The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 58. Fact and Family Gathering



“Dokter menyampaikan apa?” tanya Katryna.


“Istirahat yang cukup, itu saja!” jawab Alessa, Katryna mengangguk paham.


“Pastinya, kau diminta banyak istirahat, betul?” tambah Katryna.


“Ya, dan jangan berpikir berlebihan,” sambung Alessa, Katryna mengerutkan dahinya.


“Apa yang kau pikirkan, Sa? Kau tidak mungkin mengalami flek jika tidak ada sebabnya,” introgasi Katryna.


Ya, Katryna benar... Alessa mengalami flek ketika bangun di pagi hari. Sebelum itu, Alessa merasa tak enak pada perutnya. Khawatir, Alessa mengecek dan betapa terkejutnya menemukan bercak coklat berupa gumpalan. Alessa kalut, kenangan di mana keguguran dulu seketika merayap. Syukurnya, Alessa dan bayinya baik-baik saja. Nickholas segera tanggap membawa Alessa ke rumah sakit.


“Entahlah, Ryn... Masalah Zyan mengambil alih seluruh pikiranku,” aku Alessa.


“Kupikir-pikir, semua masalah berhubungan dengan Zyan,” tambahnya.


“Nick tengah mengurus itu, jangan mengkhawatirkannya. Fokus pada bayimu saat ini,” pinta Katryna, Alessa menghela nafas.


“Zyan menampakan diri setelah perkara sidang kemarin, lalu Nick meminta izin pada Allard untuk memberitahu Wall Dead bahwa kita adalah bagian Hellbert. Keesokan harinya Nick berniat mengakhiri masalah dengan Zyan, tapi dia menghilang dan meninggalkan secarcik kertas,” ungkap Alessa.


‘Siapa yang akan menemui lebih dulu? Kau atau aku?


Bertemu lain waktu, Brother.’


-Yours Zyan-


Begitulah tulisan yang Zyan tinggalkan.


“Pergerakan Nick terbaca. Apa anggota Wall Dead memberitahunya?” terka Katryna.


“Kurasa begitu. Xandra tidak akan berani, dia tunduk pada Hellbert, kecuali anak buahnya yang tidak sejalan dengan Xandra sendiri,” balas Alessa.


“Kudengar, Allard dan Nick mencaritahu keberadaannya. Zyan kuakui pintar, memanipulasi posisinya,” ucap Katryn.


“Itu yang membuatku khawatir. Rencana besar apa yang sedang dia rancang?” tanya besar Alessa.


“Tidakkah kau sadar selama ini dia memanfaatkan sekitarmu dan Nick? Phei, Christa, Lucas, dan Joe,” sela Katryna tanpa sadar.


“Joe? Kenapa dengan pria itu?” tanya Alessa, lama sekali dia melupakan pria itu.


“Oh? Kau tidak tahu?” tanya Katryn balik, rautnya seolah enggan bercampur polos menyembunyikan sesuatu.


“Katakan, apa yang terjadi dengan Joe?” tuntut Alessa.


“Sebaiknya, Nick yang menjelaskannya,” tolak Katryn tak enak.


“Katryna...” peringat Alessa memaksa.


“Joe disekap agar membocorkan keberadaanmu. Kita tahu dia sedikitpun tidak lagi bertemu ataupun berkomunikasi denganmu semenjak Nick kembali,” jelas Katryna.


“Zyan tidak percaya, dia obsesi untuk mendapatkan informasi tentangmu lewat Joe. Menurut penuturan Jeff, Zyan kehabisan cara menyusup ke kehidupan kalian, dan Joe satu-satunya manusia yang mengenal dekat dirimu. Pria itu babak belur ditangan Zyan, beruntung orang Nick menyelamatkan Joe segera,” sambung Katryna.


“Bagaimana Nick tahu Joe disekap si bangsat itu?” tanya Alessa.


“Nick menempatkan orang-orangnya di semua kenalanmu. Orang tersebut yang melaporkan kepada Nick,” ungkap Katryna.


...***...


Kehamilan enam bulan, Alessa dan Nick mengundang keluarga Helbert ke mansion Bateline. Baik Alessa dan Nick tidak memiliki sanak keluarga yang begitu dekat, kecuali Lucas, Emrick, Noura dan Gef. Sebenarnya Alessa mempunyai beberapa keluarga dari pihak ibu dan ayah, akan tetapi jauh dan sebatas mengenal sebagai saudara. Sedangkan Nick, sebenarnya demikian, akan tetapi tidak berniat mengundang.


“Wah...wah... mansion Bateline old desain sekali,” puji Leon kagum.


“Ya, lebih old desain dibanding mansion Nyle,” tambah Neon membandingkan dengan mansion kakek mereka.


“Mansion Nyle sering diperbaharui di titik tertentu,” sambung Maria.


“Mansion ini tidak pernah diperbaharui sekalipun, Nick?” tanya Maria penasaran, Nick menggeleng.


“Wah... walau tidak pernah, mansion ini sangat bersih terawat,” tanggap Leon.


“Kau beruntung, Alessa!” celetuk Neon. Alessa mengerutkan dahinya bingung, apa yang beruntung?


“Beruntung bisa menikmati seluruh furniture di sini, kapan-kapan jual saja salah satu furniture di sini, pasti untung!” Alessa memutar bola matanya malas, pemikiran bodoh namanya, batin Alessa. Kalimat Neon mengundang tawa sepupu-sepupu Allard ini.


Entah bersemangat atau apa, ketiga sepupu Allard ini datang sangat cepat dari waktu yang ditentukan. Undangan jam tujuh, mereka datang satu jam lebih awal. Datang-datang mengomentari mansion Bateline, diusir juga mereka diundang langsung oleh Nick.


“Kenapa kau mengundang si kembar ini?” tanya Alessa malas.


“Tanpa diundang pun mereka bagaikan jelangkung, Sayang...” Alessa menghela nafas.


“Ketenangan punah akibat kehadiran mereka,” dengus Alessa, Nick terkekeh.


“Oh, Tuhan... siapakah gadis cantik ini?” gumam Leon terdengar oleh sepasang suami-istri itu.


“Kau saja tidak memiliki Tuhan. Sok-sokan menyebut Tuhan,” decak Neon.


“Oke, Guys... perkenalkan ini Noura, adik iparku,” ucap Alessa mendekat pada si kembar.


“Adik ipar? Wow, akhirnya kau diakui sebagai suami, Nickholas!” sahut Leon diiringi kekehan. Alessa dan Nick menatap dalam diam.


“Noura kemarilah,” pinta Alessa, Noura mendekat.


“Noura, perkenalkan ini Leon dan Neon, sepupu Allard.” Alessa memperkenalkan si kembar seraya menunjuk satu per satu agar Noura dapat membedakan keduanya.


“Salam kenal, Cantik...” sapa Neon pertama kali menjulurkan tangannya. Noura tertawa geli dan menyambut uluran tersebut.


“Salam kenal kembali, Tampan...” balas Noura, Neon syok mendapat balasan demikian.


“Ternyata kau pemain juga, persis seperti iparmu ini,” komentar Neon melirik Alessa.


“Alessa mengajariku supaya tidak mudah digoda pria jahat sepertimu,” balas Noura tersenyum geli.


“Hiraukan saja penggoda satu ini,” intruksi Leon.


“Salam kenal, Noura... senang bertemu denganmu,” ucap Leon mengulurkan tangannya.


“Salam kenal kembali, Neon... senang bertemu denganmu juga,” balas Noura. Leon tertawa, Noura salah menyebut nama mereka.


“By the way, Noura. Aku Leon,” timpal Leon.


“Oh, maaf. Aku sulit membedakan kalian,” keluh Noura.


“Lihat saja cara interaksi mereka, Noura. Leon paling dewasa, sedangkan Neon suka membuat keributan,” beritahu Alessa.


“Yah... walaupun keduanya suka keributan, Leon lebih manusiawi,” tambah Alessa.


“Maksudmu aku hewan begitu?” protes Neon tidak terima.


“Aku tidak berkata begitu,” kilah Alessa.


“Dia bermaksud seperti itu, Neon.” Kompor Leon memancing saudara kembarnya.


“Hey, kalimatku tidak menyebutkan Neon hewan,” balas Alessa tidak terima.


“Maksud kalimatmu kearah sana, Alessa!” pungkas Neon.


“Tidak!” tampik Alessa kesal. Noura terkekeh, seru menyaksikan perdebatan antara kakak ipar dan si kembar ini.


“Stop it, Twins!” sela Nick, Neon mengatup mulutnya kembali sebab Nick lebih dulu menyela.


...***...


Alessa menunggu steak yang tengah Jeff panggang. Para keluarga lainnya tengah berkumpul di meja bundar, ada juga yang yang duduk di dekat kolam renang. Alessa sendiri memilih duduk di sini dengan maksud dan tujuan tertentu.


“Jeff, kau tahu banyak tentang Joe?” tanya Alessa setelah beberapa saat berbincang ringan.


“Ada apa?” tanya Jeff balik paham maksud Alessa.


“Jeff, apa steak-nya sudah matang?” Katryna tiba-tiba datang.


“Belum, Mother. Sebentar lagi,” jawab Jeff sopan.


“Berapa lama lagi kira-kira?” tanya Katryna.


“Sepuluh menit lagi, Mother.” Katryna mengangguk, dia ikut duduk di samping Alessa.


“So, Jeff?” intruksi Alessa.


“Saya—”


“Tidak perlu sopan santun berbicara padaku, Bangsat!” potong Alessa jengah.


Jeff ini setiap di depan Katryn sopan harga mati! Katryn terkekeh, tahu betul dua manusia ini sering mengobrol non-formal.


“Alessa benar, Jeff. Lupakan ke-formalanmu, aku sudah pernah meminta padamu untuk bersikap biasa,” ucap Katyna.


“Jikat Father tahu—”


“Allard tidak tahu, selama berbicara di belakangnya,” potong Katryna.


“Dasar gila hormat!” seloroh Alessa.


“Cepat katakan!” titah Alessa, Jeff tak dapat menahan lirikan sinisnya terhadap Alessa.


“Apa yang ingin kau tanyakan? Cepat!” balas Jeff.


“Joe apa kabar?” Jeff mengerutkan dahinya.