The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 20. Bateline Company



“Kenapa kesannya kau seperti wanita penggoda, Alessa!” batinnya berkata.


“Daripada kau menggoda pria lain, lebih baik menggoda suamimu sendiri!” Otaknya berpikir lain.


Alessa bangkit dari ranjang tersebut, ia mendudukan bokongnya di atas sofa yang tersedia di sana. Tangannya mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja, dan ia memutuskan memainkan game puzzle seraya menunggu Nick. Tak lama pria itu keluar.


“Alessa. Apa kau sedang dalam masalah saat ini?” tanya Nick serius berdiri di hadapannya.


“Tidak ada,” jawab Alessa masih fokus pada game-nya.


“Tidak ada. Tapi, kau tidak sadar seseorang mengutitmu!” sarkas Nick.


“Maksudmu?” tanyanya menatap Nick, minatnya bermain game punah sudah.


Nick menyerahkan ponselnya, terlihat sebuah rekaman cctv berputar. Itu mobil Alessa yang terparkir di depan gerbang, sedangkan tak jauh dari sana terlihat sebuah motor dengan seorang berbaju hitam memakai penutup kepala.


Ingatan Alessa berputar kembali, seingatnya motor itu tidak jauh dari Alessa memarkirkan mobil di basement apartemen-nya. Memang tidak ada yang mencurigakan, sebab pria yang mengendarai motor itu lebih dulu berjalan di depan Alessa dan berbelok arah.


“Dimana dia?” tanya Alessa serius.


“Anak buahku sudah menanganinya.”


“Dengar, Alessa.” Intruksi Nick. Ia menempatkan kedua tangannya pada kedua sisi single sofa, seraya mendekatkan wajahnya pada Alessa.


“Jangan sampai karena musuhmu, aku yang terkena imbasnya. Aku tak mau memasuki permasalahanmu yang berimbas pada karirku!” ucap Nick dingin.


Alessa terdiam seketika, kata yang mengalir dari mulut Nick mampu membuat hatinya tersinggung. Nick tak pernah berucap seperti itu!


“Apakah itu artinya, tidak ada lagi kepedulianmu padaku, Nickholas?” tanya Alessa dengan nada lebih dingin, Nick tak berniat menjawab.


Alessa menolak dada Nick agar menjauh darinya, kakinya melangkah meninggalkan kamar pria itu. Namun, hatinya berkata lain, dia ingin tetap di sini bersama Nick. Ia ingin menyalurkan serta mengungkap keresahannya yang selama ini ia pendam.


“Kau tahu Nick, hatiku tak bisa menghilangkan semua rasa yang ku punya untukmu. Tapi, yang ada kau hanya menganggapku wanita pemuas birahimu,” batin Alessa.


Tidak, Alessa tidak menangis. Dia kuat mendengar perkataan menyakitkan itu, walau hatinya diremas kuat, Alessa tidak akan pernah menangis saat kakinya menginjakkan tanah di mana daerah kuasa Nick di dalamnya.


Setelah menerima kunci mobilnya, Alessa segera mengendarai mobilnya menjauh dari mansion Nick. Alessa tidak tahu harus ke mana, kembali ke apartemen sama saja mengundang pertengkaran lainnya. Ia berpikir untuk mengunjungi Katryna, tetapi Alessa malu menceritakan yang terjadi, seolah Alessa mengemis cinta Nick.


Mengeluarkan ponselnya, ia menghubungi Jeff yang mungkin bisa memberinya sebuah pekerjaan. Namun Jeff menolak panggilannya, Alessa berdecak. Mengirim sebuah pesan pada pria itu, barulah pria itu meneleponnya kembali.


“Ada apa? Kau mengganti ponsel lagi?” tanya Jeff.


“Seperti yang kau tahu, berganti ponsel adalah hobiku!” jawab Alessa seadanya.


“Sangat dimengerti! Lalu, ada apa kau menghubungiku? Aku sedang sibuk.”


“Apa ada pekerjaaan untukku?” tanya Alessa to the point.


“Tumben sekali. Biasanya kau mengambil job model-mu!” komentar Jeff.


“Bukan urusanmu! Katakan saya apa yang bisa kukerjalan!” ketus Alessa.


“Mungkin menemani, Mother?”


“Oh, ayolah, Jeff... aku sedang ingin bekerja, bukan menemani siapa pun!”


“Mother selalu menanyakanmu!” Alessa menghela nafas.


“Kau sedang ada masalah? Tidak biasanya kau meminta pekerjaan,” ucap Jeff pelan.


“Mood-ku sedang kacau. Kau ingin memberikannya atau tidak?” kecamnya malas.


...***...


Jeff memberi pekerjaan, transaksi senjata sebesar satu milyar dan mengintrogasi salah satu tahanan yang mematai organisasi mereka. Kemarin malam Alessa menginap di markas utama, dan sekarang... ia baru saja sampai di apartemen. Dewa keberuntungan dipihak Alessa, wanita iblis itu beserta kedua anaknya tidak berada di sini.


“Alessa!” Sejenak ia memejamkan matanya, Lucas memanggilnya.


“Kemarin seseorang mencarimu,” ucap Lucas.


“Siapa?”


“Dia tak mengatakannya, tapi dia memintamu untuk datang ke agensi!”


“Oke. Terima kasih!” ucap Alessa melanjutkan langkahnya.


Alessa membaringkan tubuhnya di atas kasur, tapi suara ketukkan pintu membuat raganya ditarik paksa untuk kembali. Dengan rasa malas, Alessa membuka pintu mempersilakan Lucas masuk. kembali ia membaringkan tubuhnya, sedangkan Lucas duduk di tepi ranjang.


“Ada yang ingin kau katakan?” tanya Alessa, Lucas diam menatap Alessa penuh kerinduan. Tidak tahan, Alessa memalingkan wajahnya.


“Alessa, kita adalah saudara. Apakah kita tidak bisa menjadi saudara sebagaimana selayaknya keluarga? Aku merindukanmu, aku merindukan saudaraku.”


“Maksudmu Lucian dan Anela?”


“Bukan mereka yang aku bicarakan, tapi kau!”


“Lucas, bukankah kau lebih menyayangi mereka dibanding aku? Lalu, mengapa sekarang kau berkata demikian? Lihat pada dirimu, Lucas. Bagaimana perlakuanmu terhadapku dan kedua saudaramu lainnya!” ucap Alessa tak mengerti. Mereka memang sering bertukar kabar lewat surat, tetapi perlakuan Lucas yang membedakannya dengan kedua adik tiri mereka sungguh membuat batin Alessa tidak terima.


“Bisa kau jawab itu, tidak, kan?”


Sangat segar diingatan Alessa, sedari dulu Lucas lebih dekat dengan mereka setelah kepergian sang ibu. Memang ia dan Lucas sempat selayaknya kakak-adik yang akrab, tetapi berubah ketika Alessa menempuh pendidikannya dalam menjadi seorang agent rahasia. Lucas membedakannya, Lucas menjauhi, Lucas tidak mempedulikannya dan Lucas lebih menyayangi kedua adik tirinya.


“Alessa, aku menyayangimu, kau adik kandungku. Maaf sikapku menyakitimu... beberapa hal tidak bisa kuceritakan padamu, Phei mengancamku.” Nada bergetar terdengar jelas di telinga Alessa, Lucas menahan tangis.


“Beberapa hal apa?” tanya Alessa yang kini sudah berhadapan dengan sang kakak.


“Kau marah jika aku mengatakannya,” ucap Lucas.


“Apa, Lucas? Jangan menyembunyikan apa pun!”


“Maafkan aku, Alessa. Jangan menjauhiku, aku sangat menyayangimu. Yang tertinggal hanya kau sebagai keluargaku, aku mohon...” lirih Lucas dengan air mata mengenang.


Alessa langsung memeluk Lucas erat, ia ikut menangis. Mereka menangis bersama-sama menumpahkan segala kerisauan dan kerinduan mereka selama ini.


...***...


Saat ini Alessa berada di agensi, setelah tangisan mereka pagi tadi disertai dengan obrolan panjang, di sini lah Alessa yang tengah diceramahi Shee habis-habisan.


“Aku tidak mau tahu, kau harus tampil malam ini menggantikan aku dan Dyandra!” ucap Shee final.


“Apa kau gila, tampil di satu panggung dengan kostume yang berbeda membutuh waktu yang ekstra!” protes Alessa tak terima. Lebih tepatnya, Alessa malas tampil malam ini karena moodnya jelek.


“Tidak ada kata tidak bisa, kan? Hanya mengeluarkan waktu yang ekstra, kau bisa tampil!” balas Shee begitu mudahnya.


“Shee benar,” ucap Savas mendukung sang istri.


“Kenapa aku menggantikan mereka? Jangan sementang-mentang dia istrimu kau menyusahkan model-mu yang lain!” gerutu Alessa.


“Itu perintah!” jawab Savas cepat.


“Terserah kalian saja!”


“Oh, satu lagi. Sepuluh model kemarin, diwajibkan hadir di acara tahunan perusahaan Bateline!”


Tunggu, Bateline? Alessa bisa gila harus bertemu dengan pria itu lagi!


“Kenapa harus datang?! Secara kau pemimpinnya, bukan kami!” balas Alessa berani.


“Poor, Honey. Kau akan kalah debat dengan Alessa,” komentar Shee tertawa.


“Di sini aku sebagai pemimpin, memerintahkanmu untuk datang. Jangan lagi mendebatiku,” ucap Savas final dan memerintahkan Alessa angkat kaki dari ruangannya.


“Aku sebagai anak buah, hanya bisa mengikuti perintahmu, Sir!” balas Alessa menekan kata diakhir kalimatnya.