The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 42. Party and Meet Christa



Pesta dan pesta, tidak bisakah di dunia itu dihilangkan saja kesenangan dalam berpesta? Alessa muak sekali! Semenjak memasuki kehidupan Allard, entah kenapa seorang Katryna gemar berpesta, dan Alessa menjadi bahan pemaksa untuk ikut ke pesta tersebut.


“Allard turut hadir di sini, kenapa aku harus ikut juga?” dengus Alessa kesal.


“Supaya kau memiliki kegiatan,” jawab Katryn santai.


“Aku punya kegiatan lain yang lebih penting dibanding menghadiri acara pamer-memamer ini,” balas Alessa malas-malasan, Katryna terkekeh.


“Kau mengenal wanita di sebelah barat sana?” tanya Katryna memperhatikan sebuah objek, Alessa mengikuti arah pandang Katryna, dan menggeleng.


“Sepupu dari Ly, dan kau tahu? Ruldolf sedang mengincar wanita itu,” beritahu Katryna.


Ruldlof adalah sepupu Allard, sedangkan Lyla adalah istri dari sepupu Allard yang lainnya, Keynand.


“Wow, menarik. Selama aku mengenal Ruldlof, dia tidak pernah terlihat mengencani wanita,” komentar Alessa, Katryna mengangguk setuju.


Saat berbincang-bincang, keduanya masih memandang ke arah wanita tersebut. Kebetulan sekali sepasang suami-istri tengah berjalan menghampiri seorang pria tua yang tak jauh dari wanita itu.


“Oh, mereka datang juga rupanya,” sarkas Alessa.


“Ngomong-ngomong soal Christa, dia mengirim proposal kerja sama padaku,” beritahu Katryna setia memperhatikan sepasang suami-istri yang Alessa maksud, yang tak lain adalah Nickholas dan Christa.


“Wow, kau ingin memulai hubungan kerja sama dengan wanita itu, huh?” sinis Alessa. Katryna terkekeh pelan, terhibur dengan kemarahan Alessa.


“Aku tidak menyetujuinya,” aku Katryna.


“Sebab?”


“Insting, maybe...” balas Katryna.


“Allard mengajarkanku, yang paling utama dalam berbisnis adalah insting. Aku tidak tahu mengapa menolak tawaran Christa, insting-ku mengatakannya jangan menerima tawaran tersebut,” sambung Katryna terus terang.


“Kau meragukan wanita itu?” Katryna menatap Alessa, dan mengaangguk.


“Menurutku, ada sesuatu timbal balik yang dia mau,” ucap Katryna.


“Dimana-mana, berbisnis pada dasarnya harus ada timbal balik, My Katryna...” jengah Alessa.


“Ya, itu benar. Timbal balik dalam ‘keuangan’ it’s not problem for me,” timpal Katryna.


“Well... kau banyak belajar dari ahlinya,” komentar Alessa apa adanya.


“Ini bisnis yang kau ceritakan sebelumnya padaku, bukan?” tanya Alessa, Katryna mengangguk mengiyakan.


“So, darimana dia tahu kau sedang merencanakan bisnis makanan itu?”


“Entahlah, dia tiba-tiba menyampaikan tawaran itu lewat Jeff,” jawab Katryna.


“Aku berniat mengajakmu menjalankan bisnis ini, bagaimana menurutmu?” tanya Katryna, Alessa berpikir sejenak.


“Berbisnis, bukanlah passion-ku, skill saja tidak punya. Pekerjaanku tidak mengenal waktu, aku tidak bisa mendedikasikan suatu pekerjaan di atas pekerjaanku ini. Keputusan mengambil job model aku ambil di saat memang memiliki waktu luang dan aku menyukai pekerjaan itu,” ucap Alessa tidak segan menolak tawaran tersebut.


Ya, Alessa tipe wanita yang mengerjakan sesuatu karena dia betul-betul suka melakukannya. Dia akan berterus-terang menolak apabila tidak sesuai kemauannya.


“Kau pasti menolaknya,” balas Katryna menggeleng kepala.


“Sudah tahu pastinya, masih saja kau tanyakan,” komentar Alessa, Katryn terkekeh.


“Tidak ada salahnya mencoba, Alessaku Sayang...” Alessa menggeleng pelan, heran dengan kelakuan sahabatnya ini.


“Coba pertimbangkan kerja sama dengan wanita itu, kuakui dia concern di bidang usaha makanan,” saran Alessa.


“Akan banyak keuntungan yang kau dapat apabila menerima tawarannya,” tambah Alessa.


“Kau banyak tahu tentang wanita itu, hm?” Katryn menggoda sang sahabat.


“Nick yang bercerita. Perusahaan keluarga Bateline, wanita itu yang menjalankannya. Dia lulusan magister bisnis di Oxford.” Katryn mengangguk paham.


“Jadi, bagaimana hubunganmu dan Nick? Berpisah atau lanjut?” Alessa menghela nafas.


“Aku bimbang, di satu sisi aku mengerti apa yang dia hadapi, di satu sisi lagi aku tidak mengerti dia menikahi wanita itu. Ya, dia menjelaskan alasannya, tapi aku sulit menerima pernikahan mereka,” aku Alessa.


“Apakah aku harus melanjutkan hubungan ini bersama Nick?” Katryna tersenyum mengelus pundak Alessa, dia mengerti perasaan Alessa saat ini.


“Pernikahan mereka didasari kesepakatan, bukan cinta. Cobalah lihat, apakah Nick pernah memperlakukan wanita itu sama seperti dia memperlakukanmu?” Katryna tersenyum, tanpa diminta, Alessa menatap kedua insan manusia tersebut.


“Nickholas suka menggodamu di setiap kesempatan. Sedangkan wanita itu, apakah kau melihat suamimu itu menggoda Christa? Lihat lebih teliti, bahasa tubuh Nick sangat kaku. Saat bersamamu, dia tidak pernah sekaku itu...” jelas Katryna membuka pemikiran Alessa.


“Aku tidak mau terhempas ke jurang terdalam, Katryna...” lirih Alessa.


“Mari kita buktikan,” tantang Katryn.


Alessa kebingungan ketika Katryna memberi kode pada salah satu pria berbaju serba hitam, tidak bukan adalah bawahan Allard. Alessa mengikuti arah pandang Katryna ke sepasang suami-istri itu. Tak lama, seorang pelayan berjalan mendekati Christa, seolah menawari minuman.


Dari arah belakang, pria tadi dengan sengaja menyenggol minuman yang tepat sekali mengenai dress bagian depan Christa. Wanita itu kaget, dia menunduk membersihkan bajunya, si pelayan refleks ikut membersihkan. Nick menghela nafas, dia hanya memerintahkan Christa ke toilet untuk berganti pakaian.


“Aku tidak mengira kau akan sejahat itu,” komentar Alessa tak habis pikir seraya menggelangkan kepalanya takjub.


“Otakmu sudah tercuci oleh pikiran Allard,” tambahnya lagi, Katryna hanya tersenyum polos.


“Sudah mengerti, sekarang? Kau ingat ‘kan, bagaimana Nick kesetanannya ketika seseorang tanpa sengaja menumpahkan minuman ke bajumu?” Alessa tertawa pelan.


Dia ingat betul kejadian tersebut, di mana Nick begitu kesetanannya memukuli pelayan malang itu, dan terakhir memblokir jalan si pelayan dalam mencari pekerjaan.


“Kau insecure dengan wanita itu, Alessa. Tolong, hilangkan perasaan itu... hal itu tidak mencerminkan seorang Alessa, itu bukan dirimu sekali,” pinta Katryna seraya menggerutu kesal


“Terima kasih, Katryn. Aku menyayangimu...” lirih Alessa memeluk Katryn.


...***...


Pertengahan pesta, Allard membawa sang istri bertemu dengan kliennya. Alessa kebosanan menunggu, tidak ada yang menarik perhatiannya. Malah ia kesal melihat betapa romantisnya Nick dan Christa di lantai dansa. Beberapa pria ada yang mencoba mendekati, tetapi urung melihat reaksi Alessa yang tidak sesuai harapan mereka.


Jangan berpikir karena Nick, bukan! Alessa malas berurusan dengan siapapun. Lebih baik dia menikmati kesendiriannya bersama segelas wine di tangannya. Namun, ketika ingin kembali menyesap minuman tersebut, seseorang merebutnya paksa yang memancing decakan kesal dari bibir Alessa.


“Kau mengangguku!” semburnya kesal.


“Tidak baik untuk kandunganmu, Alessa...” peringat Nick tertahan.


“Hanya sedikit,” elaknya.


“Jangan kira aku tidak melihatmu!” balas Nick. Alessa menghela nafas, malas meladeni pria dihadapannya.


“Pergi. Jangan tinggalkan istrimu, nanti dia marah. Aku tidak suka membuat drama,” usir Alessa terang-terangan.


“Ayo, pergi. Aku bosan di pesta ini,” ajak Nick paham Alessa amat tidak suka berpesta.


“Kemana?” tanya Alessa mengerutkan dahinya.


“Rumah.”


“Rumahmu bersama wanita itu? tidak!” serunya malas.


“Nickholas, Tuan Sean ingin menemuimu,” ucap seseorang sebelum Nick menjawab.


Alessa memicingkan matanya, Christa dari dekat seperti ini benar-benar gambaran wanita cantik tanpa cela. Rambut panjang bergelombang, bingkai wajah tegas, semua yang ada di wajahnya tercipta sangat pas oleh sang pencipta. Seketika Alessa minder, ucapan Katryna terngiang di kepalanya.


“Hi, Christa, right?” Alessa maju mengulur tangannya.


“Aku Alessa. Senang bertemu denganmu,” tambah Alessa percaya diri, lebih tepatnya bermuka dua.


“Hi, Alessa. Senang bertemu denganmu juga,” balas Christa tersenyum.


“Ini pertemuan perdana kita secara langsung. Tapi, maaf... aku tidak bisa berlama-lama, aku harus kembali,” ucap Alessa memasang raut menyesal dan siap pamit undur diri.


“Oh, tidak apa...” balas Christa tersenyum lagi.


“Kalau begitu aku permisi. Sampai bertemu nanti,” pamit Alessa tanpa berniat pamit pada Nick atau pun lebih lama berbincang dengan pasangan itu.


Tujuan Alessa adalah toilet. Dia ingin membuang hajat sebelum kembali lebih dulu. Dalam keadaan padat manusia, Alessa susah mencari keberadaan Katryna, maka ia berencana menitip pesan pada Jeff. Setelah menunaikan hajat, Alessa melangkah ke parkiran. Kening Alessa berkerut, di sana Nick menduduki kap mobilnya.


“Apa lagi, Nick?” tanya Alessa lelah.


Nick tersenyum hangat, ia mengambil langkah dan memeluk Alessa. Sebanyak mungkin dia menghirup aroma tubuh Alessa yang sangat dirindukannya. Alessa menghela nafas dan berkata,


“Aku ingin pulang, lepaskan.”


Detik itu Nick melepaskan pelukannya, jarinya bergerak mengelus garis bingkai wajah sang wanita. Alessa menikmati sentuhan tersebut, matanya terpejam. Baiklah... Alessa rasa, ucapan Katryn berhasil disetujui oleh hatinya.


“Ayo... kau butuh istirahat,” ucap Nick seraya menuntun Alessa menuju letak mobilnya.


Tanpa membantah, Alessa menerima genggaman Nick. Kepalanya yang sedari tadi berdenyut, kini semakin berdenyut. Efek kehamilan ini membuat Alessa mudah merasa mual mencium sesuatu. Atau karena meminum alkohol? Alessa menggeleng, dia hanya meminum satu setengah gelas!