The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 32. Weakness



Tim dibagi menjadi dua, satu menunggu di pertengahan dan yang lainnya turun langsung ke lapangan. Alessa tentu berapa di tim kedua, dan kini dirinya terus diikuti oleh Uxel. Ia tidak bisa membantah di dalam situasi genting seperti ini, maka dia membiarkan bawahan Nick ini mengekorinya bagaikan anak ayam yang kehilangan induknya.


“Dimana, B?” tanya salah satu CIA.


Alessa menghela nafas, entah ini jebakan lagi atau bawahan Nick ini yang sengaja membodohinya.


“Titiknya di sini,” jawab Alessa datar.


“Yang benar saja! Kau sengaja ingin membodohi kami, ya?!” sahut seseorang.


“Kalian tunggu di sini. Aku yang akan mencarinya,” ucap Alessa jengah, telinganya sedari tadi mendengar kalimat-kalimat yang tidak mengenakan dari pihak CIA.


“Aku ikut!” ucap Lewis datar.


Alessa segera keluar dari rumah kecil itu, sejenak ia menganalisa tempat ini. Di ujung sana ada sebuah jalan setapak memasuki hutan. Sebelumnya, Nick membawa―lebih tepatnya menculik―Alessa dan mereka menempati rumah minimalis di bagian utara, sangat jauh dari posisi Alessa berdiri sekarang. Jadi, jalan setapak ini kemungkinan adalah tujuan yang dicari oleh mereka.


“Nyonya, saya kira akan berbahaya bila kita meneruskan perjalanan ini,” ucap Uxel yang seperti dapat membaca pikirannya.


“Diam! Kau tidak mengatakannya secara jelas, membuat pekerjaan ini terus tertunda!” balas Alessa malas.


“Maafkan saya, Nyonya. Tuan menginginkan Anda mundur dari misi ini. Biar saya yang menggantikan Anda,” ucap Uxel sopan.


“Dia tidak akan mendengarkan pemintaan tuan-mu,” sahut Lewis membuka suara seraya menganalisa setiap apa yang netranya dapatkan, dia jelas paham bagaimana keras kepalanya seorang Alessa


“Kau terlalu nekat,” komentar Lewis datar.


Ini yang Alessa sukai dari Lewis, dia tidak akan banyak bertanya dan bersikap datar dengan semua yang ia dengar. Lewis sangat bisa diandalkan dalam kerahasian, dia tidak akan membuka mulut.


“Diamlah, pikirkan apa yang akan kita lakukan sekarang!” sergah Alessa.


“Hanya satu, memancing mereka untuk tawar-menawar di sini.” Alessa tampak berpikir, dia setuju dengan usulan Lewis.


“Kau! Jawab pertanyaanku dengan benar dan tepat,” todong Alessa pada Uxel.


“Apa markas mereka di daerah yang kita pijak ini?” tanya Alessa menyipitkan matanya tajam.


“Jawab! Kau membuang waktuku!” geram Alessa.


“Ya, Nyonya... di sebalah selatan daerah ini.”


Alessa masih menyipitkan matanya, pria ini seperti ketakutan memberitahunya. Setelah Alessa melihat sebuah earphone di telinga pria itu, dia tahu bahwa Nick berkomunikasi lewat earphone tersebut.


“Katakan pada dia, aku akan baik-baik saja,” ucap Alessa, lalu berbalik memasuki rumah tersebut.


“Kita harus mencari cara memancing mereka,” ucap Alessa pada Lewis yang berada di sampingnya.


“Bom.” Alessa mengangguk setuju.


“Bagaimana, B?” Greisy pertama kali bertanya.


“Mereka ada di lokasi ini sekarang, tetapi kita tidak bisa menuju markas mereka dengan berjalan kaki. Dari sini ke lokasi markas mereka sangat jauh,” jelas Alessa.


“Menurutku, lebih berbahaya juga. Markas mafia tidak main-main, sedangkan anggota tidak sampai setengah dari anggota mereka pastinya,” sahut seseorang. Semua anggota mengangguk setuju dengan kalimat tersebut.


“Opsi yang terbaik dan satu-satunya adalah memancing mereka,” ucap Alessa.


“Caranya?” tanya Vyiar.


“Bom?” Bukan Alessa atau Lewis yang menjawab, tetapi William. Pria satu ini memang paling cepat tanggap dalam resiko besar.


“Terlalu beresiko,” komentar yang lainnya tidak setuju.


“Aku setuju. Tidak ada cara lain, apalagi yang harus kita lakukan untuk memancing mereka?” Vyiar selaku ketua CIA setuju dengan ucapan William.


“B, bisa bantu aku untuk memasang bom tersebut?” tanya Vyiar, Alessa mengangguk.


Sepuluh menit kemudian bom telah terpasang, Vyiar tegah memegang alat yang menjadi penyambung bom tersebut, sekali ditekan bom tersebut akan meledak.


...***...


Bunyi ledakan kencang terdengar lima menit yang lalu. Alessa dan tim menunggu pasukan mereka dengan was-was. Menit berikutnya terdengar langkah kaki berlarian, Greisy yang mengintip dari balik jendela memberi isyarat. Vyiar membuka pintu dan Alessa mengikuti langkah pria itu. Seorang pria berbadan kekar berbalik, lalu berteriak memberitahu teman-temannya bahwa penyusup masuk.


“Kami bukan penyusup,” beritahu Alessa to the point.


“Apa maksud dan tujuan kalian?” tanya mereka.


“Anak itu.” Vyiar menjawab.


“Jangan ikut campur urusan tuan kami. Anak itu jaminan yang digunakan menteri kalian,” sahut mereka keras. Satu kebenaran yang cukup mengejutkan!


“Nyonya, ini akan menjadi perkara yang berbahaya,” bisik Uxel pada Alessa.


Tanpa diberitahu pun, Alessa sudah dapat menebak jalan cerita misi ini.


“Pertemukan kami dengan dom kalian,” pinta Vyiar.


Salah satu dari mereka tertawa kencang seolah meremehkan.


“Keluarkan semua pasukan mereka, sekarang!” teriak berbadan kekar itu.


Pasukan mereka berlomba-lomba masuk guna mengeluarkan tim yang Alessa dan Vyiar bawa.


“Aku seperti mengenalmu. Dimana kita pernah bertemu?”


Alessa mengerutkan dahinya. Jangan bilang dia adalah orang kepercayaan yang pernah datang ke acara yang diadakan Allard, batin Alessa.


“Oh, ya? Dimana? Di neraka?” jawab Alessa santai, pria itu tertawa dengan pongahnya.


“Perlu kuberitahu di sini?” Alessa memiringkan kepalanya sedikit, bermaksud menantang.


“Tidak usah bertele, pertemukan kami dengan pemimpinmu,” ucap Vyiar tenang.


“Langkahi kami terlebih dahulu, baru kau bisa bertemu dengan tuan kami,” ucap pria itu tersenyum remeh.


Belum disetujui oleh Alessa atau Vyiar, pasukan mereka lebih dulu menembak tiga orang tim CIA. Alessa geram, sangat licik sekali! Secepat kilat Alessa maju menendang satu pria hingga pistol di tangannya terlempar jauh.


“Jangan bermain licik, Bangsat!” teriak Alessa. Mereka tertawa keras mendengar penuturan Alessa.


“Dalam dunia kami, bermain licik adalah salah satu keharusan. Kau pasti paham itu, Nona...” balas pria itu tersenyum yang Alessa pahami artinya.


Alessa memberi isyarat agar berlindung diri, termasuk Alessa sendiri yang kini mengeluarkan senjata kesayangannya. Semua tim tidak berkutik, di setiap sudut dikepung oleh penembak jitu. Alessa memejamkan matanya, panik melandanya saat ini. Mereka tidak bisa menembak, terbukti ketika Greisy menembak salah satu mereka, satu tembakan bersarang di pundaknya, artinya dari arah belakang sudah ada yang mematai pergerakan mereka.


“Nyonya, tenangkan diri Anda,” pinta Uxel mulai khawatir.


“Menciut seketika,” remeh mereka.


“Sedang mencari celah, Nyonya Cantik?” Alessa menatap pria yang bertanya dengan nada meremehkan.


Lewis maju bermaksud melindungi Alessa, tetapi detik itu pula tembakan mengenai punggungnya. Alessa menoleh, ia melotot tak terima.


“Fine, kami mundur. Beri kami jalan, kami tidak akan melangkah maju!” tegas Alessa. Dia tidak punya pilihan selain mundur.


“Terlambat.”


“Kami belum mendapatkan apa-apa, biarkan kami pergi,” ucap Vyiar.


Keadaan semakin chaos, Alessa tidak dapat fokus dengan penglihatannya. Tiba-tiba, satu tembakan mengenai Alessa, Uxel di belakangnya menahan tubuh Alessa agar tidak terjatuh. Tim mereka menyerah, semua berpikir bahwa ini adalah akhir dari kehidupan mereka.


“Nyonya, apa Anda dapat mendengar saya?” bisik Uxel.


“Ya...”


“Bagaimana? Kalian semua bodoh masuk ke dalam masalah menteri tersayang itu! Kalian tidak tahu apa kesalahan yang dia buat!”


“Kau licik, Sialan!” maki Alessa pelan.


“Wanita ini masih sempat memaki. Ajalmu sebentar lagi, Nona Cantik...” geram pria itu beserta takjub akan keberanian Alessa.


“Sepertinya, di antara semua temanmu, kau yang paling lemah sekarang,” komentarnya lagi.


Sialan bajingan ini, maki Alessa dalam hati.


Dia tidak dapat bergerak sebagaimana biasanya, perutnya mulai merasakan sakit. Kepalanya juga mulai berdenyut diikuti rasa mual.