
Di atas sofa Alessa berbaring seraya memejamkan matanya. Tiba-tiba Nick datang dan mengangkat kepala Alessa ke pangkuannya. Seperkian detik Alessa membuka mata, melihat itu Nick, matanya terpejam kembali. Elusan di rambutnya memunculkan senyuman tipis pada bibir Alessa.
Berbicara tentang kemarin, Nick menjelaskan hubungannya dengan Christa hanya sebatas teman. Sedangkan penjelasan selama tiga tahun itu, Nick memberi pengertian, dia akan menjelaskan nanti setelah sesuatu hal yang harus Nick selesaikan. Alessa tidak merasa hubungan mereka dalam kondisi baik, jadi dia membatasi diri.
“Kenapa pulang?” tanya Alessa pelan.
“Bersamamu lebih menyenangkan,” jawab Nick.
“Seseorang ingin mengenalmu,” beritahu Nick.
“Siapa?”
“Dia di lantai dua sekarang.”
“Siapa?” tanya Alessa sekali lagi.
“Tanyakan padanya.”
“Katakan, siapa?” paksa Alessa.
“Ayo, kau bisa berkenalan dengan dia sekarang,” ucap Nick semakin membuat Alessa penasaran.
“Aku malas berjalan,” sahut Alessa malas. Nick tanpa pikir panjang menggendong Alessa hingga ke lantai dua.
“Pasangan romantis,” komentar seseorang gadis.
Alessa menoleh cepat pada gadis itu. Perawakannya tinggi, matanya sama seperti milik Nick, abu-abu yang indah.
“Hi, perkenalkan aku Noura Bateline.” Alessa menerima jabatan tangan gadis itu seraya memperkenalkan balik dirinya.
“Senang berkenalan denganmu, Alessa. Kuharap kita bisa berteman baik,” ucap Noura tersenyum tulus. Senyum itu menular pada Alessa, gadis ini memiliki aura memikat.
“Ngomong-ngomong, nama belakangmu Bateline, kalian bersaudara?” tanya Alessa.
“Ya, Nick kakakku. Aku baru tahu sekitar tiga tahu belakangan ini.” Kerutan dahi Alessa mendalam, otaknya menyimpulkan ucapan Noura dengan cepat.
“Nick belum memberitahumu?” Alessa melirik Nick, pria itu hanya diam tanpa menyergah ucapan sang adik.
“Dia tidak pernah memberitahu apapun. Aku baru tahu dia memiliki adik,” sinis Alessa bermaksud menyindir Nick.
“Kami terpisah saat kecil. Sebenarnya, aku tidak terlalu mengingat, saat itu aku masih sangat kecil. Nick yang mengingat lebih banyak masa kecil kami,” balas Noura seolah mengenang sesuatu.
Selama menikah, Nick tidak pernah membahas tentang adiknya. Jadi, ada cerita yang belum Nick sampaikan padanya. Alessa mengangguk, setitik rasa kesal akan hal itu tertanam di hatinya.
“Kapan kau sampai di sini?” tanya Alessa menyelidik.
“Tiga jam lalu.”
“Kenapa tidak menghampiriku?” Noura tersenyum malu.
“Aku takut, Nick menceritakan kau tipikal dingin dengan orang baru. Dan, yah, aku menunggu Nick pulang agar ia memperkenalkanku denganmu langsung.” Entah kemana ekspresi malu-malu Noura tadi membuat Alessa tertawa.
“Kau lucu, aku dingin, bukan berarti aku akan memakan orang!” Noura menggaruk kepalanya tidak gatal, ia segan mengucapkan yang sejujurnya.
“Lagipula, aku tidak sedingin yang Nick ceritakan. Hanya pada manusia tertentu aku bersikap demikian,” ucap Alessa.
...***...
“Kau juga tidak bisa memasak, ya?” Alessa mengangguk.
“Bagaimana caranya memasak?” tanya Noura dengan ekpresi bingung.
“Belajar,” celetuk Nick yang tengah sibuk memasak, sedangkan kedua wanita itu duduk di kursi pantri.
“Buat apa memasak? Ada koki yang melakukan tugas memasak!” sahut Alessa.
“Aku setuju! Memasak sulit, dan rumit!” ucap Noura mengangguk semangat. Nick menggeleng, dua wanita itu memang cocok disatukan!
“Alessa, kau tetap di mansion!” ucap Nick tiba-tiba ketika mereka sedang menyantap makanannya.
“Ingat, waktumu sebulan bersamaku!” tambahnya tegas.
“Kenapa kau mengaturku? Aku keluar, bukan urusanmu!” balas Alessa kesal.
“Menemui pria lain, apa itu wajar? Kau istriku!”
“Bisa kau tidak membawa ‘istri’ di dalam percakapan ini? Aku menemui Joe karena aku mau!” tekan Alessa.
“Aku pergi!” ucap Alessa dan bangkit.
Alessa memilih menemui Joe di sebuah kafe yang mereka tentukan sebelumnya. Tak lama, Joe datang.
“Aku merindukanmu,” ucap Joe, Alessa tersenyum.
“Baik, seperti yang kau lihat.”
“Setelah ini, apa kau sibuk?” Alessa menggeleng.
“Kencan?” Alessa terdiam sejenak, lalu mengangguk mengiyakan.
Entah berapa jam mereka habiskan bersama, Joe mengajak Alessa mengunjungi tempat tinggalnya. Selagi Joe membersihkan diri, Alessa melihat-lihat rumah ini. Sebuah foto keluarga terpajang di ruang tamu, Alessa paham itu keluarga besar Joe dan seorang wanita yang tidak asing di matanya, dia mantan istri Joe. Ditanya apakah Alessa cemburu? Jawabannya tidak.
“Menunggu lama?” Alessa berbalik dan menemukan Joe di sana.
“Tidak.”
“Duduklah,” pinta Joe, Alessa menuruti.
“Ada yang ingin aku bahas,” ucap Joe.
“Kapan sekiranya persiapan pernikahan kita dimulai?” tanya Joe.
“Joe, apa aku bisa meminta waktu?”
“Alasannya?”
“Joe, sebenarnya ... aku memiliki hubungan masa lalu yang belum usai.” Joe memejamkan matanya.
“Kau mencintainya?”
“Joe, aku menyayangimu. Jujur, aku sudah memutuskan melangkah bersamamu, tetapi masa laluku datang.”
“Kau bimbang, ya?” Alessa menghela nafas.
“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu dan pria itu. Di sini kau egois ingin mempertahankan dua hubungan di satu waktu bersamaan,” kritik Joe.
“Apa boleh kita kabur dan membangun rumah tangga di negara lain?” Alessa tidak tahu mengapa pemikiran itu dia katakan pada Joe.
“Masa lalumu berharga. Jika tidak, semua rencana kita terlewati dengan mudah, Alessa...”
“Aku menunggumu menyelesaikan masa lalumu, tapi kembalilah padaku. Aku berusaha untuk membahagiakanmu,” sambung Joe. Alessa kehilangan akal saat ini, ia meraup bibir Joe.
Ciuman tersebut diambil alih oleh Joe, Alessa bergetar kelembutan yang Joe berikan. Namun, sebesar apapun ciuman itu, Alessa membayangkan Nick lah yang menciumnya. Joe hampir menanggalkan pakaian Alessa, dengan cepat Alessa menahan.
“Joe... tidak sekarang...”
“It’s okey,” ucap Joe mengecup bibir Alessa.
“Aku harus pulang.”
“Aku antar.” Alessa mengangguk.
...***...
Setelah Joe memutar kemudi menjauh dari lingkungan apartemennya, Alessa memasuki apartemennya guna mengambil kunci mobil. Di apartemen tersebut terdengar pertengkaran hebat, Alessa berlalu tanpa disadari kedua manusia itu.
Mendapatkan kunci mobil, Alessa keluar dan segera mengendari mobilnya yang berada di basment. Sesampai di mansion Nick, Alessa terdiam melihat pria itu berdiri di depan gerbang. Mengumpulkan keberanian, Alessa turun dan menutup pintu mobil. Ia dapat melihat Nick menatapnya penuh peringatan.
“Kau tidak bisa melarangku!” ucap Alessa pertama kali.
“Milikku, tidak boleh disentuh oleh siapapun. Milikku, hanya bisa disentuh olehku!” desis Nick.
Alessa bersidekap, kakinya melangkah perlahan ke arah Nick. Dengan santainya ia berjinjit dan mengecup bibir Nick lama.
“Joe menciumku,” bisik Alessa.
Nick meraup bibir Alessa kasar, ia menangkup wajah Alessa agar ciuman mereka semakin mendalam. Alessa membalas sama kasarnya, ia mengimbangi ciuman tersebut. Hingga keduanya kehabisan nafas, barulah mereka menghentikan ciuman. Nick menyatukan kening mereka, hembusan nafas Nick menerpa wajahnya.
“You are my wife, mine. Dia akan mendapat balasan karena sudah menyentuh milikku,” bisik Nick.
“Sekali saja kau menyakiti Joe, kau berhadapan denganku!” peringat Alessa.
“Apa aku akan peduli? Tidak, Alessa...”
“Jang―”
“Jangan menguruiku,” potong Nick cepat.
Secara tiba-tiba, Nick memanggul tubuh Alessa memasuki mansion. Alessa berteriak marah, tetapi Nick menepuk kuat bokongnya.
“Nickholas, jangan sampai juniormu yang aku pukul!” teriak Alessa marah.
“Juniorku menunggu sarangnya,” balas Nick.
Ketika sampai di kamar, Nick melempar Alessa ke ranjang. Alessa tahu maksud pria ini, ia dengan cepat bangun dan berlari ke arah kamar mandi.