
“Ada apa?” tanya Nick dengan alis berkerut bingung menatap balik Alessa yang menatapnya tajam.
“Ada apa, Alessa?” tanya Nick sekali lagi, Alessa menggeleng pelan dan menyeruput teh panasnya sedikit.
Nick tak mengambil pusing, fokusnya kembali pada notebook di tangannya. Banyak pekerjaan yang harus segera diselesaikan. Lima hari belakangan ini, urusan Christa, penculikan keluarga Bahadicn, dan Alessa menyita perhatiannya. Ini berakibat pada urusan bisnis yang terbengkalai karena tak tersentuh.
Gef sebagai tangan kanan sekaligus asisten pribadinya, ikut disibukkan oleh tugas sang tuan. Jadwal sebelumnya tersusun rapi, kini berantakan dan dia harus kembali menyusun jadwal tersebut. Ditambah juga, komplen dari beberapa pihak tak lain karena Nick membatalkan pertemuan penting.
“Kemana?” celetuk Nick ketika Alessa beranjak, saat ini mereka duduk di kursi balkon kamar.
“Ke dalam,” ucap Alessa singkat, lalu memasuki kamar.
Kemudian, Alessa mendudukkan diri di atas ranjang seraya bersandar pada headboard. Bermain ponsel—membobol akun-akun lebih tepatnya—menjadi kesenangan Alessa sejak dulu. Ia dapat melihat rahasia orang-orang, dari sinilah Alessa mengetahui hubungan spesial antara Lucas dengan adik tiri, yang tidak ingin diakui Alessa sejujurnya.
Alessa lebih suka mencari tahu dibanding bertanya langsung, terkadang manusia memilih berbohong daripada rahasia besarnya terbongkar. Cara Alessa ini yang membuat Nick kesal, Nick mengatakan setiap orang punya privasi masing-masing, ada yang boleh diketahui dan ada yang tidak wajib orang ketahui. Meski demikian, Alessa membobol dan tidak menyalahgunakan pengetahuannya.
Bagi Alessa, membobol sebagai hiburan tersendiri. Banyak hal lucu ia dapatkan, misalnya dua insan bertemu melalui aplikasi online dan kemudian berpacaran. Si wanita ternyata tidak mengetahui bahwa si laki-laki masih di bawah umur. Pertanyaannya, bagaimana bisa wanita itu dibodohi? Apa dia tidak melakukan cross check dulu? Lagipula, video call berfungsi sangat penting untuk hubungan jarak jauh, bukan? Benar-benar di luar ekspetasi!
“Sedang apa?” Nick masuk dan bertanya, Alessa menggeleng pelan.
Nick mendekati Alessa, ia merebahkan kepalanya di paha sang istri. Alessa hanya diam seraya membaca isi informasi di akun yang tengah dibobolnya. For your information, akun-akun yang Alessa bobol tidak diketahui siapa pemilik aslinya, bisa dikatakan dia random memilih targetnya.
“Kau masih melakukannya, hm?” Nick tahu kebiasaan Alessa yang menurutnya aneh dan tidak berguna.
“Diam.”
“Apa gunanya, hm?”
“Aku mendapatkan kepuasaan!” Nick menggeleng, membiarkan Alessa dengan kegiatan tidak bergunanya. Kepalanya sedikit pusing, di depan notebook setengah hari pasti menimbulkan kelelahan.
“Pegal,” keluh Alessa di lima belas menit kemudian. Nick hendak protes, tetapi ingat Alessa gampang sekali merasa pegal sejak kehamilannya ini.
Nick memindahkan kepalanya di atas kasur tanpa bantal, tangannya melingkari paha kiri sang istri seraya mengelusnya pelan. Tidak tahukah Nickholas, sentuhan ini memancing sensi panas menjalar keseluruh tubuhnya. Tanpa rasa segan, Alessa memukul lengan Nick kuat.
“Apa, Alessa? Aku mengantuk,” protesnya.
“Tidur di bantal itu, jangan sentuh aku!” Nick berdecak malas, tidak peduli tetap melakukan aktivitasnya.
“Nickholas,” peringat Alessa mulai tidak suka.
Nick menghiraukan, kantuk menyerangnya sedikit demi sedikit. Elusannya perlahan berhenti, akhirnya Alessa menghela nafas lega.
...***...
“Apa ini?” tanya Alessa mengerutkan dahinya bingung.
“Buka,” jawab Nick. Alessa mengambil sebuah berkas tersebut, membuka lalu membacanya. Kepalanya mengangguk paham, akte perceraian.
“Good,” tutur Alessa, Nick mengangguk.
But, wait... raut Nick tak bersahabat. Alessa menatap bermaksud bertanya lewat mata, Nick membalas tatapannya.
“Patra mendukung Christa,” ungkap Nick. Ucapan itu menarik sisi ingin tahu Alessa lebih dalam.
“Patra mengenal Christa?” Nick mengangguk.
“How?” tanya Alessa lebih kepada dirinya.
Ingatannya berputar kembali, Patra berucap seolah mengetahui bagaimana kondisi hubungannya bersama Nick dan Christa. Jadi, pria itu tahu lewat Christa, begitukah?
“Apa saja yang Christa ketahui tentang kita?” Nick mengedikkan bahunya tak tahu.
“Dia menyimpulkan sendiri hubungan kita,” sahut Nick.
“Kau tidak menceritakannya pada Christa?” Nick mengangguk.
“Tidak banyak sebenarnya, sekedar aku memiliki hubungan sejak lama denganmu. Selebihnya tidak perlu aku ceritakan padanya, bukan kepentingan dia.” Alessa mengangguk, tipe Nick yang anti menceritakan kisahnya.
“Lalu, Patra mendukung Crista dalam hal?” tanya Alessa lagi.
“Kau penasaran sekali sepertinya,” komentar Nick sinis.
“Bukan waktunya berkomentar, Nickholas!” sahut Alessa malas, Nick menatap sekilas.
“Mendekatkan diri denganku?” Dahi Alessa berkerut, tak paham atas ucapan Nick.
“Ya. Aku tidak begitu mengerti, menurutku, Patra ingin mengali informasi tentangmu. Itu alasan mengapa dia meminta Christa mendekatimu, tapi tidak berhasil,” jawab Nick.
“Kau sulit untuk didekati,” tambah Nick.
“Mereka menemukan benang merahnya,” ucap Alessa.
“Maksudmu?” tanya Nick mengerutkan dahinya.
“Aku mengakui hubungan kita sebenarnya pada saat Patra mencegatku, dan dia ingin mencari tahu kebenaran itu,” terang Alessa.
“Ada masalah?” tanya Alessa, Nick menghela nafas.
“Dia sangat terobsesi denganmu,” tutur Nick, dia tidak suka akan fakta itu.
“Aku sempat bertengkar dengan temanmu itu setelah sidang perceraian kemarin. Kelihatannya, dia menyukai Christa juga,” ungkap Nick menekan kata temanmu itu menyindir Alessa.
“Aku tidak peduli soal itu, sungguh. Hanya saja, ucapannya menggangguku,” sambungnya.
“Apa?” Alessa merasa atmosfir panas di sekitar mereka.
“Benar kau berciuman dengan dia beberapa tahu silam?” Alessa berdehem, Patra sialan!
“Itu tidak diharapkan, kami sedang dikejar kawanan. Pada saat itu keadaan tidak menguntungkan, kebetulan di ballroom hotel tengah diadakan acara penikahan, kami memasukinya dan bergabung guna menyamarkan diri. Mereka mengenal wajahku, Patra bersamaku dan ya, aku menciumnya ketika kawanan itu hampir melihatku dan Patra,” aku Alessa panjang lebar.
“Kau menciumnya?” ulang Nick menekan setiap ucapannya.
“Ayolah, Nickholas... ciuman itu tidak berarti, jangan seperti anak kecil...” bujuk Alessa.
“Kita bertengkar saat itu dan kau mencium pria lain! Berapa banyak pria di luaran sana yang berciuman denganmu, huh?” murka Nick.
Patra memang sialan! Erang Alessa dalam hati.
“Senang berciuman dengan tuannganmu, huh?” cecar Nick.
Baiklah, Alessa hanya diam mendengarkan selagi Nickholas menuntaskan segala kemarahannya.
“Ciuman, bahkan hampir bercinta. Bukankah menyenangkan menjadi wanita yang disenangi banyak pria?” sindir Nick. Alessa tersinggung, ucapan Nick seolah mengatakan Alessa adalah wanita yang dipakai sesuka hati oleh kaum pria.
“Kau juga demikian, kenapa menyalahkan aku?” sahut Alessa tidak terima.
“Just Christa!” selak Nick.
“Oke, kau mau kita bertengkar? Aku malas berdebat!” imbuhnya.
Alessa jelas kalah telak, Nick pasti tahu bagaimana track record seorang Alessa Beata setelah dirinya tiada. Oh, bukan, sengaja menghilang maksudnya.
“Pria-pria club, restoran, teman-teman kencangmu itu, apalagi?” kejar Nick.
Benar, bukan? Nick mengangkat topik perdebatan. Alessa menghela nafas, menghadapi kekesalan Nick ini sangat membosankan baginya.
“Kau melupakan keberadaanmu dimana? Mencoba menyalahkanku atas kelakuakanku, tetapi kau tidak berkaca! Betapa bangsatnya dirimu!” cela Alessa tanpa segan.
“Oh, satu lagi. Aku tidak suka ucapanmu yang mengatakan ‘menyenangkan menjadi wanita yang disenangi banyak pria’, aku bukan pelacur, Nickhlolas!” gumam Alessa.
Nick menatap Alessa tajam, langkahnya secepat kilat menghampiri sang istri, lalu menangkup wajah Alessa dan menciumnya kasar. Alessa tak mau kalah, dia meremas rambut Nick seraya membalas ciuman tersebut. Kabut gairah tak terhindar dari keduanya, Alessa menjatuhkan Nick di atas kursi. Ia berada di atas kendali, tak sabaran merobek kemeja yang Nick gunakan sehingga kancing kemeja tersebut terlepas tak berdaya.
“Oh... My Alessa back,” komentar Nick senang.
“**** up your fu*king mouth!” sahut Alessa. Tadi saja pria ini kesal, sekarang menampilkan wajah bahagianya.
“Kau yakin di sini? Ruangan terbuka?” Alessa tahu Nick sedang menggodanya, mereka detik ini masih berada di taman belakangan.
“Tidak membuka semua pakaian, it’s not problem. Kalau iya pun, kau yang kebakaran jenglot,” balas Alessa. Tangannya aktif mengelus dada bidang Nick, sesekali menciumnya.
“Stop it, Baby...” lirih Nick ketika Alessa sengaja menjilat tepat pada titik dadanya.
“You like it,” bantah Alessa benar adanya.
Alessa berdiri di depan Nick, tatapan Nick bak pejantan yang ingin menerkam betinanya. Alessa mengenakan dress abu-abu, dia hanya melepaskan satu benda di bawah sana. Kemudian, kembali duduk diantara kedua paha Nick yang entah sejak kapan celana bahannya tergeletak di bawah kaki sana, itu ulah sang istri pastinya.