
“Christa memaksa ikut ke acara Allanzel,” beritahu Nick tanpa basa-basi, Alessa berdecak malas.
“Orangtuanya menyalahkan aku membawa petaka buruk untuk Christa. Ya, aku salah, itu karenaku—”
“Aku melihat Nickholas Fernand empat tahun lalu ada pada dirimu yang sekarang,” potong Alessa cepat.
“Apa perlu aku ingatkan perdebatan kita empat tahu lalu bermula dari kau yang mengonfirmasi, lalu mendiamkan aku? Kau tidak bisa tegas, mudah sekali terpancing pada orang yang kau anggap keluarga. Samakan ketegasanmu sebagai seorang pemimpin, lihat Allard yang bisa tegas pada siapapun!” sembur Alessa.
“Kenapa kau bisa tegas kepadaku dan bawahanmu? Tapi kau tidak bisa tegas pada mereka yang katanya ‘keluarga’ untukmu? Ada apa denganmu, Nickholas?” lirih Alessa, rasanya dia lelah menghadapi sikap Nick ini.
“Tidak perlu mengonfirmasi apapun padaku, abaikan saja! Karena apapun yang keluar dari mulutmu, akan terulang seperti dulu, di mana kau akan pergi dari seluruh kehidupanku,” ucap Alessa bersungguh.
“Aku tidak mau itu terjadi!” bantah Nick seraya mengepalkan tangannya. Berbagai emosi tertahan, Alessa menyadari hal itu.
“Aku mau kita bersama!” sambungnya tegas.
“Tidak. Mari aku beri saran padamu, hiduplah bahagia dengan Christa beserta keluarganya. Itu yang sejak dulu kau inginkan, bukan? Memiliki keluarga lengkap!” Nick memukul pintu kamar hotel keras, Alessa sama sekali tidak terpengaruh.
“Kau tahu dengan siapa aku ingin hidup di dunia ini, kau, Alessa! kau!” teriak Nick mengeluarkan emosinya. Alessa tertegun sesaat, mata Nick berkaca-kaca disertai kegelisahan nyata di dalamnya.
“Gef, bawa dia, sekarang!” titah Nick.
Alessa berbalik ingin pergi, tetapi terlambat, Gef lebih dulu memegangnya. Bisa saja Alessa kabur, tetapi ruang geraknya terkepung oleh pasukan Nick Sialan! Alessa menurut, memancing amarah Nick tidak pernah menjadi kesenangan, kecuali kemarahan dalam bercinta, dengan senang hati Alessa akan meladeninya. Perlu digaris bawahi, jika memang dalam kondisi baik, tidak dikondisi yang gila ini.
“Kau sangat pandai mengubah emosi Tuan Nick,” Komentar Gef pelan berjalan mengirinya.
“Maksudmu?” tanya Alessa tidak mengerti.
“Tuan Nick bisa mengambil keputusan dalam hitungan menit bersamamu, keputusan yang pada dasarnya ia inginkan,” ucap Gef, Alessa tidak paham.
“Christa menekan Tuan Nick agar melindunginya, jika itu terjadi, maka perceraian mereka akan tertunda lama kali ini,” beritahu Gef. Barulah Alessa paham maksud yang Gef sampaikan.
“Dia menginginkan Nick,” simpul Alessa, Gef mengangguk membenarkan.
“Apa dia tahu?” Alessa melirik sekilas pada Nick, Gef menggeleng.
Melihat sebuah mobil terparkir, Alessa segara memasuki kursi penumpang di samping pengemudi. Nick membiarkan, emosinya masih belum stabil hingga sekarang, sedangkan Gef yang mengemudi mobil tersebut. Keduanya saling melirik, Nick di belakang sana tengah memijat keningnya.
“Fokus menyetir, Gef!” peringat Nick sadar diperhatikan dua manusia di depannya.
Sesampai di mansion Bateline, Nick turun lebih dulu. Dua mobil mengikuti mereka dari belakang, ternyata mobil diposisi tengah adalah mobil Christa bersama anaknya. Alessa mendengus kesal, kenapa ia harus di satu mansion yang sama?
“Nick, apa kau tidur bersama kami?”
Christa menghentikan langkah Nick yang akan menaiki tangga. Nick melarikan pandangan matanya pada Alessa, yang dibalas Alessa dengan datar. Apa-apaan Christa ini? Alessa tidak suka berada dipembicaraan suami-istri ini. Wanita ini benar-benar tengah menunjukkan secara terbuka bahwa dia juga adalah istri seorang Nickholas Bateline.
“Gef akan menunjukkan kamarmu. Alessa tidur bersamaku,” balas Nick melanjutkan langkahnya.
Senyum Alessa mengembang lebar, Gef yang melihat itu menahan senyum. Alessa tak mempedulikan tatapan Christa, dia berlari kecil ke arah lift.
“Alessa, perhatikan kakimu!” peringat Nick, dia sudah hampir sampai ke lantai atas mendengar langkah kaki Alessa.
Tiba di lantai atas, Alessa berpikir sebentar, dimana Noura? Memutuskan menengok Noura, tetapi dia tidak menemukan gadis itu.
“Mencari siapa, Alessa?” Gef bertanya.
“Noura, dimana dia?”
“Nyonya Noura sedang berlibur,” jawab Gef.
“Aku penasaran, kenapa kau memanggil Nick dan Noura begitu formalnya? Padahal kau adalah paman mereka,” singgung Alessa bingung.
“Bentuk rasa formal, aku sudah terbiasa memanggil demikian.”
“Mereka membebaskanku memanggil dengan sebutan apa saja.” Alessa mengangguk, tidak heran memang, hidup di negara ini tidak melulu gila hormat.
“Nick dimana?” tanya Alessa
“Ruang kerja.”
Alessa kembali mengangguk dan berjalan ke ruang kerja Nick. Saat memasuki ruang kerja Nick, Alessa mendudukkan dirinya dipangkuan Nick. Pria ini menatapnya tajam, tetapi tidak dipedulikan Alessa. Berbagai laporan tertumpuk di atas meja, Alessa menganalisa satu per satu, kebanyakan laporan perusahaan. Namun, ada satu berkas yang menarik perhatiannya.
“Christian Bwoln? Kau bermasalah dengan pria ini?” tanya Alessa.
“Hacker yang bekerja sama dengan Zyan.” Alessa tersenyum remeh.
“I need a new computer,” ucap Alessa. Nick memberi titah pada Gef yang segera dilaksanakan oleh tangan kanannya tersebut.
Sejujurnya, Nick senang perubahan Alessa ini, lebih baik dari sebelum mereka berdebat. Cara Alessa mengotak-atik benda dihadapannya sangat sexy di mata Nick.
“Kau yakin dia hacker?” tanya Alessa tak yakin.
“Kau mengenalnya, Alessa.”
Benar juga, Bwoln adalah rekannya di dunia hacker. Namun, semua akses yang pria ini amankan, sangat mudah Alessa tembus. Sejauh yang Alessa tahu, Bwoln ahli di bidang hacker, bahkan lebih jauh di atas Alessa. Kelihaiannya dalam dunia hacker tidak perlu diragukan lagi
“Menurutku, di balik nama Bwoln, bukan Bwoln sesungguhnya...” duga Alessa.
“Kudengar, Bwoln sudah lama tidak bergelut di bidang ini,” tambah Alessa.
“Seseorang memakai nama Bwoln, maksudmu?” Alessa mengangguk.
“Sistem keamanan di sini, rendah.”
Alessa menunjuk semua data yang dia dapatkan dari hasil membobol. Nick membaca semua informasi di sana, termasuk rencana mereka selanjutnya, yaitu mengancam keluarga Christa.
“Kemana? Tetap di sini,” titah Nick menahan perut buncit sang istri yang akan beranjak.
“Lapar.”
“Ayo, aku temani!” Alessa menolak, Nick memaksa keras.
...***...
Morning sickness kembali menyerang Alessa, kali ini tidak separah kemarin. Sekalian saja Alessa membersihkan diri, barulah di detik itu Alessa mengingat bahwa Nick tak ada di sebelahnya. Menyelesaikan kegiatannya, Alessa kelaparan, maka dia turun guna mengisi perut.
Pemandangan indah yang pertama kali Alessa temukan, Nick tengah sarapan bersama Christa dan sang anak, Erol. Jangan mengira Alessa cemburu, dia tidak peduli sama sekali.
“Alessa, sarapan dulu,” ucap Christa sadar kehadirannya. Tanpa dipinta pun Alessa akan melakukannya.
Gerak-gerik Alessa tidak canggung sedikit pun, khas Alessa sekali. Erol menatapnya penasaran, Alessa memberi tatapan datar. Dia risih ditatap anak kecil seperti itu. Nick sadar hanya tersenyum, Alessa sangat jarang dapat bersikap ramah pada anak-anak. Namun, ketika dekat dia akan bersikap luas biasa baik, misalnya pada anak Katryna.
“Kapan Noura pulang berlibur?” tanya Alessa terkesan cuek.
“Dua hari lagi.”
Bukan Nick yang menjawab, tetapi Christa. Alessa menatap sekilas, lalu melongos. Alessa tak menyelesaikan sarapannya, dia memilih beranjak ke dapur. Mara—kepala pelayan—menyambut Alessa sopan, menawarkan sesuatu yang mungkin Alessa inginkan.
“Tolong buatkan bubur,” pintanya.
“Baik, Nyonya.”
Selagi menunggu di kursi pantri, Alessa melihat bagaimana Mara sangat lihai berkutat dengan alat-alat dapur. Dia masih heran pada orang-orang yang pandai memasak, entah bagaimana cara mengingat perlatan serta bumbu-bumbu dapur. Meski pernah belajar, Alessa sampai detik ini belum menguasai nama-nama bumbu, ataupun cara membuat sebuah makanan.
Bukannya ilmu bertambah, Alessa malah menghancurkan isi dapur. Alessa tidak suka memasak, malah dia lebih memilih belajar sesuatu hal lain, berkebun misalnya. Katryna saja sampai berbusa mengajarinya memasak, minat Alessa pada memasak 0 besar, jadi jangan harap Alessa mau memegang perlatan dapur itu.