The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 18. Insult



“Apa kau gila, Lucas?” teriak Alessa marah.


“Aku tak punya pilihan, Alessa!” ucap Lucas frustasi.


“Bodoh. Kau benar-benar bodoh! Kau sedang membawa bahaya ke dalam hidupmu, Lucas!” sembur Alessa marah.


Bagaimana mungkin Alessa menahan kemarahannya sedangkan Lucas dengan gamblangnya mengatakan, dia sudah menjadi anggota dari organisasi hitam terbuka di New York. Kejutan macam apa ini? Tidak lucu!


Semua tahu organisasi hitam itu yang dikenal banyak orang dengan sebutan Wall dead, dinding kematian. Organisasi terbuka dipimpin oleh Xandra, dia si pembunuh bayaran dan suka sekali menjadikan wanita sebagai fantasi beringasnya.


Wall Dead tidak ada apa-apanya dengan Klan Hellbert dari segi kekuasaan dan apapun itu. Akan tetapi, Wall Dead tidak main-main pada anggotanya. Kau memasuki Wall Dead, akan ada ganjarannya! Artinya, bahaya akan segera datang pada anggota!


Gila saja Lucas masuk ke dalam organisasi itu. Lebih gilanya lagi, Phei memaksa Lucas untuk mencari tahu Alessa tinggal! Alessa bisa gila saat ini juga. Dia tidak pernah mau saudaranya memasuki lingkar setan yang tidak akan ada habisnya.


“Lucas, darimana kau mengetahui keberadaanku?” tanya Alessa penuh selidik.


“Organisasi itu tidak memilik banyak kemampuan untuk melacak keberadaanku!” ucap Alessa tegas.


“Mereka mencari tentangmu lewat Joe,” sahut Lucas.


“Shit. Aku melupakan tentang Joe!” dengusnya.


“Mereka mengikuti Joe?” Lucas mengangguk. Jelas semua, Joe tahu letak apartemennya. Pada detik ini, Alessa berada di dalam zona merah, bahaya. Ya, semua orang tahu apartemennya!


“Kau harus keluar dari organisasi itu!” ucap Alessa tegas.


“Aku tak bisa, Alessa!” tolak Lucas.


“Kau bisa!” ucapnya keras kepala.


“Tidak mudah untukku keluar. Aku sudah menjadi anggota mereka.”


“Kau tidak berpikir panjang sebelumnya, huh? Kenapa kau mau mengikuti ibu tiri kesayanganmu itu? Wall Dead hanya menjadikan anggotanya sebagai pion! Pion, Lucas! Kau tahu arti dari pion? Budak!” teriak Alessa kesal, Lucas diam.


“Berapa lama kau menjadi anggota mereka?” tanya Alessa setelah meredakan kekesalannya.


“Sebulan.”


“Selama itu, kau diberi pelatihan, kan?” Lucas menggeleng.


“Selamat, kau menjemput ajalmu lebih cepat! Kau pikir apa maksud mereka, anggota yang dilindungi? Tidak, anggota yang diumpankan!”


Lucas terdiam, menyadari perkataan Alessa benar. Dia tak bisa menolak, Phei memaksanya untuk masuk ke dalam organisasi. Sedikitpun dia tidak mengikuti pelatihan apapun, jelas Lucas takut dengan penjelasan Alessa tapi dia tak tahu harus melakukan apa.


“Jangan lemah menjadi pria, Lucas. Tunjukkan kekuatuan, jangan mau dimanfaatkan Phei!” keluh Alessa


“Cukup sudah, Lucas. Stop menjadi pengecut!” tambahnya.


“Keluar dari organisasi, atau kau akan membahayakan dirimu!” kecamnya benar apanya.


“Tidak mudah, Alessa! Tidak mudah!” ucap Lucas sedikit berteriak.


Alessa melihat ketakutan di mata Lucas yang tergambar sangat jelas. Lucas bukan lagi saudara Alessa yang berani melawan apa pun, Lucas sekarang adalah Lucas yang pencundang.


“Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi kau sendiri yang akan memintaku untuk mengeluarkanmu!” ucap Alessa terakhir kalinya.


...***...


Sebuah ide muncul dibenaknya, senyum Alessa mengembang lebar. Dia butuh hiburan agar otaknya jernih dari masalah Phei. Alessa mengambil sling bag-nya dan keluar dari kamarnya. Suara gelak tawa menyambut Alessa, sungguh menyakitkan telinga.


“Hi, Lana!” sapanya yang kebetulan berpas-pasan dengan Lana.


“Hi, Alessa!” sapa Lana balik.


“Keluargamu sedang berkunjung, ya?” tanya Lana, Alessa mengangguk dengan senyumannya.


“Merepotkan sebenarnya,” balas Alessa, Lana tertawa.


“Kemana kau akan pergi?” tanya Lana.


“Butuh hiburan.”


“Club? Siang hari begini?”


“Tidak. Sekedar berjalan-jalan saja!”


Berbincang sejenak, Alessa pamit pergi. Ia melangkah keluar dari gedung apartemen. Cukup berjalan kaki tujuh meter, Alessa sampai di sebuah salon. Alessa menyapa dan mengatakan tujuan dan keinginannya.


Dua jam Alessa butuhkan mengubah seluruh penampilannya. Make up bold, kuku cantik bercat ungu, rambut panjangnya kini berubah menjadi model short curly dengan ombre light purple, ditambah dress hitam ketat yang memperlihat kaki jenjang.



Alessa tampak berbeda dari tampilan sebelumnya, dan dia puas dengan itu. Selanjutnya Alessa kembali ke apartemen, ia lupa mencari lokasi Nick saking bersemangatnya. Di apartemen, Alessa melihat ‘keluarga bahagia’ berkumpul, ia hanya melewati tidak berminat menyapa.


Sesampai di kamar, Alessa mengambil notebook dan berkutat melacak tempat tinggal Nick. Umpatan terdengar dari bibirnya, kesulitan mencari lokasi Nick.


“Jelas keamanan lokasimu tinggi, Nickhlos. Kau sekarang pengusaha terkenal, atau menghindari musuh-musuh dari background penjahat?” ucap Alessa seorang diri. Opsi kedua lebih masuk akal, karena keamanan Nick ini mendekati keamanan mansion Allard, batin Alessa.


Alessa tidak menyerah, dia memaksimalkan kemampuannya dalam melacak. Lima menit kemudian Alessa mendapatkan alamat lengkap Nick.


“Gotcha! Dapat kau!” Alessa menutup notebook cepat dan keluar dari kamarnya, tidak lupa mengunci ganda dengan sistem sensor.


Alessa mau tidak mau harus melewati keluarga yang kelihatan bahagia itu. Kedua adik tirinya terdengar mengeluarkan cemooh kasar kepada dirinya. Alessa tidak akan pernah peduli, sampai sebuah kalimat terucap dari mulut Lucian yang membangkitkan kemarahannya,


“Tampilanmu bak ingin menjadi penggoda, sama seperti ibumu!”


Netra Alessa melirik pada Emrick―sang ayah―yang berwajah datar. Berpindah pada Lucas yang menatap Lucian marah. Alessa tersenyum sinis menatap Lucian, ia benci Lucian membawa sang ibu yang sudah tenang di alam sana.


“Lucian, kau boleh mengataiku dengan beribu hinaan. Tapi, ketika kau ingin menyebut ibuku, berkacalah pada ibumu. Tidak perlu aku perjelas, kau sendiri tahu bagaimana kelakukan ibumu yang seperti wanita malam.”


“Aku masih memperhalus kata-kataku. Intropeksi diri kalian, baru mengomentari orang lain. Lihat dirimu, sebelum mengatakan aku penggoda!” balas Alessa tenang tanpa emosi.


“Pada dasarnya kau sama seperti ibumu, Alessa. Jangan lupakan fakta bahwa ibumu berselingkuh dari ayahmu!” Phei angkat bicara, wajah Alessa memarah. Reaksi ayah dan kakaknya yang diam semakin membuat Alessa naik pitam.


“Lihat pakaianmu, lihat riasanmu, seperti ingin menggoda pria tua saja!” Kali ini Anela―adik titinya―menambah ucapan sang ibu. Alessa tersenyum manis, menatap Phei penuh kebencian.


“Aku tahu pria mana yang harus aku goda, selagi pria itu memiliki status yang jelas denganku, tidak ada kata penggoda di dalamnya. Tidak sepertimu, Phei... menggoda setiap pria kaya dan meminta mereka memuaskanmu.”


“Alessa!” bentakkan sang ayah menyurutkan kemarahan Alessa, tatapan kecewa ia perlihatkan pada Emrick.


“Perkataaanku benar sesuai fakta. Kau mempercayai wanita ini tanpa mencari tahu kebenarannya, dia lah yang berselingkuh. Ibuku tidak pernah berselingkuh darimu!”


“Dan kau Lucian, sekali lagi mengatai ibuku, lihat fakta apa yang bisa aku perlihatkan di depanmu. Berlaku untukmu juga, Anela!” peringat Alessa serius.


Ada tiba saatnya fakta lain terungkap, Alessa pastikan itu akan menyakiti Emrick. Ada waktunya, Alessa berharap cepat terjadi. Di waktu ini, Alessa belum bisa mengungkap kebenaran, nanti ketika fakta terungkap, Alessa yakin Emrick membenci Phei. Jika tidak, itu artinya Emrick tidak pernah mencintai ibunya yang tulus.