
Alessa pamit pada timnya. Kemudian, dia meminta Uxel untuk mengantarnya ke sebuah kafe yang tidak jauh dari markas tersebut.
“Jangan kata apapun pada Nick. Katakan saja aku membantu tim-ku, cukup hanya itu!” titah Alessa, dia paham sedari tadi Uxel menatapnya ingin tahu.
“Kau belum memberitahunya, kan?” selidik Alessa.
“Belum, Nyonya...”
“Katakan seperti itu!” titahnya lagi.
“Baik, Nyonya.”
Kali ini tampaknya Uxel berpihak padanya. Alessa tidak melihat earphone yang biasanya Uxel gunakan untuk berkomunikasi dengan Nick, artinya Nick belum mengetahui masalah ini sekarang. Ya, Uxel menyaksikan kemarahan Alessa setelah keluar dari ruangan tersebut, jelas Uxel juga tahu Alessa sudah membaca semua artikel itu.
Di luar sana cuaca tengah terik-teriknya, seolah mendukung kemarahan yang tertanam dalam diri Alessa. Hingga detik ini, Alessa tidak tahu bagaimana bersikap di depan Nick ataupun Noura. Tunggu, apakah gadis itu mengetahui tentang kebenaran yang ada? Alessa menghela nafas, mengapa rasa sesak sekali? Batinnya.
Ia jadi teringat dulu, bagaimana tenangnya Katryna ketika Allard akan menikah dengan wanita lain. Katryna pasti marah, tetapi ia begitu tenang, beginikah sakit? Namun, rasa sakit hati Katryna tidak sebanding dengan sakit yang Alessa rasakan sakit ini, bukan?
Hampir sejam Alessa berada di kafe tersebut, ia memutuskan untuk kembali ke mansion. Sebenarnya, dia ingin pulang ke apartemennya yang lain, tapi itu bukan hal yang baik. Alessa sangat paham watak seorang Nick, tidak suka dibantah.
Sesampai di mansion, Alessa bersyukur tidak ada Nick ataupun Noura. Jika iya, Alessa yakin dia akan berang. Memasuki kamar yang ia tempati bersama Nick, Alessa segera membersihkan diri sekaligus merefleksikan pikiran di bawah guyuran air. Otaknya berpikir bagaimana ia harus bersikap nanti dan satu hal yang tidak boleh Alessa lakukan, bersikap lemah di depan Nick.
Selesai dengan kegiatannya, Alessa mengobrak-abrik kamar Nick, ia butuh bukti lain untuk meyakinkan dirinya. Setengah jam berlalu, Alessa belum menemukan satu barang pun untuk membuktikan apa yang ia dapat beberapa jam yang lalu. Frustasi, Alessa beralih memeriksa ruang kerja Nick.
Alessa tidak bodoh, Nick pasti melihat kelakuannya saat ini lewat kamera cctv yang terpasang. Tapi, apa pedulinya? Alessa yakin pria itu tidak akan terkejut sama sekali! Berpuluh menit terlewat, Alessa hanya menemukan bola kosong, dia tidak menemukan sesuatu barang yang mencurigakan. Nick tidak akan mungkin membawamu ke tempat di mana bangkai di tanam, Alessa... begitu batin Alessa.
...***...
Begitu bosan dengan situasi senyap ini, Alessa sengaja mendentingkan sendok beserta garpunya pada piring hingga menimbulkan bunyi nyaring. Nick tidak terganggu sama sekali, hanya Noura yang menggeleng heran, ada saja tingkah Alessa yang mencari perhatian sang kakak, pikir Noura.
“Kau tidak berselara makan?” tanya Noura pada akhirnya, melihat Alessa yang sesekali menyuap, setelahnya mengaduk makanan.
“Aku tidak lapar.” Alessa bersikap sinis tanpa ia sadari.
“Atau kau ingin makanan yang lain?” Alessa menggeleng.
“Kulihat, kau dua hari ini lebih banyak diam. Ada apa?” Noura sangat hati-hati menanyakan ini, terdengar dari suaranya yang sangat memelan.
“Tidak.”
“Oke, baiklah. Bagaimana besok berjalan-jalan? Kita belum pernah menghabiskan waktu berdua,” tawar Noura.
“Tidak.” Itu bukan suara Alessa, tetapi Nick. Seketika raut wajah Alessa berubah keruh, dia tidak suka dilarang demikian.
“Kenapa tidak? Noura bertanya padaku, bukan padamu!” sengit Alessa.
“Kau sedang hamil. Dengarkan apa kata dokter! Jangan kau berpikir selama ini aku membebaskanmu keluar, kau malah seenaknya keluar-masuk tanpa seizinku!” tekan Nick.
Ada keterkejutan yang Alessa tangkap dari mata Nick, hanya seperkian detik. Selanjutnya, pria itu memasang wajah datar. Iya, Alessa tahu Nick kaget ketika tanpa aba-aba ia berucap tentang Christa.
“Dia istrimu juga, kan? Kau juga seharusnya mengekang dia serta memberi perhatian yang sama pada kami,” tandas Alessa.
Nick memandang Alessa lekat. Kemudian, pria itu menarik Alessa menuju lift. Ketika Alessa memberontak, Nick dengan cepat mengendong Alessa bak karung beras. Mereka sampai di kamar, dan Nick mendudukkan Alessa di atas ranjang.
Bukan penjelasan yang Alessa dapatkan, akan tetapi ciuman lembut dibibirnya. Alessa tidak berniat membalas ciuman tersebut. Nick mengigit bibir bawah sang istri, tetap saja Alessa bersikukuh tak kunjung membalas. Frustasi, Nick terus mencium Alessa seraya merebahkan tubuh mereka, tak lupa menahan tubuhnya agar tak sepenuhnya menindih tubuh Alessa.
Nick berpindah mencium leher Alessa yang masih bersikap defensif. Namun, semakin lama, Alessa sendiri gundah, dia tidak ingin luluh atas perlakuan manis yang Nick berikan. Segera Alessa menjauhkan Nick, selanjutnya Alessa berdiri di ujung ranjang meninggalkan Nick di sana. Alessa mulai gemetar, bukan karena sentuhan Nick sebelumnya, ini lebih pada dirinya yang panik dan sesak.
“Mari kita bercerai,” pinta Alessa pelan. Nick tersenyum sinis, matanya tak lepas menatap Alessa.
“Sampai kapanpun, itu tidak pernah terjadi!” janji Nick.
“Apa yang terpikirkan olehmu, Nick? Memiliki istri dua, hm? Hebat sekali!”
“Kau tidak tahu apapun!” balas Nick.
“Karena kau tidak pernah menceritakan apapun padaku! Kau menyembunyikan kematianmu tanpa memberitahuku! Sekarang tiba-tiba kau menikahi wanita itu, menarikku kembali padamu dan berbuat sesuka hatimu padaku!” teriak Alessa menggebu-gebu.
Pandangan Nick melembut seketika. Ia menghampiri Alessa dan menggengam tangan Alessa lembut. Alessa menyentak tangan Nick dan berjalan mundur, Nick menggeleng tidak terima.
“Please, biarkan aku menjelaskan semua padamu.” Alessa menggeleng.
“Kau menjelaskannya, tetapi kau tidak menjelaskan keseluruhannya, Nick. Apalagi setelah ini yang kau sembunyikan dariku? Memiliki anak dengan wanita itu, iya?” pekik Alessa.
“Aku akan menjelaskan padamu, semuanya.” Alessa menggeleng, matanya sayu menatap Nick.
Alessa berusaha menahan gejolak di dalam hatinya. Setelah mengetahui kebenaran itu, Alessa bersikap santai seolah tidak terganggu dengan kenyataan yang selama ini Nick sembunyikan. Lagi dan lagi, rahasia lainnya terbongkar. Bagaimana pun kondisinya, Alessa masih tetap menyayangi Nick.
Sebesar apapun Alessa menolak kehadiran Nick pada awalnya, dia luluh hanya karena melihat Nick sehat dan nyata di depannya. Akan tetapi, setelah mengetahui Nick dan Christa adalah sepasang suami-istri, apakah hati Alessa masih bisa menerima Nick? Pertanyaan itu yang menjadi musuh Alessa saat ini.
“Alessa...” lirih Nick.
Kini Alessa terpojok di dinding, dan Nick segera memeluk Alessa erat. Seharusnya Alessa dengan mudah bisa melemahkan pergerakan Nick, tetapi ia terlalu lemas dan tak berdaya. Nick dapat tanggap bahwa kondisi mental Alessa mendominasi, bisa ia rasakan dari tubuh Alessa yang bergetar dan nafasnya memburu tak beraturan.
“Tenang, Alessa. Aku di sini bersamamu, aku milikmu....” bisik Nick.
“Kenapa kau harus menikah lagi, Nick? Apa benar kau mencintaiku?” lirih Alessa ketika berangsur tenang.
“Atau semua yang kita lewati sebelumnya, hanya sebuah kekosongan semata yang tidak ada artinya?” lanjutnya.
“Kau sangat berarti untukku, sekarang ataupun dahulu, kau sama berartinya. I am so sorry for everything, Baby... I love you so much,” ucap Nick tulus dan kemudian mencium kening Alessa penuh kelembutan.