The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 9. Meet and Crying



Alessa kembali menginjakkan kaki di taman belakang. Sepertinya, detik ini adalah pilihan yang tidak tepat. Pasalnya, keluarga Helbert tengah berkumpul di meja panjang dengan tawa mengisi obrolan mereka.


“Apa aku berpura-pura tidak terjadi apa-apa atau pulang saja?” batinnya.


“Oh, aku malu. Kenapa juga kau melakukan hal memalukan, Alessa!” rutuknya kesal.


“Alessa!” panggil Caroline—Ibu Allard—yang menyadari keberadaannya.


“Kemarilah. Jangan berdiam di sana,” ucap Caroline lembut.


Terlanjur dipanggil demikian, Alessa mendekat memasang ekspresi datar. Sebuah kursi kosong tepat di samping kiri Nick, Alessa menghela nafas pelan


“Keynand, aku ingin mengobrol dengan Lyla. Bolehkah kita bertukar tempat?” pinta Alessa terdengar memohon. Kebetulan Keynand duduk di antara bangku itu dan bangku Nick.


“Tidak,” jawab Keynand datar.


“Sudahlah, Cutty. Kau memang harus duduk di sebelah suamimu, itu lebih baik!” Suara Leon jahil memenuhi pendengaran, menyebalkan sekali ucapannya itu dihadapan semua orang.


“Itu benar, Cutty. Lihatlah semuanya pasangan di sini, mereka duduk bersebelahan,” tambah Neon, yang tak bukan adalah kembaran Leon. Kembar identik ini sangat suka mencari perkara, Alessa kesal menghadapi mereka.


“Jadi, duduk di sebelah Nick!” ucap Leon bak sebuah perintah.


“Dan tanganmu jangan nakal!” sambung Neon dan keduanya tertawa terbahak-bahak. Alessa tidak tahan tidak memutar bola matanya malas.


Rasanya Alessa ingin sekali menyumpal mulut si kembar sialan ini, keduanya sangat kompak menyudutkan Alessa di berbagai kesempatan. Dia jadi bahan tertawaan semua orang, lihatlah para orang tua secara terang-terang menertawakan dirinya. Dari ujung mata, Alessa melihat Katryna tersenyum menatapnya. Tidak ada pilihan lain, dia terpaksa duduk di sebelah Nick.


“Nah, cocok sekali. Kau tahu, Leon? Mereka seperti pasangan malu-malu kucing, tetapi di ranjang kuyakin mereka buas!” ucap Neon pada Leon sengaja mengeraskan suaranya.


“Kalian bisa diam? Suara kalian mengganggu sekali!” seru Alessa kesal.


“Oh? Jadi kau ingin mendengar suara Nick saja?” ucap keduanya kompak, memang si kembar ini menyebalkannya hingga ke tulang-tulang.


“Kalian tahu—”


“Tidak!” potong si kembar. Alessa menghela nafas lelah, lebih baik diam. Jika semakin Alessa membalas, si kembar ini akan semakin membuat Alessa marah.


“Beri saja mereka pelajaran, Alessa!” ucap Caroline mendukung Alessa.


“Aunty, kenapa kau membela dia? Kami ini keponakanmu,” protes Neon.


“Karena Aunty Caroline lebih menyayangiku daripada kalian berdua!” ucap Alessa.


“Ya, itu benar.” Alessa tersenyum menatap si kembar sombong. Leon dan Neon menatapnya datar.


“Kau baru Aunty Caroline—”


“Diam, Neon. Sekali lagi aku dengar suara kalian, jangan harap kalian hidup damai!” potong Keynand jengah menyaksikan tingkah keduanya.


“Akhirnya kalian diam,” ucap ibu si kembar—Cassandra—senang. Alessa terkekeh, matanya penuh kilat kesombongan pada keduanya. Si kembar ini menatap Alessa penuh permusuhan, terutama Neon.


Sejujurnya, Alessa senang berada di tengah-tengah keluarga hangat ini. Mereka sangat akur dan tidak pernah ikut campur dalam masalah saudara yang lainnya. Sebagaimana pertengkarannya dengan Katryna sebelumnya, semua keluarga menganggap kejadian tersebut angin lalu. Tak tanggung, mereka menyambut baik dan tidak mengungkit sama sekali. Meskipun di luaran sana musuh-musuh ingin menjatuhkan keluarga ini, mereka tetap memiliki satu misi.


...***...


“Kudengar kau menerima lamaran seorang pria, apa itu benar?”


Lagi dan lagi, Alessa merutuki mulut Neon yang tidak pernah di-filter, entah dari mana mereka tahu. Saat ini semua keluarga telah selesai menyantap makan malam, kini mereka berbincang ringan. Dan kalimat Neon muncul ke permukaan, Alessa rasanya ingin membunuh remaja ini.


“Neon!” peringat Cassandra tajam.


“Mommy, itu benar.” Leon membela kembarannya.


“Kau tidak setia, Cutty. Kau mengkhianati Nick,” ucap Leon beralih pada Alessa. Alessa sendiri mati kutu ditatap semua orang, si kembar ini benar-benar tidak memiliki otak. Sebenarnya, kembar ini berpihak pada siapa?


“Dengar, ya, Bocah. Apa pun itu adalah urusanku, bukan urusan kalian! Cukup urusi saja mantan pacar kalian yang binal itu. Jangan mau dimanfaatkan dan lembek jadi laki-laki!” ucap Alessa kesal.


“Terima kasih untuk ceramahnya yang sangat bermanfaat, Cutty!” balas mereka kompak.


“Tapi, aku penasaran sekali. Nick, apakah kau tidak cemburu Alessa akan menikah dengan pria lain?” Alessa menghela nafas, mereka pandai sekali melawan musuh.


“Tidak,” ucap Nick santai, si kembar tertawa puas menatap Alessa.


“Kalian ingin diam atau diam dengan caraku?” Kalimat tajam itu terdengar dari Allard yang sedari tadi diam menyaksikan.


Si kembar tidak lagi mengganggu Alessa, bener-benar diam mendengarkan perbincangan sekitar. Alessa sesekali membalas ucapan para orang tua, dan sesekali pula dia memergoki Katryna menatapnya. Hal lainnya, pria yang duduk di sampingnya ini tidak hentinya memperhatikan Alessa. Tangan pria itu tidak bisa diam di tempat, suka sekali meraba pahanya. Secepat mungkin Alessa menyingkirkannya.


“Kau tidak bisa menolak sentuhanku, Baby...” bisik Nick tepat di telinga.


“Percaya diri sekali!” sahutnya berbisik.


“Kau ingin kita buktikan, hm? Bagaimana malam ini?” tawar Nick seenak jidatnya. Apa dia tidak merasa bersalah sedikitpun, datang tanpa penjelasan?


Di seberang Alessa, si kembar mengerling nakal kepada Alessa. Sepertinya kedua bocah tengil itu tahu apa yang Nick lakukan di bawah sana.


“Tidak perlu. Memang pada dasarnya, aku tidak tergoda dengan sentuhanmu,” ucap Alessa pelan agar tidak terdengar siapa pun.


“Oh, ya? Bagaimana dengan ini?” tantang Nick, tangannya bergerak memegang inti Alessa yang terbalut celana jeans dan menggesek jarinya di sana.


Alessa tersentak kaget, hampir saja dia mendesah. Dengan cepat Alessa menutup mulutnya dan menjauhkan tangan Nick. Alessa menggenggam tangan Nick kuat, pria itu berusaha melepaskan, tetapi Alessa tahan.


“Kalian menjijikan,” cetus Keynand yang sadar perbuatan keduanya.


“Sudah kukatakan padamu, aku ingin duduk di samping Lyla,” bisik Alessa pelan.


“Lepaskan tanganku, Alessa.” Alessa menyetujui, dia melepaskan tangan Nick, lalu menyilangkan kakinya agar terhindar dari perbuatan Nickholas.


“Jaga tangan keparatmu itu!” peringat Alessa, Nick terkekeh.


“Aku bukan pelacurmu!”


“Yang mengatakan kau pelacurku siapa? Tidak ada!” bantah Nick serius.


“Tapi, kau istriku...” bisik Nick menyiratkan kepemilikan, Alessa menegang di tempat.


“Jangan coba-coba lepas dari ikatan pernikahan yang kita janjikan,” tambah Nick seraya menjilat cuping Alessa.


Sungguh, pria ini tidak segan menunjukkan perbuatannya. Maka, menghindar adalah pilihan tepat sebelum Nickholas berbuat jauh. Alessa izin ke toilet. Di tengah ruang makan, Alessa mengambil nafas sepuasnya. Bersentuhan dengan Nick nyatanya membuat Alessa sulit bernafas tenang.


“Alessa.” Ia menoleh, Katryna berdiri di sana. Wanita itu rupanya mengikuti Alessa.


“Hi, Katryna!” Alessa memilih bersikap santai.


“Are you okey?” Alessa mengangguk.


“Maaf untuk tidak jujur padamu soal itu,” ucap Katryn to the point.


“Boleh aku mendengar alasanmu menyembunyikannya?” tanya Alessa, Katryn mengangguk.


“Aku tahu sehari sebelum kau ditugaskan ke Athena. Aku ingin mengatakannya padamu, tetapi aku bingung bagaimana caranya. Allard dan aku sudah berencana memberitahumu setelah kepulangan dari Athena,” jelas Katryn.


“Gagal, aku tahu lebih dulu.” Katryn mengangguk membenarkan.


“Benar kau tidak tahu sebelumnya?” Alessa bertanya lagi, ia takut Katryn membohonginya.


“Ya, aku berkata jujur.”


“Lalu, Allard tahu selama ini?” Katryn mengangguk.


“Dia tahu dari awal,” ucap Katryn tersenyum sinis.


“Kau marah?”


“Kecewa. Selama ini dia tahu bagaimana bersalahnya aku padamu,” ungkap Katryn.


“Itu sudah berlalu. Sekarang aku tahu dia masih hidup, setidaknya aku sedikit lega. Ya, walau takut dia balas dendam,” pungkasnya.


“Allard mengatakan Nick kepercayaannya, dia tidak akan balas dendam,” ucap Katryna.


“Kau percaya?”


“Allard tidak akan percaya sebelum dia mengetahui selak-beluk pikiran orang tersebut.” Secara tidak langsung, Katryna mempercayai Nick.


“Maaf aku menuduh tidak-tidak, emosiku terlalu tinggi. Tidak seharusnya aku mengataimu seperti itu,” ucap Alessa tersenyum tulus. Katryna memeluk Alessa, mereka menangis bersama. Katryna dan Allard bisa percaya pada pria itu, akan tetapi Alessa tidak.