
“Terima kasih untuk malam ini, aku akan pulang lebih dulu,” pamit Alessa.
“Kau tidak ingin merayakan keberhasilan misi kita ini?” tanya Greisy, Alessa menggeleng.
“Ayolah, Alessa. Sudah lama sekali kita tidak berpesta setelah misi selesai,” bujuk Blue.
“Kalian saja, aku lelah sekali,” tolak Alessa halus, mood-nya benar-benar buruk.
“Baiklah. Berhati-hati, jika ada sesuatu hubungi kami,” pesan Lewis. Alessa mengangguk, kemudian berjalan keluar dari dermaga.
Alessa melangkah perlahan seraya menunduk, ketika matanya memandang ke depan, dia menemukan Gef berdiri tak jauh di sana. Alessa menghela nafas, seribu persen dia yakin bahwa Nick juga berada di sini.
“Silakan, Mrs...” persila Gef membuka pintu mobil.
“Apa transaki pengedar narkoba ini ada hubungannya dengan Nick?” tanya Alessa tanpa basa-basi.
“Tidak, Nyonya. Tuan Nick baru saja sampai tujuh menit yang lalu,” jawab Gef.
Alessa kemudian memasuki mobil, tatapannya bertemu langsung dengan Nick. Segera Alessa memutuskan kontak mata tersebut, suasana hatinya sangat buruk.
“Bersenang-senang, huhh?” Terdengar nada sarkas di dalamnya.
“Jangan berkomentar apapun!” bentak Alessa.
Nick sadar mood Alessa memburuk, ia memilih diam membiarkan Alessa menenangkan diri. Sekuat tenaga Alessa mengembalikan ketenangannya, akan tetapi Nick mendominasi pikirannya. Bayangan di masa lalu kembali datang, di mana todongan senjata, suara pistol, tatapan Nick sebelum memejamkan mata, dan terakhir ... genangan darah Nick sebab tembakan itu.
“Aku tidak mau semobil denganmu, aku ingin bersama pengawalmu di mobil belakang,” pinta Alessa pelan.
“Tidak.”
“Kau atau aku yang di mobil belakang, terserah! Aku hanya tidak mau semobil denganmu!” ucap Alessa terdengar tidak ingin dibantah.
“Gef.” Seketika mobil berhenti, Nick segera turun. Alessa baru dapat bernafas lega.
Mobil yang dikendarai Gef kembali bergerak, Alessa merilekskan tubuhnya pada sandaran kursi. Rasanya Alessa membutuhkan air memasuki rongga tenggorakannya.
“Gef, ini air milik siapa?” tanya Alessa melihat sebuah botol mineral di jok belakang kursi kemudi.
“Tuan Nick, Mrs.”
Alessa mengambil dan meminum setengah dari botol tersebut. Bukannya tenang, tangan Alessa mulai tidak terkendali, ia merasa sesak berada di mobil ini. Gef yang menyadarinya, segera menghentikan mobil. Detik itu pula Alessa keluar, gemetar di tangannya semakin menjadi-jadi.
“Alessa, ada apa?” Tiba-tiba Nick menyentuh pundaknya.
“Aku tidak apa-apa...” Kata itu terus terulang dari bibir Alessa bagaikan mantra.
“Kemarilah,” ucap Nick membawa Alessa ke dalam pelukannya.
...***...
Alessa dan Nick tiba di mansion pada pukul setengah tiga pagi. Tanpa banyak bicara, Alessa menaiki lantai dua dan memasuki kamar Nick. Alessa membersihkan diri terlebih terdahulu, lima belas menit berikutnya Alessa keluar dan tampak lebih segar. Nick juga terlihat sudah mengganti pakaian.
“Duduk,” titah Nick.
Alessa menurut, ia duduk di kursi rias. Nick mengeringkan rambut Alessa dengan lihai, senyum Nick sangat manis, Alessa seperti melihat Nick―suaminya―yang sesungguhnya.
Alessa membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tidak lupa menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Nick ikut berbaring di samping Alessa, tangannya bergerak lancang mengelus perut rata sang istri dari balik selimut. Kalimat protes terucap oleh Alessa, tetapi Nick tidak mempedulikan itu.
Pada kenyataannya, Alessa menyadari bahwa dirinya melemah sejak mengetahui kehamilan ini. Dia tidak membenci, kehamilan ini adalah yang Alessa harapkan setelah keguguran bertahun-tahun lalu. Namun, ada sesuatu yang Alessa khawatirkan, pekerjaannya bukanlah suatu yang aman dan mudah.
“Alessa, berhentilah dari pekerjaanmu.” Bak gayung bersambut, Nick membahas hal tersebut.
“Aku mempunyai tanggung jawab, Nick. Kau tahu dengan jelas bagaimana tanggung jawab seorang pemimpin,” balas Alessa pelan.
“Hanya sementara, setelah kau melahirkan bayi ini, kau bisa melakukan apapun sesuka hatimu.” Terdengar egois, batin Alessa.
“Yang kau pedulikan hanya bayi ini, bukan? Tenang saja, Nickholas, bayi ini akan lahir dengan selamat tanpa kekurangan satu apapun!” Nick menatap Alessa tajam, memperlihatkan bahwa dia benci mendengar ucapan Alessa.
“Cukup, Nick. Aku ingin istirahat,” ucap Alessa lagi, lalu membalikkan tubuhnya memunggungi Nick.
Setengah jam setelahnya, Nick masih belum memejamkan mata. Ia masih betah memandangi punggung sang istri, ia juga sama takutnya seperti Alessa. Nick terpaksa mengambil cara dengan menghamili Alessa, sebagai jebakan agar Alessa semakin terikat padanya. Nick jelas sangat paham, Alessa sedari dulu menginginkan seorang bayi di antara mereka, tetapi itu belum terwujud. Oh... atau sudah?
...***...
Morning sick sialan! Kenapa harus ada kata itu di dunia ini? Sungguh, Alessa terbangun hanya karena perutnya mual dan saat dimuntahkan hanya cairan bening. Demi apapun, Alessa baru tertidur dua jam!
Mata Alessa memerah, moodnya kacau. Nick dengan sabar memijat punggung Alessa, membersihkan mulut Alessa dari muntahannya. Beberapa kali dia mendapat bentakan Alessa, tetapi Nick bersikap cuek.
“Minum ini,” perintah Nick.
“Aku mengantuk, aku ingin tidur.”
“Setelah itu kau bisa tidur kembali. Minum ini agar perutmu membaik,” balas Nick datar. Alessa menyambut uluran gelas yang Nick berikan, lalu meminumnya seperempat.
Raut Alessa lucu, antara kesal dan mengantuk, berpaduan yang dulunya sering Nick saksikan. Kembali Alessa meminum teh jahe tersebut, ucapan Nick benar, perutnya membaik.
“Sudah?” Alessa mengangguk.
Nick mengambil gelas di tangan Alessa dan meletakkan gelas tersebut di atas nakas. Di dalam hati, Nick tidak akan membiarkan siapapun melihat sisi lain Alessa ini. Menggemaskan sekali, Nick senang Alessa menunjukkan diri apa adanya. Nick seringkali merasa kesal dengan sikap Alessa yang terlalu mandiri, terlihat ingin kuat di mata orang lain dan keras kepala.
“Tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti,” ucap Nick tersirat kelembutan yang ditutupi oleh wajah datarnya.
“Aku ingin tidur seharian!” bentaknya.
“Pikirkan kandunganmu. Kau dan dia butuh asupan,” peringat Nick.
Alessa seakan tersadar Nick hanya menginginkan dan mempedulikan bayi dikandungannya.
“Ya, bangunkan aku nanti!”
Nick menghela nafas. Tidak ingin memperpanjang, Nick beralih ke sofa guna mengecek keuangan perusahan. Hari ini dia meliburkan diri, walau demikian dia masih menghandel pekerjaan via jarak jauh. Sesekali tatapannya tertuju pada Alessa, tampak wanita itu tertidur dengan lelap.
Dia masih memikirkan cara agar Alessa berhenti dari pekerjaannya, bukan sementara, tetapi selamanya. Nick berniat memenjarakan Alessa di mansion ini, tetapi Nick tahu Alessa memiliki seribu cara melarikan diri. Cara itu tidak akan mempan digunakan pada Alessa, semakin pasir tergenggam kuat, maka ia akan semakin luruh berjatuhan. Begitulah kira-kira perumpaan seorang Alessa!
Dentingan suara pesan terdengar, Nick mengalihkan fokusnya pada ponsel yang ia letakkan di atas meja. Nama Christa terpampang dengan pesan di bawahnya, Nick hanya membiarkan tanpa berniat membuka ataupun membalas pesan singkat itu.
Berjam-jam terlewatkan, Nick membangunkan Alessa. Wanitanya dengan mata setengah mengantuk beranjak ke kamar mandi. Nick memerintahkan pelayan membawa makanan ke kamar mereka. Tak lama Alessa keluar, ia mendudukan diri di samping Nick. Tanpa diperintahkan, Alessa mengambil air putih dan meneguknya hingga tandas. Berlanjut mengambil makanan yang terhidang, demikian dengan Nick yang menyantap makan siang dalam diam.