
Setelah sekian lama, akhirnya Nick sedikit melonggarkan kebebasan Alessa, hanya sekedar turun ke lantai bawah dan berkeliling di sekitar tertentunya. Tidak ada yang menarik perhatian Alessa, mansion Nick sama seperti mansion pada umumnya. Alessa sedang mencari-cari tempat rahasia di mansion ini, sebagaimana yang ia tahu, bahwa Allard juga memiliki tempat-tempat rahasia tersembunyi di mansionnya.
Jika dianalisa, mansion Nick ini sangat kuno sekali. Tebakan Alessa mansion ini sudah ada jauh sebelum dia lahir ke dunia, dapat dilihat dari furniture yang dipasatikan tidak terjual di zaman sekarang. But, well ... ada satu yang sedikit menarik perhatian Alessa, logo emas dengan alfabel B terukir besar dan indah di ruang keluarga.
“Uncel Gef mengatakan, ini dibuat atas permintaan dad,” ucap Noura yang sudah berdiri di belakang Alessa.
“Menarik sekali,” komentar Alessa memandang logo tersebut.
“Sejak kapan kau berada di mansion ini?” tanya Alessa seketika sadar, Noura tidak pernah menemuinya.
“Hei, aku juga tinggal di sini!” kekeh Noura.
“Lalu, tidak pernah menemuiku, hm?” Noura merotasikan matanya.
“Suamimu tidak mengizinkan,” ucap Noura jengkel.
“Peduli sekali dengan perizinan pria itu!”
“Lagipula kau juga dalam kondisi yang harus beristirahat,” ucap Noura seperti pembelaan untuk sang kakak di telinga Alessa.
“Bagaimana kondisi kehamilanmu?” tanya Noura tersenyum.
“Dokter mengatakan sudah membaik, hanya saja aku tidak diperbolehkan melakukan aktivitas yang berat.”
“Yes, agree! Sangat setuju sekali!” seru Noura.
“Kau berlebihan sekali, Noura!” Noura terkekeh pelan.
“Aku lupa, ada seseorang yang ingin menemuimu,” beritahu Noura.
“Siapa? Katryna?” tanyanya.
“Wah, aku berharap dia berkunjung kemari, tapi salahnya bukan dia.”
“Jeff?” Alessa ragu menyebutkannya.
“Bukan. Kau lihat sendiri saja,” balas Noura.
“Dimana dia?” tanya Alessa.
“Di depan. Aku akan menyuruhnya masuk,” ucap Noura seketika menghilang di balik pintu. Alessa mengerutkan dahinya bingung, Noura sangat bersemangat sekali kelihatannya.
Pintu terbuka, muncullah perawakan pria yang amat Alessa kenali. Sesaat Alessa terdiam, lama sekali dia tidak bertemu dengan pria ini, dua bulan? Tiga bulan?
“Alessa...” panggil seseorang tersebut.
“Mengapa kau di sini?” sengit Alessa.
“Aku ingin mengunjungi adikku.” Alessa berdecih malas, sebenarnya ia menutupi kerinduannya pada pria ini, dia adalah Lucas.
“Alessa, aku ingin membicarakan beberapa hal padamu.” Alessa tidak menanggapi.
Pikirannya sibuk mengingat kapan terakhir kali dia bertemu dengan pria ini? Ah, sudah lama sekali, yang pasti mereka bertemu di markas Hellbert di mana Alessa meminta Nick untuk menjadikan Lucas salah satu anggota di sana.
“Alessa,” tegur Lucas.
“Apa yang kau ingin bahas?” Sekeras apapun Alessa, dia masih punya rasa simpati pada saudara kandungnya.
“Tentang mama...” ucap Lucas lirih. Alessa menatap Lucas secepat kilat, setelah sekian purnama ada juga yang berani membahas tentang ibunya.
“Katakan.” Alessa menatap Lucas lekat.
“Aku menemukan kebenaran yang selama ini disembunyikan oleh Phei. Aku tahu semuanya, mama tiada bukan karena sakit, tetapi wanita biadab itu yang membunuh mama...” Alessa tertawa sinis.
“Baru menyadari dan menyesalinya sekarang, Brother?!” sarkas Alessa.
“Aku―” Lucas tidak tahu kosakata apa yang ingin ia katakan, bibirnya kelu.
“Tidak. Aku berpikir realistis, papa butuh seseorang yang menemaninya―”
“Seseorang yang kau maksud itu adalah pembunuh ibu kita, Lucas! Aku tidak lupa pernah mengatakannya padamu, tapi kau membantahnya, bukan? Apa kau katakan dulu? Phei tidak mungkin melakukan itu, dia menyayangi mama!” potong Alessa lepas kendali, suaranya nyaring terdengar.
Lucas menunduk, beberapa detik kemudian dia maju dan meraih Alessa ke dalam pelukannya. Tidak ada air mata yang jatuh dari kelopak mata Alessa, Lucas lah yang demikian. Alessa menghela nafas, ia mengelus pundak Lucas teratur, seolah memberi ketenangan.
“Maafkan aku, Alessa... seharusnya aku mempercayaimu,” lirih Lucas.
“Sudahlah, tidak ada gunanya membahas masa lalu. Terpenting sekarang kau tahu kenyataannya, aku senang kau tidak lagi terikat dengan wanita itu. Ini Lucas yang aku kenal, mandiri dan tidak bergantung pada siapapun,” ucap Alessa mengelus rambut Lucas yang sedikit lebih tinggi daripadanya.
“Aku menyayangimu, Alessa... kau satu-satunya yang aku punya,” lirih Lucas.
“Aku menyayangimu juga, Lucas...”
...***...
Makan malam ini diisi oleh Noura, Alessa, Nick dan Lucas. Nick sudah tertebak diam menikmati makanannya, wajahnya tidak bersahabat. Alessa juga diam, bedanya sesekali tertawa karena Noura yang terus menggoda Lucas. Ini yang mengakibatkan wajah Noura cerah bak matahari. Noura secara terang-terang menunjukkan ketertarikannya pada Lucas.
“Dia kakak iparmu, Noura. Bersikap semestinya,” tegur Nick jengah.
“Kau sangat tidak asyik, Nick. Jarang-jarang aku melihat pria tampan, Lucas contohnya!” Noura mengedipkan matanya menggoda. Sedangkan Lucas menghela nafas, ia tidak nyaman ditatap sedemikian menggoda, risih.
“Selesai,” ujar Nick, lalu beranjak dan menghilang di balik lift.
Ada yang menganggunya, batin Alessa. Pasalnya, sedari pulang bekerja, Nick tidak baik-baik saja. Pria itu marah, tetapi menahan di depan Alessa.
“Nikmati makan malamnya, aku akan menyusul Nick,” beritahu Alessa.
“Alessa!” tegur Lucas agar Alessa tidak meninggalkannya bersama Noura.
“Astaga, Lucas. Kau bukan anak kecil lagi,” balas Alessa. Kemudian Alessa segera mencari Nick.
Rupanya Nick berada di bar tengah meneguk sebotol sampanye. Alessa merebut paksa botol yang akan Nick teguk, lalu menyingkirkan minuman tersebut.
“Cerita, apabila kau memiliki masalah!”
Nick menggeleng, tangannya terulur meraih botol sampanye yang Alessa letakkan tak jauh dari sisi kanannya―Nick berada di sisi kirinya―yang otomatis tubuhnya mendekat pada Alessa.
“Nickholas, berhenti melampiaskan masalahmu pada minuman itu!” peringat Alessa.
Nick seolah menganggap kalimat Alessa angin lalu. Tidak semudah itu, Alessa menggeser botol tersebut hingga pecah mengenai lantai. Detik berikutnya, Alessa mendekat dan menyatukan bibir mereka. Nick tidak menghilangakn kesempatan itu, ia meraih Alessa agar duduk dipangkuannya dan menahan punggung Alessa. Mata keduanya terpejam menikmati sapuan panas yang terhantar lewat bibir mereka. Alessa mencoba menghapus kegelisahan yang Nick tunjukkan lewat ciuman mereka.
Menit demi menit terlewatkan, sampai Alessa lebih dulu melepas ciuman mereka. Tenaga Nick jelas sangat kuat untuk melanjutkan ciuman, tetapi tidak bagi Alessa. Dengan lembut, Alessa memberikan usapan lembut di pipi Nick, mata pria itu terpejam merasakan ketulusan sang istri lewat usapan lembut tersebut.
“Alessa, aku menginginkanmu...” lirih Nick dengan suara serak khasnya.
“Here?” Nick menggeleng tegas.
“Di kamar kita,” jawab Nick.
“Tapi, aku tidak memiliki mood yang baik untuk bercinta.” Nick menghela nafas, tahu betul Alessa masih menginginkan jawaban atas rasa panasarannya.
“Hanya masalah kantor.”
“Seorang Nick tidak mungkin uring-uringan hanya karena masalah kantor. Sekalipun kau jatuh miskin, harta bukanlah kesenanganmu!” seru Alessa tajam.
“Ceritakan,” pinta Alessa.
“Fernand.” Satu kata itu mewakili semuanya.
“Siapa yang kau maksud? Zyan?” Nick mengangguk sekali.
Apa yang ingin Alessa harapkan, Nick menceritakan semuanya? Tidak, Nick saat ini hanya diam menatap matanya lekat. Alessa sulit menjelaskan arti tatapan yang Nick berikan, netra itu terkesan dingin seakan menolak untuk Alessa gali.