
“Bolehkah kau menjadi milikku seorang? Tinggalkan pria itu, Alessa. Aku berjanji akan membahagiakanmu,” pinta Patra disertai janji.
“Patra... lupakan perasaan yang membuatmu semakin tenggelam, cinta itu tidak memaksa. Ingatkah kau dengan mantan kekasihmu dulu, itu arti mencintai sesungguhnya, kau tersenyum ikhlas menyaksikan mantanmu bahagia dengan orang lain,” balas Alessa pelan.
“Kau tidak bahagia dengan pria itu! Kau menjadi kedua!” bantah Patra lagi.
“Hatiku tidak siapapun yang tahu! Bahagia atau tidaknya aku, itu pilihanku. Kau pun demikian, Patra... kau tidak tahu apa yang sudah aku jalani dengan suamiku. Ketika kau mengucapkan ingin serius, aku sudah menikah dengan Nick,” aku Alessa.
Patra menatap datar Alessa, dia berjalan mendekat. Posisi mereka hanya berjarak dua meter, Alessa tersenyum percaya diri saat Patra mengarahkan pistol ke dadanya. Bahkan, Alessa melangkah hingga moncong pistol bersentuhan dengan dadanya.
“Nyonya!” panggil Uxel panik, dia terlambat menarik Alessa menjauh.
“Alessa selalu sangat berani menghadapi kematian,” komentar Patra datar.
“Ya. Setelah kau menarik pelatuk itu, tentu kau juga akan mati, Patra...” ingat Alessa. Beberapa anak buah Patra siap di posisi mereka, kapan saja bisa menembak Patra.
“Kau tidak takut, aku tahu itu!” potong Alessa sebelum Patra menyahut ucapannya.
“Seorang Patra yang aku kenal, tidak akan pernah mengkhianati temannya. Karena cinta butamu, kau mengkhianati seluruh teman yang mempercayaimu guna membalasku agar aku tunduk padamu. Itu namanya obsesi, Patra...” ujar Alessa lagi.
“Prediksi Nick tidak pernah salah tentangmu, aku saja yang tutup mata. Yang aku tahu, kau menyukaiku, tapi aku membantah pendapat Nick bahwa kau terobsesi denganku,” tambahnya.
“Pengalamanmu dengan mantan kekasihmu menjadi peganganku, kau tidak terobsesi padaku. Sekarang kau membuktikan ucapan Nick, Patra...” lanjutnya.
“Maaf aku tidak bisa membalas perasaanmu. Alasanku selalu abai, sebab aku tidak ingin menyakiti perasaanmu. Bagaimana pun, kau teman terdekatku yang membantuku hingga menapaki jalanku sekarang, ” tutup Alessa.
Patra menatap Alessa intens, dia merindukan wanita dihadapannya ini. Sudah lama sekali dia tidak melihat wanita ini, biasanya dulu mereka selalu bersama melakukan pekerjaan. Patra lebih senior dulunya, maka dari itu Patra dengan senang hati membantu wanita di depannya ini.
Tanpa menjawab apapun, Patra berbalik dan menaiki mobil, kemudian mengemudi kencang meninggalkan Alessa beserta orang-orang Nick di sana. Sedangkan Alessa menghela nafas lega, tangannya tanpa sadar terletak di atas perutnya.
...***...
Uxel membawa Alessa ke villa puncak, setelah memasuki kamar yang tersedia di sana, Alessa segera membersihkan tubuhnya. Sepasang pakaian baru terdapat di ranjang, mungkin Uxel yang membelikannya. Alessa memutuskan untuk keluar, ternyata Uxel tengah berbincang bersama Nick. Oh, rupanya pria itu telah sampai di sini!
Mengurungkan niatnya, lantas Alessa berbalik kembali memasuki villa. Alessa mencari tempat yang sekiranya terbuka, taman belakang misalnya. Bermenit-menit mencari jalan keluar yang pada dasarnya tidak ada, Alessa merutuki si pemilik villa ini. Yang benar saja, villa sebesar ini tidak memiliki pintu belakang!
Lelah akan pencariannya, Alessa berjalan ke dapur, bermaksud mengambil minuman. Namun, dia mendapati Nick tengah memasak di sana. Dia malas sekali bertemu dengan Nick, kesal bukan main seluruh kegiatannya diatur oleh pria itu.
“Duduk, makan!” titah Nick.
Alessa mendengus kesal, mau tidak mau dia duduk di kursi pantri seraya Nick menghidangkan sepiring steak, salad, beserta air putih di hadapannya. Alessa menyantap makanannya dalam diam, sedangkan Nick berpindah duduk di samping Alessa. Sedikitpun Alessa tidak penasaran, mengapa pria ini tidak makan. Biarkan saja, dia malas mengeluarkan suara. Nick pun tidak membuka pembicaraan, ia memilih menunggu Alessa menyelesaikan makan malamnya.
Kerutan di dahi Alessa membuat Nick ikut-ikutan mengerutkan dahinya. Alessa sendiri merasa perutnya berputar hingga naik ke tenggorakan yang menimbulkan mual. Dengan cepat ia berlari ke arah wastafel dan memuntahkan makanan yang masih tersisa di dalam mulutnya.
Hanya cairan bening saja yang keluar setelahnya, tetapi kepala Alessa pusing luar biasa. Sejenak Alessa tersentak kaget ketika Nick memijat tengkuknya, sesaat dia melupakan keberadaan Nick. Alessa berbalik menghadap Nick, dengan erat dia mengenggam lengan Nick guna menahan tubuhnya yang lemas. Nick memeluk pinggang sang istri menggunakan tangannya yang bebas. Kini, Alessa menumpukan kepalanya pada dada Nick.
“Lepas, Nick...” lirih Alessa, kepalanya pusing, saat ini dia tidak mampu berdebat.
Nick menghela nafas dan memposisikan tangannya untuk menggendong sang istri. Alessa berdecak kesal, meminta Nick menurunkannya. Tetapi, Nick menganggap permintaan Alessa angin lalu. Sesampai di sofa ruang tamu, Nick menurunkan Alessa.
“Minum!” titahnya menyodorkan segelas air putih, Alessa menggeleng.
“Alessa!” peringat Nick. Alessa menghela nafas, tangannya terulur mengambil gelas tersebut dan meneguknya sedikit.
“Terbukti teman yang kau anggap sahabat itu hampir membunuhmu,” sarkas Nick yang tiba-tiba membuka pembicaraan tanpa pembukaan. Alessa memutar bola matanya malas, reaksinya semakin membuat Nick geram.
“Bisa kau lebih peduli pada kandunganmu? Kau membahayakan bayi kita, Alessa!” geram Nick.
“Kau tidak tahu apapun, Nickholas! Dalam kondisi terjepit sekalipun, aku akan mendahulukan kandunganku. Aku melindunginya!” balas Alessa tidak terima, seketika pusingnya lenyap entah kemana.
“Melindungi, huh? Kau memancing dia agar menembakmu! Itu namanya kau melindungi bayiku? Tidak, Alessa!” tampik Nick.
“Dia menembak atau tidak? Tidak, Nickholas! Jika aku takut, itu semakin membuat dia senang!” balas Alessa.
“Jangan meragukan seorang ibu, Nickholas! Ibu manapun akan melindungi anaknya sekuat dia bisa, sekalipun itu melenyapkan nyawa sang ibu!” sambung Alessa.
“Masalahnya, dia masih berada dikandunganmu! Bisa saja kau dan bayi itu mati! Tidakah kau berpikir sejauh itu?” resah Nick, Alessa tertawa sinis.
“Aku memikirkan peluang yang bisa aku dapatkan dari apa yang aku lakukan, dia tidak akan bisa membunuhku!” tekan Alessa.
“Pemikiranmu terlalu kecil, Alessa. Seseorang yang terobsesi padamu bisa melakukan sesuatu yang menurutnya menguntungkan. Lihat pada Katryna, bagaimana akhirnya pria itu ingin memiliki sahabatmu, yaitu dengan cara membunuh. Pria—yang katamu sahabat—belum pada tahap itu, karena dia masih memiliki harapan besar padamu. Mengertilah, Alessa...” desah Nick merendahkan nada bicaranya.
“Aku tidak suka melarangmu ini-itu, keadaan sekarang tidak menguntungkan kita. Turuti perkataanku, setelah kau melahirkan dan keadaan membaik, kau bisa melakukan kegiatanmu kembali. Di luar sana banyak orang yang ingin mencelakaimu, dan aku hanya bisa berada di sampingmu saat aku senggang,” ucap Nick mmeberi pengertian.
“Waktumu lebih banyak kau habiskan bersama wanita itu,” sergah Alessa setengah sadar. Nickholas tersenyum tipis, kecemburuan itu jelas tersorot dari mata sang istri.
“Lebih banyak bersamamu. Aku tidak lagi berjumpa dengannya kecuali urusan penting terkait perceraian,” jawab Nick jujur.
“Kau melarangku keluar, aku bosan di mansion itu! Kau juga menutup semua aksesku bekerja!” protes Alessa.
“Kukatakan, kau bisa melakukan kegiatanmu setelah melahirkan dan keadaan membaik.”
“Oh, ya? Kau melarang Savas untuk mengundangku ke acaranya, bahkan kau juga meminta pada Anthony untuk memberhentikanku! Kutebak, kau pasti meminta pada Allard untuk menangguhkan semua pekerjaan kepada orang lain!” kejar Alessa.
“Apapun tidak bisa aku lakukan! Kau melarangku ini-itu!” tambahnya kesal.
“Kau bisa bekerja dari rumah, Alessa. Jangan berlebihan! Kau suka bekerja secara langsung, aku tahu itu, tapi di luaran sana bahaya untukmu. Kedatangamu ke acara resmi akan mengundang perhatian orang-orang, beritamu belum tertutup seratus persen,” sanggah Nick.
“Masalah Allard dan Anthony, ya aku yang memintanya dan mereka sendiri tahu kondisimu yang tengah hamil, jadi itu juga menjadi pertimbangan bagi mereka. Kau tahu bagaimana Allard, dia tidak akan mendengarkan orang lain kecuali alasan yang masuk akal baginya,” jelas Nick memberi pengertian pada sang istri. Nick paham Alessa mencintai pekerjaannya, akan tetapi pekerjaan Alessa sangat berbahaya bagi calon bayinya.