah melakukkannya. Sentuhan pria itu mengingatkannya pada Nick, dan merasa bersalah pada Joe. Oh... pikirannya didominasi oleh Nick, bayangan manis bersama pria itu berputar di kepalanya.
“Nick... kenapa kau begitu kuat mempengaruhiku?!” lirih Alessa.
Alessa menghela nafas kuat, lalu meninggalkan toilet untuk mengenakan pakaian. Selesai berpakaian, Alessa memutuskan membuat secangkir coklat hangat. Andai dia di mansion Katryn, pasti dia meminta coklat hangat buatan Katryn.
Berbicara tentang Katryna, Jeff dipastikan melaporkan semuanya. Ah... Alessa merindukan masa di mana ia menghabiskan waktu bersama Katryna. Semakin dewasa seseorang, semakin pula masalah datang ke dalam kehidupan. Itu yang memang terjadi, baik pada Alessa ataupun Katryna.
Dulu ketika kecil, ia dan Katryna hanya tahu main dan bersenang-senang. Namun, tidak untuk sekarang... Katryn memiliki kehidupannya bersama Allard dan ketiga anaknya, demikian dengan dirinya. Alessa sadar, dia tidak seperti dulu yang menceritakan masalahnya pada Katryn. Bukan karena Alessa membenci Katryn, tetapi Alessa tidak ingin Katryn merasa bersalah dengan perginya Nick.
Selesai menyeduh coklat hangat, Alessa berjalan ke ruang tv. Matanya menatap objek di atas meja, sebuah buket bunga besar. Alisnya berkerut, sejak kapan bunga ini di ruangannya? Tubuh Alessa menegak, seseorang memasuki apartemennya!
Alessa meletakkan gelas coklatnya di atas meja. Kakinya melangkah ke kamar mengambil notebook. Kembali ke ruang tv, Alessa membuka notebook dan mengotak-atiknya. Layar menampilkan cctv apartemen-nya, tetapi setelah melihat rekaman ulang, tidak ada tanda-tanda seseorang memasuki apartemen-nya.
Alessa mengangguk, otaknya dengan cepat menyimpulkan semua. Seseorang masuk dengan buket ini, kemudian menghapus rekaman cctv. Pertanyaannya, siapa yang memberikan buket ini.
Mata Alessa beralih pada buket, tangannya menyentuh bunga tersebut. Sebuah note terdapat di sela-sela bunga, Alessa mengambilnya.
You’re mine!
-Yours
Tubuh Alessa menegang, pria yang sama dengan pria malam itu! Kepalanya berdenyut hebat, bagaimana bisa pria itu mengetahui tentangnya. Tidak mungkin seseorang mendapatkan informasi dirinya dalam beberapa jam. Alessa yakin, bunga ini sudah berada di sini saat Alessa masih di Athena, pria itu telah memperkirakan pergerakannya!
“Siapa pria ini sebenarnya? Dia bukan orang biasa,” ucap Alessa memijat dahinya.
Menjatuhkan tubuhnya pada sandaran sofa seraya memperhatikan bunga itu seksama. Alessa harus mencaritahu pria itu! Tapi, bagaimana caranya? Wajahnya saja dia tidak tahu!
“Ah.. ini membuatku gila!”
Suara pintu diketuk membuat Alessa sigap. Siapa yang datang? Apa pria itu? Alessa berlari ke arah pintu, mengintip dari lubang kecil. Oh, Alessa bernafas lega, ternyata Jeff.
“Darimana kau tahu apartemenku?” todong Alessa setelah membuka pintu.
“Kau tahu, karenamu tugasku bertambah!” ketus Jeff memasuki apartemen Alessa tanpa menjawab pertanyaan Alessa yang tidak penting sama sekali menurutnya.
Alessa menutup pintu dengan cara membanting, kesal pada Jeff yang berbuat sesuka hatinya. Walau demikian, dia mengikuti Jeff yang saat ini menyesap coklat panasnya. Memang pria ini tidak tahu sopan santun! Mata pria itu kini menatap Alessa menggoda.
“Apa?”
“Bunga dari siapa? Kau memiliki penggemar, ya?” tanya Jeff jahil setelah membaca note yang terletak dia atas meja.
“Diam! Darimana kau tahu aku di sini?” Alessa menuntut jawaban Jeff.
“Ngomong-ngomong, setelah bercinta panas di Athena dan mendapat bunga ini, kau tidak ingin menceritakan siapa pria itu?” Jeff lebih berminat tentang pria yang bercinta dengan Alessa daripada menjawab pertanyaan itu.
“Tunggu, kau mengingat wajah pria itu?” tanya Alessa, Jeff menggeleng.
“Kenapa kau membiarkan aku digeranyangi pria itu?” protes Alessa kesal.
“Kau dan pria itu pergi tanpa jejak.” Alessa menghela nafas.
“Terserah. Untuk apa kau kemari?” tanya Alessa tidak biasa.
“Apalagi? Tentu mencarimu. Kau memang menyebalkan, pergi tanpa mengatakan apapun! Kau tahu, Father menghubungimu dan ponselmu tidak aktif. Dan aku, diperintahkan untuk mencarimu!” cerocos Jeff sebal.
“Lalu?!”
“Lalu, kau harus ikut pertemuan di markas utama!”
“Kenapa aku?” tanya Alessa tak terima.
“Membahas cabang di Spanyol itu, dan kau sebagai orang yang menyelidiki tempat itu, harus menjelaskan semuanya!” jelas Jeff.
“Apa yang perlu dibahas, dia sudah tahu kemarin!” ucap Alessa.
“Father tidak tahu secara rincinya! Oh ya, Mr Fillbert juga akan datang!” beritahu Jeff.