
Undangan makan malam Keluarga Helbert berjalan lancar di mansion pribadi Allard dan Katryna. Sebenarnya, Alessa senang berada di tengah kehangatan keluarga ini. Selama mengenal keluarga inti, Alessa belum menemukan keserakahan atau ketamakan dari sanak keluarga Helbert. Semuanya tampak tenang dengan harta masing-masing.
Katryna tampak sibuk membujuk anak kembarnya yang menangis karena ulah si kembar jahil. Well... sejujurnya Alessa merindukan si kembar pembuat onar ini, walau kadang mengesalkan keduanya berhasil menghiburnya. Sedari awal menginjak kaki di mansion ini, keduanya mencari cara agar menganggunya, mulai mengusilinya dengan kalimat nyeleneh—seperti biasa tentunya—sampai menoel-noel perut buncit Alessa.
Kedua manusia jahil ini mundur saat Nick datang, dan jadilah anak kembar Katryna kena sasaran mereka. Alessa tak tega melihat Allena menangis, dia memutuskan menghampiri Allena dan mengendongnya. Meskipun Allena ini sama menyebalkannya, tetapi dia termasuk manja pada Alessa.
“Sudah, jangan menangis. Allena tidak boleh cengeng,” ucap Alessa seraya mengusap air mata Allena.
“Eon jahat!” kesalnya.
“Mereka memang jahat, nanti biar Uncle Nick menghukum mereka, ok. Jangan menangis lagi,” bujuk Alessa. Allena mengangguk lucu di dalam pelukannya. Tanpa disangka, Allena menenggelamkan wajahnya pada bahu Alessa.
“Aunty, mau tidur...” rengek Allena menerbitkan senyum Alessa..
“Mau aunty antar ke kamar?” tawarnya, Allena menggeleng.
“Mau tidur di sini.” Alessa mengangguk.
“Tidurlah...” Allena mencari posisi ternyaman di dalam rengkuhan Alessa.
“Allena terus menanyakanmu,” celetuk Katryna setengah tersenyum memandang keduanya setelah berhasil membujuk Alland.
“Katanya, kau jahat,” tambah Katryna
“Aunty Sa, jahat. Aunty tidak pernah menjenguk kami,” sahut Alland mewakili sang adik. Alessa terkekeh, tangannya gemas mengacak rambut Alland.
“Maaf, ya... lain kali aku akan sering menjenguk kalian,” ucap Alessa, Alland mengangguk, tetapi tatapannya terus mencari sesuatu di dalam diri Alessa.
“*Mommy*, dimana adik bayi?” tanya Alland, kini memandang sang ibu ingin tahu. Alessa dan Katryna tertawa, pantas saja Alland terus melihat ke arahnya dengan pandangan kebingungan.
“Nanti kalau adik bayinya lahir, kamu bisa lihat,” jelas sang ibu penuh perhatian.
“Apa itu lahir?” tanya Alland mengerutkan dahinya.
“Adik bayinya keluar dari perut Aunty Alessa,” jawab Katryna sabar.
“Kalau udah keluar, aku boleh bawa adiknya, Mommy?” Katryna tertawa pelan.
“Boleh, tapi izin dulu ke Aunty Alessa dan Uncle Nick.” Alland mengangguk semangat.
“Aunty, adik bayinya buat aku. Aku mau adik bayinya buat aku!” Alessa terkekeh tanpa bisa membalas permintaan anak kecil yang hampir menginjak lima tahun ini.
...***...
Keluarga Helbert berkumpul di meja panjang yang tersedia, tempat di mana biasanya keluarga makan beramai-ramai. Alessa duduk di sebelah Nick, dipangkuannya terdapat Allena yang memeluknya bak koala. Bisa ditebak, si kembar lagi-lagi menyerang kekesalan Alessa.
“Cutty, kau sudah cocok menjadi ibu,” ucap Neon mulai terdengar. Alessa hanya memberi tatapan sekilas dan kembali fokus pada makanannya.
“Dia sombong sekali, ya!” seru Leon berkomentar.
“Ciri-ciri wanita tua, maklum sebentar lagi punya anak. Pasti sok bersikap kalem,” tambah Neon menanggapi kembarannya memancing kekehan sekitar.
“Wah, ajaib sekali! Cutty kita ini tetap mode kalem, sangat menakjubkan!” komentar Leon berlebihan dikala Alessa tidak berminat membalas. Apa Alessa pernah mengatakan? Leon ini kadangkala bisa menjadi dingin, kadangkala bisa menjadi pria berlebihan.
“Gemar sekali membuat keributan. Apa kalian tidak lelah?” gerutu Cassandra, lelah setiap hari menonton keributan anak kembarnya ini.
“Mom, kau juga semakin tua, semakin tidak asyik,” balas Neon.
Perdebatan-perdebatan terus saja terlontar dari mulut keduanya. Ini sudah terbiasa mereka saksikan, tetapi masih saja membuat korban ucapan si kembar kesal bukan main. Alessa pernah sampai melempar keduanya menggunakan guci saking kesalnya akan kalimat yang keluar dari mulut si kembar.
“Cutty, jika aku menjadi Nick, aku akan menjadikanmu cadangan kesekian. Lihat saja dirimu, tidak bisa memasak, tidak suka anak-anak, pandainya mencari musuh, tapi tidak pandai berperan sebagai istri idaman.” Begitulah kira-kira ucapan Neon yang setujui oleh Leon disertai tawa mengejek keduanya.
Disela percakapan, Alessa menyadari gerak-gerik kegelisahan Nick. Sesekali mengecek ponsel, ketika Alessa menyentuh paha Nick, pria itu menatapnya gundah. Seketika ponsel Nick menyala diiringi getaran, tertera nama Christa di sana, Alessa melepaskan sentuhannya dan membuang pandangan ke arah lain. Dapat dirasakan, Nick bangkit dan menjauh guna mengangkat panggilan tersebut.
“Allard, aku butuh bantuanmu,” ucap Nick setelah selesai berbincang dengan lawan bicaranya di seberang telepon sana.
Perkataan Nick menghentikan obrolan orang-orang di meja tersebut. Allard menatap Nick sebentar, lalu beranjak memasuki mansion tanpa membalas ucapan Nick.
“Apa ada masalah?” tanya Caroline mewakili semua orang tertuju pada Alessa.
“Aku tidak tahu,” jawab Alessa datar.
Hari semakin larut, beberapa keluarga pamit untuk pulang, tersisa orang tua Allard, Katryna dan Alessa. Obrolan ringan terjadi, hingga Jeff memanggil Alessa dan Katryna. Keduanya mengerutkan dahinya bingung, tetapi tetap beranjak ke ruangan Allard.
Sesampai di ruangan Allard, Alessa memilih mendudukan dirinya di sofa berdekatan dengan kaca. Nick yang berdiri di samping Allard, memperhatikan Alessa lekat. Katryna membuka suara, bertanya, sedangkan Alessa tidak berminat mengeluarkan suara.
“Christa menghilang,” beritahu Allard.
Fokus Alessa sepenuhnya tertarik pada jawaban Katryn, penasaran sejak kapan sahabatnya ini dekat dengan Christa.
“Masalah proposal bisnis yang Christa tawarkan padaku.
Allard menatap sang istri, mengetahui sang istri tak mau berbicara banyak.
“Mungkin Christa bercerita sesuatu?” tanya Allard lembut, Katryna menggeleng.
“Amour,” tegur Allard.
Bahasa tubuh Katryna ini mengisyaratkan ada sesuatu yang mereka bicarakan.
“Aku tidak enak mengatakannya, Al. Kesannya aku mengadu domba, aku tidak mau!” lirih Katryna jujur seraya melirik Alessa. Jelas Alessa paham ada sesuatu yang Christa ceritakan pada Katryna tentang dirinya.
“Jika itu berkaitan denganku, katakan saja! Aku bukan manusia yang mudah tersinggung,” sahut Alessa datar. Katryn menarik nafas, lalu membuangnya perlahan.
“Christa banyak bertanya ini-itu tentang Alessa,” ucap Katryna.
“Aku hanya memberitahu sebagaimana orang-orang mengenalmu,” tambah Katryna mengkonfirmasi pada Alessa.
“Christa berkata, dia terancam oleh perkataan seseorang. Dia meneleponku kemarin, dia mendapat ancaman lagi dari seseorang, kemudian dia bertanya apakah Alessa berani melakukan apa yang ia ucapkan,” jelas Katryna melirik sang sahabat tak enak.
“Apa? Aku tidak menculik istrimu!” sahut Alessa seraya membalas tatapan Nick.
“Aku mengancam dia, iya. Tapi, ancaman itu belum aku laksanakan!” bantah Alessa benar apanya.
“Tatapanmu itu seolah menuduhku!” komentar Alessa kesal tertuju pada Nick.
“Alessa, aku tidak menatapmu seperti itu,” timpal Nick.
“Yes, you are!” kilah Alessa.
“Shut up!” titah Allard.
“Ini bukan tempat bedebat!” lanjut Allard tegas.
“Sekarang yang dipikirkan adalah siapa berpotensi menculik Christa?” tambah Allard.
“Kemungkinan, Zyan. Satu-satunya orang yang bermasalah denganku,” jawab Nick.
“Dimana sekiranya Christa disekap?” tanya Allard, Nick menggeleng tidak memiliki opsi lain.
“Apa tidak ada barangnya yang bisa dilacak?” tanya Alessa malas.
“Kalung, tapi lokasinya tidak bisa terlacak,” jawab Nick.
“Alessa...” Nada suara Allard ini sangat dipahami oleh Alessa.
“Kenapa aku? Kau punya banyak hacker yang hebat!” balasnya tidak suka diandalkan untuk tugas ini.
“Memang!” sombong Allard.
“Ya sudah, suruh mereka!” sengit Alessa.
“Kau anggotaku yang paling dekat, dan ini tugas yang harus kau kerjakan,” tegas Allard.
“Jika aku tidak mau?” tantang Alessa berani.
“Kewajibanmu menuruti segala perintahku!” telak Allard, Alessa mendengus kesal.
“Merindukan pekerjaan, bukan? Kerjakan!” titah Allard syarat penekanan. Alessa menghela nafas malas.
“Tidak kusangka suami-istri ini diam-diam berhubungan dekat dengan wanita itu!” sindirnya terang-terangan. Katryna meringis tak enak hati, dia tidak memiliki kedekatan seperti yang Alessa katakan.
“Cepat buka ruang rahasiamu itu, Bastard!” perintah Alessa tak kenal takut. Allard berdecih sinis, dia masih diam di kursi kebanggaannya.
“Allard!” teriak Alessa kesal.
“Buka, sebelum aku menghancurkan sistem keamananmu!” ancamnya yang tak digubris Allard. Katryna menutup mulutnya secara elegan guna menyembunyikan tawanya.
“Sayang...” tegur Katryna agar Allard membuka pintu rahasia yang Alessa maksud.
Allard beranjak, dan kemudian membuka pintu rahasia yang berada di ruangan tersebut. Alessa memaki di dalam hati, giliran sang istri, baru si bastard ini membukanya.