The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 55. Roar of Anger



Meja makan di mansion Bateline terlihat dipenuhi kehangatan. Perlu dicatat, hanya terlihat dari pandangan mata, bukan dirasakan hati. Jangan harap Alessa menikmati makan malam dadakan yang diadakan Nickholas ini dengan mengundang Emrick, Lucas, Phei, Lucian dan Anela. Sunguh, dia mati kebosanan di tengah keluarga bahagia sentosa ini! Satu lagi, Noura turut hadir juga di sini.


Alessa menghela nafas, berusaha mengumpulkan kesabaran ketika wanita bermuka ular itu tengah mengeluarkan bakat ilmiahnya, yaitu mencari muka di hadapan orang-orang. Namun, pada dasarnya kebenciannya pada Phei sudah mendarah daging, Alessa berniat berdiri, tetapi Nick menahan pahanya agar tetap duduk. Alessa menggeram seraya melayangkan tatapan tajam pada Nick, yang dibalas oleh Nick datar.


Demi kebaikan moodnya, Alessa ingin segera enyah dari hadapan manusia pembawa sial ini. Semakin lama mendengar bualan Phei, Alessa semakin ingin meremas mulutnya. Pujian serta kelembutan buatan itu benar-benar muak ia saksikan.


“Oh, Tuhan... kau baik sekali, Nak Nickholas. Kuyakin, semua wanita mengidamkanmu, beruntungnya Alessa mendapatkanmu,” ucap si penjilat lidah itu, Alessa berdecih sinis.


Wanita ini memang tidak pernah konsisten dengan ucapannya. Alessa masih sangat ingat, Phei mengucapkan kalimat ‘Pria bangsat seperti Nickholas, pantas bersanding bersama ****** sepertimu. Kalian sama-sama memiliki predikat buruk!’. Banyak kalimat buruk serta hinaan yang terlontar dari bibir nenek sihir itu tentang Nickholas, dan Alessa tidak pernah melupakan kata-kata yang dilontarkan wanita itu.


Alessa tidak habis pikir, Phei begitu mudahnya memuji pria di sampingnya. Apa dia pura-pura lupa, bahwa pernah memaki Nick secara terang-terangan? Maaf saja tidak terucap sekalipun, seolah dia selalu memperlakukan Nick baik sejak dulu.


“Cukup pujianmu, Phei!” Oh, bukan Alessa berujar, Nick yang mengeluarkan suara peringatan.


Well... Alessa merasakan adrenalin penuh semangat detik itu juga, senyumnya tertarik segaris. Tubuhnya menegak tegap, tangannya terulur mengambil segelas jus jeruk dan menegaknya sedikit. Noura terkekeh melihat sang kakak ipar berubah dalam hitungan detik.


“Aku sungguh muak mendengar kebusukkanmu,” tambah Nick datar.


“Tujuanku mengundang kalian kemari bukan untuk membangun keramah-tamahan, tetapi untuk membongkar semua kebusukanmu!” lanjutnya. Alessa tak sabar, apa yang akan Nick bongkar?


“Apa maksudmu, Nak Nick?” tanya Phei dengan sedih dibuat-buat, Alessa mengernyit jijik.


“Katakan rencanamu dua hari lalu!” titah Nick tegas.


“Apa? Aku tidak merencanakan apapun,” sahut Phei.


Nick tersenyum miring mengerikan, Alessa bergedik ngeri, kapan terakhir kalinya dia mendapatkan senyum itu? Pertama kali pertemuan mereka?


“Gef!” seru Nick.


Gef memasuki ruang makan, di tangannya terdapat loudspeker. Alessa memperhatikan Phei, gelisah dan ketakutan tergambar di raut wajahnya. Loudspeker diputar Gef, percakapan antara dua orang terdengar.


[Aku tidak mau tahu, lenyapkan ****** itu! Aku sudah memuaskanmu sebagai imbalannya! Giliranmu melakukan tugasmu, bunuh dia!] Suara Phei pertama kali mengalung di telinga semua orang.


^^^[Butuh waktu melenyapkan anak tirimu itu, Phei. Menemukan jejaknya tidak mudah sama sekali!]^^^


[Kau tidak becus! Aku hampir bercerai dengan Emrick karena wanita biadab itu!] balas Phei dalam rekaman tersebut.


^^^[Emrick dan Emrick, kau mencintai papa-nya, tapi membenci anaknya.] ^^^


[Diam. Wanita itu harus mati, karena dia aku kehilangan Emrick!]


^^^[Oh, Phei... kau mencintai Emrick dan hartanya. Emrick sudah miskin sekarang, lalu kau mencari harta itu lewat aku. Tinggalkan saja pria itu!]^^^


[Tidak akan!] Terdengar kekehan lawan bicara Phei di sana.


^^^[Baiklah. Tapi, aku butuh bantuanmu memancing Alessa agar keluar dari persembunyian.] Tak ada suara balasan.^^^


[Empat hari dari sekarang, itu waktunya.] Rekaman selesai.


Mata Alessa terkunci pada Emrick, genangan air mata mengenang di sana. Alessa tersenyum kecut, inikah wanita yang ingin sang papa-nya pertahankan? Setetes air mata jatuh, Emrick menunduk, memutuskan pandangan lebih dulu.


Perasaan Alessa jemu, entah dia merasa kasihan, marah, atau tak peduli terhadap sang papa. Bisa saja nantinya Emrick kembali bukan? Toh, mengetahui istrinya dibunuh oleh Phei, sang papa memaafkan wanita itu, malah meminta izin pada Alessa dan Lucas untuk menerima sialan itu!


“Kesalahanmu, Phei—” sahut Noura membuka suara.


“Memandang kebencian pada kakak iparku sejak awal. Aku tidak mau berasumsi jauh tentangmu, tapi cara kebencianmu yang ingin melenyapkan kakak iparku sudah melewati batas manusiawi. Alessa tidak pernah menebar ketidaksukaan kepada siapapun, kecuali orang tersebut menebar lebih dulu,” sambung Noura.


“Aku tidak terlalu banyak tahu kepribadian Alessa. Yang aku tahu, Alessa memang menyebalkan dengan sikap acuhnya itu, dibalik itu dia perhatian dan menyayangi sekitarnya. Kurasa, dirimu sangat dalam tenggelam membenci Alessa, mungkin juga kau membencinya tanpa alasan yang jelas?” kritiknya lagi diakhiri dengan kedikan bahu seolah ucapannya bisa benar atau salah.


“Oh, ya... aku tidak tahu tentang ibumu! Buat apa aku tahu orang-orang macam kalian?! Sama sekali tidak berguna sebenarnya,” jawab Noura enteng, Alessa terkekeh. Rupanya Noura bisa mengeluarkan kesarkasan dalam berbicara.


“Alessa?” panggil sang papa. Alessa sejenak menghentikan gerakannya yang akan menegak minuman.


“Ya?” tanya Alessa singkat, lalu melanjutkan gerakannya meminum jus jeruk.


“Papa tinggal di sini, apa boleh?” tanya Emrick.


“Tanyakan pada pemiliknya,” balas Alessa cuek.


“Ini rumahmu, Alessa!” celetuk Nick menatap Alessa tajam.


“Well.. boleh saja, asal ****** itu tidak!” ucap Alessa.


“Dia tinggal bersama pria itu, bukan denganku lagi,” sambar Emrick datar.


“Apa maksudmu, Sayang?” sahut Phei.


“Kau jelas tahu maksudku, Phei! Aku akan mengurus surat perceraian kita sesegera mungkin!” jawab Emrick.


“Tidak! Kau tidak bisa melakukan itu! Kita saling mencintai!” tampik Phei tak terima.


“Apakah kau juga mencintai putriku, sampai kau berniat membunuhnya?” sergah Emrick.


“Selama ini aku berusaha menampik karena aku tidak memiliki bukti perselingkuhanmu. Bahkan saat aku tahu kau yang membunuh istriku dan menghardik anak-anakku, aku memaafkan. Aku masih memikirkan perasaan, tapi tidak detik ini! Kau tidak bisa melenyapkan putri kesayangan istriku! Kau lebih pantas lenyap dari muka bumi ini!” tekan Emrick, kemudian dia berbalik meninggalkan ruang tersebut.


Phei menjerit histeris, memukul meja hingga piring beserta gelas bergetar. Saking emosinya, dia membanting benda di dekatnya, darah segar mengalir dari tangannya disebabkan pecahan beling.


“Ini karenamu!” berang Phei menunjuk Alessa.


“Kenapa aku? Aku tidak berkomentar apapun sedari tadi,” protes Alessa tidak terima.


Phei mengambil teko kaca, Nick segera menarik Alessa agar berdiri dan memeluk sang istri. Lemparan itu mengenai punggung Nick, Alessa menggeram marah. Namun, Nick menahan Alessa yang berniat menyerang Phei.


“Terkutuk kau, Alessa! Terkutut kau dan ibumu!” raung Phei.


“Go to hell, Sialan!” teriak Alessa marah.


“Ibu jalangmu itu berada di neraka sekarang, Alessa!” racau Phei membalas kalimat Alessa.


“Enyah kau, Biadab! Enyah kau bersama anak jalangmu itu! Aku tidak sudi memiliki keponakan dari anak jalangmu! Syukur tuhan melenyapkan cucumu! Syukur Tuhan menyadarkan Lucas, bahwa anak dan ibu sama jalangnya!” cecar Alessa.


“Bawa mereka!” titah Nick pada bawahannya yang kesulitan menahan Alessa di tengah emosinya. Sedangkan Noura, terpaku di tempat menatap Lucas menunduk di meja makan.


“Lepaskan aku, Nick!” jerit Alessa.


“Tenang, Alessa. Dia sudah pergi,” tegurnya.


“Dia harus mendapatkan pukulanku!” seru Alessa.


“Berhenti! Bayi kita ikut tegang karena emosimu, Alessa!” peringat Nick.


Alessa seketika melembut, Nick mendudukan tubuh lemas sang istri di atas kursi. Tak sengaja pandangan Alessa bertubrukan dengan Lucas.


“Enyah kau bersama mereka!” murkanya. Nick memberi intruksi lewat matanya pada Noura untuk membawa Lucas menjauh.