The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 17. Lost Serenity



Alessa tidak berkutik dipelukan Nick. Dadanya berdebar kencang, aura pria ini mendominasi Alessa. Semakin Alessa menolak, semakin kuat aura yang Nick pancarkan. Sebuah kecupan Nick pada pipinya saja, mampu membuat tubuh Alessa merinding.


“Apa kau masih ingin menolaknya?” bisik Nick.


“Jangan besar kepala, Nick! Aku sudah memiliki kekasih, kau bukan siapa-siapaku! Jangan berlebihan kau!” ucap Alessa tegas, sedangkan Nick hanya tersenyum.


“Kekasihmu tidak pernah ada di hatimu, tapi aku!” bisik Nick.


Ketika Alessa ingin menolak agar tubuh mereka menjauh, sebuah ciuman kuat mendominasi Nick berikan tepat di bibir ranum Alessa, diikuti sentuhan lainnya. Alessa menatap Nick tajam ketika mata mereka bertemu. Kembali Nick memangut bibir Alessa.


“Stop, Nick!” ucap Alessa di sela ciuman kasar Nick.


Nick tak menjawab, tangannya sibuk mendorong Alessa menuju ranjang dan selanjutnya ia melempar Alessa ke atas kasur. Tubuh Alessa tertimpa oleh tubuh Nick, ciuman itu kembali diberikan Nick lebih kasar dari sebelumnya. Alessa hanyut dalam ciuman Nick yang tak pernah mengecewakan untuknya, Nick tahu bagaimana cara melemahkannya.


Inilah Alessa, lemah akan sentuhan pria di atasnya. Alessa dapat menolak sentuhan pria lain, tapi beda halnya dengan Nick. Sedikit pun Alessa tak pernah lupa bagaimana sentuhan Nick yang memabukkan.


“Teruslah menolak, teruslah beranggapan kau bukan milikku.” Nick berbisik tepat di depan wajah Alessa.


“Maka, aku akan semakin keras mengingatkanmu. Jangan melupakan malam panas kita sebelumnya yang tidak pernah sekalipun kau tolak,” sambung Nick.


“Kau milkku!” ucap Nick sekali lagi sebelum Alessa mendapatkan pelepasannya.


...***...


Rasanya sudah lama sekali Alessa tidak diganggu oleh wanita perebut ini, tepatnya empat tahun lalu, saat pernikahannya dengan Nick. Sekarang apakah ketenangannya akan berakhir? Oh... sunguh, Alessa benci harus mendengar suara ataupun melihat wajah wanita gila ini.


“Tempatmu mewah juga, ini yang dulunya kau bilang tidak punya uang!” geram wanita itu.


“Uangku kugunakan untuk orang-orang berhati baik, bukan berhati iblis,” sindir Alessa bersidekap tenang.


“Kau memang tidak tahu diri, siapa yang menyekolahkanmu hingga seperti sekarang? Aku!” serunya.


“Kau?” remeh Alessa terkekeh.


“Perlu kugaris bawahi, uang yang keluar untuk sekolahku dulu adalah hasil peninggalan ibuku.”


“Tidak tahu diri! Mati saja kau!” makinya.


“Apa maumu mendatangiku?” tanya Alessa malas berdebat.


“Bayar semua biaya hidup kami,” ucap wanita itu.


“Akan aku lakukan.”


“Bagus!”


“Sudah, bukan? Kalian bisa keluar dari apartemenku,” ucap Alessa tanpa mau beramah-tamah.


“Kau memang anak kurang ajar, tidak tahu di untung. Karenamu, nyawa kami hampir melayang!”


“Sudahlah, Phei. Ayo kita keluar,” bujuk seorang pria, dia adalah ayah kandung Alessa. Dan ya, wanita itu adalah ibu tiri Alessa.


“Mau tinggal dimana, ha? Kau sudah miskin!” teriak Phei. Sangat tidak tahu etika wanita ini!


“Silakan tinggal di sini! Dengan satu syarat, jangan masuk ke kamarku!” peringat Alessa mengalah.


“Memang harus begitu!” balas Phei nyolot.


Alessa berbalik, berjalan ke arah kamarnya. Mengunci pintu rapat agar tak ada yang bisa mengganggunya. Apa yang dikatakan Phei benar, dulu nyawa mereka hampir melayang karena musuhnya, untung mereka selamat. Ia tidak lepas tangan pada keluarganya, terutama ayah dan kakak laki-lakinya.


Alessa sudah lama sekali memutuskan hubungan pada mereka, tetapi ia masih berhubungan baik dengan Lucas—kakaknya—yang terkadang bertukar kabar lewat surat. Phei, wanita berkebangsaan Thailand itulah penyebab keluarga Alessa yang mulanya memang bermasalah, semakin hancur setelah kedatangannya. Wanita itu pernah mengusir Alessa dari rumahnya sendiri, sedangkan sang ayah dan sang kakak hanya diam tanpa mencegah.


Dada Alessa sesak, matanya berkaca-kaca mengingat masa kecilnya yang tidak bahagia. Mengadahkan kepalanya, Alessa berusaha untuk tidak menangis. Melihat ayahnya pucat dan juga sang kakak yang diam menatapnya lekat, ingin rasanya Alessa berlari memeluk keduanya.


...***...


Membuka pintu kamar, Alessa mencium bau harum tercium pekat di hidungnya, khas sekali wangi rempah-rempah yang bercampur di atas wajan. Langkah kakinya membawa Alessa ke dapur, dan di sana Alessa menemukan ‘keluarga bahagia’ tengah menyantap makanan mereka.


Terdengar jelas dua saudara tiri Alessa bercakap-cakap betapa bahagianya makan bersama keluarga. Alessa tidak terpengaruh, dia membuka lemari pendingin. Ada yang berbeda di sini, kulkasnya lengkap dengan bahan makanan. Dan paling membuat Alessa kesal, bahan makanan beserta minuman yang ia beli lenyap.


Alessa tersenyum sinis, niatnya ingin mengambil minuman dingin seketika menghilang. Ia menutup pintu kulkas dengan kasar, sengaja. Semua mata beralih, tetapi Alessa tetap memasang wajah tenang.


“Phei, jangan berperilaku seenaknya di apartemenku. Ingat, kau tinggal di sini karena belas kasihanku!” peringat Alessa.


“Apa katamu? Seenaknya? Hei, kau yang seenaknya menempatkan kami dalam bahaya!”


“Sungguh, aku tidak peduli dengan nyawamu!” ucap Alessa santai.


“Ayo, ikut aku! Kita periksa di kamarku,” ucap Alessa mempersilakan Jeff masuk. Jeff menatap Alessa aneh, tak biasanya Alessa bersikap seperti itu.


Sesampainya mereka di kamar, Alessa segera mengunci pintu. Jeff protes, tetapi Alessa menyuruh Jeff diam.


“Berkas macam apa ini?” gerutu Alessa tidak suka, pasalnya bukan tulisan huruf pada umumnya.


“Father menyuruhmu memeriksa dokumen itu, saat ini juga. Kau punya waktu 30 menit dari sekarang!” ucap Jeff, Alessa menghela nafas. Kemudian menekuni dokumen tersebut dan Jeff membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


“Kau bercinta dengan Nick di sini, ya?” tanya Jeff tanpa basa-basi.


“Diam, Jeff!” Jeff tertawa mengejek.


“Ranjangmu tercium parfum Nick.” Alessa jengah, hanya mendiamkan saja.


Alessa fokus memecahkan kode-kode di berkas tersebut, cukup sulit dikarenakan tertulis dengan angka-angka aneh. Sepuluh halaman, dan Alessa harus menerjemahkan setiap kode di dalamnya. Konsentrasi Alessa pecah mendengar ketukkan pintu.


“Siapa?” tanya Jeff penasaran.


Tanpa menjawab, Alessa bangkit untuk membukaan pintu. Ternyata Lucas berdiri di sana menatap Alessa marah.


“Apa?”


“Papa menyuruhmu untuk makan.”


“Tidak. Kalian saja yang menikmatinya, aku tidak mau menggangu waktu makan siang keluarga!” sindir Alessa.


“Alesaa.”


“Hm...” Alessa tak mau menatap mata sang kakak.


“Kenapa kau membawa pria ke kamarmu?” tanya Lucas ingin tahu.


“Aku bebas melakukan apapun yang aku inginkan!” jawab Alessa sekenanya


Lucas murka mendengarnya, ia membuka pintu kamar Alessa lebih lebar dan masuk tanpa seiizin Alessa. Menghela nafas kasar, Alessa menutup pintu kembali, tak lupa menguncinya. Jeff tampak bingung, matanya meminta penjelasan yang diabaikan oleh Alessa.


“Jeff, ada yang tak aku pahami dari halaman ini.” ucap Alessa membuka suara.


“Alessa!” ucap Jeff memperingati.


Mengerti dengan lirikkan mata Jeff, Alessa menatap ke arah Lucas yang seolah tak peduli di tempatnya.


“Dia tidak tahu apapun, tenang saja!” ucap Alessa.


“Apa kau bisa keluar, Dude!” ucap Jeff yang mendapat lirikan tajam dari Lucas.


“Lucas, keluarlah!” pinta Alessa dan Lucas menuruti permintaan Alessa. Sebelum keluar, Lucas menatap Jeff tidak suka, terkesan sinis.


“Siapa pria itu?” tanya Jeff.


“Lucas.”


“Kau menyebutnya namanya tadi. Maksudku, apa hubunganmu dengannya?” tanya Jeff lagi.


“Aku pernah menceritakannya padamu,” jawab Alessa, masih fokus dengan dokumennya. Jeff tak lagi bersuara, dia menyelami ingatannya.


Lima belas menit kemudian, Alessa selesai memeriksanya. Lalu, ia menjelaskan pada Jeff apa maksud dari dokumen itu.


“Di halaman tujuh, aku sudah menandai. Kode itu sulit dimengerti, perkiraanku itu nama organisasi dalam kode asing, sepertinya bermakna negara.”


Jeff membuka halaman yang Alessa sebutkan, di sana sudah penuh dengan tulisan Alessa dan sebuah garis yang ditandainya.


“3481`3,‡.” Jeff menyebutkan angka beserta simbol tersebut.


“Biasanya simbol-simbol aneh digunakan oleh pihak tertentu untuk menandakan sesuatu.” Jeff mengangguk mengerti.


“Dokumen apa itu? Sepertinya penting untuk Allard.”


“Surat perjanjian!” jawab Jeff.


“Surat perjanjian dengan kode rumit seperti itu?!”


“Maka dari itu, father memintaku mengantar dokumen ini langsung padamu!” Alessa mengangguk.