
Alessa tiba di kantor markas, akan ada banyak misi yang harus Alessa selesikan. Benar saja, ketika membuka pintu ruangan khusus bersama tim-nya, mereka menyerbu Alessa habis-habisan. Alessa menampilkan ekspresi polos, bukan salahnya pergi tanpa kabar, Nick menculik dan mengurungnya. Detik ini Alessa dapat keluar setelah perdebatan panjang penuh kesengitan.
“Aku sudah di sini. Alangkah baiknya kalian menjelaskan semua misi yang harus kita kerjakan,” sahut Alessa tegas.
Greisy menatap Alessa kesal, lalu menghela nafas. Langkahnya berjalan mengambil dokumen-dokumen keperluan dan meletakkannya di atas meja bundar, semua anggota mengelilingi meja tersebut,
“Oke, baiklah... empat kasus baru, ditambah satu kasus yang belum tuntas tiga minggu lalu,” beritahu Greisy.
“Pembunuhan satu keluarga?” tanya Alessa memastikan.
“Benar,” jawab Greisy.
“Terakhir setelah kau berbicara dengan pihak keluarga, mereka mendapat pesan baru. Lewis sempat kesana guna melihat dan merekam bukti, tetapi bukti itu lenyap,” ucap Blue.
“Lenyap?” ulang Alessa, Blue mengangguk.
“Pesan baru ini berbentuk kertas atau via online?” tanya Alessa lagi.
“Kertas catatan.” Alessa mengangguk paham.
“Aku sempat dicegat beberapa orang yang tidak dikenal,” ucap Lewis.
“Mereka mengatakan sesuatu?” tanya Alessa, Lewis mengangguk.
“Menyuruh kita menghentikan menyelidikan ini,” ujar Lewis
“Ya, aku juga mendapatkan. Di hari yang sama, seseorang menabrakku dan aku menemukan kertas catatan ini,” tambah Greisy seraya menyodorkan catatan tersebut ke atas meja.
“William dan aku juga mendapatkan pesan yang sama,” sambung Blue.
“Melalui pesan teks?” Mereka mengangguk.
“Kau tidak mendapatkannya?” tanya Blue, Alessa menggeleng.
“Jika kita melanjutkan investigasi ini, biasanya Alessa yang mendapatkan ancaman lebih berat,” ucap Lewis.
“Ya, seperti sebelumnya,” tambah Greisy.
“Kasus berikutnya, please...” pinta Alessa.
“Kasus kedua dan ketiga ini sama, pembunuhan, sudah hampir selesai ditangani. Kasus keempat, penyeludupan senjata api, dan kelima ini adalah kasus yang diminta oleh Anthony agar kita menghentikan pengedar narkotika melalui jalur perbatasan laut tengah malam nanti,” jelas Greisy.
Setelah penjelasan Greisy selesai, Alessa menanyakan beberapa hal tentang kasus penyeledupan senjata api dan mengutarakan analisanya. Selanjutnya, mereka membuat strategi misi yang akan berlanjut malam ini.
“Kalian ikut mengeksekusi kasus malam ini, atau tetap tinggal membuat laporan hasil analisis siang ini untuk diserahkan pada Anthony?” tanya Alessa pada tim-nya.
“Ikut,” jawab Greisy dan Blue, sedangkan Lewis hanya mengangguk dan William menghela nafas.
“Misi kecil, pasti tidak seru,” komentar William. Greisy mendengus malas.
“Tapi, karena kalian semua ikut, mau tidak mau, aku juga ikut,” lanjutnya.
“Bilang saja kau malas mengerjakan laporan itu,” sengit Greisy.
“Kau sangat jelas tahu keinginanku, Sayang...” goda William disambut kekehan semua tim, kecuali Lewis.
...***...
Tepat pukul sebelas malam, Alessa beserta keempat temannya telah tiba di dermaga yang nantinya akan menjadi tempat pemberhentian terget kapal. Alessa duduk santai di bibir pantai, begitu juga dengan Lewis di sampingnya. Blue dan Greisy berada tak jauh dari dermaga, sedangkan William bersembunyi di salah satu kapal guna memberitahu apabila kapal terget sudah sampai. Mereka berpencar, agar meminimalisir kecurigaan antek-antek pengedar yang pasti tengah berpatroli mengamankan jalannya transaksi.
Ketika jam menunjukkan pukul 12.45, beberapa orang terlihat berlalu lalang, sedikit terlihat mencurigakan dimatanya. Sejenak Alessa mengernyit, ponsel di saku celananya bergetar. Dengan pelan, Alessa mengeluarkan ponselnya, tertera ‘NB’ di sana, Alessa sedikit ragu mengangkat telepon tersebut, tak lama panggilan berakhir. Di screen tersebut terdapat puluhan panggilan tak terjawab dari kontak yang sama. Kembali ponselnya bergetar, Alessa menjawab.
[“Ya.”]
^^^[“Berapa lama lagi kau di luar sana, huh?”] tanya Nick geram.^^^
[“Tidak tahu.”] Jelas sekali Alessa tidak tahu, apalagi posisinya sekarang sangat jauh dari New York.
^^^[“Kau punya waktu satu jam untuk menginjakkan kaki di mansion-ku, dimulai dari detik ini!”] peringat Nick.^^^
[“Yang benar saja. Aku sedang bekerja!”] balas Alessa kesal.
^^^[“Kau ingin membahayakan dia, huh? Bepikir, Alessa... bagaimana nantinya suasana di sana tidak kondusif? Itu akan mengancam anakku!”] Alessa kalah telak, dia berpikir demikian, tetapi Alessa tidak bisa mengabaikan tugasnya.^^^
“William sudah memberi aba-aba, ayo!” Lewis memberitahu tanpa bertanya dengan siapa Alessa bercakap.
Alessa ikut beranjak, di sana segerombolan orang turun menggunakan baju serba hitam. Lewis memberi kode pada Alessa, dan Alessa mengangguk pahak maksud tersebut. Alessa segera berbicara lewat earphone kepada polisi yang berpencar di sekitar dermaga.
‘Mereka bekerja sama dengan mafia, berhati-hatilah!' beritahunya.
“Kira-kira, mafia mana yang bekerja sama dengan pengedar ini?” tanya Lewis serius.
“Aku tidak tahu, tatto di tubuh mereka tampak tidak asing,” jawab Alessa.
“Ya, kau benar. Kau lihat pria berbaju berbeda di sana?” Alessa mengangguk memperhatikan pria yang dimaksud Lewis.
“Bukankah dia anggota klan mafia asia itu?” tanya Alessa memastikan.
“Ya. Sepertinya, mereka tidak hanya bekerja sama dengan satu mafia saja,” duga Lewis.
‘Target menyadari kehadiran kita.’ Suara William terdengar pelan melali earphone.
‘Kondisi tidak aman?’ Greisy menyahut.
‘Ya.’
‘Dengarkan aku baik-baik. Wil, kau bertahan di sana, aku dan Lewis akan menghalangi mereka. Greisy dan Blue, berjaga dari jauh bersama kepolisisan.’ Alessa memberi arahan.
‘Oke.’
“Ayo. Kita harus mencegah langsung pengedar tersebut,” ucap Alessa. Keduanya berjalan hingga berhenti di sebuh pohon kelapa menunggu sang terget lewat.
“Hai, maaf menganggu jalan kalian. Apa yang kalian bawa itu narkotika?” Lewis menatap Alessa kesal, apakah wanita ini sedang memberitahu bahwa mereka akan menangkap mereka?
“Tidak perlu memberi aba-aba pada anak buahmu! Serahkan semua barang bukti dan kalian akan bebas!” ucap Aless tegas.
“Kau kira kami bodoh?” sergah seorang pria berkepala botak.
“Kalian memang bodoh. Sudah tahu mengedar narkotika dilarang, masih saja mau mengedar!” sahut Alessa malas.
“Cukup!” ucap seorang cukup tampan, ia berdiri tepat di depan Alessa.
“Terus terang saja, kau butuh uang berapa?” Alessa tertawa mengejek.
“Uang dari hasil terlarang maksudmu?”
“Seukuran wanita sepertimu sangat berani melawanku. Apa kau bisa melawanku dalam urusan lain?” Ada makna terselebung di dalam kalimat itu, Alessa menyadari tatapan pria berubah akan gairah.
“Maaf saja, aku tidak tertarik berhubungan ranjang dengan pengedar sepertimu, tidak menarik!” cemooh Alessa.
“Keluarkan!” perintah pria itu pada, ucapan Alessa mengenai egonya.
Beberapa orang menodong pistol ke arah Alessa, sehingga membuat fokus Alessa terpecah, bayangan di masa lalu menyergab pikirannya. Fokus Alessa, kau sudah melewati hal berbahaya ini berkali-kali, batinnya.
“Kami di sini bukan untuk berdiskusi tentang hubungan ranjang. Jadi, serahkan barang bukti itu, semua akan selesai dengan baik!” Lewis angkat bicara.
Pria itu tersenyum sinis, matanya menatap Alessa penuh minat. Sedangkan Alessa, berusaha memfokuskan pemikirannya, menyembunyikan tangannya yang mulai gemetan. Sial, kenapa di saat begini, batin Alessa merutuki.
“Apa kau berminat ikut denganku, Sexy?” Alessa memutar bola matanya malas.
“Kemudian mengangkang di hadapanmu? Big no!” Alessa mulai bisa mengendalikan diri.
“Ah, kau sangat ahli kelihatannya. Aku suka mulut itu, seperti berada dimilikku,” komentar pria itu senang.
Alessa mulai maju, melupakan todongan pistol mengarah padanya. Alessa berhitung dengan lantang hingga tiga, kemudian segenap polisi datang mengepung tempat itu.
“See. Kau tidak dapat kabur, Sir...” ucap Alessa tersenyum manis.
“Wanita licik!” Alessa terkekeh.
“Sudah kukatakan baik-baik padamu, tetapi kau terus mengulur waktu agar anak buahmu membawa barang bukti itu diam-diam,” ucap Alessa telak.
Gerakan pria itu terbaca Alessa, dengan mudahnya Alessa memukul genggaman pistol di tangan pria itu hingga terpental jauh. Polisi bergerak cepat menangkap semua yang terlibat, tugas Alessa dan tim selesai, mereka mundur perlahan.