The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 57. Final Trial



Keputusan akhir telah ditetapkan oleh hakim, Phei dijatuhkan hukuman penjara seumur hidup tanpa pembebasan bersyarat dengan pelanggaran pembunuhan berencana sebanyak enam orang. Ditambah denda sebesar ratusan miliar dollar karena pelanggaran hukum perdagangan manusia. Alessa kurang puas atas hukuman Phei, akan tetapi dia juga tidak bisa menyalahkan aturan hukum yang berlaku.


Kasus perdagangan manusia diusut tuntas oleh penyelidik, bukti-bukti yang diberikan pengacara Nick juga sangat membantu bagi korban. Sedangkan prostitusi bersangkutan sudah diberantas habis, pihak bersangkutan mendapat hukuman setimpal. Untuk denda miliaran dollar tersebut, sebagian akan diulurkan kepada korban-korban perdagangan.


Kemudian, kasus percaraian Phei dan Emrick terselesaikan dengan baik. Empat minggu lebih semua kasus tuntas tanpa hambatan yang berat. Saksi dari pihak Phei tidak mau ikut campur, malah mereka mengaku tidak mengenal Phei sama sekali. Anak-anak Phei hadir di dalam persidangan menangis melihat sang ibu dipenjara seumur hidup.


“Bedebah kau, Alessa! Kau dan keluargamu pembawa sial!” teriak Phei yang ditarik paksa oleh petugas.


“Mati saja kau! Kau tidak pantas hidup! Kau pantas ikut bersama ibumu yang ****** itu!” geram Phei tak terkontrol.


“Sejalangnya aku, lebih ****** kau! Kau merebut orang terkasih ibuku! Kau melakukan hubungan *** dengan semua pria karena hartanya! Dirimu yang hina itu, pantas mendekam dipenjara sampai ajal menjemputmu!” balas Alessa. Phei semakin mengamuk, petugas menyeret paksa wanita itu.


Persidangan Lucas berikutnya dilaksanakan satu jam berikutnya. Atas pengakuan Lucas sebagai saksi kunci, dia harus menjalani persidangan sebagaimana aturannya. Persidangan ini dapat dilaksanakan cepat di hari ini juga, karena Nick meminta bantuan agar sidang segera ditetapkan dan tidak memakan waktu banyak.


“Apa keputusan akhir untuk Lucas, Nick?” tanya Noura ingin tahu seraya menatap Lucas penuh kagum.


“Paling lama, penjara dua tahun.”


“Kau tidak bisa membebaskannya? Dimana powermu itu?” Suara Noura agak sarkas terdengar, Nick melirik tajam sang adik.


“Hakim yang memutuskan perkara, Noura. Pengajuan banding yang kita ajukan hanya bisa memenjarakan Lucas dua tahun lamanya,” jelas Nick.


Persidangan dimulai, Lucas tampak menunduk di depan sana. Sedangkan Alessa gelisah tak karuan, benar-benar takut apabila sang kakak dipenjara. Namun, pada persidangan akhir, di mana hakim akan mengesahkan hukuman, seseorang hadir memasuki ruangan memberi saksi.


“Siapa wanita itu?” tanya Alessa, Nick menggeleng.


“Dia tampak asing,” jawab Nick.


“Maaf, Mulia... kami ingin memberikan saksi terkait pembunuhan yang melibatkan Tuan Lucas,” terang seseorang wanita itu.


Hakim tampak berpikir dan mengiyakannya, tetapi pihak Phei protes.


“Biarkan mereka memberi saksi,” ujar hakim tegas.


“Silakan,” ucap hakim mempersilakan.


“Kita semua tahu, Tuan Lucas terpaksa membunuh atas suruhan Nyonya Phei. Tuan Lucas memang bersalah, tetapi, Yang Mulia... mohon maaf... Tuan Lucas tidak memiliki kemampuan untuk menolaknya, Nyonya Phei memaksa keras Tuan Lucas,” ucap wanita itu lemah.


“Saya saksinya, Yang Mulia... setiap kali diperintahkan membunuh, Tuan Lucas selalu menolak mati-matian. Nyonya Phei mengancam, bahkan melakukan kekerasan fisik pada Tuan Lucas sendiri,” jelas wanita tersebut.


“Ancaman seperti apa yang dilayangkan oleh Saudara Phei?” tanya hakim.


“Ancaman menyakiti putri-putrinya, Yang Mulia...” jawab wanita itu.


“Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri, Nyonya Phei merealisasikan ancamannya menyakiti Nona Lucian dan Nona Anela dikarenakan Tuan Lucas menolak perintah untuk membunuh Nyonya Luxi,” sambung wanita itu.


“Anda ini siapanya mereka?” tanya hakim.


“Saya sempat bekerja dulunya dengan Nyonya Phei, dan kembali ikut bekerja setelah Nyonya Phei menikah dengan Tuan Emrick, Yang Mulia...” jawab wanita itu.


“Kesaksian Anda ini dapat Anda pertanggung-jawabkan?” tanya hakim tegas.


“Saya bersedia dihukum apabila memberi kesaksian bohong, Yang Mulia. Anda bisa bertanya langsung pada putri-putri Nyonya Phei yang menyaksikan persidangan ini, Yang Mulia.” Hakim mengangguk.


Setelah wanita itu memaparkan kesaksiannya, giliran Lucian dan Anela yang diminta memberikan pernyataan. Anela keberatan, sedangkan Lucian berjalan menghadap hakim. Anela akhirnya ikut maju setelah petugas menegurnya. Beberapa pertanyaan diajukan kepada keduanya.


“Tidak!” “Iya!” jawab keduanya bersamaan, hakim menatap keduanya tajam penuh ketegasan.


“Nona Anela, silakan jelaskan pertanyaan saya!” titah hakim.


“Mama tidak pernah mengancam untuk menyakiti putri-putrinya seperti yang wanita itu katakan,” bantah Anela cepat, Lucian menatap sang adik protes.


“Baik. Nona Lucian?” Lucian melirik sekilas Lucas.


“Apa yang disampaikan ibu itu, benar. Mama melakukannya, dia hampir membunuh kami karena Lucas tidak mengiyakan perintah mama,” jawab Lucian menahan air mata.


“Ucapan kalian tidak sejalan. Siapa yang bisa dipercaya di sini?” selidik sang hakim. Anela menunduk takut, Lucian menatap sang hakim berani.


“Dua hari yang lalu, kami menemui mama. Di sana mama meminta kami untuk tidak berkata jujur, beliau juga mengancam kami agar tidak membuka kebenaran saat itu,” ucap Lucian.


“Nona Anela? Apa anda ingin menyampaikan sesuatu?” tanya hakim menatap Anela tajam.


“Aku berbohong, mama melakukan kekerasaan itu,” lirih Anela berkaca-kaca. Hakim mengangguk mengerti.


“Lucas tidak bersalah, Yang Mulia. Bebaskan dia, saya mohon...” ucap Lucian. Para Hakim menelaah kembali dan mengambil keputusan.


“Dari keputusan ini, tersangka pembunuhan atas nama Lucas Beata dinyatakan tidak bersalah!” ujar sang hakim dan mengetuk palu sebanyak tiga kali sebagai pengesahan keputusan.


Seruan dari pihak Alessa terdengar gemuruh. Alessa memeluk Nick hingga menangis haru. Tak banyak penunjung sidang yang hadir, sebab sidang dilakukan secara tertutup. Alessa berjalan cepat ke arah Lucas, lalu memeluk sang kakak penuh kelegaan.


“Akhirnya... kau tidak bersalah,” ucap Alessa. Lucas tersenyum seraya mengeratkan pelukan, matanya melirik sekilas pada Lucian.


“Meski demikian, aku tetap merasa bersalah pada mereka,” aku Lucas.


“It’s okey, Lucas. Tebuslah dengan membantu keluarga korban itu,” saran Alessa memberi senyuman menenangkan.


“Terima kasih, Alessa. Jangan terlalu banyak berpikir, ingat kandunganmu,” pinta Lucas.


“Aku bukan anak kecil yang selalu kau peringatkan, Lucas!” protes Alessa, Lucas terkekeh.


Emrick menyaksikan hal tersebut, tersenyum senang. Sudah lama sekali dia tidak melihat langsung interaksi kedua anak-anaknya yang menjadi hiburan menyenangkan. Diam-diam, mata Emrick berkaca-kaca, merindukan momen ini bersama almarhun istrinya.


“Kau tidak ingin memeluk, Pa?” gurau Lucas menyadari perubahan hati sang papa.


“Come on, Boy...” balas Emrick merentangkan tangannya.


“Aku juga ingin dipeluk,” sahut Alessa terdengar manja. Nick menyipit tajam, suara manja Alessa ini membangkitkan gairahnya.


“Lucas, apa kau tidak berniat menemui Lucian?” tanya Alessa, sedari tadi memperhatikan Lucian yang seperti ingin berbicara dengan Lucas.


“Untuk apa?” Alessa memutar bola matanya malas.


“Mengucap terima kasih, mungkin,” jawab Alessa asal.


“Tidak perlu.” Alessa menatap Lucas lekat, jelas pria ini berbohong, dia ingin menemui Lucian.


“Lucas, jangan membohongi dirimu sendiri. Katakanlah kau membalas dendammu, tapi hatimu tahu bagaimana perasaanmu sesungguhnya,” timpal Alessa.


“Kau masih berhubungan dengan Lucian?” Tiba-tiba Emrick bertanya.


“Tidak lagi.”


“Itu bagus. Tolong, hentikan hubungan terlarang kalian. Meskipun aku dan Phei telah bercerai, mereka tetap kuanggap putriku. Aneh rasanya mengetahui kalian menjalin hubungan yang tidak biasa,” tanggap Emrick.


“Kau tau soal itu, Pa?” tanya Alessa. Emrick menjatuhkan pandangannya pada Lucas lekat, lalu mengangguk.


“Aku gagal berperan sebagai seorang ayah,” tutur Emrick.


Bagaimanapun itu, Emrick kecewa akan kelakuan Lucas. Hubungan tersebut terjalin tidak wajar di mata manusia. Emrick sebenarnya sudah curiga akan kedekatan Lucas dan Lucian, tetapi terbantahkan oleh sikap Lucas yang semakin memusuhi Lucian. Nyatanya, Emrick terlambat menyadari fakta sesungguhnya, bahwa keduanya berhubungan jauh beberapa tahun yang lalu.