The Second Story Of Our Married

The Second Story Of Our Married
Chapter 39. Between Alessa and Christa



Suami hilang, kemudian kembali datang dan menikah lagi dengan wanita lain. Apa yang harus Alessa lakukan? Tentu dia menghindar, mencoba memisahkan diri dari sang suami. Itu yang Alessa rencanakan, surat perceraian sudah siap diurus oleh pengacara kepercayaannya. Namun, Alessa penasaran dengan semua jawaban yang belum terjawab.


Wanita mana yang tidak cemburu ketika suami yang ia cintai memadu kasih dengan wanita lain? Bayangan itu yang sampai saat ini tidak dapat Alessa abaikan. Seberapa jauh wanita itu bisa memuaskan seorang maniak seperti Nick? Sering menghabiskan waktu berdua, membuat Alessa paham betul Nick sangat suka memuaskan pasangannya.


Setelah berpikir matang-matang, malam ini Alessa mendatangi kediaman Nick. Sebelumnya ia sudah mengkonfirmasi pada Gef, pria itu berada di kediamannya sejak sejam yang lalu. Pukul sudah menunjukkan 11.56 malam, hampir dini hari Alessa sampai di mansion megah ini.


Menarik nafas pelan, Alessa melangkahkan kakinya menuju pintu masuk. Beberapa penjaga menunduk hormat, Alessa hanya membalas dengan anggukan kecil. Langkahnya segera memasuki lift, ketika pintu lift terbuka, Alessa menemukan Gef yang berdiri kaku.


“Kau menungguku?” tanya Alessa mengerutkan dahinya.


“Memastikan kedatangan Anda. Aku tidak menyangka Anda mengunjungi Tuan Nick,” aku Gef.


“Tolong tidak usah formal begitu,” komentar Alessa, Gef tersenyum tipis.


“Dimana pria itu?”


“Di kamar utama.” Alessa mengangguk dan melangkah cepat.


Mudah saja Alessa membuka pengaman pada pintu tersebut, dia mendorong pintu dan masuk. Tatapan seorang pria menjadi awal pandangan yang Alessa dapatkan. Ada raut tidak menyangka yang detik itu pula ditutupi oleh pria itu. Alessa tersenyum, dia berani bertaruh bahwa Gef tidak mengatakan apapun tentang kedatangannya ini.


“Kau terkejut aku berdiri di sini?” Alessa bersuara pelan seraya tersenyum tipis.


“Not expect you come to me,” ujar Nick jujur.


Alessa mendekat, ia berdiri di bawah ranjang menatap Nick intens. Tangannya bergerak membuka resleting depan dan meloloskan gaun hitamnya yang kini meninggalkan lingerie transparan. Kemudian, Alessa merangkak hingga salah satu lututnya berada di antara kaki sang suami. Tak sampai di sana, Alessa sengaja mengelus area pribadi sang pria dengan lambat.


Jelas itu membangkitkan gairah si pria. Alessa tersenyum puas, ini yang ingin dia lakukan sejak tadi, membangkitkan gairah Nick. Melihat Nick berusaha menahan keinginananya, Alessa berlanjut membukuk dan menjilat bibir Nick. Kecupan-kecupan ringan dia berikan di bibir favorit ini.


Seraya memejamkan mata, Alessa memangut bibir Nick. Lima detik berikutnya, Nick membalikkan posisi mereka, Alessa saat ini berada di bawah kekuasaannya. Terburu-buru Nick menyatukan bibir mereka dan mencium sang wanita rakus. Ciuman berpindah pada leher, Alessa merasakan sengatan yang begitu dia dambakan. Senyumnya mengembang, Nick tahu Alessa tengah berada di awang kenikmatan.


“Aku tahu ini adalah salah satu trick mu,” bisik Nick tepat di telinga Alessa.


“Ya. Kau bisa mundur jika tidak ingin aku melakukan apa yang aku mau nantinya,” balas Alessa tanpa menutupi.


“I won’t. Ini yang aku inginkan darimu, ini menyenangkan...” desah Nick.


“Semenyenangkan yang diberikan wanita itu?” Alessa memancing.


Nick tidak menjawab, dia berfokus menyerang **** ********** sang istri menggunakan tangannya. Satu tangannya bergerak memainkan dada sang wanita, dan bibirnya kembali memangut milik Alessa. Dengan cepat Alessa menahan Nick untuk menghentikan ciuman panas itu.


“Kau sering bercinta dengan wanita itu?” tanya Alessa.


Bukannya mendapat jawaban, Alessa mulanya mendapatkan seringai dari Nick, berikutnya... serangan dahsyat pada intinya. Nick menyentak gerakan di bawah sana dan menggengam kewanitaannya hingga Alessa mendesah tanpa tertahan.


“Jawaban itu kau dapatkan nanti, Baby. And now, just you and me...” bisik Nick pelan.


“Bastard!” umpat Alessa geram.


...***...


Alessa tepar di atas ranjang, selimut telah menutupi tubuh polosnya. Suara pintu menyadarkan alam bawah sadar Alessa yang hampir saja terlelap. Nick membawa seteko air beserta makanan untuk sang wanita. Alessa sempat melihat jam di atas nakas menunjukkan pukul setengah tiga pagi.


“Aku tidak membutuhkan itu,” cicit Alessa menolak sodoran air putih yang Nick berikan.


“Kau butuh ini, minumlah...” pinta Nick lembut.


Mau tak mau, Alessa mendudukan diri dan menerima uluran tersebut. Segelas air putih itu tandas hanya sekali teguk. Nick menatap Alessa remah, katanya tidak mau, tetapi minuman itu habis tak tersisa.


“Apa? Aku lelah, katamu aku membutuhkan ini,” elak Alessa. Nick menggelang tak habis pikir.


“Makan,” titahnya menyodorkan sepiring sandwich.


Dengan pelan Alessa menyuapkan roti tersebut. Penampilan Alessa yang berantakan, sekalipun tidak mengurangi kecantikan di wajah manis sang istri. Malah itu yang membuat Nick semakin ingin lagi dan lagi membawa Alessa pada kenikmatan. Akan tetapi, ia tidak bisa bersikap egois, sebab Alessa butuh istirahat.


Setelah menghabiskan sepiring dan beberapa gelas air putih, Alessa kembali membaringkan tubuhnya. Mungkin karena kehamilan ini yang membuat Alessa lebih kelelahan dari biasanya. Nick berinsiatif memakai kaosnya pada tubuh sang istri. Alessa pun hanya diam tanpa mencoba menghalangi.


“Sedikit lebih baik?” Alessa hanya mengangguk, matanya terpejam.


“Jadi, istriku ini tidak melanjutkan seribu macam pertanyaannya?” Nick menggoda Alessa. Seketika Alessa membuka matanya. Sial, dia melupakan tujuan utamanya mendatangi mansion ini! Sedangkan Nick tampak santai, dia bersandar pada kepala ranjang.


“Kita bisa berbicara besok,” ucap Nick.


“Tidak, sekarang!” Alessa bangkit dan ikut menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang.


“Nick. Ini terakhir kalinya aku akan bertanya, apabila kau belum mau menjawab seluruh pertanyaanku―”


Alessa menjeda ucapannya, memikirkan kalimat yang tepat untuk ia sampaikan. Dia lelah terus meminta jawaban yang tidak diungkapkan Nick secara keseluruhannya.


“Aku tidak akan pernah bertanya lagi, dan aku akan menutup seluruh hubungan ini, iya ataupun tanpa persetujuanmu,” sambungnya.


“Ini bukan ancaman, kau paham bagaimana aku. Semua kebohonganmu berdampak pada hubungan ini. Jujur, aku sulit mempercayaimu, kau menggunakan kehamilan ini untuk terus mengikatku.” Sejenak Alessa menghela nafas lelah.


“Seluruh jawabanmu nantinya, tentu akan menjadi pertimbanganku untuk mengambil langkah selanjutnya,” ucap Alessa menutupi kalimatnya.


“Kau sudah menyiapkan surat cerai itu, bukan?” tanya Nick menatap Alessa gamang, Alessa mengangguk, tidak berniat menutupi apapun.


“Dilihat dari sisi manapun, kemungkinan besar aku bisa memenangkan gugatan itu. Kau sendiri yang memalsukan akte cerai kita, hilangnya kau serta tidak memberi nafkah menjadi banyak pertimbangan hakim. Di dalam persidangan nanti tidak ada suap-menyuap, kau dan aku harus mengikuti hukum yang berlaku,” telaknya.


“Sebegitu inginnya kau berpisah denganku?” Alessa mendengus sinis. Atmosfir yang sebelumnya hangat, berubah menjadi tegang dan kaku.


“Tidak salah bertanya, hm? Pernikahanmu dengan wanita itu adalah alasan terbesarku mengurus surat perceraian!” Nick terdiam, bukan tidak bisa menjawab, tetapi melihat mata indah Alessa berkabut membuat lidahnya kelu.


Nick menggenggam tangan Alessa, lalu mengecup buku jari Alessa dengan lembut. Ada penyesalan besar di dalam dirinya, mengubah masa lalu juga tidak berguna, posisi ini sudah dia ambil dan berada di kondisi ini adalah pilihan yang telah ia pikirkan matang. Sejauh dia memiliki hubungan dengan Christa, ia tidak pernah merasakan senyaman ini, sehangat ini, sesenang ini bersama wanita. Christa memang sangat cantik, tetapi Christa tidak bisa menarik perhatian Nick sebagaimana Alessa menarik perhatian Nick sebegitu besarnya.