The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 13. Event Fashion Show



Tiga orang memasuki ruangan meeting. Alessa awalnya diam tiba-tiba melotot seperkian detik melihat salah satu dari ketiga orang tersebut. Pria itu tersenyum kecil padanya, Alessa menangkap bahwa dia sedikit menundukkan kepalanya seakan menghormati Alessa.


“Selamat datang, Mr. Gef!” sapa Mr. Savas pertama kali.


Seorang wanita dari mereka membagikan sebuah berkas kecil dijilid rapi ke hadapan para model, termasuk Alessa. Kemudian, Mr. Gef memaparkan persentasinya. Raut wajah Alessa berubah keruh, ia tidak mendapati nama perusahaan di berkas ini.


“Shee, apa nama perusahaan ini?” Alessa memutuskan bertanya.


“Luxurious Fashion,” bisik Shee.


“Pemiliknya Mr. Gef?”


“Bukan, tapi Mr. Bateline.”


Bateline?! Wtf, ada apa dengan dunia ini? Itu artinya aku bekerja untuk perusahan Nick? Batin Alessa kesal.


Pertemuan selesai, Alessa meminta tolong pada Shee mempertemukan dia dengan Savas agar Alessa membicarakan langsung pada pria itu atas keberatannya akan tawaran tersebut. Alessa hampir saja menemui Savas, tetapi terlambat karena pria itu harus menjamu klien mereka.


“Tidak bisa, Alessa. Model dipilih langsung oleh mereka. Savas sempat mem-backlist namaku, kau tahu apa? Itu hampir membatalkan kerja sama antara agensi dan perusahaan.”


“Kenapa begitu?”


“Karena sepuluh model yang terpilih adalah orang-orang berpotensi dan terbaik bagi mereka untuk memamerkan produk! Itu jawaban yang kuketahui dari Savas,” jawab Shee sedikit bangga.


“Hai, Vanessa B**ch!” Seseorang menyapa Alessa sinis, siapa lagi bukan Betany, si pembuat onar.


“Aku tidak percaya anak baru sepertimu sangat cepat terpilih mengikuti event besar ini,” komentar Betany, Alessa memasang wajah datar.


“Oh, atau kau menggunakan tubuhmu? Masuk akal!” sambungnya sarkas.


“Sedang membicarakan dirimu sendiri, Betany?” sengit Alessa.


“Aku atau kau yang menggunakan tubuh? Coba tarik mundur, kau di bawah agensi New York Internasional Management ini karena siapa dan karena apa?” Betany pucat, dia menatap Alessa tajam menutupi kegugupannya.


“Asisten Mr. Savas, kan?” tembak Alessa tepat sasaran.


“Bastian?” Shee yang mendengarkan bertanya memastikan.


“Jangan mengangguku lagi, atau aku tidak akan segan-segan menyebarkan keburukanmu!” peringat Alessa.


“Menyebarkan hasil karanganmu?” Wanita ini cukup pintar membalas ucapan Alessa.


“Bukan karangan tetapi kebenaran. Di sini dapat dilihat, kenapa aku bisa terpilih, sedangkan kau tidak. Biar kuperjelas, aku berdiri dengan kakiku sendiri dan kau berdiri di atas kaki orang lain.” Betany memasang ekspresi menantang, Alessa semakin ingin menjatuhkan Betany agar wanita ini berbicara sesuai keadaan seharusnya.


“Kau tidak tahu apa pun tentang, Vanessa!” Oh, jangan mengira Alessa buta tentang orang-orang di agensi ini.


“Kau menyerahkan tubuhmu pada Bastian guna mendapatkan kemauanmu menjadi model di sini. Berapa kali kau menggoda Mr. Savas, hm? Berapa kali kau menyerahkan tubuh pada mereka yang bekerja di belakang layar? Berapa kali kau menggoda pria hidung belang demi pundi uang-uang dan menghancurkan rumah tangga orang lain?” ucap Alessa telak dengan lantang.


Bisikan-bisikan terdengar, Alessa sadar betul sebagian para model menyaksikan keributan yang berlangsung. Betany malu, dia menatap Alessa penuh amarah. Kilat matanya mengatakan dia akan membalas Alessa.


“Silakan kau membalasku. Aku sangat menunggu, tapi jangan harap setelah kau membalasnya hidupmu akan tenang!”


“Bagus, Vanessa. Baru detik ini aku melihat dia tidak berkutik!” puji Shee setelah Betany angkat kaki dari hadapan mereka.


“Lain kali, jangan mudah membiarkan wanita lain menghancurkan rumah tanggamu!” pesan Alessa berbisik dan melanjutkan langkahnya santai.


...***...


Pov of Alessa~


Event fashion show digelar hari ini, moodku hancur sebenarnya memikirkan si pemilik perusahan. Dia hadir, itu yang sekilas aku dengar. Mau bagaimana lagi, aku harus profesional, bukan? Saat ini aku tengah mencari keberadaan Shee dan Dyandra yang entah kemana keberadaannya.


Dadaku sesak, hubungan kami mengambang tak tentu arah. Apa dia mengganggapku dan merasakan hal yang sama denganku? Hatiku mengatakan tidak, buktinya dia baik-baik saja. Menemuiku saja tidak, apalagi menjelaskan hubungan kami. Well, Alessa... dia tidak lagi peduli!


Suara pengeras suara di luar sana menarik kesadaranku. Astaga, tanpa sadar aku meneteskan air mata. Mengusapnya cepat, aku segera keluar.


“Vanessa, mengapa riasanmu pudar? Ya Tuhan, kau merusak karyaku!” teriak Ree heboh mengundang tawa orang sekitar.


Dia berlari entah ke mana, aku tidak peduli. Shee dan Dyandra menghampiriku, menanyakan mata sembabku. Ree kembali beserta kotak make-up di tangannya.


“Pegang,” perintahnya langsung menyodorkan kotak tersebut ke Dyandra. Sambil berceloteh memarahiku, tangannya sangat lihai dan cepat menari di wajahku.


“Ree si pemarah jika hasil karyanya hancur!” komentar Dyandra pasrah memegang kotak make-up.


Saatnya kami tampil, seseorang mengarahkan kami berbaris. Aku berada di tengah, di depanku Dyandra memakai gaun simple terbuka. Aku kedapatan mengenakan gaun mewah tertutup, demikian Shee.


Giliranku.


Baiklah, aku membebaskan diri. Menempatkan tangan kiri di pinggang, kemudian aku berjalan percaya diri. Semakin mendekati penonton, semakin jelas tamu undangan terlihat. Katryna, Allard dan .... Nick di bangku paling depan, jelas mereka tamu vvip. Melangkah sedikit ke kiri dan ke kanan secara bergantian, lalu berpose ke kamera.


Terakhir, aku berhenti di tengah berpose anggun. Di sanalah mataku melihat Nick menatapku tajam. Seorang wanita duduk di sampingnya, mereka saling menggenggam mesra. Senyum sinis kutunjukkan padanya, wanita yang ia bawa tidak lebih dari seorang wanita malam. Bukan tanpa alasan aku mengatakannya, lihat saja pada pakaiannya!


Round kedua selesai, aku beserta para model kini mengganti baju untuk menghadiri acara makan malam bersama. Aku rasa, aku menyerahkan diriku pada kematian!


“Butuh bantuan?” tawar Shee yang kelihatan sudah mengganti pakaian.


“Tolong,” ucap Alessa berbalik agar memudahkan Shee membuka resleting.


“Mintalah Thysen mencarimu asisten,” saran Shee.


“Belum butuh.”


“Dona bisa membantumu. Dia seperti tertarik padamu,” ucap Shee terkekeh.


“Tidak, terima kasih. Matanya menatapku bak emas mahal, menggelikan!” balasku.


Membayangkan Dona saja sudah membangkitkan kekesalanku, tatapannya itu mengerikan. Lebih baik aku mengenal pria penyuka sesama jenis daripada perempuan seperti Dona.


“Setidaknya kau memiliki fans!” Shee tidak hentinya mengeluarkan tawa.


“Diam, Shee. Kau duluan saja, aku menyusul nanti!” usirku.


“Oke, jangan kabur!” peringat Shee.


“Iya.”


Secepat kilat aku mengenakan gaun bewarna putih tanpa lengan. Setelah mematut diri di kaca, aku menemui Joe yang menunggu di pintu keluar.


“Maaf lama.” Joe tersenyum.


“Tidak apa. Pulang sekarang?”


“Masih ada acara makan malam. Ikutlah denganku,” tawar Alessa.


“Tidak bisa, Alessa. Pekerjaan sedang menumpuk, ini saja aku menyempatkan melihatmu,” ucap Joe menghela nafas, ia ingin sekali ikut.


“Ya sudah, tidak apa. Terima kasih sudah hadir,” ucap Alessa dan mencium pipi Joe.


“Kalau begitu aku pulang. Berhati-hatilah pulang nanti,” pesan Joe memeluk Alessa.