
Terbangun dengan kepala yang seakan terhantam batu sungguh menyakitkan, Alessa sampai harus memejamkan matanya sejenak guna menetralisir sakit tersebut. Ketika pandangan mata Alessa jelas sepenuhnya, barulah dia dapat mengetahui di mana saat ini ia berada, rumah sakit. Tanpa sadar tangan Alessa menyentuh perutnya yang sedikit terasa nyeri.
Detik itu pula Alessa menyadari bahwa Nick berdiri di sisi ranjang seraya menatapnya lekat. Alessa membalas tatapan itu, tatapan yang menujukkan kemarahan di dalamnya. Akhirnya, Alessa yang memutuskan tatapan lebih dulu, ia tidak tahan ditatap sedemikian intens, membuatnya tidak berkutik.
“Minum!” titah Nick menyodorkan segelas air putih dengan sebuah sedotan.
Alessa menurut, perlahan ia menyesap sedotan tersebut, aliran air memasuki rongga tenggorakannya, begitu lega sekali. Tidak ada yang membuka pembicaraan, Alessa pun mulai tidak nyaman, terlebih punggungnya sakit akibat tembakan kemarin. Ngomong-ngomong, bagaimana bisa ia sampai di rumah sakit ini? Alessa berpikir kemarin adalah akhir dari perjalanan hidupnya.
“Bagaimana aku bisa di sini?” tanya Alessa.
Ia memutuskan bertanya, sangat tidak tahan dengan cara Nick yang kelihatannya sengaja memberi silent threatment.
“Bagaimana bayiku?” tanya Alessa lagi, Nick mengabaikan pertanyaan sebelumnya.
“Kau peduli pada bayiku?” Nick bertanya balik, menekan kata bayiku.
“Jangan konyol!”
“Berapa kali kau akan membunuh anakku? Sekali? Dua kali?” Alessa menegang, ia sadar betul kalimat itu adalah sebuah sindirian untuknya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan,” kilahnya.
“Pandai sekali berkilah,” komentar Nick.
“Katakan saja bagaimana kondisi kehamilanku! Kau terlalu berlebihan!” sangkal Alessa yang mulai panik. Jangan, jangan bahas itu, batin Alessa.
“Berlebihan?” ulang Nick tertawa sinis, sekilas ada sebuah kekecewaan dari nada itu.
“Aku atau kau yang belebihan?” Nick gencar mematahkan perkataan Alessa.
“Kau! Kau berlebihan atas diriku dan bayiku!” tandas Alessa.
“Oh, ya? Bayi yang kau katakan adalah anakku, Alessa. Cukup dulu kau menyembunyikan kehamilanmu, seolah aku bukan seorang ayah yang bertanggung jawab. Aku berhak tahu tentang kehamilanmu, dan aku juga berhak menjaga anakku dengan caraku! Berlebihan atau tidak, itu caraku melindungi apa yang menjadi milikku!” ucap Nick panjang lebar masih dengan nada datar dan santai. Alessa telak, dia tidak bisa membalas perkataan Nick.
“Dimana kata-kata pertahananmu tadi? Menghilang, hm?” sindir Nick halus.
Sekuat tenaga Alessa menahan laju air mata yang ingin mendesak keluar. Ingatan di mana ia hamil dan keguguran menyeruak masuk ke dalam pikirannya. Alessa melirik sekilas pada Nick, tatapannya masih sama, datar dan tajam. Nick sadar mata indah sang istri berkaca-kaca, tetapi dia hanya diam tidak berniat melakukan apapun. Sedikit ini adalah bentuk kekecewaannya pada Alessa.
Sikap Nick yang demikian membuat tangis Alessa pecah. Ia menutup wajahnya dan menangis sejadi-jadinya. Tak tega, Nick meraih tangan Alessa dan menggengamnya erat. Ia masih diam menunggu Alessa meredakan tangisnya.
Bermenit terlewat, Alessa mulai tenang. Nick kembali menyodorkan segelas air putih dengan sedotan tadi ke bibir Alessa. Setelahnya, ia mengatur bantal Alessa agar wanitanya lebih nyaman bersandar dengan posisi duduk. Alessa tidak membantah sama sekali ketika Nick menyuapkan sesendok demi sesendok bubur. Perut Alessa rupanya lapar, terbukti bubur satu mangkuk itu habis. Nick tidak lupa meletakkan buah-buah yang telah dipotong di dekat Alessa.
“Kandunganmu sedikit bermasalah,” ucap Nick pada akhirnya. Detik itu Alessa menghentikan kunyahannya.
“Semua akan baik. Kau hanya perlu full bedrest dan tidak banyak bergerak,” sambungnya.
“Tumben, kau sangat banyak berbicara hari ini,” komentar Alessa bernada gurau.
“Ya. Karena istriku sangat keras kepala! Dia sangat senang mencari perhatianku,” balas Nick. Alessa tersipu malu, apa yang Nick katakan bukanlah buaian, memang nyatanya demikian, Alessa senang mencari perhatian Nick, walau dengan cara ekstrem sekalipun.
...***...
Apa yang paling membosankan di muka bumi ini? Alessa akan dengan lantang mengatakan, berbaring di tempat tidur tanpa melakukan apapun selama berhari-hari! Terbiasa menjalankan aktivitas membuat Alessa merasa mati kebosanan di kamar ini. Yang bisa dia lakukan hanya bermain ponsel atau notebook, selebihnya hanya berbaring dan jatuh tertidur.
Seperti sekarang, Alessa tengah berbaring dengan mata terpejam. Tangannya mengelus perut secara acak. Namun, tubuh Alessa tersentak, membuat ia terbangun dengan nafas terengah. Mimpi itu ... mimpi yang ia rindukan. Seorang putri kecil berlari mengelilinginya dengan tawa merdunya.
Tangis Alessa pecah, ia tidak kuat mengingat kembali mimpi tersebut, mimpi yang memaksanya kembali pada masa di mana ia kehilangan bayinya. Berat sekali bagi Alessa untuk mengingat ia pernah keguguran karena kebejatan pria itu, Fernand. Sebuah kesengajaan yang diakibatkan karena pilihan Alessa.
Bukan Alessa menyesal, ini lebih kepada tidak mengerti mengapa ada seorang yang begitu ambius melenyapkan seseorang. Alessa tidak ingin bekerja sama dengan Fernand untuk membunuh Katryna―sahabatnya―yang notabenenya adalah orang yang Alessa sayangi. Walau Alessa sempat berkhianat, tetapi pada ujungnya dia tidak sanggup melakukan pengkhinatan tersebut. Maka, berakhir dengan jebakan Fernand.
Secara garis besarnya, Fernand menjebak Alessa pergi ke sebuh penampungan. Kemudian, entah bagaimana ceritanya Alessa terpental hingga pendarahan. Kali pertamanya Alessa merasa senang Katryna suka menempatkan orang Allard untuk menjaganya. Ya, orang Allard tersebutlah yang menyelamatkan Alessa. Saat itu tepat sekali ia dan Nick bertengkar karena perbedaan pendapat, Nick mulai termakan omongan Fernand.
“Alessa, hei... ada apa?” Nick tiba-tiba sudah berada di samping ranjang Alessa.
“Nickholas, maafkan aku ... aku tidak bisa menjaga bayi itu. Maaf aku tidak pernah memberitahumu,” ucap Alessa disela tangisannya.
“Aku ingin memberitahumu, tapi waktu tidak pernah mendukung. Kita terus bertengkar, kau mulai menujukkan keberpihakan pada keluarga sialan itu!”
Nick mengepalkan tangannya marah, Fernand sialan! Batinnya.
“Sudah, jangan menangis.”
Alessa mencoba menghentikan isakannya. Nick menangkup wajah Alessa, lalu memberi kecupan kecil di wajah Alessa.
“Alessa, apa kau bersedia menceritakan semuanya?” tanya Nick pelan, tidak memaksa sama sekali.
Alessa menghela nafas sesaat, matanya terkunci menatap netra abu-abu milik Nick. Perlahan, cerita yang selama ini ia pendam mengalir menjadi sebuah kisah masa lalu yang sebenarnya tidak ingin Alessa ceritakan pada siapapun. Cerita ini hanya Katryna yang tahu, itu pun karena paksaan wanita itu dan Alessa membutuhkan tempat keluh-kesah.
“Darimana Fernand tahu kau hamil?” tanya Nick.
“Dia menemukan hasil test pack-ku, lebih tepatnya Hanna yang menemukannya,” jawab Alessa seraya menatap dinding putih di depan sana, seolah mengenang masa itu.
“Apa dia selalu menggunakan kehamilanmu sebagai ancaman?” Alessa mengangguk mengiyakan.
“Alessa, mengapa aku orang terakhir yang mengetahui ini?” Nick berucap serak, ada kekecewaan di dalamnya.
“Pertama, aku ragu dengan pemikiranmu, kau awalnya mengatakan tidak berpihak pada siapapun. Kenyataannya apa? Kau mulai termakan dengan omongan Fernand itu, dan parahnya ikut ingin melenyapkan sahabatku. Kedua, kau sulit untuk percaya padaku. Ketiga, hubungan kita tidak tentu arahnya, persis seperti sekarang ini!” Nick memicing tidak suka, ujung-ujungnya membahas sekarang.
“Pertama dan kedua, oke aku tidak punya pembelaan apapun. Ketiga, masa dulu dan sekarang tidak ada bedanya, kau dan aku masih sama-sama menjadi pasangan suami-istri. Jelas arahnya, kau istrikku dan aku suami-mu!” tegas Nick.