The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 23. News Article



Nick menepati ucapannya, yaitu memberi bukti yang Alessa butuhkan. Tidak tanggung, Nick memberi rekaman cctv berisi transaksi Hill bersama seorang pria dalam membunuh Shayne beserta rekaman lainnya ketika Hill meminta jasa pembunuh bayaran dan juga tempat di mana barang bukti dimusnahkan.


Selama Nick menjelaskan, sedikitpun Alessa tidak memandang mata pria itu. Setelah semua dijelaskan, Alessa mengiyakan untuk tinggal selama sebulan. Ia tidak ingin berbasa-basi, mood-nya buruk.


“Ambil keperluanmu dan Gef akan mengantarmu ke mansionku,” ucap Nick tegas.


“Ya.”


“Mari, Nyonya.” Alessa mengangguk, ia berjalan keluar dari ruangan tersebut.


“Gef, aku harus menyerahkan bukti ini secepat mungkin. Tolong antarkan aku ke markasku,” pinta Alessa.


“Tu―”


“Jangan lanjutkan ucapanmu. Urusanku lebih penting daripada tuanmu!” potong Alessa tegas.


Sesampai di markas, Alessa segera memasuki ruang pribadinya. Kemudian, ia menghubungi William yang kebetulan menginap di markas.


“Kau hebat! Bagaimana bisa menemukan bukti konkrit ini? Selama ini kita mencari hasilnya nol,” takjub William.


“Tidak penting dibahas. Kumpulkan semua tim sekarang, bukti yang mereka dapatkan bisa memberatkan Hill dalam persidangan!” titah Alessa.


“Sekarang?” tanya William ragu.


“Tahun depan! Sekarang, Will! Aku tidak punya banyak waktu!” sembur Alessa kesal.


Dalam waktu dua puluh menit, anggota tim berkumpul. Tidak lengkap, tetapi cukup mewakili setiap tim intel.


“Sangat mudah sekali kau mendapatkan bukti ini? Aku penasaran, kau mendapatkan ini dengan cara meniduri salah satu orang kepercayaannya kah?” Suara Jelene membuyarkan keseriusan mereka.


“Iya, ada masalah? Jangan lupakan, karnaku kasus ini selesai dan kau dapat berleha-leha setelah ini!” sarkas Alessa.


“Kembali fokus!” intruksi Anthony seraya mengetuk meja.


...***...


Tiga hari tinggal di mansion ini, Alessa menjalani kesehariannya seperti biasa, pergi ke markas guna menyelesaikan kasus yang diminta kepolisian dibuka kembali. Pulang ke mansion ini juga tidak banyak Alessa lakukan, tidur dan makan.


Sebisa mungkin dia menghindar dari Nick. Namun, pria itu sejak kemarin mendatanginya dan mereka tidur di satu ranjang yang sama. Alessa terkesan cuek menanggapi Nick, sikap Alessa ini dirasakan Nick, wanitanya terkesan marah.


“Makan malam sudah siap, ayo.” Alessa berdiri dan keluar lebih dulu.


Di ruang makan, Alessa menyantap makanannya dalam diam. Tidak butuh lama bagi Alessa menyelesaikan makan malamnya, ia beranjak kembali ke kamar.


Alessa bimbang untuk melakukan satu hal, ia penasaran status Nick saat ini. Well... dia mengambil ponselnya dan mengetik di kolom pencarian ‘Nickholas Bateline dan pasangan’. Pencarian keluar, Alessa tidak menemukan satupun berita tentang Nick dan pasangannya. Lalu, siapa perempuan yang sering bersama Nick di setiap acara?


Alessa kembali menelusuri artikel tentang Nick, satu artikel berita acara kemarin menjelaskan kedekatan Nick dengan wanita itu, hubungan kasih yang terjalin lama dan Nick pernah mengakui Christa Bahadicn sebagai kekasihnya. Hanya satu artikel ini yang bisa Alessa temukan, itupun dengan highlight judul suksesnya acara kemarin. Sedangkan isinya memang sejalan, tetapi sedikit keluar dari jalur.


Entah kenapa Alessa iri, ia tidak pernah diakui Nick sebagai kekasih, bahkan istri. Walaupun keluarga Fernand tahu, tetapi Nick terkesan menyembunyikan status mereka.


“Oh, Tuhan... kenapa sesakit ini?” batin Alessa.


Pintu terbuka, Alessa beralih membalas pesan Joe dan rekan-rekannya. Alessa seketika menghentikan ketikannya ketika Nick memeluknya dari belakang, pria itu memberi kecupan kecil di lehernya. Sejenak Alessa memejamkan matanya, jantungnya terasa panas dan sakit. Lalu, ia berbalik dan itu melepaskan pelukan Nick di tubuhnya.


“Aku bukan wanita ******, Nick. Aku bukan pemuas nafsumu! Berhenti memperlakukanku selayaknya wanita malam, karena aku tidak ingin bercinta denganmu lagi!” Raut wajah Nick berubah total, datar dan matanya menggambarkan kemarahan.


Alessa berbalik menjauh, nafasnya tercekat dan sesak. Fakta itu mempengaruhi egonya, hatinya marah mengetahui Nick memiliki kekasih. Sadar, Alessa... kalian sama, kalian memiliki kekasih masing-masing, batinnya.


Belum sampai Alessa membuka pintu, Nick menariknya kuat ke arah ranjang. Alessa memberontak, kekuatan Nick lebih mendominasi mengalahkan pertahanannya. Nick memangut bibir Alessa kuat, tangannya menahan pergelangan Alessa dan membaringkan tubuh Alessa dengan paksa. Kakinya mengunci pergerakan Alessa agar tidak melawannya.


“Wanita malam katamu, hm?” bisik Nick, nafas mereka menerpa satu sama lain.


“Kutunjukkan padamu bagaimana seharusnya wanita malam diperlakukan!” sambung Nick dan sedetik kemudian ia menyedot bibir Alessa kuat.


“Hentikan!”


“Coba hentikan aku. Coba, Alessa. Kau sekalipun tidak pernah menolakku!” balas Nick.


Entah bagaimana caranya, Nick melepas celana jeans-nya dan kini mempertemukan kenikmatan mereka dengan kasar dan beruntun tanpa pemanasan. Alessa berteriak kesakitan, ini pertama kalinya Nick kasar. Alessa mencengkeram lengan Nick, detik itu pula Nick menghentikan ritme-nya.


Mata keduanya bertemu, tatapan Nick lembut, Alessa tenggelam. Sangat cepat Alessa menutup wajahnya, matanya panas. Sekuat tenaga ia menahan tangisan, Alessa lemah berhadapan dengan Nick. Alessa pernah berjanji, tidak akan pernah menangis di saat kakinya menginjak daerah kekekuasaan Nickholas.


“Kita sama-sama lemah, Baby...” bisik Nick.


“Keluarkan, menangislah... jangan ditahan...” sambung Nick berbisik lemah.


Saat itu pula tangis Alessa pecah. Nick membalikkan tubuhnya, jadilah Alessa di atas dengan penyatuan mereka. Nick mengelus helaian rambut Alessa, satu tangannya melingkari tubuh ramping sang wanita.


Sampai tangisan Alessa berhenti, keheningan menyelimuti keduanya. Alessa melenguh karena penyatuan mereka, antara ingin menghentikan atau melanjutkan. Nick seolah mengerti keberatan Alessa, ia berniat melepaskan penyatuan mereka.


“Lanjut,” ucap Alessa mengurungkan niat Nick.


“Kau yakin?”


“Please...” pinta Alessa, Nick tersenyum lembut.


“Bergeraklah,” ucap Nick.


...***...


“Good morning,” sapa Alessa menemukan Nick menyiapkan sarapan.


“Good morning.”


Alessa tersenyum sinis, Nick kembali pada kedatarannya. Menunggu sarapan, Alessa melihat ikan hias berdekatan dengan pantri. Suara piring beradu meja mengalihkan perhatiannya, Alessa mengambil omlet menggunakan tangan dan menyuapnya. Nick menatap Alessa seraya menggeleng.


“Mau apa?” sarkas Alessa.


“Makan,” jawab Nick santai mendorong kursi pantri dan duduk di samping Alessa.


“Oh.”


“Katryna menanyakanmu.”


“Sejak kapan kau akrab dengan sahabatku?” sarkas Alessa.


“Tidak dekat. Kemarin aku dari mansion mereka, dan dia menanyakanmu,” balas Nick.


“Kalian biasanya saling berbagi, tapi mengapa kau jarang mengunjunginya?” Alessa menggeleng.


“Kunjungi dia, kau tidak bisa menjauh hanya karena dia menyembunyikan keberadaanku. Aku memintanya untuk tutup mulut, nyatanya tidak, dia mengatakan akan memberitahumu. Dari sana aku berpikir, jika Katryna memberitahu, kau akan sangat marah padaku. Sedangkan aku menunjuk diri di hadapanmu saja kau semarah itu padaku,” jelas Nick panjang lebar.


“Kenapa rasanya kita sangat jauh? Kenapa begitu rumit? Kau terkadang menarikku, terkadang lagi mengulurku. Nick, aku bukan layangan yang bisa kau tarik-ulur.” Nick menghela nafas, ia ingin menjelaskan, tetapi beberapa keadaan belum terselesaikan.


“Kenapa kau memintaku tinggal bersamamu? Jawab aku!” tuntut Alessa.


“Karena aku merindukanmu. Aku tidak bisa jauh darimu! Tiga tahun aku lewatkan tanpamu, sungguh tidak senyaman sebelumnya kita bersama,” aku Nick.


“Oke. Kalau begitu, jelaskan kemana kau tiga tahun ini? Kenapa tidak memberitahuku kau masih hidup?” Alessa tertawa sinis, Nick diam.


“Itu artinya ucapanmu bohong, jika kau tidak bisa jauh dariku, kau tidak akan mengambil keputusan menyembunyikan diri dariku, Nick!” bantah Alessa.


“Tidak ada artinya aku bagimu, atau wanita itu sudah menggantikan posisiku di hatimu?” lontar Alessa kasar.


“No.” Nick terlihat agak kaget dengan ucapan Alessa.