
“Good morning...” Alessa berdehem pelan mendengar sapaan Nick.
“Minumlah,” ucap Nick menyodorkan segelas air putih.
“Kau sedang hamil, tapi istirahatmu berantakan,” komentar Nick. Alessa mendelik kesal.
“Karena siapa aku begini? Kau!” sinisnya tajam.
“Siapa mata-matamu di mansion Helbert, huh?” tanya Alessa penasaran.
“Katryna,” jawab Nick kalem. Alessa menatap Nick tidak percaya.
“Mata-mataku banyak. Kau tidak perlu tahu,” tandas Nick.
“Terserah!”
Alessa segera beranjak membersihkan diri, untung saja pria itu tidak menghalanginya. Setelah membersihkan diri dan berpakaian, Alessa sarapan bersama Nick.
“Kau tetap bersamaku!” tegas Nick ketika Alessa mengatakan ingin pulang.
Hal itu tentu tidak bisa Alessa terima begitu saja. Bukan berarti sikap baik Alessa ini membuat mereka tinggal bersama lagi.
“Keadaan memburuk, kau tidak bisa pergi,” sambung Nick.
“Apa yang terjadi?” tanya Alessa, pasti terjadi sesuatu.
Sejenak Nick menatap Alessa dalam, lalu dia menyerahkan ponselnya yang berisi sebuah halaman artikel.
‘Model Vanessa Brown Menjadi Simpanan Nickholas Bateline, Siapakah Sebenarnya Vanessa Brown ini?’
Wtf?! Apa-apain ini? Wajah Alessa terpampang jelas di dalam gambar tersebut. Angle foto tersebut diambil dari belakang tubuh Nick, dan itu jelas menampilkan wajah Alessa yang berada di perpotong leher sang pria. Seribu persen Alessa yakin, ini diambil oleh seorang yang handal di bidang photografer.
Ingatannya berputar pada malam kemarin, sekilas dia melihat Christa mengintip dari balik mobil. Apakah wanita itu? Kepala Alessa pusing, refleks dia memijat keningnya.
“Siapa yang melakukan ini?” tanya Alessa pelan.
“Sedang diselidiki orang-orangku,” jawab Nick.
“Christa?” Tatapan keduanya bertemu, Nick menggeleng tidak tahu.
“Aku melihatnya di sana.”
“Ya. Dia menemuiku,” balas Nick pelan. Alessa menghela nafas.
“Aku tidak mau di posisi ini! Aku bukan wanita perebut!” amuk Alessa.
“Hi, tenanglah... aku akan mengurus semuanya,” ucap Nick mengelus pipi Alessa.
“Semua orang tahu pernikahanmu dengan dia, Nick. Orang-orang berpendapat bahwa aku yang merebutmu!” Suara Alessa naik satu oktaf.
“Artikel itu terus berkembang. Kau pasti memblokirnya, tapi kau tidak bisa memblokir ingatan orang-orang!” seru Alessa.
“Alessa... tenangkan dirimu. Ada cara lain untuk membungkam mereka, jangan memikirkan pandangan orang, pikirkan dirimu dan bayi kita,” pinta Nick lembut.
Nick paham, pikiran Alessa saat ini bercampur aduk. Tanpa dijelaskan pun Nick tahu, bukan masalah mereka saja yang menjadi beban Alessa, masalah Phei juga ikut membebani.
Butuh waktu meyakinkan Alessa untuk tinggal bersamanya. Argumen Alessa dapat ia patahkan, misalnya apabila tinggal bersama akan menimbulkan skandal, akan tetapi Nick bantah dengan hubungan mereka yang memang masih berstatus uami-istri. Nick bisa melihat, kepercayaan diri Alessa menurun, ini bukan Alessa yang ia kenal. Alessa-nya tidak pernah terkalahkan dengan pandangan orang lain.
Mungkin orang banyak tidak melihat perubahan itu, Alessa lihat menyembunyikannya dengan baik. Namun, orang terdekatnya merasakan itu, begitu pun Katryna yang beberapa kali gundah menyaksikan langsung sikap diri Alessa yang tergolong menurun dari biasanya. Nick simpulkan, ini disebabkan oleh permasalahan yang muncul, dan yang terbesar adalah berhubungan dengannya.
Alessa pernah bercerita, dia takut diduakan, dia takut diceraikan. Alessa berkaca dari kedua orang tua kandungnya, Emrick dulu sekali pernah menduakan sang istri dan hampir menikahi seorang wanita. Kemudian, semuanya membaik seperti semula. Ternyata wanita itu marah bercampur iri melihat kebahagian mereka, dengan itu dia menghancurkan ibu kandung Alessa.
...***...
Privasi Alessa yang dulunya selalu terjaga dan tersimpan baik tanpa dikenal banyak orang, kini berubah 360 derajat. Kehidupannya menjadi konsumsi publik disebabkan gosip yang beredar di masyarakat. Alessa benci dikenal, semua privasinya dikorek sedalam mungkin.
Memang tidak mudah mendapatkan informasi yang berkaitan dengan Alessa. Bekerja sebagai seorang agen rahasia harus menyembunyikan jati diri, mulai dari keluarga hingga hal kecil sekalipun. Tak banyak yang mereka dapatkan, nama Vanessa Brown yang dia pakai sebagai model bukanlah nama asli sesungguhnya, tetapi tetap saja menarik perhatian banyak orang.
Meskipun berita gosip itu sudah mulai mereda, ada saja yang memandang Alessa sinis, dan sungguh itu mengesalkan sekali. Posisi Alessa tidak aman, karena ini menyangkut nama baiknya di lingkungan sekitar yang ‘benar’ mengenalnya, serta ketenangan hidupnya yang musnah. Gosip sialan ini bukan hanya menarik masyarakat awam, bahkan musuh Alessa pun ikut menggunakan kesempatan itu
Jangan berpikir Alessa takut, dia sangat kesal pada kejadian yang menimpanya setengah jam yang lalu. Ini semua karena si penyebar gosip murahan itu, Alessa sungguh membenci si penyebar sialan itu, Christa!
“Rexa sialan! Istrimu itu juga sialan!” umpat Alessa.
Ya, musuh Alessa itu adalah Rexa, dia yang menyerang Alessa. Rexa adalah bandar perdagangan manusia yang Alessa gagalkan transaksinya tiga tahun lalu.
“Apa wanita itu tahu pekerjaanku sebenarnya?” tanya Alessa pada Nick.
“Ya, dia tahu,” jawab Nick jujur.
“Dia sengaja menyebarkan berita itu guna memperlihatkan kepemilikannya terhadapmu, dan memancing orang menyerangku!” geram Alessa.
Nick tidak berkomentar apapun, Alessa tersenyum sinis.
“Kau tahu soal itu, bukan?” Nick menatap Alessa lekat, diamnya Nick diartikan iya oleh Alessa.
“Nick telah memberi pelajaran pada Christa,” sahut Noura.
“Kebaikan dan kelembutannya itu murni, tetapi kecintaannya yang berlebihan itu menjadikan dirinya wanita licik,” komentar Noura.
“Aku menyukai wanita itu, tetapi aku tidak menyukai dia yang seolah ingin memilikimu, Nick. Sedari awal aku sudah mengatakan, Christa bisa kapan saja mengingkari janjinya,” tutup Noura seraya melirik Nick sekilas.
Alessa menatap Nick tajam, kobar kemarahan belum juga reda dalam dirinya. Dia hampir kehilangan calon bayinya, hal itu yang membuat Alessa geram bukan main. Nick sama hal-nya dengan Alessa, dia geram, akan tetapi lebih bisa menyimpan dalam diam. Di belakang itu, dia memerintahkan orangnya menangkap Raxa, sekaligus memberi pelajaran pada Christa yang sudah menyebarkan gosip tentang Alessa.
“Apa hal yang paling ingin wanita itu lakukan? Kau pasti tahu!” tanya Alessa tajam pada Nick.
“Dia sedang mengusahakan membeli D’Royal Hotel.” Alessa menyipitkan matanya tak percaya.
“Hotel itu dulunya memiliki sejarah yang memoriabel bagi Christa dan keluarga,” tambah Nick jujur, Alessa mengangguk paham.
“Lainnya?”
“Membahagiakan putranya.” Alessa menyeringai, satu rencana berputar di dalam kepalanya.
Jangan berpikir anak itu adalah anak Christa dan Nick, bukan! Nick sudah membuktikan itu sejak pertama kali. Dia bernama Erol.... anak angkat Christa yang berumur dua tahun. Christa mengangkat Erol setelah beberapa bulan menikah dengan Nick.
“O-ow... Alessa akan melakukan sesuatu,” ucap Noura tersenyum jenaka.
“Kau lihat apa yang bisa kau lakukan padamu, Christa... kau mencari musuh yang salah,” geram Alessa.
“Apa?” tanya Nick seraya mengerutkan dahinya bingung ketika Alessa menatapnya intens.
“Kau tidak akan menghalangiku, bukan?” selidiknya.
“Kau bebas melakukan apapun, itu sama sekali tidak mengangguku!” aku Nick.
“Bagus. Sekali kau peduli, kau kulepas!” ancam Alessa tidak main-main. Nick balik menatap Alessa intens, dan dalam.
“Kau terdengar jealous, aku suka itu, tapi tidak perlu cemburu, sepenuhnya aku milikmu...” ucap Nick tegas.